Tuesday, 12 May 2009


Saya bersyukur masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengisi hari-hari dengan beragam kegembiraan. Meski terkadang kegembiraan saya membuat seseorang merasa ditinggalkan dan saya menjadi merasa bersalah karenanya. Kembali futsal bersama teman-teman seangkatan alumni Sejarah’99 UNPAD sungguh sebuah rahmat yang luar biasa harus saya syukuri. Dulu sekali di jaman kuliah futsal bagi kami telah menjelma menjadi sebentuk kegilaan tersendiri. Sampai-sampai terkadang jam kuliah pun ditinggalkan (dan atau sengaja lupa kuliah, dan atau terkadang sengaja terlambat masuk kuliah) demi futsal. Kini Jatinangor (perbatasan Bandung-Sumedang) telah banyak berubah. Di ‘kota’ kecil ini kini telah tersedia beragam fasilitas untuk menyenangkan hati para mahasiswa yang menempuh studi di kampus-kampus yang ada di ‘kota’ kecil ini. Mall, lapangan futsal, tempat bilyard, bioskop, cafĂ©, toserba dan segala macam. Futsal di Jatinangor kini pun mengalami perubahan karakter, sedikit banyak telah menjadi bagian dari budaya metropolitan sekaligus konsumerisme. Dulu futsal bagi kami benar-benar sebuah aktivitas biasa saja untuk menyalurkan hasrat berolahraga dan tidak perlu mengeluarkan uang sama sekali selain untuk membeli minuman dingin. Cukup berkumpul di lapangan tanah atau di lapangan basket kampus sudah cukup. Kini futsal harus dibawa ke lapangan dengan harga sewa sekian ratus ribu per jam. Tetapi memang harus beginilah sebuah dunia. Berubah dan terus berubah. Apapun itu saya tetap merasa gembira bisa menikmati futsal, meski saya sebenarnya tidak bisa futsal dengan baik, bersama kawan-kawan lama ditengah berubahnya ‘kota’ Jatinangor yang entah kenapa sangat saya cintai ini.

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers