Search This Blog

Loading...

SHARE THIS

Share |

Thursday, April 30, 2009

Jelajah Lingga

Kembali datang ke Kepulauan Riau mengingatkan perjalanan saya ke kepulauan ini pada akhir 2005. Dulu selama hampir tiga bulan saya berkeliling menjelajah kepulauan ini bersama sebuah tim kecil yang menamakan diri sebagai Tim Ulin (Tim Main) yang terdiri dari pemanjat tebing, pembuat film dokumenter, offroader, orang LSM, dan saya sendiri seorang yang sedang "jetlag" usai sidang sarjana. Hah! Kali ini, empat tahun setelah saat itu, kondisinya telah berubah, saya datang ke Kepulauan Riau dalam rangka sesuatu yang jelas, dalam rangka pekerjaan, memang nuansa main-mainnya masih kuat karena pekerjaan saya adalah meliput kegiatan memancing. Pekerjaan yang lebih terlihat sedang main dibanding sedang bekerja.



Destinasi saya kali ini adalah Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Sebuah fishing festival digelar di sana oleh pemerintah daerah setempat. Saya datang dengan serombongan jurnalis dari Jakarta yang berangkat pada hari Jum'at pagi tanggal 24 April. kami semua datang ke Lingga atas undangan dari Pemda Kab. Lingga. Saya tidak mengira bahwa festival ke-3 yang digelar tersebut berlangsung begitu meriah. Ratusan pemancing dari berbagai wilayah di Kepulauan Riau datang meramaikan festival ini. Pulau kecil berdiameter 1 km bernama Pulau Pena’ah yang menjadi base festival tiba-tiba berubah menjadi ‘metropolitan’ terpencil yang dikelilingi oleh lautan.



Beberapa jurnalis Jakarta juga diundang. Namun hanya saya seorang jurnalis media online dan media cetak saat itu. Lainnya adalah dari televisi; Trans 7, ANTV, dan Trans TV. Yang paling cs dengan saya tentunya adalah crew Mancing Mania Trans 7 karena dengan mereka saya telah beberapa kali jalan bareng meliput fishing trip ke beberapa daerah. Yang ada di foto ini adalah tim kedua program Mancing Mania Trans 7; Bayu, Gilang dan Abra. Merekalah yang turun ke lapangan kalau tim pertama yakni Denis dan Mas Dudit sedang break dari laut atau tidak bisa turun karena sedang meliput di daerah lain.


Pemukiman di Desa Pancur dibangun di atas tepian laut. Saya merasa kerasan di desa kecil ini karena tidak mendengar bising kendaraan karena memang tidak ada mobil atau motor di desa ini. Kalaupun ada bunyi mesin bermotor itu adalah bunyi speedboat, perahu nelayan atau bunyi generator listrik. Namun desa ini sangat panas, benar-benar panas! Pancur adalah desa kecil yang merupakan titik pemberhentian kapal penumpang cepat yang melayani trayek Lingga-Tanjung Pinang.


Solar cell di Pulau Pena'ah. Pulau kecil berdiameter 1 km yang merupakan base fishing festival saat itu. Pulau yang indah namun padat. Sama panasnya dengan Desa Pancur yang berjarak 1 jam dengan speedboat dari Desa Pancur. Saya sangat nyaman di sini karena rumah-rumah penduduk di pulau ini begitu rapi dibangun di atas laut. Saat malam kita bisa bersantai di papan-papan belakang rumah sambil melihat bintang gemintang sementara air laut di bawah papan berkecipak menghantam tiang-tiang penyangga rumah. 99% penduduk Pulau Pena'ah adalah nelayan.


Tepian Pulau Pena'ah saat air laut surut. Seperti semua pulau lain di Kabupaten Lingga tepian pantai begitu dangkal sehingga saat air laut surut kapal-kapal ataupun pompong (kapal nelayan kecil dari kayu) tidak bisa bersandar terlalu dekat dengan garis pantai. Secara umum perairan di Kabupaten Lingga sangat dangkal, 65 feet saja kedalaman maksimumnya. Sangat sulit mendapatkan game fish berukuran besar di perairan ini karena air yang dangkal itu dan apalagi struktur dasarnya banyak yang terdiri dari pasir. Memang ada beberapa dasar yang terdiri dari karang yang dihuni ikan-ikan dasar, namun untuk mendapatkan spesies macam GT, dogtooth tuna, dan lain-lain sangat sulit. Spesies berukuran besar yang sering berkelebat di perairan ini adalah hiu dan pari yang tidak termasuk dalam daftar game fish.


Hotel Winner di Desa Pancur tempat saya dan tim Mancing Mania Trans 7 sempat transit dua hari semalam. Ada yang lucu di hotel ini. Secara fisik dan fasilitas hotel ini bagus sekali. Namun saat kami menginap ya hanya kami berempat yang menginap di sana. Sudah gitu listrik dari generator naik turun bak gelombang air laut. Jadi kalau kita melihat lampu di kamar dia bisa bersinar seperti seharusnya tetapi di detik berikutnya dia akan turun meredup sebelum kemudian terang lagi. Namun ada yang menakjubkan saat menginap di hotel ini yakni kita bisa menatap Gunung Daik di Pulau Lingga yang berada persis di depan mata. Sunset dan sunrise pun sangat indah dinikmati dari atap hotel ini.


Masih kurang rasanya seminggu berada di sini, besok pagi saya akan kembali ke Jakarta namun saya berharap bisa kembali lagi tahun depan ke Kabupaten Lingga karena begitu banyak pesona yang ditawarkan olehnya. Kemarin waktu dan dana yang tersedia begitu sedikit sehingga saya tidak puas mereguk pengalaman di kabupaten baru yang begitu giat mempromosikan pariwisatanya tersebut. Masih banyak yang harus saya 'makan' dari kabupaten baru ini sehingga saya begitu ingin kembali lagi. Dari cumi kering goreng hingga menemui suku laut. Namun yang pasti saya berharap semoga Lingga Fishing Festival 2010 nanti berlangsung lebih meriah dan lebih baik lagi pelaksanaannya sehingga kabupaten dengan motto Bertingkap Alam Berpintu Ilahi ini semakin terkenal di kalangan para pemancing dan pelancong baik dalam maupun luar negeri. Semoga!

Tuesday, April 21, 2009

Salam Bandung (I)


Saya mencintai Jatinangor, kota kecil di sebelah Bandung bagian Timur. Sejak pertama kali menjejak Jatinangor dan Bandung di tahun 1999 saya telah menyukainya. Bandung adalah kota yang tidak terlalu besar, dingin, hijau, segar dan warganya ramah. Kini telah ada beberapa yang berubah namun cinta saya rasanya tidak berubah. Bandung masih lebih memanusiakan penghuni dan para pengunjungnya dibandingkan dengan Jakarta misalnya. Haha.

Kembali ke Bandung berarti kembali ke masa lalu. Sulit menghapus jejak-jejak yang pernah tertinggal selama 7 tahun di sini selama saya kuliah. Sejatinya saya kuliah UNPAD namun yang berada di Jatinangor, kota (menurut saya desa) kecil yang cenderung kering, berantakan, dan penuh oleh kos-kosan hingga sekarang. Kini telah banyak yang berubah di Jatinangor karena telah berdiri dengan megahnya pusat-pusat konsumerisme seperti misalnya mall. Jurang pemisah serta friksi antara warga yang kebanyakan berkemampuan ekonomi biasa saja dengan pendatang (mahasiswa) yang berkecukupan semakin tinggi.

Saya meluncur dari Jakarta menggunakan KA Parahyangan menuju Bandung dengan tiket seharga 30K. Harga tiket turun jauh dibandingkan dulu di jaman saya kuliah dimana tiket KA Parahyangan bisa tembus 60K. Kini karena kalah dengan bis-bis yang lebih cepat dan murah yang melaju mulus menembus Tol Cipularang mau tidak mau tiket kereta api diturunkan. Tentu ini sangat baik untuk penumpang seperti saya.


Pemberhentian pertama saya di Bandung adalah CCF di Jl. Purnawarman. Untuk menemui kawan lama saya yang telah sukses menjadi designer grafis CCF dan juga sebuah distro besar di Bandung, FRBLT (Firebolt). Ageng Purna Galih (APG) namanya. Darinya semenjak kuliah dulu saya belajar banyak. APG, menurut saya, adalah seniman yang lengkap. Menjelajah berbagai wilayah seni dengan pemahaman dan semangat yang tinggi. Dari fotografi hingga musik. Dari mengulik program design grafis hingga menggambar dengan pensil. Saya salut padanya. Tak dinyana ketika sedang asyik melepas rindu di CCF melintas kawan Parasastra, Anes, pertemuan semakin meriah. Bergelas capuccino semakin cepat tandas.


Senja saya meluncur menuju Jatinangor. Kawan-kawan Parasastra, UKM Fotografi di Fak. Sastra UNPAD, mengabari saya bahwa akan ada kurasi foto menjelang pameran yang akan digelar oleh para calon anggota baru Parasastra. Saya tentu sangat gembira dengan khabar ini. Pada tahun 2006 bersama 7 kawan foto lain saya membentuk Parasastra ini. Kini tunas baru terus bermunculan. Tidak seperti kami di tahun 2006 yang lebih bermodalkan semangat dibandingkan kemudahan-kemudahan kini generasi penerus Parasastra ini setidaknya hidup di dunia yang lebih mudah dibandingkan masa kami dulu karena kini Jatinangor lebih modern. Lebih banyak kesempatan untuk orang-orang kreatif berkegiatan. Berbahagialah kalian kawan dan teruslah berkarya. Malam dengan Parasastra ini saya tutup dengan makan malam di Café Daun dan kos-kosan “geng Jajongs”. Disana sambil bercengkrama kami menonton sepak bola. Chelsea menang 2-1 atas Arsenal. Juventus menahan imbang Inter Milan 1-1.



Ngantuk berat. Namun saya telah berjanji untuk melewatkan hari Minggu dengan kawan-kawan mancing saya yang berdomosili di Bandung. Candra Sonjaya, Ayung, Hary B, dan Andrie. Beberapa kawan lain tidak sempat bergabung karena sibuk. Acara kami adalah membahas metal jig untuk deep sea fishing buatan Ayung dan Candra dan lalu mancing ikan sepat. Ikan sepat adalah ikan mungil yang menggemaskan. Dari ratusan strike hanya beberapa puluh saja yang bisa kami naikkan saking gesit dan kecilnya mulut ikan. Namun semua gembira. Saya juga langsung lulus ujian memancing ikan sepat ini. Padahal ini kali pertama saya memancing “monster” galian pasir itu. Hahaha!




Malam hari selepas bubar dengan kawan-kawan mancing saya kebingungan harus berteduh dimana karena tiba-tiba hujan menggila di Bandung. Tetapi saya kemudian ingat seorang kawan berpesan jika ke Bandung suruh mengabari. Saya pun sms ke Jimmy, kawan satu kosan jaman kuliah di Jatinangor, mahasiswa FIKOM asal Bangka. Dan kosannya di Dipati Ukur itulah saya berteduh malam itu. Menyeruput kopi panas sambil Facebook-an. Dan menyambut pagi dengan ditemani merpati. What a life! Thanks Jim!


Saya beruntung saya tidak harus selalu ngantor. Ini membuat banyak kawan iri. Maka hari Senin saya lewatkan untuk kembali menjumpai APG yang kali ini akan datang ke CCF bersama sang istri tercinta, Dewi. Pasangan muda yang telah pacaran sejak jaman kuliah dulu. Waktu mereka berdua menikah saya tidak bisa datang karena keburu di Aceh untuk beberapa waktu jadi meski tetap tidak bisa disamakan kondisinya saya berharap ini bisa menjadi maaf saya karena tidak bisa datang ke pernikahan mereka. Semoga kalian berdua bahagia selamanya Ge, Dew…


Pertemuan dengan APG dan Dewi di CCF Bandung semakin ramai dengan hadirnya dua sahabat mancing saya, Silas dan Paulus, yang pada sehari sebelumnya tidak bisa bergabung dalam trip hunting “monster” sepat ke Cimahi. Kami membahas beberapa hal mengenai mancing dan bersepakat untuk suatu saat mengadakan acara khusus mancing kolam di Bandung.

Begitulah kisah saya menapaki kembali Jatinangor dan Bandung. Menemui kawan lama, kawan baru, menemui jejak-jejak diri saya sendiri. Saya bersyukur memiliki begitu banyak kawan yang siap menyambut dan menemani saya selama di kota yang tidak lagi dingin ini. Semoga saya dan kehadiran saya selama di Jatinangor dan Bandung juga membuat mereka gembira seperti saya rasakan. Semoga saya menjadi seorang sahabat sebenarnya seorang sahabat bagi mereka semua. Semoga... Sampai jumpa lagi Bandung…

Monday, April 13, 2009

Segunung Cinta


Rumah adalah tempat yang selalu ingin kita datangi dengan membawa segunung cinta, dan dari waktu ke waktu cinta itu semakin membesar nilainya, namun kita tidak selalu mampu melakukannya. Terkadang cinta yang kita bawa terjatuh di jalanan karena terjatuh terantuk batu atau tertusuk duri tajam. Namun kita akan selalu berusaha untuk membawa cinta itu pulang, ke rumah, meski cinta itu cacat disana-sini. Terkadang cinta itu malah tidak ada sama sekali pada diri kita karena terlalu banyak beban bertahta di pundak kita dan kabut menghalangi ‘mata’ kita untuk memegang cinta yang sesungguhnya bersemayam di sanubari kita sendiri. Tetapi kita tetap akan selalu kembali ke rumah dan berharap bahwa sebenarnya cinta itu ada di pundak kita lalu kita akan menghamparkannya setiba di rumah kepada orang-orang tercinta.

Dan rumah, sebenar-benar rumah bagi saya hingga hari ini adalah Malang Selatan, di sebuah desa kecil bernama Karangrejo Utara dimana kakek nenek saya mencari rumput untuk sapi-sapi setiap hari. Desa kecil saja, namun selalu ingin saya datangi dengan segunung cinta setiap hari. Tetapi terkadang saya tidak mampu melakukannya, terkadang saya datang tanpa cinta yang berharga sama sekali karena pundak dipenuhi beban dan mata terhalang kabut, namun rumah kecil saya di desa ini selalu membasuh hati saya dengan penuh cinta.


Photos taken during 4-10 April 2009 @ Malang Selatan
---
Fishing report saya selama di Malang Selatan (dan Jawa Timur) antara tanggal 2-10 April 2009 silahkan kunjungi MancingOnline.Com atau klik ke judul tulisan di bawah ini:
>>Bandeng Sedati Yang Gendheng Rek!
>>Bertemu Ocean Fishing Club Malang Selatan
>>Adrenalin Rush Ala Ocean Fishing Club Malang Selatan
>>Spot Fly Fishing di Sungai Mbarek Belum Tereksplorasi