Search This Blog

Loading...

Friday, May 29, 2009

Mimpi Dapatkan Bluefin Trevally di Ujung Kulon w/ Fly Fishing

Find my fishing report at Majalah Mancing or MancingOnline.Com


Ikan bluefin trevally sebenarnya bukan target fly fishing yang populer bagi fly fisher luar negeri dibandingkan dengan bonefish ataupun ikan permit misalnya.(Photo by Globalflyfisher.Com)

Saat ini saya sedang melewatkan detik-detik yang panas (udaranya maksudnya) di kantor Majalah Mancing yang baru di daerah Kartini Raya (Jakarta Pusat). Seorang kawan lama yang sudah menjadi fotografer hebat tadi menelepon saya katanya mau main ke kantor namun belum datang juga. Tentang mancing malam nanti bersama kawan-kawan MKFT saya akan menuju perairan Ujung Kulon, Banten untuk popping GT ataupun saltwater spesies lainnya. Saya sendiri sangat ingin mendapatkan strike bluefin trevally di Pulau Peucang dengan teknik fly fishing.


Prestasi terbesar saya saat fly fishing di Ujung Kulon hanyalah ketika flies saya dikejar-kejar oleh bluefin trevally. Prestasi yang tidak bisa dibanggakan.(Photo oleh K. Hariyanto)

Semoga ada waktu untuk sekedar memuaskan hasrat memancing fly fishing ini. Maklum meski hampir tiap weekend ke laut ikut mancing namun saya tidak selalu bisa mancing, tugas yang utama harus didahulukan. Meliput! Telah berkali-kali saya nge-fly di pinggiran Pulau Peucang namun belum satupun bluefin trevally menyambar fly saya. Prestasi terbesar saya di pinggiran Pulau Peucang baru sebatas ikan bluefin yang mengejar fly saya tetapi tidak sampai terjadi strike. Prestasi yang menyedihkan karena hanya semakin menambah hasrat memancing saja. Haha..

Bluefin tervally adalah spesies yang kurang populer dijadikan target para fly fisher. Tidak hanya di negeri kita namun juga di luar negeri sekalipun. Fly fisher lebih suka memancing bonefish, permit dan ikan-ikan lainnya. Khusus untuk kasus negeri kita, bukan karena ikan ini tidak bisa dipancing dengan fly fishing namun dikarenakan komunitas fly fisherman di negeri kita ini masih sangat sedikit sehingga daya jelajah wilayah dan spesies yang mereka lakukan masih sangat kurang. Satu dua saja fly fisher negeri ini yangs ering ke laut untuk memburu saltwater spesies. Lainnya memilih ‘berteduh’ di kolam ikan pacu/bawal ataupun paling mentok di tambak-tambak bandeng. Hehehe.


Oleh karena itulah demi hasrat agar gambar-gambar fly fishing negeri ini semakin beragam saya sangat ingin agar di Ujung Kulon besok saya strike bluefin trevally. Jika sampai itu terjadi maka foto big eye trevally on fly fishing yang saya pancing di Aceh Desember 2008 lalu akan punya teman baru. Good luck fishing untuk Anda semua yang pada weekend ini juga sama-sama akan berangkat memancing!

Wednesday, May 27, 2009

Kesan Kover Black Marlin 150 Kg

Ini adalah kover Majalah Mancing paling berkesan bagi saya. Saat itu pertarungan 2.5 jam menaklukkan black marlin 150 kg di perairan Aceh baru saja usai. Ikan anggun nan perkasa ini terpaksa mati karena telah kehabisan tenaga. Sebelum dipaksa naik ke permukaan ikan marlin ini kondisinya sudah mendem terus di dalam air, kehabisan tenaga karena tidak mampu melakukan gerakan sama sekali.

Seharusnya, jika mengacu pada etika sportfishing, ikan ini harus dilepaskan kembali ke lautan bebas. Memang ada beberapa pengecualian misalnya jika ini adalah ikan pertama bagi pemancing bersangkutan dan atau ini adalah ikan yang berpotensi memecahkan rekor. Dan 'untungnya' ikan ini bagi si pemancing, sahabat saya Bayu Noer Rachman yang merupakan host Mancing Mania Trans 7, ini adalah ikan marlin pertamanya dan untuk perairan Indonesia ikan ini memang berpotensi memecahkan rekor. Jadi matinya ikan ini memang memiliki alasan yang kuat.

Sudah begitu ikan ini dipancing dengan piranti jigging pula (tali PE4 sepanjang 300 meter dan joran jigging merk HOTS FakeLez). Saya terpikir saat itu bahwa ini adalah momen langka, seekor black marlin menyambar metal jig (saat itu kami memang sedang memburu dogtooth tuna). Ini pasti bisa menjadi foto untuk kover, pikir saya. Maka saya suruh si Bayu menggigit jorannya dan snap..snap..snap!

Dan inilah dia, 3 bulan kemudian foto itu pun menjadi kover. Telah beberapa kali potensi mancing di perairan Aceh ditampilkan di Majalah Mancing (semuanya dari hasil liputan saya bulan Desember 2008 dan Februari 2009) namun jujur saja menurut saya tidak ada yang mengalahkan liputan menaklukkan black marlin 150 kg ini. Namun jujur saja bukan dikarenakan ikannya yang besar. Liputan ini sangat berkesan bagi saya karena disinilah saya mengalami dengan sangat mengesankan untuk kali pertama kerjasama sebuah tim mancing yang super solid seperti pernah dikatakan oleh tetua mancing di Jakarta. Memang benar kata tetua itu, bahwa menaklukkan ikan marlin, apalagi yang besar, memerlukan kerjasama solid seluruh tim baik itu abk, pemancing, maupun kapten kapal.

So, sebelum Anda semua kehabisan edisi spesial ini baiknya segera ‘menyerbu’ toko pancing terdekat dan atau berlangganan (silahkan kunjungi MancingOnline.Com untuk detailnya). Ciao!

Thursday, May 21, 2009

Kisah Dua Pemancing

by Andrew Ho

Diceritakan tentang sebuah kejadian yang dialami dua orang pemancing yang sama-sama hebat, berinisial A dan B. Kedua pemancing itu selalu mendapatkan banyak ikan. Pernah kedua pemancing tersebut didatangi oleh 10 pemancing lain ketika memancing di sebuah danau. Seperti biasa, kedua pemancing itu mendapatkan cukup banyak ikan. Sedangkan 10 pemancing lainnya hanya bisa gigit jari, karena tak satupun ikan menghampiri kail mereka.

Kesepuluh pemancing amatir itu ingin sekali belajar cara memancing kepada kedua pemancing hebat tersebut. Tetapi keinginan mereka tidak direspon oleh pemancing berinisial A. Sebaliknya, pemancing berinisial A tersebut menunjukkan sikap kurang senang dan terganggu oleh kehadiran pemancing-pemancing amatir itu.
Tetapi pemancing berinisial B menunjukkan sikap yang berbeda. Ia bersedia menjelaskan tehnik memancing yang baik kepada ke-10 pemancing lainnya, dengan syarat masing-masing diantara mereka harus memberikan seekor ikan kepada B sebagai bonus jika masing-masing diantara mereka mendapatkan 10 ekor ikan. Tetapi jika jumlah ikan tangkapan masing-masing diantara mereka kurang dari 10, maka mereka tidak perlu memberikan apapun.

Persyaratan tersebut disetujui, dan mereka dengan cepat belajar tentang tehnik memancing kepada B. Dalam waktu dua jam, masing-masing diantara pemancing itu mendapatkan sedikitnya sebakul ikan. Otomatis si B mendapatkan banyak keuntungan. Disamping mendapatkan ‘bonus’ ikan dari masing-masing pemancing bimbingannya, si B juga mendapatkan 10 orang teman baru. Sementara pemancing A, yang pelit membagi ilmu, tidak mendapatkan keuntungan sebesar keuntungan yang didapatkan oleh si B.

Kisah di atas menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan akan jauh lebih bermanfaat bila diamalkan. “Hanya dengan cara kita mengembangkan orang lain yang membuat kita berhasil selamanya,” kata Harvey S. Fire Stone. Karena tindakan tersebut disamping menjadikan kita lebih menguasai ilmu pengetahuan, kita juga mendapatkan keuntungan dari segi finansial, pengembangan hubungan sosial, dan lain sebagainya. “Jika Anda membantu lebih banyak orang untuk mencapai impiannya, impian Anda akan tercapai,” imbuh Zig Ziglar, seorang motivator ternama di Amerika Serikat.

Bentuk pemberian tak harus berupa uang, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya, melainkan juga dalam bentuk kasih sayang, perhatian, loyalitas, motivasi, bimbingan dan lain sebagainya semampu yang dapat kita berikan. “Make yourself necessary to somebody. – Jadikan dirimu berarti bagi orang lain,” kata Ralph Waldo Emerson. Kebiasaan memberi seperti itu selain memudahkan kita memperluas jalinan hubungan sosial, tetapi juga membangun optimisme karena merasa kehidupan kita lebih berarti.

* Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller.

Wednesday, May 20, 2009

Senja Merah Loloda Utara


Mungkin mereka harus melihat dengan mata kepala sendiri senja merah di Loloda Utara. Senja merah yang menyala membakar langit dan kita hanya terpaku di atas perahu kayu renta milik nelayan Pulau Doi yang tak mampu diperbarui oleh pemiliknya. Melihat senja merah itu menyala dan kita takjub karenanya sementara beberapa jengkal di bawah kita adalah lautan tak terukur dalamnya yang bertabur misteri dan mistis jelata. Lautan yang menyimpan jerit jelata berbagai masa dari sebuah tanah legenda bernama Halmahera. Mungkin, itulah yang harus mereka lihat, senja merah di Loloda Utara, agar mereka sadar siapa Pencipta-nya, agar mereka tidak lupa bahwa mereka hanyalah setitik debu hina di hamparan bergeloranya samudera.

Tuesday, May 12, 2009

Dulu di Dekat Perempatan Bank BCA Dago


Dulu di sepanjang Jalan Dago diadakan festival seni tahunan yang selalu menyedot massa dalam jumlah yang sangat besar. Disponsori oleh sebuah raksasa rokok di Indonesia. Namun karena rasa festival seninya malah kemudian menjadi meredup, marginal dan kemudian malah dominan konsumerismenya, festival itu dihentikan. Ini hanya rekaman ingatan dari pendengaran saya saja terhadap hal itu, sebab sebenarnya kenapa festival seni itu dihentikan saya tidak tahu secara pasti. Namun satu hal yang sangat saya ingat dengan pasti di festival itu pernah digelar lomba foto spontan. Diikuti oleh fotografer-fotografer yang memang selalu membanjiri festival ini baik untuk menunaikan tugasnya sebagai jurnalis dan atau fotografer hobi yang sedang memburu momen. Dan saya ada disana. Sebagai anak kampung yang keracunan foto yang belajar otodidak dan sangat bangga meski hanya memiliki kamera Nikon F80 analog yang hanya dilengkapi lensa kit. Tidak ada yang istimewa sama sekali dengan tongkrongan saya. Namun saya adalah orang yang berprinsip jika kita merasa malu dengan apa yang kita miliki lebih baik mati saja, maka saya cuek saja bertanding dengan fotografer-fotografer yang memiliki ‘senjata’ yang mematikan. Dan keyakinan yang dibakar oleh semangat membara membuahkan hasil manis. Suatu hari terpampang di koran nama saya menang lomba itu meski hanya untuk kategori hiburan. Hasil dari ‘menembak’ momen di dekat perempatan dekat Bank BCA Dago ini. Tidak masalah sama sekali meski hanya hadiah hiburan. Yang paling penting bagi saya adalah sebuah bukti nyata akan sebuah keyakinan. Saya tidak bermaksud secara khusus mengenang hal itu ketika berdiri di dekat perempatan Bank BCA Dago itu kemarin, namun momen bertahun silam itulah yang paling saya ingat ketika saya memotret ‘manifesto’ dari seniman-seniman Bandung ini hari Sabtu lalu.

C'99 On Futsal


Saya bersyukur masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengisi hari-hari dengan beragam kegembiraan. Meski terkadang kegembiraan saya membuat seseorang merasa ditinggalkan dan saya menjadi merasa bersalah karenanya. Kembali futsal bersama teman-teman seangkatan alumni Sejarah’99 UNPAD sungguh sebuah rahmat yang luar biasa harus saya syukuri. Dulu sekali di jaman kuliah futsal bagi kami telah menjelma menjadi sebentuk kegilaan tersendiri. Sampai-sampai terkadang jam kuliah pun ditinggalkan (dan atau sengaja lupa kuliah, dan atau terkadang sengaja terlambat masuk kuliah) demi futsal. Kini Jatinangor (perbatasan Bandung-Sumedang) telah banyak berubah. Di ‘kota’ kecil ini kini telah tersedia beragam fasilitas untuk menyenangkan hati para mahasiswa yang menempuh studi di kampus-kampus yang ada di ‘kota’ kecil ini. Mall, lapangan futsal, tempat bilyard, bioskop, cafĂ©, toserba dan segala macam. Futsal di Jatinangor kini pun mengalami perubahan karakter, sedikit banyak telah menjadi bagian dari budaya metropolitan sekaligus konsumerisme. Dulu futsal bagi kami benar-benar sebuah aktivitas biasa saja untuk menyalurkan hasrat berolahraga dan tidak perlu mengeluarkan uang sama sekali selain untuk membeli minuman dingin. Cukup berkumpul di lapangan tanah atau di lapangan basket kampus sudah cukup. Kini futsal harus dibawa ke lapangan dengan harga sewa sekian ratus ribu per jam. Tetapi memang harus beginilah sebuah dunia. Berubah dan terus berubah. Apapun itu saya tetap merasa gembira bisa menikmati futsal, meski saya sebenarnya tidak bisa futsal dengan baik, bersama kawan-kawan lama ditengah berubahnya ‘kota’ Jatinangor yang entah kenapa sangat saya cintai ini.

Friday, May 8, 2009

Danone Aqua Goodness Of Nature Press Conference

Keterangan foto: “Konferensi Pers Danone Aqua Goodness Of Nature” @ Taman Sriwedari, Hotel Sultan Jl. Gatot Subroto Jakarta tanggal 7 April pukul 10.00-12.00 WIB.

Kebetulan diajak seorang kawan jurnalis media umum ke acara ini. Saya merasa bertanggung jawab untuk ikut menyebarkan informasi ini seluas-luasnya. Yang pasti saya berharap semoga kampanye "kebaikan alam" ini membahana kemana-mana, meluas gaungnya dan membawa kebaikan untuk alam dalam arti seluas-luasnya. Amiiiiin!

Wednesday, May 6, 2009

Selamat Ulang Tahun Parasastra

Selamat ulang tahun kawan. semoga kesunyian ini bukan berarti kita tertidur atau menyerah. Tetap semangat dan terus berkarya....

Parasastra adalah kelompok mahasiswa Fakultas Sastra UNPAD BANDUNG yang mempunyai minat besar untuk "belajar" fotografi dalam pengertian seluas-luasnya. PARASASTRA didirikan pada tanggal 5 Mei 2006 oleh 8 orang pendiri yang selanjutnya disebut Angkatan Pendiri (PDR). Setahun kemudian PARASASTRA telah memiliki Angkatan Blur (BLR) dan setelah dua tahun ditambah dengan kehadiran Angkatan Bulb (BLB). Kini anggota PARASASTRA telah mencapai hampir 50 orang lebih. Anggota yang masih aktif di kampus (masih menempuh studi) adalah kelompok terbesar dalam PARASASTRA. Sebagian lagi adalah PARASASTRA yang telah menyelesaikan studi dan telah bekerja di berbagai bidang. Ada yang aktif di media, dibidang desain, film, wiraswasta dan bahkan juga di bidang perbankan. Hal tersebut memang sangat mungkin dijalani oleh "JEBOLAN" PARASASTRA mengingat selama di PARASASTRA seluruh anggotanya dituntut agar menggunakan fotografi untuk "belajar" dalam artian seluas-luasnya. Fight for the glory of photography... PARASASTRA!!!

Sunday, May 3, 2009

Cumi Kering Goreng di Kelong Pak Long





Cumi goreng ataupun cumi bakar bukan sajian laut yang asing bagi banyak orang. Namun waktu seminggu lalu saya mengunjungi Kabupaten Lingga saya merasakan petualangan kuliner yang tidak ada duanya dengan si cumi ini. Ceritanya bersama kru Mancing Mania Trans 7 hari itu kami merancang trip mancing ke sebuah kelong (bagan) di tengah laut. Berharap bisa kasting, popping, atau melakukan kegiatan mancing lain yang khas atau sangat menarik. Namun apa daya kondisi perairan memang tidak mendukung, tidak ada game fish di tempat itu. Maka kami pun sibuk menyantap cumi kering yang digoreng yang disajikan oleh pekerja kelong itu. Dan ternyata saudara-saudara, cumi kering yang digoreng itu rasanya sangat luar biasa. Beda banget dengan cumi basah yang digoreng ataupun dibakar!!!

Gonggong Yang Tidak Berisik



Sekedar oleh-oleh kuliner dari perjalanan ke Kepulauan Riau seminggu lalu. Kerang gonggong adalah siput yang masuk dalam keluarga moluska gastropoda. Di Batam, Tanjung Pinang dan beberapa daerah lain di Kepulauan Riau kerang ini merupakan santapan yang sangat terkenal di kalangan pecinta sea food karena rasanya yang sangat nikmat. Kerang yang disajikan usai direbus selama sekitar 15-an menit ini biasa disajikan dengan sambal pedas baik itu sambal kacang, sambal kecap ataupun saos pedas. Dipercaya juga sebagai 'mesiu' penambah stamina 'senjata' pria. Jangan lupakan gonggong jika Anda sedang dalam perjalanan ke Kepulauan Riau. Dijamin, ketagihan! Tetapi hati-hati ya dengan kandungan kolesterolnya, jangan sampai Anda menyantap satu truk gonggong dalam waktu semalam. Hehehehe...