Search This Blog

Loading...

Sunday, July 26, 2009

Tikus Semakin Kuat dan Berani

Tikus kini semakin kuat. Meski hidup di kegelapan dan di tempat-tempat sarang penyakit, itu justru tidak membunuhnya, malah semakin membuat tikus kebal dan tangguh. Kucingnya tampak takut. Hanya berani sekali mengeong dan ketika tikus bereaksi dengan menggerakkan badannya saja kucing langsung bergidik menjauh sambil mengeong gentar. Anjing yang berdiri di kejauhan tidak melakukan apa-apa karena tidak mungkin baginya untuk membantu kucing. Anjing juga malas mengganggu tikus karena tikus kotor dan bau, anjing lebih suka mengganggu kucing yang cantik dan wangi. Aku melihatnya semalam, di selokan sebelah kosan. Kucing-kucing saat ini memang tidak terlalu mengetahui perkembangan tikus karena kucing sibuk tiduran di sofa sambil sesekali mengeong malas dan lapar saja. Dan kini, persis seperti itulah yang terjadi di kehidupan kita. Anda bisa menyangkal pendapat saya ini, tapi sungguh, andai Anda memikirkan sejenak saja pendapat bodoh ini dengan mencocokkannya dengan kehidupan yang terjadi di sekitar kita, ambil contoh misalnya di kota Jakarta, maka kita akan menemukan betapa tikus-tikus itu memang semakin kuat dan tangguh. Mereka semakin pintar. Dari awalnya hanya menjadi tukang mengeluh di dalam bilik-bilik tersembunyi, kini mereka telah bisa melemparkan kegelisahan ke rumah kita. Dari membakari tulang belulang ikan di samping selokan, mereka kini sudah bisa membakar permusuhan antar negara. Apa yang terjadi saat nanti tikus-tikus ini benar-benar mampu mewujudkan keinginannya, mengambil alih seluruh selokan dan gorong-gorong? Rumah kita pasti hanya menunggu waktu untuk mereka jadikan sarang. Lalu seluruh kota, lalu seluruh negeri. Mengerikan! Oh ya jangan sepelekan juga kemampuan tikus menggalang 'pasukan' karena tikus sangat terkenal dengan nafsu mencetak anak yang luar biasa. Jadi jangan sepelekan sama sekali kemampuan membiaknya tikus ini. Mereka bisa melakukannya dimana saja. Mereka bisa membentuk koloni yang besar dalam waktu yang sangat singkat!

Jika akhirnya tikus menguasai kota dan negeri kita saya pun juga sangat khawatir. Apakah kita masih bisa memancing dengan tenang? Apakah anak-anak kita masih bisa belajar memancing dari kita? Apakah istri kita bisa memasak ikan-ikan 'table fish' hasil pancingan kita?

Apakah kita masih bisa menjadi beragam dan merdeka???

* Foto diambil dari www.mindfully.org

Monday, July 20, 2009

Kita Bisa Menengok Kembali Jalan Kecil Itu

Saya bertemu dengan tiga sekawan ini saat bersama ‘kawan-kawan seperjuangan’ mengeksplorasi Waduk Cirata di Jawa Barat beberapa hari lalu. Kami sedang berkeliling ke segala penjuru waduk dan menemui tiga sekawan ini di salah satu sudut waduk. Karena tergelitik dengan keasyikan mereka memancing kami kemudian merapatkan kapal ke tepian. Tiga sekawan ini tidak saya tahu namanya karena saat kami tanya mereka terus asyik memancing berusaha mendapatkan ikan-ikan kecil sebanyak mungkin. Kami jadi ikut larut dengan keasyikan mereka memancing. Lihatlah piranti yang mereka pakai. Hanya joran dari ranting kayu seadanya, seutas tali yang entah didapatkan dimana, mata kail kecil yang dipasangi umpan cacing. Mereka terlihat sangat menikmati aktivitas mereka itu. Anak-anak yang sangat berbahagia. Jarak gambar ini diambil mungkin hanya dua jam saja jika ditempuh dari Jakarta. Bandingkan dengan kondisi di Jakarta, anak-anak di Jakarta kini semakin terkepung oleh apa yang kita sebut modernisasi. Mungkin mereka menikmatinya, atau tampak menikmatinya, tetapi apakah itu yang benar-benar diperlukan mereka?

Saya jadi teringat masa kecil di kampung. Dulu sekali, saya juga pernah melakukan aktivitas seperti ketiga sekawan ini. Memancing di bendungan atau sungai sepulang sekolah atau waktu hari libur memburu ikan-ikan kecil untuk kemudian saya goreng di rumah sebagai lauk pauk. Tapi itu dulu sekali. Dan dulu saya juga merasa sangat berbahagia. Jadi sekarang kalau ada saat-saat dimana saya merasa saya tidak berbahagia karena suatu hal, saya coba menengok kembali pada ‘jalan kecil’ yang pernah saya lalui. Saya akan menemukan sekeping kebahagiaan disana. Anda, saya yakin juga akan menemukannya. Salam!

Saturday, July 18, 2009

Memandang Pagi Cirata, Memikirkan Ulah Facebook

Bikin bete banget deh pokoknya. Ceritanya begini. Saat saya dan kawan-kawan MANCING MANIA TRANS 7 jalan-jalan ke Waduk Cirata, Jawa Barat, ternyata malam sebelumnya Facebook mendelete group MANCING MANIA TRANS 7 dengan alasan ADA YANG REPORT bahwa grup ini "include drug use, nudity, or other graphic or sexually suggestive content are not allowed, nor are groups that depict violence or that attack an individual or group of people". Alasan penghapusan ini tidak serta merta kami ketahui. Alasan itu kami ketahui setelah Denis (admin dan creator) grup getol bertanya ke Facebook mengenai dihapusnya grup yang telah memiliki member sebanyak 12 ribu orang ini. Sialnya, account para admin grup ini (ada 4 admin) otomatis dihapus oleh FB! Gila!

Pertanyaan pertama setelah kami mengetahui alasan penghapusan tersebut adalah. Berapa banyak sih yang report bahwa grup mancing ini "include drug use, nudity, or other graphic or sexually suggestive content are not allowed, nor are groups that depict violence or that attack an individual or group of people". Dan okelah misalnya memang benar-benar ada yang report, apakah FB tidak memeriksa dengan seksama apa isi grup ini? Sangat mengecewakan ketika tiba-tiba FB menghapusnya tanpa memeriksanya lebih dahulu karena kalau mereka memeriksanya maka akan jelas sekali terlihat bahwa TIDAK ADA isi yang aneh-aneh di grup itu karena grup ini hanyalah GRUP MANCING! Gila! Bagaimana bisa tiba-tiba dihapus?

Ironisnya, ketika grup MANCING MANIA TRANS 7 yang dibuat oleh para personel MM TRANS 7 dihapus oleh FB gara-gara report segelintir orang yang ngaco (atau sirik???), grup yang mengaku-aku MM TRANS 7 (mereka memasang logo MM TRANS 7 segala) yang dibuat oleh entah siapa (bahkan ada yang mencantumkan alamat Gedung Trans 7 segala) tetap eksis di FB! Gilaaa! Lalu apa sih sebenarnya yang dikerjakan oleh FB?! Memang FB telah berbaik hati membuat jejaring sosial yang luar biasa ini, gratis, tetapi apakah bisa seenaknya berulah seperti ini?

Sempat terfikir untuk anti Facebook gara-gara kejadian ini. Tapi saya dan Denis berfikir jika saya kemudian menjadi anti Facebook, maka misi orang-orang yang sirik dengan kami berarti sukses besar, oleh karenanya meski kami sekarang lebih hati-hati dalam ‘memandang’ FB, kami akan tetap berada di jejaring sosial ini karena kami yakin jejaring sosial ini merupakan sarana yang efektif untuk berbagi informasi seputar mancing dan menjalin pertemanan. Ya Tuhan, hanya ingin menjalin pertemanan dan berbagi informasi seputar mancing saja tapi kog ada yang sirik ya? GILA!

Sampai hari ini grup MANCING MANIA TRANS 7, yang membernya telah 12 ribu orang itu, belum diaktifkan kembali (atau memang tidak akan pernah diaktifkan kembali oleh FB). Denis dan saya kemudian membuat kembali grup yang baru, MANCING MANIA TRANS 7 OFFICIAL, karena kami tidak mau para sahabat kami para pemancing terlalu lama tidak mendengar kabar mancing dari kami dan juga salah masuk grup yang berpura-pura sebagai MM TRANS 7 itu.

PLEASE JOIN US!

Ikan Sepat: Mungil Sih Namun Mantap Disantap & Dipancing!

Ikan mungil ini menjadi target mancing di berbagai daerah di Indonesia. Saya pernah menjajalnya di Cimahi, Jawa Barat bersama kawan-kawan Bandung. Dan ternyata ikan imut ini juga menyajikan sensasi mancing yang menakjubkan. Dengan piranti mancing super kecil ini sangat menyenangkan. Stress langsung hilang dan atau bertambah. Hehehehe. Ikan sepat yang banyak terdapat di perairan kita adalah sepat rawa. Namun ada juga sepat siam meski jarang. Berikut keterangan mengenai ikan ini yang saya sarikan dari Wikipedia.

1. SEPAT RAWA (Trichogaster trichopterus). Sering disebut ikan sepat biasa adalah sejenis ikan anggota suku gurami (Osphronemidae). Ikan ini banyak dikenal dengan nama-nama lokal seperti sepat sawah, sepat jawa, sepat biru, sepat ronggeng (Mly.), sapek (Min.) dan lain-lain. Dalam perdagangan ikan hias, bergantung pada varietasnya, ikan ini dikenal dengan nama-nama (Ingg.) seperti Three spot gourami, Blue gourami, Cosby gourami, Gold gourami, Golden gourami, serta Opaline gourami.

Ikan ini merupakan ikan konsumsi yang disukai orang, meski umumnya hanya bernilai lokal. Namun di samping itu terdapat pula varian-varian hiasnya yang berwarna menarik, yang populer sebagai ikan akuarium. Ikan ini hidup di rawa-rawa, danau, aliran-aliran air yang tenang, dan umumnya lahan basah di dataran rendah termasuk sawah-sawah serta saluran irigasi. Di saat musim banjir, penyebarannya meluas mengikuti aliran banjir ini. Sepat rawa memangsa zooplankton, krustasea kecil dan aneka larva serangga.

Pada musim berbiak, ikan jantan membangun sebuah sarang busa untuk menampung dan memelihara telur-telur sepat betina, yang dijagainya dengan agresif. Bersama dengan sepat siam yang bertubuh lebih besar, ikan ini merupakan ikan konsumsi yang digemari dan cukup penting; meskipun ikan segarnya umumnya hanya bernilai lokal. Pada musim-musim banjir, ikan sepat sering didapat dalam jumlah besar dan diasinkan untuk mengawetkannya. Ikan sepat asin merupakan komoditas penting bagi wilayah-wilayah bersungai besar seperti Jambi. Ikan sepat juga dapat difermentasi menjadi bekasam. Sepat rawa yang telah diseleksi dalam penangkaran memiliki aneka pola warna. Ikan ini lebih populer daripada sepat siam dalam perdagangan ikan hias. Sepat rawa termasuk tahan dan mudah dipelihara dalam akuarium.

2. SEPAT MUTIARA (Trichogaster leeri). Dalam bahasa Inggris disebut Pearl gourami, Mosaic gourami atau Lace gourami merujuk pada pola warna berbintik-bintik indah dengan garis hitam di sisi tubuhnya. Sepat mutiara adalah hewan omnivora, pemakan segala. Di akuarium, ikan ini dapat diberi pakan kering seperti pelet atau cacing tubifex kering. Sesekali, juga dapat diberikan pakan hidup seperti udang renik.

Seluruh ikan sepat, sebagaimana kerabat dekatnya yakni ikan tambakan, gurami, betok dan cupang, tergolong ke dalam anak bangsa Anabantoidei. Kelompok ini dicirikan oleh adanya organ labirin (labyrinth) di ruang insangnya, yang amat berguna untuk membantu menghirup oksigen langsung dari udara. Adanya labirin ini memungkinkan ikan-ikan tersebut hidup di tempat-tempat yang miskin oksigen seperti rawa-rawa, sawah dan lain-lain. Akan tetapi, tak seperti ikan-ikan yang mempunyai kemampuan serupa (lihat misalnya ikan gabus, betok, atau lele), ikan sepat tak mampu bertahan lama di luar air. Ikan ini justru dikenal amat mudah mabuk dan lekas mati jika ditangkap. Penyebaran asli ikan ini adalah di wilayah Asia Tenggara, terutama di lembah Sungai Mekong di Laos, Thailand, Kamboja dan Vietnam; juga dari lembah Sungai Chao Phraya. Ikan ini diintroduksi ke Filipina, Malaysia, Indonesia, Singapura, Papua Nugini, Sri Lanka, dan Kaledonia Baru.

3. SEPAT SIAM (Trichogaster pectoralis). Di Jawa Timur ia juga dikenal dengan nama sliper. Dalam bahasa Inggris disebut Siamese gourami (Siam adalah nama lama Thailand) atau snake-skin gouramy, merujuk pada pola warna belang-belang di sisi tubuhnya. Ikan rawa yang bertubuh sedang, panjang total mencapai 25cm; namun umumnya kurang dari 20 cm. Lebar pipih, dengan mulut agak meruncing. Seperti umumnya sepat, ikan ini menyukai rawa-rawa, danau, sungai dan parit-parit yang berair tenang; terutama yang banyak ditumbuhi tumbuhan air. Juga kerap terbawa oleh banjir dan masuk ke kolam-kolam serta saluran-saluran air hingga ke sawah-sawah.

Sebagian besar makanan sepat siam adalah tumbuh-tumbuhan air dan lumut. Namun ikan ini juga mau memangsa hewan-hewan kecil di air, termasuk ikan-ikan kecil yang dapat termuat di mulutnya. Ikan ini sering ditemui di tempat-tempat yang kelindungan oleh vegetasi atau sampah-sampah yang menyangkut di tepi air. Ikan sepat siam menyimpan telur-telurnya dalam sebuah sarang busa yang dijagai oleh si jantan. Setelah menetas, anak-anak sepat diasuh oleh bapaknya itu hingga dapat mencari makanan sendiri. Sepat siam merupakan ikan konsumsi yang penting, terutama sebagai sumber protein di daerah pedesaan. Selain dijual dalam keadaan segar di pasar, sepat siam kerap diawetkan dalam bentuk ikan asin dan diperdagangkan antar pulau di Indonesia.

Sepat siam dimasukkan ke Indonesia pada tahun 1934, untuk dikembangkan pembudidayaannya di kolam-kolam dan sawah. Tahun 1937, sepat ini dimasukkan ke Danau Tempe di Sulawesi dan sedemikian berhasil, sehingga dua tahun kemudian ikan ini mendominasi 70% hasil ikan Danau Tempe. Saat ini sepat siam telah meliar dan berbiak di berbagai tempat di alam bebas, termasuk di Jawa.

PIRANTI MANCING & UMPAN
- Joran tegeg super lentur dengan panjang 1 meter (untuk danau dan sungai kecil/selokan), atau yang panjangnya 2-3 meter (untuk sungai lebar atau di danau). Bisa terbuat dari fiber ataupun bambu dan waregu (sejenis palma namun kecil).
- Tali monofilament 1 lbs berkualitas baik (sungai kecil), 2-3 lbs (sungai besar dengan arus agak deras).
- Mata kail nomer 0.5 s/d ukuran 1.
- Pelampung kecil + timah lembar/timah daun.
- Umpan: kroto (telurnya), cacing kecil atau udang renik segar/beku.

* Foto 1. Ikan sepat rawa yang banyak terdapat di Indonesia. Ikan ini saya foto saat memancing di bekas galian pasir di Cimahi, Bandung.
* Foto 2-4-6. Macam-macam ikan sepat. Foto diambil dari Wikipedia.
* Foto 3. Ikan sepat bisa hidup di air yang miskin oksigen seperti bekas galian pasir yang telah dipenuhi enceng gondok ini.
* Foto 5. Bekas galian pasir yang telah dipenuhi air seperti ini merupakan salah satu tempat ikan sepat berkembang biak.
* Foto 7. Contoh ukuran pancing untuk memancing ikan sepat. Bayangkan bagaimana mengikatnya. Haha...

Thursday, July 16, 2009

Empat Belas Juli

Suatu malam yang panas di sebuah kota yang selama ini terkenal dengan udaranya yang dingin (laju industrialisasi ternyata telah semakin merajalela di kota itu dan semakin merusak lingkungan), usai perjalanan keliling menemui ikan-ikan air tawar di sebuah waduk terkenal di Jawa Barat selama beberapa hari, saya tiba-tiba tersadar bahwa di luar sana banyak sekali yang dekat dan peduli dengan saya. Perlu berpuluh menit untuk membaca semua ucapan yang masuk itu. Dan usai membacanya saya merasa udara panas di kota itu sedikit berkurang berganti hawa sejuk yang menembus kamar hotel dan mengusap saya dengan lembut.

Saya berharap bahwa saya memang telah melakukan sesuatu yang berguna seperti dikatakan oleh mereka. Karena kalau sesungguhnya tidak maka saya akan sangat bersedih karena itu berarti menambah panjang kegagalan-kegagalan saya yang mana daftarnya baru saja saya kumpulkan dan niatnya akan saya buang ke perapian agar menjadi abu. Empat belas Juli, sebuah hari biasa yang kemudian menjadi luar biasa bagi saya, sayangnya kita tidak bisa melewatkannya bersama-sama kawan. Namun bagaimanapun dan dimanapun kalian, saya berharap semua yang terbaik selalu menyertai hidup kalian. Tuhan menyertai kita semua...

* Foto dibuat tanggal 12 Juli di Jawa Barat.

Monday, July 6, 2009

I Love Tegal...

Demi melepaskan gundah dan me-refresh otak yang telah mulai penuh oleh ‘polusi’ Jakarta saya merapat ke kota kecil di Jawa Tengah bernama Tegal. Kota yang bersejarah bagi saya karena disinilah dua tahun lalu untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan sportfishing. Agak aneh karena perkenalan itu terjadi berpuluh tahun setelah kelahiran saya, padahal desa asal saya di Malang Selatan dekat sekali dengan pantai. Entah kenapa dulu saya tidak terbayang sedikitpun dengan yang namanya sportfishing. Sebelumnya, ‘karir’ mancing yang pernah saya tempuh hanyalah memancing mujaer, tawes dan lele di sungai-sungai di desa saya dengan umpan livebait macam cacing. Tapi sungai-sungai itu sepengtahuan saya kini telah musnah karena pendangkalan dan karena mata air di hulu-nya telah mati.

Kembali ke Tegal berarti kembali bertemu dengan sahabat-sahabat lama. Ada David Hidayat, Andi Bahari, Ang Sutawijaya dan lain-lain. Setiap pertemuan kami selalu merupakan saat-saat yang sangat menyenangkan. Mancing pada akhirnya menjadi salah satu bagian kegiatan saja karena nyatanya di Tegal kami pasti akan sibuk kuliner dan lain-lain. Spot yang saya sasar kali ini adalah spot yang sama yang pernah saya pancingi pada pertengahan tahun lalu bernama KJ, terletak di 2.5 mil di utara kota Tegal. Spot ini berupa karang dangkal yang cukup luas dan selalu menjanjikan sensasi mancing yang maksimal, terutama untuk pemakaian dan aplikasi teknik light tackle kasting dengan artificial lure, karena dipenuhi oleh ikan talang-talang (Queenfish) berukuran antara 3-7 kilogram.

Saat kedatangan saya telah saya perhitungkan jauh-jauh hari. Saya selalu datang ke kota ini saat angin barat ataupun angin timur sedang berhenti bertiup untuk sementara waktu. Biasanya ikan talang-talang di saat-saat teduh yang hanya beberapa hari itu akan gila-gilaan menghantam popper, spoon, pencil, dan bahkan umpan livebait kita (bandeng, belanak, dan udang kecil). Tetapi kondisi air harus mendukung juga. Air tidak boleh terlalu bening dan juga harus ada gerakan arus di lokasi. Dan karena semua faktor yang diperlukan saat itu semuanya sangat bagus kondisinya, saya dan teman-teman di Tegal pun sukses besar dalam memancing talang-talang. Belasan ekor ikan talang-talang dengan berat antara 3-4.5 kg kami taklukkan dalam waktu ½ hari saja. Lure yang paling laku kali ini adalah popper dark/black chrome dari Yo-Zuri seberat 25 dan 42 gram. Joran kami rata-rata kelas 15-35 lbs. Dan reel yang kami gunakan adalah reel-reel kelas 2000 hingga maksimal 4000 yang diisi dengan tali PE 2 dan PE 3. Pemakaian piranti set yang termasuk kelas ringan (untuk ukuran saltwater) ini kami maksudkan agar semakin memperbesar adrenalin rush dan kepuasan yang kami dapatkan.

Maka saya pun kembali ke Jakarta dengan senyum lebar. Kepada kawan-kawan pemancing Tegal saya berjanji kembali lagi jika angin kembali reda nanti. Tegal memang tiada duanya!

* Foto 1: Dijepret menggunakan kamera ponsel oleh kawan saya di Tegal. Terpaksa menggunakan kamera di ponsel karena saya tidak membawa DSLR camera. Berukuran kecil memang size fotonya. Tapi jujur deh, sensasi menaklukkan talang-talang ini dengan light tackle kasting sungguh tidak sekecil foto ini. Hehehehe...
* Foto 2: Di Tegal, popper kecil black/dark chrome biasanya juga akan mengundang GT imut seperti ini untuk menyambarnya. Bonus lain yang mengasyikkan selain ikan talang-talang.

Saturday, July 4, 2009

Pro Kontra Ikan Largemouth Bass di Jepang

Habitat asli ikan largemouth bass adalah Amerika Utara. Tapi saat ini ikan largemouth bass juga sangat mudah dijumpai di perairan tawar di Jepang. Bagaimana ini bisa terjadi? Bermula pada tahun 1925 saat seorang big boss di Jepang bernama Akabishi Tetsuma mengimpor 90 ekor ikan largemouth bass dari California, USA dan kemudian melepaskan ikan-ikan itu di Ashino Lake. Pebisnis Jepang (Akabishi Tetsuma) dengan visi yang sangat jauh ini berpikiran bahwa ikan ini akan menjadi sesuatu yang menguntungkan bagi Jepang di masa mendatang karena ikan ini sangat mengesankan saat dipancing dan rasa dagingnya pun enak. Apa yang dipikirkan oleh Tetsuma ini saat ini telah menjadi kenyataan. Ikan largemouth bass telah memutar uang triliun-an rupiah di industri speedboat, boat engine, tackle (alat-alat pancing) dan aksesorisnya, apparel, dan bahkan hingga video game ataupun pc game tentang mancing ikan largemouth bass.

Tetapi tahukah Anda bahwa hingga hari ini keberadaan ikan largemouth bass di perairan tawar Jepang terus menyimpan kontroversi? Selengkapnya...

* Foto Danau Ashino oleh Kasugai