Search This Blog

Loading...

SHARE THIS

Share |

Monday, September 28, 2009

Preman Tanjung Tiram dan Menara Suar Yang Tertidur


Beberapa detik saat pertama menginjak Tanjung Tiram di daerah 'batubara' Sumatra Utara saya tidak nyaman sama sekali. Kota kecil yang berjarak 3 jam dari Medan ini kumuh dan super padat dan sangat tidak welcome dengan orang baru. Setiap sudut kerumunan kota kecil ini saya lihat penuh orang yang berkerumum main judi. Baru beberapa detik parkir mobil dan mau loading barang-barang ke kapal mancing saja sudah banyak 'jagoan' lokal petentang-petenteng pamer otot. Apa sih yang mereka banggakan? Merasa diri preman dan bisa seenaknya saja ke orang-orang yang datang berkunjung ke daerah ini? Dalam hati pantas saja Tanjung Tiram begini kumuh dan bau, ya karena itu tadi, hanya pakai otot semuanya. Bagaimana pariwisata mau maju kalau para turis disuguhi kekanak-kanakan lokal memalukan seperti ini?

Akhirnya kami pun bisa terlepas dari memuakkannya suasana tidak bersahat di Tanjung Tiram dan kapal mancing kami pun melaju ke lautan luas. Sekejap, saya menikmati pesona menara suar kecil di depan muara sungai Tanjung Tiram. Saat itu kapal mancing saya melintas persis di depannya menuju Utara ke perairan di daerah perbatasan dengan Malaysia. Karena pagi, menara suar ini diam dan tidur, tetapi malah memancarkan pesona yang menarik dalam balutan sinar mentari. Sudah berapa ribu kapal yang dipandu oleh menara suar ini ya?

Saya menjadi ingat sebuah mercusuar di ujung paling barat Pulau Jawa sana. Mercusuar di Tanjung Layar. Saya dan kawan-kawan pasti ditemani mercusuar ini saat popping di Ujung Kulon sana. What a friend! Haha. Posisi mercusuar di Tanjung Layar ini sangat ‘menarik’ karena persis di tebing dimana di ‘bawah’ mercusuar ini adalah kelompok bebatuan karang yang gagah menjulang dalam gempuran ombak Lautan Hindia. Nah ini adalah spot popping yang potensial. Ratusan ribu kapal pasti pernah dipandu olehnya karena Ujung Kulon adalah jalur pelayaran yang cukup padat yang dilalui oleh kapal-kapal besar dari Australia.

By the way sejarah menara suar atau juga disebut mercusuar ternyata menarik sekali. Bacaan singkat sejarah mercusuar bisa di klik di sini. Oh ya mengenai preman di awal tulisan ini. Biarlah dia terus terpesona dengan kegagahan dirinya sendiri di 'kemegahan' keperkasaannya yang bau dan kumuh itu. Haha!

* Foto #1: Menara suar di Tanjung Tiram (tiga jam dari Medan), Sumatera Utara. (Foto diambil tanggal 25/09/2009)
* Foto #2: Mercusuar di Tanjung Layar, Ujung Kulon, Banten (Foto diambil 30/05/2009)

Pulau Pandang: Hanya Batu, Tetapi Milik Kita







Sayangku, kubawakan lembaran foto-foto batu ini. Benar-benar hanya foto batu. Memang ada rumput, pepohonan, air, mungkin juga ikan-ikan yang tersamar di dalam air dan pasir di foto-foto ini. Tetapi tema utamanya adalah “batu”. Bukan foto yang menarik, karena hanya batu. Tetapi sayang, foto ini diambil di sebuah pulau kecil dekat dengan perbatasan antara laut negara kita dengan laut negara lain. Jadi semoga kalau kamu melihatnya semoga ada sesuatu yang agak berbeda.

Harus kamu tahu, batu-batu ini (dan juga batu-batu lain di pulau kecil yang lain), padahal cuma batu lho, sering sangat diminati oleh negara lain. Makannya jangan heran negara tetangga kita itu suka sekali mengklaim pulau-pulau kecil milik kita. Sialnya, banyak pulau-pulau kecil kita di perbatasan tidak diperhatikan oleh “mereka” (kamu tahu maksudku) dan mungkin oleh kita juga sebagai sesuatu yang berharga.

Jadi sayang, meski ini hanya batu, jangan dilupakan ini juga milik kita. Bukan milik “mereka” yang sering diterjemahkan dengan suka-suka dan sembarangan dalam mengelolanya (negara maritim tetapi dikelola dengan ‘kacamata’ agraris), dan juga bukan milik negara lain. Ini milik kita! Semoga tidak pernah ada lagi kebodohan sehingga pulau-pulau kecil kita di perbatasan hilang dimakan negara tetangga. AMIN!

* Foto-foto diabadikan di Pulau Pandang, pulau kecil di Provinsi Sumatra Utara. Salah satu pulau kecil milik negara kita yang termasuk kategori pulau terluar di Selat Malaka (Foto diambil pada 26/09/2009).

Sunday, September 20, 2009

Patung Ikannya Salah, Potensi Lautnya Top Markotop!

Mungkin belum banyak pemancing negeri kita yang mengenal Kuala Rompin. Kuala Rompin berada di arah timur laut Kuala Lumpur (4 jam dengan mobil) dan termasuk dalam wilayah Negara Bagian Pahang, Malaysia. Kuala Rompin sekarang ini menjadi destinasi top kelas dunia untuk sailfish fishing. Saat musim ikan layaran yang berlangsung antara bulan Agustus-November Kuala Rompin menjadi sibuk dan semua kapal mancing disana pasti full booked. Sektor-sektor ekonomi di wilayah ini ikut berderap kencang hanya karena "ikan layaran" ini. Kesuksesan Kuala Rompin ini tidak terjadi begitu saja. Banyak usaha yang dilakukan oleh pemerintah setempat antara lain tidak boleh ada aktivitas penangkapan ikan oleh nelayan (benar-benar tidak ada nelayan boleh melakukan aktivitas di sini) dan setiap pemancing yang memancing di sini harus merilis ikan sailfish itu hidup-hidup ke laut. Jika sampai mati akan didenda. Dendanya pun lumayan, jika sampai ketahuan membuat ikan layaran mati, per ekornya bisa didenda RM 900. Potensi laut di Kuala Rompin bisa menjadi seperti sekarang ini karena antara warga dan pemerintah memiliki niatan yang sama. Indonesia, yang bahkan oleh orang-orang Malaysia sendiri diakui memiliki potensi laut yang lebih luar biasa dibandingkan mereka, malah tidak memiliki daerah sehebat Kuala Rompin ini. Kenapa?

Oh ya, kalau diperhatikan patung ikan di pusat Kuala Rompin pada foto di atas, ini adalah ikan marlin. Padahal Kuala Rompin adalah ‘kerajaan’ ikan sailfish (sailfish). Memang hampir mirip tetapi berbeda. Sama-sama spesies billfish namun berbeda. Tetapi mungkin pikir orang-orang Kuala Rompin tidak apa-apa salah tanda yang penting potensi wilayah ini memang benar-benar luar biasa, daripada penuh ‘lipstick’ seperti kemasan promosi-promosi wisata di Indonesia tetapi banyak yang tidak ada isinya sama sekali? Indonesia seharusnya bisa memiliki puluhan dan bahkan ratusan daerah yang bisa dikelola seperti Kuala Rompin ini asal ada kesepahaman tekad dan usaha dari pemerintah dan masyarakat. Di Kuala Rompin warga bisa sejahtera hanya dengan menyewakan penginapan, kapal, berdagang makanan dan lain-lain tanpa harus menguras ini laut. Hmmmm, mungkin karena di sana penduduknya sedikit ya? Andai pemerintah negeri kita memiliki niat sehebat pemerintah Negara Bagian Pahang, Malaysia ini, jangankan satu, ratusan destinasi sportfishing kelas dunia bisa dibangun di Indonesia. Lha wong potensi lautnya luar biasa kog!!!

* Foto: www.rompinfishing.com

Friday, September 18, 2009

Istiophorus Platypterus/Sailfish/Ikan Layaran


Sekelompok ikan layaran sedang berburu makanan yakni ikan-ikan umpan berukuran kecil. Dari foto ini terlihat seekor ikan layaran sedang memukul ikan kecil dengan paruhnya/bill. (Foto diambil dari www.nationalgeographic.com)

Minggu (20/09/09) pukul 15.30 wib Mancing Mania Trans|7 akan menayangkan episode "Dancing Sailfish". Hasil fishing trip ke HOT SPOT ikan layaran paling bergengsi di seluruh Asia Tenggara. Lokasi tepatnya dimana baiknya Anda tonton saja acaranya, kita sama-sama menunggu. Hehehehe. Di tayangan tersebut ikan layaran akan melompat-lompat ke udara seperti layaknya penari lihai. Sangat mengaggumkan. Bagaimana kalau sebelum menonton kita mengenal lebih jauh mengenai ikan ini. Hanya sebuah copy paste dari dokumen yang tersebar di internet. Semoga berguna. Thanks.

Istiophorus (Lacépède, 1801)

Kingdom: Animalia. Phylum: Chordata. Class: Actinopterygii. Order: Perciformes. Family: Istiophoridae. Genus: Istiophorus (Lacépède, 1801). Species: Istiohorus albicans, Istiophorus platypterus.

Sailfish are two species of fishes in the genus Istiophorus, living in warmer sections of all the oceans of the world. They are blue to grey in color and have a characteristic erectile dorsal fin known as a sail, which often stretches the entire length of the back. Another notable characteristic is the elongated bill, resembling that of the swordfish and other marlins. Both species of sailfishes grow quickly, reaching 1.2-1.5 m (4-5 ft) in length in a single year, and feed on the surface or at mid-depths on smaller pelagic forage fish and squid. Individuals have been clocked at speeds of up to 110 km/h (70 mph), which is the highest speed reliably reported in a fish.[2] Generally, sailfish do not grow to more than 3 m (10 ft) in length and rarely weigh over 90 kg (200 lb), although larger specimens have been seen off the shores of Costa Rica.


The sail is normally kept folded down and to the side when swimming, but it may be raised when the sailfish feels threatened or excited, making the fish appear much larger than it actually is. This tactic has also been observed during feeding, when a group of sailfish use their sails to "herd" a school of fish or squid. Sailfish are highly prized game fish and are known for their incredible jumps. The sailfish also turns its body light blue with stripes when excited, confusing some fish and making it easier to catch prey.

Istiophorus platypterus (Shaw, 1792)
Indo-Pacific sailfish

::Size / Weight / Age:: Max length : 348 cm FL male/unsexed; (Ref. 40637); common length : 270 cm TL male/unsexed; (Ref. 9308); max. published weight: 100.2 kg (Ref. 40637); max. reported age: 13 years (Ref. 53742). ::Environment:: Pelagic-oceanic; oceanodromous (Ref. 51243); marine; depth range 0 - 200 m (Ref. 54238), usually 30 - ? m (Ref. 9688). ::Climate / Range:: ::Subtropical:: 50°N - 43°S, 16°E - 71°W (Ref. 43)

Distribution
Indo-Pacific: tropical and temperate waters approximately 45°- 50°N and 40°-35°S in the western Pacific, 35°N and 35°S in the eastern Pacific; 45°S in western Indian Ocean and 35°S in eastern Indian Ocean. Entered Mediterranean Sea from Red sea via Suez Canal. Highly migratory species, Annex I of the 1982 Convention on the Law of the Sea (Ref. 26139). Some authors recognize a single worldwide species, Istiophorus platypterus (Shaw & Nodder 1792) but we follow Nakamura 1990 (Ref. 10820) retaining the usage of Istiophorus platypterus for the Indo-Pacific sailfish and Istiophorus albicans for the Atlantic sailfish in recognition of the differences between them.

Short description
Dorsal spines (total): 0; Dorsal soft rays (total): 47 - 53; Anal spines: 2; Anal soft rays: 12 - 15. Body elongate and compressed; upper jaw prolonged into a very long beak; two dorsal fins, the first very large and tail; pelvic fins narrow but very long, almost reaching anus, with 1 spine and 2 rays; body covered with small, embedded scales with 1 or 2 blunt points; back dark with about 20 bluish vertical bars; belly pale silver; membrane of first dorsal fin blue black with numerous dark spots (Ref. 55763). A slender billfish with a high, sail-like first dorsal fin (Ref. 26938).

Biology
Oceanic and epipelagic species usually found above the thermocline. Most densely distributed in waters close to coasts and islands (Ref. 9688). Most likely schools by size. Undergoes spawning migrations in the Pacific (Ref. 43). Feeds mainly on fishes, crustaceans and cephalopods. Utilized fresh, smoked and frozen; also used for sashimi and sushi; eaten broiled and baked (Ref. 9987).

* Data source: www.fishbase.org, www.nationalgeographic.com, www.wikipedia.org
* Photo source: www.floridafishinginfo.net, www.britannica.com

Saudaraku, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 Hijriah

DEAR ANGLERS. Saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 Hijriah. Selamat merayakan hari yang fitri ini bagi Anda semua yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan bathin. Semoga dengan jiwa yang kembali bersih ini dapat semakin mendekatkan kita dengan-Nya. Amin. Selamat meluangkan waktu bersama orang-orang tercinta Anda. Bagi Anda semua yang mudik, utamakan SAFETY FIRST selalu selama dalam perjalanan mudik dan balik nanti. Salam strike!!!

Thursday, September 17, 2009

Think no BIG FISH at Ujung Kulon? THINK AGAIN!!!

Check this still UNDERWATER images from Ujung Kulon @ grup MANCING MANIA TRANS 7 on Facebook & SAKSIKAN TAYANGANNYA tgl 27 SEPTEMBER 2009 pkl 16.00 WIB. DONT MISS IT! CIAO! Maaf bahasanya campur aduk seperti perasaan di hati saat ikan membawa lari pancing kita. Strikeeee!!!




Monday, September 14, 2009

Cepat Atau Lambat, Pagi Akan 'Membangunkan' Kita

Pagi ini pukul 04.30 WIB, usai begadang hingga menjelang dini hari, saya terbangun dengan mata terpicing. Muka saya yang tidak menarik menjadi semakin tidak menarik. Dalam hati saya menjerit dengan kekanak-kanakan bahwa saya tidak mau bangun, mau tidur terus menuruti keinginan hati hingga puas, mau malas-malasan, dan malas pergi bekerja!

Tetapi akhirnya dengan menyeret badan melintasi ruangan saya telah berada di beranda depan. Merokok sebentar, minum teh manis hangat dan kemudian berkemas dengan cepat dan lalu GO! Pagi masih gelap dan bersama tukang ojek yang ada di dekat rumah saya pergi ke titik pemberhentian angkutan kota. Pasti tukang ojek ini sudah bangun lebih pagi dibanding saya, demi untuk ‘menjaring’ rejeki. Saya menjadi malu karena saya mendapat pekerjaan yang cukup lumayan namun masih sering mengeluh mengenai beratnya hidup.

Lalu kemudian saya telah berada di angkot menuju Pasar Minggu. Ternyata di jalan lingkar menjelang kampus UI Depok telah penuh mobil pribadi, motor, dan angkutan umum. Semuanya menderu cepat menuju Jakarta. Lampu kota yang menyala di pinggiran jalan dan deru kendaraan yang seakan satu nada membuat saya berfikir bahwa bukan hanya saya yang tergesa di pagi ini. Selintas saya melihat KRL kosong dari Bogor menuju Stasiun Kota, Jakarta. Masinis dan petugas KRL itu pasti bangun pagi-pagi sekali di rumahnya di Bogor sana. KRL ini sudah melintas di kampus UI Depok pada pukul 05.00 WIB, berarti setidaknya masinis dan petugas kereta itu bangun di rumahnya di Bogor sana setidaknya pukul 04.00 WIB. Saya semakin malu bahwa saya sering mengeluh mengenai beratnya hidup saat bangun siang, padahal saya ini masih terberkati karena masih sering bisa bangun 08.00 WIB saat hari kerja.

Singkat kata sepanjang perjalanan di pagi buta hari ini dari Kelapa Dua, Depok-Pasar Minggu-Mampang, saya merasa terberkati karena melihat, mendengar dan memikirkan banyak hal. Bahwa masih banyak orang yang lebih berat hidupnya. Tidak sepantasnya saya terlalu sering mengeluh. Ternyata, cepat atau lambat, pagi akan selalu 'MEMBANGUNKAN' kita. Dearest my sweetheart, terima kasih. You know I love you so much!

* Foto: Sebuah perahu mancing berangkat menuju laut di pagi hari. Momen yang selalu saya rindukan di hari-hari kerja seperti sekarang ini. (Foto by Bill Gallagher @ PBASE.COM)

Restoran Cantik di Tengah Kepulauan Seribu!!!



Bagi Anda para pemancing, penyelam ataupun pecinta laut lainnya yang sering berkunjung ke Kepulauan Seribu. Jika Anda sedang merencanakan perjalanan ke perairan di utara Jakarta ini menurut saya tidak ada salahnya untuk tahu tempat ini. Nusa Resto/Nusa Keramba. Bukan tempat mancing (for public) memang dan juga bukan tempat menyelam ataupun snorkling karena ini adalah basenya perusahaan cabut duri dan budidaya bandeng skala besar yang terkenal di Jakarta (produknya ada di supermarket-supermarket besar di Jakarta seperti Carefour).



Tetapi mengenai mancing, berdasarkan update terbaru saya kesana beberapa waktu lalu (Juli dan Agustus saya dua kali ke tempat ini) sekarang ini ada space for public yang baru dibuka yakni kolam/keramba bandeng 3 kiloan dan 2 kiloan (isi kolam/keramba adalah ikan bandeng dengan berat @ 2 kg dan 3 kg) yang dibuka untuk umum. Per kg 2 bulan lalu harganya adalah 50.000. Jadi satu ekor bandeng 3 kg ya sama dengan 150 ribu rupiah. Harganya wajar saja kalau menurut saya. Sensai mancing bandeng 2 kg dan 3 kg ini yang tak ternilai. Ril terus menjerit sampai akhir! Di seputaran keramba ini juga penuh dengan ribuan baronang tompel dan baronang lingkis. FYI, tempat ini pernah dua kali dijadikan tempat pembuatan episode mancing bandeng dan mancing baronang oleh MANCING MANIA TRANS|7.


Kembali ke Nusa Keramba/Nusa Resto. Disana sekarang telah dibuka tempat ‘nongkrong’ yang keren banget. Namanya Nusa Resto. Restoran kayu yang apik yang berdiri dengan cantik di atas jernihnya air di Pulau Pramuka (Nusa Keramba/Nusa Resto persisnya berada di gosong antara Pulau Pramuka dan Pulau Panggang). Nah disitu Anda bisa relax for a while untuk sekedar mendinginkan kepala usai berjemur memancing atau usai menyelam dan lain sebagainya. Nusa Resto juga menyediakan berbagai menu makanan menarik dan bahkan es krim Walls!!! Bayangkan, di bagian utara Kepulauan Seribu ada sebuah tempat di tengah laut yang menjual es krim! Mantap bukan?! Belum selesai bos, bahkan ada WIFI-nya!!! Anda malas bawa uang cash? Disini juga bisa bayar memakai debit BCA! What a place!




Namun Nusa Keramba/Nusa Resto tidak ada tempat untuk ‘menampung’ Anda para wisatawan yang hendak menginap. Tetapi kita tidak perlu khawatir karena Pulau Pramuka hanya berjarak 10 kayuh dayung saja. Hehehe. Disana banyak penginapan dan berbagai fasilitas publik yang lain. Ingat Pulau Pramuka adalah ibukotanya Kab. Kepulauan Seribu. By the way, saya menulis tentang Nusa Keramba/Nusa Resto ini bukan dalam rangka mempromosikan tempat ini, padahal seharusnya saya memang melakukannya karena telah 2 kali saya (sebagai bagian sebuah tim mancing di Jakarta) mendapatkan berbagai kegembiraan di tempat ini; mancing ikan bandeng monster, mancing baronang, makan-makan, internetan, dan lain sebagainya. Hahahaha!

Informasi lebih lanjut tentang Nusa Keramba/Nusa Resto silahkan klik Nusa Fish. Thx.

Tuesday, September 8, 2009

Baronang dan Udang Galah @ MANCING MANIA TRANS|7

|||Sabtu, 12 September 2009 Pukul 15.30 wib
Dalam episode ini akan ditayangkan potensi mancing luar biasa di perairan Bali. Bersama master popping Adhek Amerta dan karibnya yang bernama Lutfi, MM TRANS|7 akan menghadirkan tayangan menarik tentang trip jigging dan popping ikan-ikan predator di perairan Bali dalam episode “SPORTFISHING ON PARADISE ISLAND”. Saksikan serunya bertarung dengan ikan-ikan predator di Bali seperti giant trevally berukuran monster dan ikan ruby snapper. Jangan lewatkan!

|||Minggu, 13 September Pukul 15.30 wib
Kali ini kita akan diajak memancing ikan-ikan baronang (rabbitfish) di Pulau Pari dan Pulau Pramuka (Kepulauan Seribu). Ikan yang akrab disebut “Sang Baron” ini merupakan target mancing yang sangat populer sekaligus sangat diminati karena rasa dagingnya yang sangat lezat. Bersama kawan-kawan dari komunitas RAFAC (Rabbitfish Anglers Community) kita akan menjadi semakin mengenal cara mancing ikan yang memiliki sirip yang sangat beracun ini. Tayangan mancing ikan baronang ini akan di mixed dengan trip udang galah (tiger prawn) ke Muara Gembong yang terletak di perbatasan Bekasi dan Karawang. Kedua trip mancing yang mengesankan ini dirangkum dalam episode “TRIP BARONANG DAN UDANG GALAH”. Jangan sampai ketinggalan!

* Foto: Pak Gino MKFT begitu ceria usai mendapatkan udang galah (tiger prawn) saat memancing di Muara Gembong.

Saturday, September 5, 2009

Meski Kecipak Ikan-ikan Ujung Kulon Masih Terdengar Sayup


Terkadang sesuatu yang menarik datang dengan cara yang tidak terduga sama sekali. Tidak memerlukan undangan kita. Tidak perlu neko-neko. Dia hanya perlu hadir, apa adanya, sesukanya. Foto ini bukan foto yang wah, hanya iseng melepaskan shutter release saat saya melintas di ‘backyard’ pemukiman warga di Desa Sumur, Ujung Kulon, untuk menuju kapal-kapal sewaan yang akan membawa saya menuju lautan di Ujung Kulon. Fishing ground yang menurut saya masih termasuk beautiful fishing ground! Siluet ini sejatinya adalah bagian dari sebuah kapal kayu yang sudah tidak terpakai, yang ‘menggeletak’ begitu saja di pasir, di dekat sebuah kerumunan pagi hari yang terdiri dari nelayan dan warga pembeli ikan di Desa Sumur yang oleh orang-orang setempat disebut TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Desa Sumur. Siluet yang tidak bisa mewakili sebuah foto siuet yang indah. Tetapi bagi saya pribadi ini adalah siluet yang sempurna, dan saya suka. Mungkin karena saya berada di sana, jadi saya merasakan sekali indahnya suasana pagi di ‘backyard’ itu. Mungkin karena saya hendak berangkat memancing jadi saya merasa sangat nyaman sekali saat itu. Bisa juga saya merasa sangat nyaman karena baru saja terbebas dari perjalanan darat selama 5 jam dari Jakarta dan sesampai di Sumur langsung mandi pagi pula! Segar! Semakin ngelantur, yang ingin saya sampaikan adalah di ‘bingkai’ bagian kapal kayu ini ada seekor burung yang juga ceria menikmati pagi. Apakah Anda melihatnya???




Pagi hari di ‘backyard’ Desa Sumur selalu meriah. Nelayan yang melaut malam baik nelayan pancing ataupun nelayan bagan datang menepi. Mereka akan membawa hasil tangkapan untuk kemudian ‘dilelang’ kepada para warga (termasuk di antaranya pedagang ikan) yang telah menunggu di tepian pantai. Hasil tangkapan tidak selalu bagus, tetapi bagus atau tidak bagus hasil ikan, ‘backyard’ Desa Sumur selalu meriah. Dan saya selalu rindu untuk kembali berada disana. Berhenti sejenak di atas pasir kotornya, ikut menjadi bagian sebuah aktivitas pagi mensyukuri berkah alam. Tetapi saya hanya bisa melintas dan berhenti sejenak karena saya hanyalah pecinta ikan yang datang dan pergi ke Desa Sumur tanpa diundang oleh siapapun selain oleh bunyi kecipak ikan-ikan di lautan Ujung Kulon.

* Photos taken 28/08/2009.

Friday, September 4, 2009

Andai Sukarno Masih Ada, Apakah Para Tetangga Masih Juga Akan Semena-mena?


Mari kita amati peta negara kita ini. Betapa luas, betapa sangat mengaggumkan rangkaian kepulauannya. Dan yang pasti, Nusantara ini sangat indah dan kaya!!! Memang banyak kisah mewarnai perjalanan Indonesia kita ini. Kisah sedih dan kisah gembira. Memang banyak cerita yang tidak selalu indah yang kita rasakan. Tetapi kenapa sekarang-sekarang ini seorang “kecoa” dari negeri seberang mengacak-acak ketenteraman kita? Kenapa kini tetangga-tetangga yang bahkan tidak pernah berperang saat mendirikan negara mereka kini berani menghina kita?! Andai Sukarno hidup di jaman ini, saya tidak akan berfikir dua kali untuk menjawab seruannya! Malaysia, you hurt us again and again!

Mr. Barack Obama Almost Hooks A Trout! On Fly Fishing!

Gerakan refleks guide mancing Dan Vermillion saat Presiden USA Barack Obama hampir saja mendapatkan seekor ikan trout saat memancing fly fishing di East Gallatin River di dekat Belgrade, Montana, pada tanggal 14 Agustus 2009.(Official White House photo by Pete Souza)

Andai ada presiden lain yang juga suka memancing sportfishing seperti Obama...

* Foto dan caption foto diambil dari WapitiWaters.Blogspot.Com
* Foto-foto fly fishing Obama yang lain dapat dilihat di The Official White House Photostream

Wednesday, September 2, 2009

Thanks God It Was A Great Sportfishing Trip!

Sayang sekali angle (sudut pengambilan) foto ini sedikit kurang ideal, jadinya GT up 30 kg yang saya release beberapa hari lalu dari sebuah spot popping ini tidak tampak seperti aslinya. Tetapi percayalah, it was a BIG FISH! Tetapi bukan tentang big fish-nya yang ingin saya kemukakan, melainkan tentang bagaimana Tuhan bekerja dan ‘menemani’ kita saat memancing. Ceritanya dalam trip popping tersebut telah dua hari berlalu dan hasil yang kami dapatkan belum bisa membuat hati tersenyum karena strike yang sedikit dan ukurannya juga kecil-kecil. Karena hal tersebut praktis minuman manis menjadi terasa pahit dan makanan penuh selera terasa hambar. Huuufh!

Ada beberapa strike hebat namun semua gagal kami selesaikan karena swivel yang ada di bagian perut popper buatan seorang pengrajin popper dari Jakarta itu ternyata berkualitas seadanya sehingga 3 (tiga) buah strike hebat dari predator buruan kami menjadi cerita belaka karena swivel ketiga popper tersebut putus!!!!

Buat Anda para pengrajin popper yang fotonya ada di postingan ini kalau bikin popper swivel-nya jangan yang berkualitas buruk dong. Ini tidak hanya membuat pemancing yang strike BIG FISH kemudian kecewa, ini juga bisa membuat semua pembeli Anda yang mengalami kejadian seperti kami tidak akan pernah lagi kembali berbelanja kepada Anda. Percayalah saya tidak mengada-ada , saya tahu mana swivel berkualitas bagus dan mana yang tidak. OK???

Karena hasil yang belum maksimal dan kejadian-kejadian tersebut. Hati kami pun mulai goyah dan pikiran pun mulai tidak fokus. Apakah akan berakhir gagal trip ini? Begitu yang menggelayuti seluruh tim. Memasuki hari ketiga saya mencoba tetap optimis dan berusaha menularkannya kepada seluruh tim sebisa mungkin. Popper yang berkualitas buruk 'dikandangkan' ke dalam tackle box dan tidak kami sentuh lagi. Tiba-tiba datanglah saat makan siang, padahal trip juga masih belum memuaskan. Kapal pun dijangkar di sebuah tempat yang teduh dan kapten menyarankan sambil lempar-lempar popper saja, siapa tahu strike.

Ternyata! Tiba-tiba kami semua ‘hujan’ strike! Lagi dan lagi sampai kami menyerah tidak mau melempar popper lagi karena selalu disambar ikan GT buruan kami. Ukuran GT-nya pun lumayan. 10 kg up! Bahkan para pemancing pemula yang ada di tim kapal kami pun bisa strike ikan GT berukuran 20 kg up berturut-turut. Kami tidak menyangka sama sekali strike di spot tersebut akan sebegitu dahsyat-nya karena spot tersebut tampak tidak menjanjikan sama sekali. Dan ternyata Tuhan membuka mata kami melalu acara makan siang dan melalui mulut kapten kapal kami. THANKS GOD it was a great sportfishing trip!

Here another photos from the trip. Most pics taken by Me. Trip ini ditayangkan di MANCING MANIA TRANS|7 dengan titel "Ujung Kulon Dangerously Beautiful". PLEASE DON'T USE THE PHOTOS WITHOUT PERMISSION ESPECIALY FOR COMMERCIAL PURPOSES. THANKS!