Search This Blog

Loading...

SHARE THIS

Share |

Sunday, December 27, 2009

Kali Pertama Biasanya Nervous: Short Report/Review Nusantara Fishing Tournament Piala Bupati Kutai Timur 2009

Hiruk-pikuk Nusantara Fishing Tournament Piala Bupati Kutai Timur 2009 (NFT 2009) yang digelar di Sangatta (ibukota kabupaten Kutai Timur) pada tanggal 19-20 Desember 2009 itu telah lama usai. Peserta yang juara mungkin masih tersenyum bahagia di rumah masing-masing karena keberhasilannya mengalahkan peserta yang lain. Peserta yang tidak juara mungkin banyak yang tiba-tiba menderita darah tinggi (hehehehe) mendadak. Panitia yang menyelenggarakan mungkin juga telah usai melakukan evaluasi. Awak media yang datang meliput turnamen ini mungkin juga telah kembali ke pangkalan masing-masing untuk menyelesaikan tugasnya ‘melaporkan’ kepada pubik jalannya turnamen tersebut. Pemda dan atau DKP Kutai Timur yang menjadi ‘sponsor’ turnamen ini mungkin juga telah selesai melakukan rapat panjang mengevaluasi turnamen yang baru pertama kali digelar di bumi Kutai Timur ini sambil harap-harap cemas apakah turnamen ini mampu mempromosikan daerah atau tidak.

Banyak yang tersisa, entah itu baik ataupun kurang baik. Pastinya banyak kekurangan karena ini adalah turnamen pertama. Tetapi secara pribadi saya menyatakan salut untuk Pemkab Kutai Timur yang melalui DKP-nya telah memiliki niat luhur dengan menyelenggarakan turnamen ini, semoga potensi bahari di Kutai Timur semakin dikenal masyarakat luas. Juga saya ingin menyampaikan selamat kepada rekan-rekan BFC (Borneo Fishing Club) Balikpapan yang telah berhasil menyelenggarakan turnamen ini dengan sukses. Kekurangan selalu ada, dan itu wajar. Maju terus, jangan terlalu dipikirkan omongan miring yang banyak muncul dari orang-orang berpikiran dangkal usai turnamen kemarin, kami tunggu gelaran turnamen di tahun mendatang! Oke bosss?!

Wacana akan digelarnya NFT 2009 telah saya dengar dari kawan-kawan BFC ketika saya melintas Balikpapan dalam perjalanan dari Makassar menuju Tanjung Redeb, Berau pada akhir Oktober 2009 lalu. Dan sesuai janji yang terucap saat itu, maka kami pun (saya, Bayu Noer, dan Gilang – 2nd tim Mancing Mania Trans 7) akhirnya hadir di Sangatta sebagai wujud silaturahmi kami kepada komunitas mancing di Kalimantan Timur khususnya di Sangatta dan sebagai bentuk dukungan kepada Pemkab Kutai Timur yang telah berbaik hati menggelar turnamen mancing untuk mempromosikan potensi baharinya. Hal yang harus dsyukuri karena tidak banyak Pemkab di negeri ini yang rela merogoh kocek untuk menggelar turnamen mancing seperti ini.

Dan akhirnya, bersama para pemancing Kalimantan Timur, hari itu (19-20 Desember 2009) kami berkumpul bersama di Dermaga KPC (Kaltim Prima Coal) di Sangatta untuk memulai turnamen. Turnamen yang berlangsung meriah sejak hari pertama. Jumlah tim yang mengikuti turnamen ini mungkin hanya 44 tim (tiap tim 5 orang) saja, jumlah yang sangat banyak sebenarnya untuk sebuah turnamen saltwater. Tetapi karena antusiasme publik Sangatta yang luar biasa, turnamen mancing ini telah menjelma layaknya konser band papan atas yang dihadiri ribuan massa. Menakjubkan sekali! Singkat cerita, turnamen satu setengah hari ini berjalan lancar meski ada gangguan cuaca pada akhir hari pertama. Tim yang saya ikuti sendiri kurang sukses karena gagal mendapatkan yellowfin tuna kebo, tetapi untungnya masih sukses merebut juara satu dan juara dua kategori yellowfin tuna.

Turnamen ini terbagi dalam banyak kategori, yakni: Kategori Jackpot (billfish up 100.1 kg – hadiahnya satu mobil avanza), Kategori Ikan Terberat, Kategori Billfish, Kategori GT, Kategori Kakap/Snapper, Tenggiri, Barakuda, Tuna, Kerapu dan Kategori Campuran. Hampir semua kategori terisi juaranya, meski sebagian tidak penuh terisi. Ini menunjukkan bahwa potensi bahari di Sangatta cukup potensial sebagai destinasi sportfishing. Yang paling ‘ramai’ adalah pada kategori tenggiri, dan GT. Banyak sekali peserta menimbang ikan untuk kategori ini. Lalu berikutnya yang juga cukup ‘ramai’ adalah kategori snapper, barakuda dan kerapu. Kategori Billfish yang kosong karena hanya satu ikan marlin yang berhasil naik pada turnamen ini. Karena ikan black marlin seberat 48 kg itu sudah diikutkan pada kategori ikan terberat, maka dia tidak mungkin diikutkan lagi pada kategori billfish sehingga kategori billfish kosong pemenang.

Saya tidak akan memasang semua nama pemenang di sini karena jumlahnya banyak sekali. Pusing bos! Hehehe. Tetapi yang lebih ingin saya soroti adalah keberagaman ikan dan berat yang ditimbang. Ikan yang berhasil naik sangat beragam, dapat dikatakan semua spesies yang dipertandingkan. Tetapi memang berat ikannya ada yang jujur saja tidak seberapa. Saat briefing turnamen saya mendengar bahwa berat minimal ikan yang bisa ditimbang adalah 5 kg, tetapi di rekapitulasi juara saya melihat ada ikan dengan berat 3 kg saja. Mungkin karena ada bargain pada saat briefing yang tidak saya dengar sehingga berat minimal ikan yang bisa ditimbang berubah. Tetapi overall, melihat keragaman spesies yang ditimbang dan berat ikannya saya cukup terkesan. Untuk ikan tenggiri misalnya, banyak peserta yang menimbang ikan tenggiri dengan berat up 9 kg. Untuk ikan GT lebih seru lagi, banyak peserta yang menimbang ikan up 15 kg. Kerapu pun, ada yang beratnya 23 kg! Sangatta berbicara melalui fakta, ini adalah fishing ground yang harus diperhitungkan.

Berbicara kekurangan, untuk turnamen yang baru pertama digelar, pasti ada. Jangankan turnamen pertama, di berbagai daerah lain saja turnamen yang kesekian kali terkadang masih ada kekurangannya juga. Wajar, justru jika tidak ada kekurangannya sama sekali tidak aka nada pembelajaran pada turnamen berikutnya. Tetapi secara pribadi saya agak menyayangkan karena ikan hiu dan pari dimasukkan pada kategori campuran. Hal yang kurang popular ini biasanya tidak dilakukan di turnamen lain. Karena kedua spesies ini tidak termasuk sebagai game fishes dan dilindungi oleh undang-undang karena terancam punah. Badan konservasi PBB setahu saya juga memasukkan hewan ini dalam Apendix II yang artinya harus dilindungi karena terancam punah. Di aturan turnamen lain di negeri ini hal ini juga terkadang terjadi, jadi ini bukan kali pertama. Hanya saja sialnya, di Sangatta kemarin ada peserta yang menaikkan hiu paus (whale shark) seberat up 200 kg yang dan akhirnya memenangkan kategori campuran. Karena terlalu ‘mencolok’ mata, whale shark raksasa ini pun ‘terbang’ ke berbagai penjuru negeri ini melalui serat-serat optik dan menjadi perbincangan luas di berbagai komunitas mancing. Alih-alih membuat turnamen ini mendatangkan simpati, akhirnya malah banyak dicerca gara-gara whale shark ini.

Tetapi rasa salut saya tetap lebih besar dibandingkan gundah saya. Semoga di even mendatang Sangatta semakin baik lagi dalam menggelar turnamen mancing sehingga potensi baharinya bisa terpromosikan secara maksimal. Hal-hal seperi whale shark up 200 kg itu kalau bisa tidak terjadi lagi karena hal itu menyedihkan sekali dan bertentangan dengan semangat go green yang melanda seluruh dunia, termasuk melanda komunitas mancing negeri ini. Untuk kawan-kawan BFC, kita sama-sama membaca kontroversi kasus whale shark ini di dunia maya. Semoga menjadi pembelajaran kita bersama. Mereka bisa berbicara apa saja bos, tetapi saya lebih salut kepada Anda semua yang telah mau bersusah-payah menggelar turnamen ini dibandingkan dengan mereka yang hanya bisa berbicara, itupun dengan nama dan id samaran pula. Jadi mari kita bertemu lagi tahun depan dalam sebuah turnamen yang lebih baik dan lebih meriah lagi. Oke bossss?! Salam strike!

* Image #1: Gambar sampul buku aturan turnamen.
* Foto #1 dan #2: Tim Banjar FT Balikpapan dan Tim Guntung Mania. Tak terbantah, turnamen menyatukan berbagai klub/komunitas mancing dalam silaturahmi yang meriah.
* Foto #3 dan #4: Tim Bukit Pelangi Juara Satu Kategori Tenggiri dan Kategori GT.
* Foto #5: Tim Dewandaru Balikpapan Juara Ikan Terberat dengan black marlin 48 kg.
* Foto #6 dan #7: Tim Banjar FT Juara 2 Ikan Terberat dengan Kerapu 23 kg. Dan Tim Scouts Fisher Juara 3 Ikan Terberat dengan GT 18 kg.
* Foto #8: Whale shark up 200 kg yang mengundang kontroversi. Foto by Welie Berau.
* All pics except Foto #8 diambil dari file dokumentasi masing-masing peserta.

Saturday, December 26, 2009

Raja Laut Tak Jadi Melaut, Just Another Story Ekspedisi Teluk Aili

Pada akhirnya trip ini sukses besar, cerita singkatnya bisa Anda baca di postingan saya yang berjudul Beri Daku Sumba, Dengan Atau Tanpa Ikan Besar Sekalipun! dan atau Anda tonton di Mancing Mania Trans 7 tanggal 26 Desember 2009 pukul 16.00 WIB.

Maafkan saya, karena saya tak kuasa menolak keinginan berbagi cerita perjalanan darat untuk mencapai lokasi mancing yang sangat terpencil itu. “Raja Laut” adalah kapal mancing alumunium kecil milik Om William, sahabat kami yang tinggal di Waikabubak, ibukota Sumba Barat. Kami sengaja menariknya dari kota kabupaten itu untuk kemudian menempuh perjalanan darat hampir sepanjang 100 km menuju base ekspedisi bernama Teluk Aili sebagai antisipasi kalau-kalau kapal kayu yang kami sewa dari nelayan Desa Rua (yang berjarak 2 jam pelayaran dari Teluk Aili) tidak jadi datang menemui kami di Teluk Aili, teluk kecil tak berpenghuni. Jadi andai hal itu terjadi, setidaknya kami masih tetap bisa memancing, meski harus bergantian karena kapasitas kapal yang kecil. Tidak mudah memegang janji orang-orang desa yang tinggal di Sumba Barat, jadi sebagai antisipasi agar trip kami tetap ‘aman’ kami sengaja menarik sang Raja laut dari kota.

Perjalanan darat dengan menarik Raja Laut di belakang Daihatsu Hi-Line milik kawan kami Om Aheng tidak mudah sama sekali karena jalanan di sana memiliki begitu banyak ‘wajah’ yang menarik. Setengah jam pertama masih beraspal bagus, kami masih bisa ngebut. Berikutnya jalanan sudah bergelombang dan sempit melintasi padang-padang sepi dimana kami harus ekstra hati-hati. Satu jam terakhir, jalanan telah semakin sempit, berbatu dengan turunan dan tanjakan curam (hanya bisa dilewati mobil gardan ganda) melintasi Taman Nasional Manupeu-Tanah Daru yang hanya dihuni oleh rusa-rusa dan burung-burung asli Sumba. Lanskap taman nasional ini sangat indah,hutan dan padang rumput silih berganti menampakkan diri, juga rusa-rusa yang berlarian di sana, tetapi melintasi taman nasional ini sungguh menguras adrenalin karena andai ada satu saja masalah dengan mobil ataupun Raja laut, maka mungkin kami tidak akan sampai di Teluk Aili pada hari yang sama. Mungkin esok atau lusa, setelah bantuan datang. Itu juga kalau datang.

Biasanya, mobil yang melintasi taman nasional ini akan dihentikan oleh petugas taman nasional yang tiba-tiba saja menunggu di tengah jalan (karena diberi laporan oleh penduduk desa terdekat melalui hp bahwa ada mobil melintas menuju areal taman nasional) karena curiga mobil ditumpangi para pemburu rusa/burung. Tetapi hari itu kami aman-aman saja, mungkin karena jelas-jelas kami terlihat akan pergi mancing (karena menarik raja Laut). Terlalu kalau andai masih ada yang mengira kami tidak akan pergi memancing. Dalam perjalanan kami beberapa kali berhenti untuk menikmati keindahan lanskap Sumba yang luar biasa itu. Setiap berhenti inilah saya terus mengutuk diri kenapa pada trip mancing kali ini tidak membawa kamera foto. Pantas saja Taufik Ismail pada tahun 1970 sampai sengaja menciptakan puisi khusus untuk Sumba. Lanskap-nya benar-benar mempesona. Desa-desa kecil, penduduk desa yang lugu, hutan, padang rumput, rusa, kuda, dan burung-burung semuanya terlihat mempesona. Alam sunyi yang tampil bersahaja apa adanya di bawah langit yang lembut ini sungguh memukau kami, tiga orang Jakarta yang datang dengan bayangan ikan besar di kepalanya.

Saking indahnya lanskap Sumba Barat, kameraman Gilang Gumilang sampai sengaja beberapa kali minta berhenti agar dirinya bisa mengambil gambar. Padahal kalau dipikir-pikir, gambar yang dia ambil tidak akan dipakai banyak di acara mancing. Masak acara mancing akan diiisi gambar rusa berlarian di padang rumput? Terpakai paling hanya beberapa detik saja sebagai transisi gambar perjalanan, tetapi saking indahnya lanskap Sumba Barat, dia sengaja mengambil gambar banyak sekali dari tepian jalan, masuk ke padang rumput, dan terkadang dari atas Raja Laut agar bisa mengambil high angle. Agak kami sayangkan, langit yang biru lembut saat kami berangkat dari Waikabubak berangsur berubah menjadi gelap dan dipenuhi awan hitam saat kami melintasi Taman Nasional Manupeu-Tanah Daru. Jadi lanskap yang kami lihat telah berubah menjadi tampak dramatis dan bukannya lembut. Tetapi tetap saja ini adalah anugerah yang luar biasa bagi kami semua, lima orang pemancing (ditambah Om William dan Om Aheng) yang di kepalanya dipenuhi bayangan ikan besar. Om Aheng dan Om William sebenarnya tidak termasuk dalam daftar orang yang terpukau dengan keindahan Sumba Barat, karena sejak kecil mereka telah berpetualang di tanah kelahirannya ini hingga tidak ada satu jengkal tanah pun yang tidak mereka datangi.

Akhirnya, turunan dan tanjakan tajam di areal Taman Nasional Manupeu-Tanah Daru kami lewati dengan selamat. Mobil dan Raja Laut kini menapak di tepian pasir Teluk Aili. Kapal kayu milik nelayan Desa Rua yang kami sewa juga tampak mulai mendekat ke teluk. Kali ini, mereka menepati janjinya. Dan dengan segenap usaha saya mencoba membuka seluruh indera di tubuh saya agar menyerap sebanyak mungkin zat kesegaran dan keindahan teluk kosong tak berpenghuni ini. Semuanya tampak indah. Teluk kecil yang masih sangat alami, ombak kecil yang begitu riang, tebing-tebing di kejauhan, pasir yang putih, angin yang lembut, hutan pantai yang apa adanya, dan matahari yang malu berpamitan pulang. Semua kehadiran alam ini tak ternilai harganya. Hati saya semakin tersayat karena lagi-lagi hanya bisa mengabadikan semua momen ini melalui kamera ponsel saya yang butut. Padahal biasanya saya selalu membawa kamera foto?! Mungkin ini adalah cara Tuhan agar energi alam bisa saya terima dan rasakan dengan benar dan langsung tanpa melalui kesibukan mengambil gambar foto. Bersama Gilang Gumilang saya lalu duduk di pasir pantai, melupakan sejenak kesibukan loading barang-barang ke camp kami, untuk merasakan ucapan selamat datang yang begitu lembut dari ‘dia’ yang bernama Aili.

* Sayang sekali, semua foto ini diambil dengan kamera ponsel, itupun ponsel butut. Andai diambil dengan kamera foto yang baik, seperti biasa saya lakukan, hasilnya jelas akan berbeda dan tentunya mampu menghadirkan pesona Sumba barat yang sebenarnya. Harap maklum. Next trip, kamera foto tidak akan pernah saya tinggalkan lagi!

Friday, December 25, 2009

Akhirnya, Kedua Pejuang Bersenjata Kamera Itu Mendapatkan Penghargaan Dari Pemerintah Indonesia

Natal kembali datang, momen spesial yang menjadi biasa saja bagi karena saya tidak bisa melewatkannya bersama keluarga tercinta di desa. Meski begitu, bersilaturahmi dan berkirim ucapan selamat Natal ke sahabat dan kerabat tidak boleh dilupakan, meski maknanya semakin tereduksi karena kini kita cukup berkirim ucapan selamat natal melalui sms dan telepon (atau melalui email dan juga jejaring sosial yang tersebar laksana sarang laba-laba di internet saking banyaknya). Pertama yang saya kirimi ucapan selamat natal adalah keluarga di kampung halaman, Malang Selatan. Sedih sekali rasanya mengucapkan selamat natal melalui sms dan telepon. Semakin sedih karena saat natal begini biasanya di rumah selalu memasak aneka makanan kampung yang ‘nendang!’ selera. Lalu saya mengirimi ucapan kepada sahabat-sahabat jaman kuliah di UNPAD dulu (1999-2007, saya adalah mahasiswa tepat kuliah yakni 7 tahun, hehehe), kebanyakan tinggal di Bandung dan Jakarta. Lalu sahabat-sahabat ‘baru’ di Jakarta dan terakhir adalah para pemancing. Ucapan natal itu terasa biasa saja karena telah menjadi rutinitas yang terulang dan saling berbalas. Begitu terus dari tahun ke tahun.

Dari salah-satu orang yang saya kirimi ucapan selamat natal ada seorang perempuan yang telah berusia ‘senja’ bernama Meity Mendur. Dia adalah anak dari almarhum Alexius Impurung Mendur (Alex Mendur). Bagi Anda yang tidak tahu siapa Alex Mendur, beliau adalah fotojurnalis dari jaman awal kemerdekaan negeri ini yang mendirikan IPPHOS (Indonesian Press Photo Service), mungkin IPPHOS adalah satu-satunya kantor berita foto pertama dan satu-satunya yang pernah berdiri di Indonesia. Kini IPPHOS telah lama ‘menepi’ dari arus jaman. Tidak eksis lagi karena telah kalah bersaing dengan media-media baru dengan modal kuat dan dukungan kuat dari pemerintah ataupun kelompok bisnis tertentu yang muncul bagai jamur musim hujan sejak tahun 70-an. Tanpa Alex mendur dan saudaranya Frans Mendur, Indonesia tidak akan memiliki foto-foto sejarah tak ternilai harganya seperti foto proklamasi kemerdekaan, rapat raksasa di IKADA, foto lengkap revolusi kemerdekaan 1945-1950, gerilya Panglima Sudirman, Sjahrir, Hatta, Sukarno, dan lain sebagainya.

Usai berkirim ucapan selamat natal itu, tiba-tiba ada telepon masuk ke ponsel saya. Ibu (dia lebih suka dipanggil Tante) Meity Mendur di seberang sana. Bercerita banyak hal dalam kalimat yang agak susah saya mengerti, maklum beliau sudah tua sekali, dan meski samar sekali dia mengingat saya (maklum kami bertemu tahun 2006 lalu dan hanya selintas saja sempat berkomunikasi, saat itu saya sedang mengadakan penelitian tentang IPPHOS untuk penyusunan skripsi saya di Jurusan Sejarah UNPAD Bandung) dia sangat senang saya berkirim ucapan natal meski hanya melalui sms. Mungkin tidak banyak yang mengirimi ucapan natal padanya, tetapi Meity Mendur memang orang yang ‘ramai’ dan cukup menyenangkan.

Pertama yang kami bicarakan adalah sekarang saya bekerja dimana dan sebagainya, termasuk urusan apakah saya sudah menikah atau belum. Seru sekali. Lucu juga bercerita banyak hal kepada seseorang yang tidak begitu kita kenal tetapi sangat antusias dengan kita karena merasa ada keterkaitan meski rapuh. Dia merasa senang karena masih ada saja orang yang tidak melupakan IPPHOS dan para generasi penerusnya. IPPHOS kini memang terlupakan. Sangat sedikit warga negeri ini yang mengetahui apa itu IPPHOS dan apa peranannya pada negeri ini. Mereka tahu dan pernah melihat foto-foto sejarah yang dibuat oleh IPPHOS, foto paling klasik menurut saya adalah foto pembacaan teks proklamasi oleh Sukarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, dimana foto-foto IPPHOS kini mungkin telah direproduksi jutaan kali oleh berbagai lembaga (kebanyakan tanpa royalti) untuk berbagai kepentingan, tetapi mereka tidak tahu siapa sebenarnya institusi ataupun fotografer yang membuat foto-foto itu!

Bagi saya, dan bagi Tante Meity Mendur, dan mungkin bagi sedikit orang di negeri ini yang mengenal dan mengetahui peranan almarhum Alex dan Frans Mendur, kedua fotojurnalis ini adalah pejuang kemerdekaan Indonesia bersenjata kamera. Karena kedua fotojurnalis ini memang benar-benar terlibat secara intens selama perjuangan kemerdekaan negeri ini melaui kamera fotonya. Perang kemerdekaan di belahan Nusantara yang mana yang tidak dia abadikan? Gerilya yang mana yang tidak dia ikuti? Semuanya dia hadiri dengan kameranya. Dan melalui foto-foto yang dihasilkan, dia menyebarkannya ke seluruh pelosok negeri dan manca negara. Untuk siapa? Untuk Indonesia!

Saat mengadakan penelitian pada tahun 2006 lalu, saya dan Meity Mendur ‘saling curhat’. Intinya, kami berdua merasa nelangsa karena negeri ini tidak mudah menganugerahkan gelar pahlawan kepada seseorang yang berkontibusi dengan caranya yang khas (maksud kami adalah Alex dan Frans Mendur). Karena negeri ini masih agak kolot, dengan mengartikan pahlawan adalah sesorang yang memenangkan pertempuran bersenjata tertentu. Obrolan kami selesai begitu saja. Penelitian saya selesai, skripsi selesai, sidang, lulus, dan saya pun sibuk bekerja sebagai ‘kuli ikan’. Komunikasi saya dengan Meity Mendur pun terputus. Namun saya masih terus mengikuti perkembangan IPPHOS meski hanya melalui berita-berita dan kabar-kabar dari sahabat yang sampai kepada saya di antara macetnya jalanan Jakarta.

Hadiah natal, terkadang datang tidak diduga. Di akhir pembicaraan Meity Mendur mengatakan bahwa almarhum Alex dan Frans Mendur baru saja dianugerahi Bintang Jasa Utama (tepatnya pada tanggal 9/11/2009) oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berdasarkan Keputusan Presiden RI 058/TK/Tahun 2009 tertanggal 6 November 2009. Saya sempat salah dengar kedua almarhum dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Ini menggembirakan saya, dan terutama Meity Mendur. Harapan sambil lalu saat kami bertemu di ‘kantor’ IPPHOS yang ‘remuk’ di daerah Kampung Melayu dahulu menjadi kenyataan. Penghargaan yang terlambat, namun patut disyukuri. Dan ini pasti akan membuat natal yang dirayakan oleh Alex dan Frans Mendur di surga sana semakin meriah. Bagi saya pribadi, ini membuat natal sunyi yang gerah saya di sebuah pojokan kamar kos di Jakarta yang sempit dan pengap menjadi lebih spesial. Merry Christmas and Happy New Year! GOD BLESS YOU!!!

* Foto #1: Jakarta, Oktober 1946. Sebagian pendiri IPPHOS dipotret di depan gedung Fermont Cuypers. Paling depan adalah Alexius Impurung Mendur (kiri) dan Alexander Mamusung (kanan). Frans Mendur tidak ada di dalam foto ini karena Frans Mendur memang agak kurang menyukai publikasi. Saat disahkan sebagai sebuah badan hukum pada tahun 1946, pimpinan IPPHOS terdiri dari banyak orang, namun nyawa sejati IPPHOS sebenarnya adalah Alex, Frans Mendur dan karya-karya fotonya.
* Penelitian yang saya lakukan kemudian menghasilkan sebuah skripsi berjudul “Kantor Berita Foto Indonesian Press Photo Service (IPPHOS) 1946-1980: Studi Tentang Dinamika Institusi Fotojurnalistik di Indonesia”. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk melihat perkembangan Kantor Berita Foto Indonesian Press Photo Service (IPPHOS) dari tahun 1946 sampai dengan 1980. Masa yang merangkum IPPHOS sejak menjadi pejuang bersenjata kamera hingga kemundurannya karena kalah bersaing denganm ‘pemain’ media baru yang lebih kuat dan besar. Karena skripsi inilah saya menjadi sarjana, hah! Skripsi yang terus ditolak penerbit karena kebanyakan sejarahnya dan tidak memiliki nilai komersial. Haha!!!
* Foto #2 & #3: Kalau ada yang tidak tahu kedua foto ini, baiknya melihat lagi KTP-nya dan atau datangilah SD terdekat untuk meminjam buku sejarah untuk Sekolah Dasar di sana. Kedua foto ini setahu saya hak publikasinya telah diambil oleh sebuah kantor berita yang membeli hak itu dari para penerus IPPHOS. Semoga saya tidak dikomplain ya. :))

Thursday, December 24, 2009

Beri Daku Sumba, Dengan Atau Tanpa Ikan Besar Sekalipun!

Usai menyelesaikan pembuatan episode Natal di Sumba Barat bersama tim MM Trans|7 beberapa waktu lalu saya tiba-tiba teringat seseorang. Taufik Ismail. Pada tahun 1970 Taufik Ismail, sastrawan terkemuka negeri kita, sedang berada di Uzbekistan. Tiba-tiba dia rindu negerinya, salah satunya rindu beratnya 'dialamatkan' kepada sebuah pulau indah bernama Sumba yang tampaknya begitu membekas di sanubarinya. Lalu dia menuliskan sebuah puisi yang sangat indah berjudul Beri Daku Sumba. Keterkaitan Taufik Ismail dengan tanah Sumba mungkin sekali karena Taufik Ismail pernah bersilaturahmi secara intens dengan salah satu sastrawan terkemuka Indonesia asal Sumba bernama Umbu Landu Paranggi, yang namanya juga disebutkan di puisi itu. Beri Daku Sumba terlalu indah jika hanya saya kutip sebagian, jadi lengkapnya sebagai berikut.

Di Uzbekistan, ada padang terbuka.
Aneh, aku jadi ingat pada Umbu.

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka. Di mana matahari membusur api di atas sana. Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka. Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga.

Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput. Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala. Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut. Dan angin zat asam panas dikipas dari sana.

Bari daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi di malam hari. Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan 3 ekor kuda. Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari. Bari daku tanah tanpa pagar,luas tak terkata, namanya Sumba.

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda. Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh. Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua. Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh.

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka. Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh. Rinduku pada sumba adalah rindu seribu ekor kuda. Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.


'Mengalami' Sumba, dengan atau tanpa puisi Taufik Ismail di atas tetap menakjubkan. Saat berada di Sumba, semua yang dituliskan olehnya mungkin saya rasakan dan alami meski selintas lalu saja. Semuanya, dari kuda-kuda, padang rumput yang luas, senja yang membara dan lain sebagainya. Trip yang kami lakukan bukan ke Sumba Timur yang selama ini dikenal pemancing Indonesia dan dunia, tetapi trip ke Sumba Barat yang masih lebih perawan, tak terjamah, dan masih begitu alami dibandingkan dengan Sumba Timur. Hasilnya tentu saja luar biasa karena lokasinya masih begitu 'perawan' dan (maaf) agak primitif dan jarang disentuh oleh dunia luar yang sering memiliki potensi merubah keaslian setempat. Selama ini, di peta mancing Indonesia dan dunia, Sumba yang ramai dibicarakan adalah Kabupaten Sumba Timur (dengan ibukota Waingapu). Di sini memang sarangnya BIG FISH mulai dari ikan giant trevally, amberjack, dogtooth tuna dan billfish sekalipun. Tak heran selama ini turnamen mancing bertaraf nasional dan internasional selalu dilangsungkan di Kabupaten Sumba Timur. Trip-trip mancing juga selalu mengarah ke sana. Dan berkat mancing inilah Sumba Timur meroket namanya di ranah sportfishing dunia.

Tak dapat dipungkiri memang jika Sumba Timur lebih cepat menjadi 'selebritas' dibandingkan dengan Sumba Barat karena Sumba Timur memang lebih mudah dijangkau dari udara dan laut dibandingkan dengan Sumba Barat. Sumba Barat juga memiliki landasan udara dan juga pelabuhan laut, tetapi tidak serepresentatif Sumba Timur sehingga lalu lintas pelancong dan bisnis pun lebih mudah mengalir ke Sumba Timur. Hingga hari ini, sepenglihatan saya, arus lalu lintas bisnis dan wisata ke Sumba Barat pun lebih sering melewati Timur dahulu dibandingkan dengan langsung ke Sumba Barat.

Berkaitan dengan sportfishing, jelas Sumba Timur menjadi lebih sering didatangi pemancing. Mungkin tidak ada lagi spot mancing di Sumba Timur yang belum didatangi pemancing. Pemancing dari berbagai 'aliran' seperti popping, jigging dan trolling sudah mengobok-obok hampir semua spot disana dengan banyak kesuksesan yang membanggakan dan membuat iri banyak pemancing yang belum berkesempatan menjajal fishing ground ini. Ini memiliki efek positif bagi perekonomian daerah setempat karena pemancing adalah orang-orang yang memutar banyak sekali uang saat sedang melakukan trip mancing.

Saya tidak mengatakan bahwa Sumba Timur telah mulai meredup potensi mancingnya. Tetapi kita harus jujur, bahwa tingginya trip mancing ke daerah ini telah sedikit merubah 'wajah' spot-spsot mancing disana yang awalnya begitu luar biasa menjadi biasa saja. Lihat saja misalnya, turnamen mancing di Sumba Timur semakin menurun saja kualitas ikan yang ditimbang (maksud saya dilihat dari berat dan keragaman ikan). Inilah kenapa kemudian kami mengarahkan trip kami ke Sumba Barat (ibukota-nya Waikabubak) yang masih jarang disentuh oleh para pemancing. Kami tidak sendirian tentu, di Sumba Barat telah menunggu kawan-kawan kami antara lain Om William, Sem dan Om Aheng. Para pemancing Waikabubak yang kesohor. Hehehe. Tetapi memang benar meski tidak 100%, Om William memang benar-benar kesohor di komunitas mancing negeri ini.

Pilihan kami tidak salah. Sumba Barat, meski memiliki keterbatasan infrastruktur yang banyak membuat trip mancing menjadi begitu berat dan melelahkan, memiliki spot mancing luar biasa yang mampu menyajikan pengalaman sportfishing yang menakjubkan. Saya dan tim tidak berhasil menangkap ikan besar yang beratnya ratusan kilogram, tangkapan terberat kami kemarin hanya GT berukuran 35 kg saja, tetapi melihat begitu banyaknya spot dan tingginya jumlah strike di sana dapat saya katakan bahwa saat ini perairan Sumba Barat (terutama di bagian Selatan) adalah fishing ground yang lebih baik dibandingkan dengan Sumba Timur. Jadi mengikuti Taufik Ismail, saya pun tak berkeberatan untuk mengatakan BERI DAKU SUMBA! Dan karena keindahan alam serta budayanya yang luar biasa, saya pun ingin melengkapinya menjadi "beri daku Sumba, dengan atau tanpa ikan besar sekalipun!"

* Foto #1: Salah satu foto ikan giant trevally yang saya dapat di perairan Sumba Barat bagian Selatan. Sebenarnya kami tidak tahu secara persis berapa berat ikan ini karena ikan-ikan dalam trip ini kembali dirilis, tetapi yang jelas ikan seukuran ini (estimasi kami setidaknya berat ikan ini adalah antara 30-35 kg) masih banyak terdapat di Sumba Barat.
* Peta Pulau Sumba dalam postingan ini diambil dari Google.
* Foto #2: Patung Pasola di batas kota Waingapu, Sumba Timur.
* Foto #3: Foto Om William dengan ikan tenggiri besar. Om William memang penggemar berat teknik trolling (sebenarnya karena faktor umur yang tidak mengijinkan lagi untuk popping), jadi setiap kami pindah spot popping, beliau selalu menurunkan trolling-an dan selalu strike!
* Foto #4: Sem dengan ikan tenggiri hasil popping. Sem adalah kerabat Om William, belajar popping pertama kali saat kami datang ke sana. Tetapi langsung strike, tenggiri pula. Strike ikan-ikan GT yang mungkin sekali besar yang dia dapatkan kemarin selalu putus.
* Hasil trip ini ditayangkan di Trans 7 pada tanggal 26 Desember 2009 pukul 16.00 WIB.

Monday, December 7, 2009

See You All at NUSANTARA FISHING TOURNAMENT 2009 PIALA BUPATI KUTAI TIMUR

Dear all, jika Anda sedang tidak sibuk pada pertengahan bulan ini, saya harapkan demikian karena Natal dan malam perayaan tahun baru juga masih lama, hehehehe, tidak ada salahnya jika Anda menyimak kabar mancing yang sangat baik ini. Pada tanggal 19-20 Desember 2009 nanti akan digelar perhelatan akbar di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, tepatnya di perairan sekitar daerah Sangatta. Apalagi kalau bukan turnamen mancing. Hadiah yang diperebutkan cukup menggiurkan karena selain uang jutaan rupiah juga ada mobil dan motor baru. Tetapi bukan masalah hadiah ini yang ingin saya bicarakan, saya yakin, kebanyakan dari para pemancing negeri ini berangkat mancing dan ikut turnamen bukan karena hadiahnya tetapi karena ingin “strike” dan bertemu sobat-sobat lama.

Selama ini jika berbicara turnamen mancing di bumi Borneo, selalu Balikpapan yang menjadi pembicaraan saking rutinnya kawan-kawan dari Borneo Fishing Club (BFC) Balikpapan menggelar turnamen mancing di Teluk Balikpapan. Lalu disusul dengan Kabupaten Berau, kabupaten di ‘bawah’ Tarakan yang berada di utara Provinsi Kaltim dan juga sebagian wilayahnya sudah berbatasan dengan Malaysia ini juga mulai aktif menggelar turnamen mancing akhir-akhir ini. Baik turnamen di Balikpapan dan Berau selalu berlangsung meriah. Animo pemancing di bumi Borneo untuk memeriahkan turnamen mancing laut ataupun sungai sungguh luar biasa.

Saya pernah berbicara dengan salah satu panitia turnamen di Balikpapan, jumlah tim bisa mencapai seratus tim lebih. “Dan masih akan terus bertambah jika tidak kami batasi. Masalahnya jika tidak kami batasi kapal tidak mencukupi,” ujar Anca, seorang kawan dari Balikpapan Fishing Club saat saya bertemu dengannya di Balikpapan saat transit dari Makassar beberapa waktu lalu. Tak berlebihan jika Anca berujar demikian, karena saat ikut memeriahkan Turnamen Piala Walikota Balikpapan tahun 2008 dulu, saya bertemu dengan banyak sekali kawan-kawan mancing dari ‘hutan’. Maksud saya para pemancing yang tinggal di kota-kota pedalaman Kalimantan semisal Tenggarong dan lain sebagainya. Pemancing Borneo untuk urusan turnamen memang luar biasa!

Begitu banyak potensi mancing yang dimiliki oleh bumi Borneo. Inilah yang membuat pertumbuhan komunitas mancing di sana begitu cepat. Patut dicatat disini adalah peran tayangan MANCING MANIA di Trans|7. Banyak pemancing Kalimantan berkata kepada saya bahwa efek tayangan MANCING MANIA kepada animo khalayak umum untuk menekuni hobi mancing di bumi Kalimantan begitu hebat. “Kini, di Bontang misalnya, kebutuhan alat pancing ibarat kebutuhan pulsa handphone saja. Sudah mirip kebutuhan primer saja,” ujar Anggoro kawan saya yang tinggal di Bontang, Kaltim. Untungnya, hal ini cocok dengan kondisi geografis Kalimantan yang menyimpan begitu banyak ‘emas’ di sungai dan lautnya. Anda ingin memancing ikan-ikan di sungai? Bisa! Di muara sungai? Bisa! Di sungai pegunungan yang berarus deras bersama orang-orang Dayak? Bisa! Ingin merasakan sensasi strike di laut luas pun bisa! Komplet plet! Keragaman potensi mancing dan masih cukup terjaganya habitat ikan-ikan di sana membuat Kalimantan ibarat surganya mancing negeri ini setelah tanah Papua.

Jadi tidak berlebihan jika banyak pemerintah daerah di Kalimantan yang bekerjasama dengan komunitas mancing setempat menjadikan mancing sebagai salah satu agenda penting dalam agenda daerah mereka. Turnamen menjadi cara yang ampuh untuk mengangkat pamor daerah sekaligus sebagai cara mempromosikan potensi perairan di daerah tersebut. Kabupatan Kuati Timur belum pernah tercatat menggelar turnamen mancing skala besar. Mungkin memang pernah digelar lomba-lomba mancing di daerah ini oleh komunitas mancing setempat, tetapi sepengetahuan saya untuk sebuah turnamen berskala besar, tampaknya baru akan dilaksanakan pada tanggal 19-20 Desember itu. Saya tentunya berharap perhelatan mancing akbar pertama di Kabupaten Kutai Timur ini berlangsung meriah dan sukses serta membawa manfaat positif untuk daerah tersebut. Saya kira hal ini sudah hampir pasti demikian.

Di ‘peta’ mancing negeri ini, selama ini Kabupaten Kutai Timur kurang dilirik oleh para pemancing sebagai salah satu destinasi mancing mereka. Kutai Timur, untuk urusan mancing, mungkin masih kalah jauh dengan Balikpapan dan Berau misalnya, dimana di dua daerah terakhir tadi bahkan pemancing dari manca negara pun rela mengagendakan trip khusus ke daerah tersebut di saat musim kemarau karena kedua daerah itu memiliki potensi game fishes menakjubkan di sungai-sungai dan muaranya. Balikpapan mislanya pernah secara khusus didatangi beberapa rombongan pemancing Malaysia dan USA yang tertarik memburu black bass di sungai-sungai payau di daerah ini. Juga di Berau. Namun untuk daerah Berau, potensi wild fishing di sungai-sungai pegunungannya yang paling diminati oleh pemancing-pemancing negeri ini dan juga oleh pemancing manca negara karena upper river di Berau memiliki ikan hampala dan ikan sapan/kelai/kelah bersize jumbo yang siap menguras adrenalin setiapa pemancing!

Nusantara Fishing Tournament 2009 menurut saya akan menjadi titik start yang bagus bagi daerah ini untuk muncul ke permukaan dan menjadi diperhitungkan oleh pemancing-pemancing dari penjuru negeri dan bahkan dunia. Dan jika sudah demikian, maka mancing akan menjadi sesuatu yang mendatangkan banyak sekali manfaat bagi daerah setempat. Tetapi masuk ke sebuah ‘peta’ mancing skala nasional dan internasional memang tidak mudah. Tetapi sejujurnya syaratnya tidak aneh. Yang diperlukan hanya satu, ekosistem perairan (baik tawar ataupun laut) yang masih terjaga kelestariannya. Dan menurut kabar, Kabupaten Kutai Timur masih memiliki potensi yang bagus. Seorang kawan di Balikpapan yang melakukan survey awal untuk menilai kelayakan derah ini menggelar turnamen berskala besar mengatakan bahwa “atas dan bawah main semua bos!!!”. Yang jika dibaca kira-kira bunyinya begini, mau mengaplikasikan teknik mancing permukaan seperti popping dan trolling ataupun melakukan aplikasi mancing dasar seperti jigging dan bottom sama efektifnya! Semoga memang demikian adanya. Saat saya mengetik postingan ini, saya mendengar kabar bahwa kawan-kawan dari Berau sudah menyiapkan kapal khusus untuk ke Sangatta (jaraknya padahal mungkin seratus mil lebih). Tim MM Trans|7 juga sudah ready to go. Pasti akan ramai nih, saya menjadi tidak sabar untuk segera berangkat ke sana. Sangatta, I’m coming!

* Image #1: Pamflet turnamen seperti dikirimkan oleh Hilman, member Balikpapan Fishing Club yang merupakan salah satu panitia pada turnamen tersebut.
* Image #2: Peta jalan trans Borneo. Sangatta kira-kira di bawah 'dagu'-nya Kalimantan. Kota ketiga setelah Samarinda. Semoga Anda menemukannya.
* Jika ada yang tertarik ikut turnamen ini, Anda bisa menghubungi contact person yang terdapat di image pamflet #1 di atas. Setahu saya, biaya pendaftaran sebesar 1.5 juta per tim (5 orang) dan jumlah tim hanya akan dibatasai sebanyak 40 tim saja (tampaknya agar jangan sampai terjadi kekurangan kapal).