Tuesday, 13 June 2017


Suatu pagi, seingat saya masih terlelap di sebuah kamar milik masyarakat Aipaya, usai lelah sehari sebelumnya melakukan sebuah pekerjaan. Pagi yang juga masih dini, tetapi memang seperti lazimnya kehidupan masyarakat pesisir, meskipun pagi masih juga dini, masyarakat selalu sudah begitu bersemangat menjalani kehidupan di hari barunya. Saya terbangun karena hiruk-pikuk yang sepertinya terjadi di halaman rumah tempat saya menumpang tidur. Saya kurang memahami bahasa yang digunakan karena sepertinya campuran antara Bugis dan bahasa Sumbawa. Masyarakat di desa tersebut memang didominasi oleh para perantau Bugis, tetapi karena telah tinggal puluhan tahun di Sumbawa, mereka kemudian juga menguasai dengan baik bahasa Sumbawa. Saya merasa malu ternyata saya adalah orang yang bangun paling akhir hari itu di rumah tersebut, tetapi alih-alih saya kemudian beranjak, malah melanjutkan untuk mencoba memejamkan mata. Tetapi hingar percakapan dan perdebatan di halaman rumah itu semakin menjadi. Intinya adalah sangat sederhana, kelompok ibu-ibu yang rupanya adalah para pengajar di sebuah PAUD dan juga di Sekolah Dasar (MIM Labuhan Liang, Kec. Tarano, Kab. Sumbawa) menginginkan agar bapak-bapak yang ada di halaman itu membangunkan saya. Tetapi kelompok bapak-bapak bersikukuh bisakah nanti saja karena saya baru tidur pukul 04.00 pagi. Kasihan, kata kelompok bapak-bapak. Saya kemudian melihat kea rah jam tangan yang tergeletak di dekat kasur saya dan waktu telah menunjukkan pukul 09 pagi. Saya pikir cukuplah untuk kembali memulai hari setelah malam panjang menyelesaikan naskah. Malam yang melelahkan karena siang hari sebelumnya juga melakukan pekerjaan sepanjang hari. Saya memang tidak boleh istirahat. Belum pantas istirahat. Meski jika terkait pekerjaan terkadang kondisinya keterlaluan, meski kita bekerja 18 jam pun, selalu tidak pernah cukup. Selalu ada keharusan-keharusan yang harus diselesaikan mendadak dalam waktu yang sangat sempit. Sepertinya ada yang begitu menikmati membuat saya bekerja overtime dan overload dan abai bahwa saya adalah manusia biasa yang juga harus memiliki waktu tenang dan atau juga waktu untuk beristirahat! Bukan kelompok ibu-ibu ini tentu saja yang saya maksudkan!

Sepuluh menit kemudian saya sudah berada di halaman PAUD tempat kelompok ibu-ibu ini bekerja (tepatnya adalah TK ABA Labuhan Liang). Tadi hanya sempat menggosok gigi dan juga membasuh muka. Tidak sempat ngopi dan apalagi sarapan. Sarapan mungkin bukan suatu keharusan untuk pagi saya, tetapi ngopi? Saya merasa ada yang salah dengan hari baru jika ngopi pun kita tidak bisa ataupun tidak sempat. Puluhan bocah imut sudah di halaman dengan spanduk besar #SaveTelukSaleh! Bersama para ibu-ibu pengajar mereka. Bahkan yang mengagetkan sebagian dari bocah-bocah imut ini ada yang memegang lukisan-lukisan sederhana disertai pesan-pesan lingkungan yang entah kreasi mereka ataupun kreasi guru-guru mereka. Semangat yang saya rasakan adalah bahwa kelompok pengajar PAUD ini ingin menunjukkan kepada saya bahwa mereka juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan perairan di sekitar wilayah ini, yakni Teluk Saleh. Jujur saja saya respek dengan hal seperti ini, karena melalui tangan dan pemikiran para pendidik seperti inilah kita kemudian memiliki harapan besar akan menjadi seperti apa generasi penerus kita nantinya. Tetapi dengan melibatkan bocah-bocah imut ini dalam kampanye lingkungan perairan yang ‘berat’ ini sebenarnya bukanlah konsern saya. Karena bocah-bocah sebenarnya belum memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Lain halnya jika kemudian kita sebagai orang dewasa kemudian menularkan konsern lingkungan kita kepada mereka dengan cara dan bahasa yang sangat sederhana, saya akan sangat setuju dengan hal itu. Tetapi melihat semangat para pengajar PAUD tersebut dan juga keceriaan bocah-bocah imut tersebut saya jujur saja tidak tega untuk menyampaikan keberatan saya dalam pelibatan bocah-bocah ini dalam sebuah kampanye lingkungan yang sejatinya pesan yang disampaikan adalah merupakan ‘konsumsi’ orang dewasa. Jadilah kemudian beberapa puluh menit rekaman melalui kamera ponsel dan juga beberapa foto tercipta mengabadikan spontanitas ibu-ibu dan juga keluguan bocah-bocah ini. Hingga hari ini saya bahkan belum berani mempublikasikannya karena kekhawatiran terciptanya bias yang besar dalam sebuah konsern lingkungan yang sejatinya merupakan ‘konsumsi’ orang dewasa. Generasi penerus sebagai sasaran kampanye, saya setuju. Tetapi sebagai pelaku kampanye, jika umurnya masih belum mencukupi, saya jujur saja mengalami konflik batin yang luar biasa. Di satu sisi, saya sulit untuk menolak semangat seperti ini karena semuanya sebenarnya demi kebaikan?! Dan memang benar-benar berakar dari keinginan murni untuk berbuat sesuatu kebaikan bagi lingkungan sekitarnya, meskipun itu hanya sekedar menyampaikan pesan yang terkadang entah kepada siapa. Setidaknya kepada diri sendiri?!

Secara alami saya kemudian menjadi sedikit tergelitik untuk melakukan semacam proyeksi kecil atas pesan #SaveTelukSaleh yang baru saja kami kumandangkan bersama bersama berbagai elemen masyarakat di Kecamatan Tarano ini beberapa hari lalu. ‘Abang’ saya, Bang Yamin membantu saya untuk mendapatkan ijin meminta waktu sekitar lima belas menit dari Kepala Sekolah di kelas enam MIM Labuhan Liang yang letaknya juga menyatu dengan TK ABA Labuhan Liang. Komplek pendidikan dasar dan usia dini yang merupakan bentukan Muhammadiyah di Kecamatan Tarano. Saya kemudian menyampaikan sedikit gambaran terhadap anak-anak didik di kelas enam ini terkait Teluk Saleh. Dengan bahasa yang sangat sederhana dan juga dengan cara yang paling menyenangkan yang bisa saya lakukan. Saya menikmati waktu ‘mengajar’ yang hanya sekejap itu. Dan kemudian menuliskan kata yang menurut saya tergolong sangat ‘baru’ di kehidupan anak-anak ini. Yakni kata “SAVE TELUK SALEH” di papan tulis. Dan kemudian meminta anak-anak di kelas membentuk tiga kelompok besar untuk mendiskusikan bersama teman-teman satu kelompoknya bagaimana caranya kira-kira kita melakukan “SAVE TELUK SALEH” ini. Tak lupa juga kemudian sebelum say aberanjak keluar ruangan sebentar, say aberpesan kepada guru kelas agar tidak membantu anak-anak ini menjawab pertanyaan tersebut. Biarkan anak-anak ini berdiskusi dan kemudian menuliskan apa yang ada di kepala mereka. Karena ini bukan tentang benar salah tetapi setidaknya untuk mengetahui pemahaman anak-anak didik, dan lebih jauh lagi adalah untuk menakar seperti apa kira-kira masa depan konsern lingkungan di ‘tepi’ teluk terluas di Kepulauan Nusa Tenggara ini.

Jawaban yang kemudian dituliskan oleh masing-masing kelompok sangat mencengangkan. Bukan hanya menunjukkan betapa mereka memahami pertanyaan itu, tetapi juga mampu menuliskan dalam beberapa poin tentang bagaimana cara menjaga Teluk Saleh. Saya sedikit bingung karena ini jauh dari perkiraan saya. Saya sempat berfikir jika ternyata anak-anak didik ini benar-benar tidak memahami apa yang saya tuliskan, maka diskusi lanjutannya adalah tentang apa sih sebenarnya “SAVE TELUK SALEH” itu. Tetapi karena ternyata mereka memahaminya, maka diskusi berikutnya adalah tentang bagaimana caranya “SAVE TELUK SALEH”. Jika saya rangkum poin-poin yang dituliskan anak-anak kelas enam tersebut adalah; tidak membuang sampah di laut, tidak menangkap ikan dengan bom ikan, dan tidak mengambil terumbu karang dari lautan. Saya sempat bertanya kepada guru kelas dan juga Bang Yamin, ini betulkah mereka sendiri yang menjawabnya? Abang dan Pak Guru tidak membantu mereka kah?! Tanya saya. Karena selama kelompok itu berdiskusi saya berada di luar kelas untuk memberi keleluasaan mereka melakukan diskusi. Benar Bang, itu semua apa adanya jawaban mereka! Tidak ada kalimat lain untuk merangkum semua jawaban anak-anak kelas enam tersebut bahwa Teluk Saleh masih memiliki harapan! Karena dari hamper lima puluh anak didik di kelas itu memahami harus bagaimana untuk menjaga Teluk Saleh ini. Kenapa saya katakan masih ada harapan? Karena anggap saja begini hitungan kasarnya. Dari puluhan anak didik itu kemudian ketika dewasa nanti masih konsisten menjalankan apa yang pernah dia diskusikan dan tuliskan di waktu ini (maksudnya saat ini di kelas enam SD), meskipun itu hanya satu orang saja, maka konsern lingkungan terhadap Teluk Saleh masih memiliki harapan untuk terus berlanjut. Saya menyebut cara ini adalah dengan “menitipkan kepedulian” kepada calon generasi penerus. Bukan menyuruh untuk ikut melakukan kepedulian ya, tetapi “menitipkan kepedulian” atau lebih jauh lagi “menitipkan cita-cita”!

Jujur saja saya sangat menikmati momen-momen ‘menularkan’ sesuatu yang baik kepada orang lain, utamanya konsern lingkungan seperti ini. Apalagi di antara keluguan bocah-bocah kelas enam MIM Labuhan Liang ini dan juga semangat mereka, dan juga kecerdasan mereka, membuat saya merasakan getaran yang tidak biasa. Bukan karena saya berdiri disana melakukannya. Tetapi karena masih mengalami keberkahan dengan ikut merasakan semangat kepedulian yang masih begitu murni dari bocah-bocah ini. Hanya hal kecil yang bisa saya lakukan untuk Teluk Saleh, apa mau dikata? Tetapi setidaknya kita tidak pernah berhenti (baca: menyerah) untuk mencoba terus peduli dan terus mencoba merangkul orang lain untuk juga tergerak dengan kepedulian perairan yang kita jalani. Meskipun lagi-lagi, hal-hal kecil seperti ini juga bisa jadi ditafsirkan lain oleh mereka-mereka yang terlalu ‘buta’ dan ‘lupa’ karena jiwa dan raganya telah ‘terbeli’ oleh tarikan-tarikan ambisi dan materi! Akhir kisah, hari itu kopi pertama saya di hari itu saya jumpai pada pukul sebelasan siang. Kopi yang terlambat tetapi terasa semakin nikmat! Salam Lestari. Salam Wild Water Indonesia!











  















* Pictures captured by various person on June 2, 2017 at Labuhan Liang, Pulau Sumbawa. Please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my/our permission. Don't make money with my/our pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers