Saya sering terpana dengan cara Tuhan memberi pencerahan kepada saya, karena caranya terkadang sangat tidak terduga. Pada saat bersamaan saya juga menjadi tersadar betapa masih banyak hal yang tidak saya pahami dan harus terus saya pelajari. Keingintahuan tidak dapat disangkal harus menjadi semangat setiap orang yang berkecimpung di dunia jurnalistik. Tetapi semangat keingintahuan ini terkadang memang kadarnya berbeda-beda, ada yang bisa secara stabil menerapkannya, ada yang jika dibuat grafiknya akan naik turun tidak tentu, dan kadang ada yang memilahnya dengan sangat jelas. Saya mencoba menerapkan semangat keingintahuan ini se-konstan mungkin, dimanapun, dengan siapapun saya bersosialisasi. Ternyata ini menurut saya menjadi cukup efektif karena kata “riset” kemudian menjadi laku sehari-hari tanpa batasan yang jelas tetapi malah kemudian menghasilkan banyak hal yang tidak terduga dari berbagai ‘saluran’ informasi. Pengalaman menunjukkan bahwa informasi-informasi paling menarik bukan saya dapatkan dari dunia internet ataupun saluran-saluran informasi mainstream lainnya, tetapi malahan dari masyarakat biasa. Meski memang cara riset yang tidak umum ini memerlukan beberapa syarat misalnya saya effort lebih untuk berkomunikasi dengan intensif dalam berbagai bahasa dengan siapapun, dan juga keingintahuan yang ‘liar’ sehingga kita tidak terjebak dalam pencarian informasi yang dangkal dan hanya di ‘permukaan’ saja.
Siang itu matahari seperti membakar Pulau Sumbawa, saya dan
tim Jejak Petualang Trans7 berteduh di sebuah ‘pabrik’ tradisional pengolahan
ubur-ubur. Bau ubur-ubur yang diawetkan di bak-bak penampungan menyengat hidung
dan membuat kepala seperti kliyengan, mabuk
bau ubur-ubur yang sangat aduhai itu. Saya ngobrol dengan seorang warga Desa
Aipaya yang selalu menemani saya dan tim selama di Pulau Sumbawa. Awalnya
pembicaraan adalah tentang ubur-ubur dan ubur-ubur. Tetapi kemudian mata
tertuju pada sebuah pohon besar yang tumbuh di pojokan lahan ‘pabrik’ (pabrik
ubur-ubur sebenarnya adalah sebuah bangunan bedeng semi permanen beratap
terpal, dengan bak-bak penampungan sedemikian rupa), dan biasanya dibangun di
kebun-kebun luas tepi pantai yang landai. Singkat cerita warga tersebut
mengatakan bahwa pohon yang menarik perhatian saya tersebut disebut pohon galumpang atau kalumpang, dan biji buahnya disebut okal. Masyarakat sekitar Teluk Saleh di Pulau Sumbawa menurutnya
sering memanfaatkan biji okal tersebut
untuk membuat sambal khas yang disebut sirauwir.
Dan apakah banyak terdapat di kebun-kebun atau hutan-hutan di sekitar Teluk
Saleh ini pohon ini? Banyak bang! Cocok! Saya mendapatkan satu materi tentang
tanaman yang pantas dan menarik untuk didokumentasikan. Kenapa saya sebut
pantas? Karena begini, sebuah masyarakat tidak terlepas dari alam di
sekitarnya. Cara mereka hidup dan memperlakukan alam sekitar ini penting untuk
dirangkum dalam konsep “nutrisi untuk bangsa”. Sehingga apa yang dilakukan oleh
sebuah masyarakat, misalnya saja terkait dengan satu tanaman tertentu misalnya,
menurut saya bisa menjadi ‘lahan’ inspirasi bagi masyarakat lainnya yang
memiliki potensi yang serupa (tetapi belum digarap maksimal misalnya).
Beberapa hari berikutnya setelah menyelesaikan beberapa
‘garapan’ lainnya yang memang sesuai dengan skala prioritas yang telah
ditetapkan, kami mendarat di sebuah pulau yang hanya dihuni kerbau, sapi, kuda
dan babi dan beragam tanaman tentunya. Pulau Rakit, adalah pulau yang oleh
masyarakat sekitar Teluk saleh sebagai kawasan “lar” atau kawasan penggembalaan
hewan ternak dan tidak boleh dibangun rumah hunian. Isi pulau ini ya itu tadi,
ribuan hewan ternak yang dibiarkan hidup merdeka tanpa pengawasan berarti. Di
Pulau Sumbawa pada umumnya ternak-ternak hanya diberi tanda tertentu untuk
menyatakan tanda kepemilikannya. Kalau di daratan utama, maksud saya di Pulau
Sumbawa, ternak dilepaskan bebas di kebun milik masyarakat yang memiliki hewan
ternak tersebut (kebun-kebun selalu memiliki pagar rapi berapapun luas kebun
tersebut), sehingga ternak tidak beredar kemana-mana dan merusak kebun orang
lain (akan kena denda pemiliknya jika ternak yang dimiliki merusak kebun orang
lain). Pulau Rakit ini adalah solusi jitu yang sudah berlangsung entah berapa
puluh generasi, sebuah kearifan lokal, yang menjadi solusi ketika daratan utama
di Pulau Sumbawa sekitar Teluk Saleh telah memasuki musim tanam. Ribuan hewan
ternak akan diseberangkan melalui laut untuk dipindahkan ke pulau ini (banyak
televisi nasional dan internasional telah mendokumentasikan tentang proses
penyeberangan hewan ternak ini, termasuk juga Jejak Petualang), yang tujuannya
tentunya agar ribuan ternak yang ada tidak merusak kebun milik warga di daratan
utama Pulau Sumbawa. Di Pulau Rakit inilah saya dan tim hendak
mendokumentasikan tentang tanaman galumpang/kalumpang karena masih banyak
sekali pohon galumpang yang berukuran besar dan berusia puluh atau mungkin
lebih dari seratus tahun. Pohon-pohon galumpang ini terus dijaga karena itu
tadi, memiliki beragam manfaat untuk masyarakat luas.
Agar tidak ngelantur kemana-mana baiknya saya sarikan
sedikit tentang ‘pohon setan’ ini. Galumpang atau kalumpang adalah jenis pohon
yang konon termasuk dalam keluarga jauh pohon randu-randuan, orang Jawa
menyebutnya kepuh (Sterculia
foetida). Lokasi tumbuh tanaman ini konon banyak terdapat di lahan/kawasan
dekat air dan pantai atau secara umum di hutan dataran rendah hingga ketinggian
500 mdpl. Di Jawa dan Bali dahulu banyak tanaman ini tetapi sekarang kebanyakan
hanya tersisa di areal pemakaman atau areal yang dianggap mengandung hawa gaib
saja sehingga muncul anggapan bahwa pohon ini adalah ‘pohon setan’ atau pohon
hantu dan semacamnya. Ada yang menyebutnya pohon
genderuwo karena katanya banyak diminati oleh makhluk astral ini sebagai
‘rumah’-nya. Di daerah Kepulauan Nusa Tenggara Timur tanaman ini sering disebut
wukak, dan masih banyak lagi sebutan
yang lainnya. Nama marga dari tanaman ini diambil dari Sterculius atau Sterquilinus,
yakni nama dewa pupuk pada mitologi Romawi, sekaligus juga nama spesiesnya, foetida
(artinya, berbau keras, busuk), nama ilmiahnya sendiri sebenarnya merujuk pada
bau kurang enak yang dikeluarkan oleh pohon ini terutama dari bunganya.
Penyebarannya mulai dari Afrika Timur, Asia Selatan & Tenggara hingga ke
Australia.
Kayu dari pohon kalumpang memiliki warna putih keruh, berkarakter
ringan, dan kasar, kayunya dikenal kurang kuat serta tidak tahan terhadap
serangan serangga sehingga jarang dimanfaatkan sebagai papan ataupun tiang
bangunan untuk tempat tinggal. Paling sering di beberapa masyarakat nelayan
digunakan untuk membuat sampan, peti pengemas, dan batang korek api. Akan
tetapi, sudah sejak jaman kuno daun daun-daunnya sering digunakan untuk
mengobati demam, mencuci rambut, dan sebagai ‘kompres’ tradisional untuk
meringankan sakit pada kaki dan tangan yang terkilir atau patah tulang. Kulit
kayunya konon juga bisa diseduh sebagai obat penggugur kandungan, yang terakhir
ini semoga tidak ada yang mengaplikasikannya karena menurut saya itu sebuah dosa
besar. Buat apa digugurin kalau pas membuatnya penuh semangat dan gairah?
Jangan mau enaknya saja! Manfaat lainnya terdapat pada bagian kulit buahnya
yang bisa dijadikan sebagai bahan tambahan pewarna kain. Masih banyak lagi
manfaat lainnya dari ‘pohon setan’ ini antara lain biji kepuh (masyarakat
Sumbawa menyebut bijinya dengan nama “okal”) mengandung minyak kuning yang bisa
dimanfaatkan sebagai minyak lampu sekaligus minyak goreng. Namun dari beragam
manfaat ini, yang paling sering dilakukan orang hanyalah memanfaatkan ‘kacang’
okalnya sebagai cemilan ataupun untuk bahan tambahan membuat sambal sebagai
pengganti kemiri.
Intinya bahwa pohon galumpang memiliki banyak manfaat
untuk kehidupan manusia, tentunya selama tanaman ini masih ada. Sudahlah saya
tidak akan membahas lebih lanjut tentang pandangan sebagai ‘pohon setan’-nya
karena saya tidak memiliki keahlian tentang hal ini, menurut saya juga
setan-setan paling mengerikan sekarang ini juga sudah tidak hidup di pohon lagi
tetapi di apartemen-apartemen dan rumah mewah dengan kekuasaan terhadap
kehidupan dan nasib banyak orang. Jadi konteks ‘pohon setan’ ini tidak terlalu
penting untuk dibahas. Kesadaran masyarakat sekitar Teluk Saleh menjaga
populasi pohon ini menjadi secercah harapan dan sekaligus inspirasi, bahwa
meski terkadang mereka juga menyebut bahwa pohon ini memiliki aura magis,
tetapi akal sehat mereka lebih menang, terbukti sehari-hari mereka memanfaatkan
kacang okalnya untuk pembuatan sambal dan cemilan yang nikmat. Sayangnya pemanfaatan
yang ada sekarang hanya sebatas itu saja, belum ada pemanfaatan lebih lainnya.
Mungkin karena belum tercipta ‘pasar’ yang lebih luas, sebab di lokal Teluk
Saleh memang tidak mungkin untuk memasarkan misalnya saja untuk okal-nya karena semua masyarakat bisa
memungut kacang okal dari pohon manapun kapan saja diperlukan.
Secara pribadi kemudian saya berharap ke depannya ada inisiatif dari masyarakat atau pihak tertentu yang tergerak melirik potensi menggerakan ekonomi masyarakat berkelanjutan melalui manfaat yang dimiliki oleh kalumpang ini. Karena saya melihat sendiri di daerah sekitar Teluk Saleh populasi tanaman ini masih cukup banyak. Bahkan saya melihat sendiri ada satu pohon raksasa dengan potensi biji okal yang luar biasa, dan menariknya menurut masyarakat pohon kalumpang bisa terus berbuah sepanjang tahun! Bayangkan jika kacang okalnya kemudian diolah secara lebih baik dalam skala yang lebih besar, bukan hanya masyarakat yang mendapatkan sumber pendapatan ekonomi tambahan, tetapi juga bisa mengangkat nama daerah dari kacang okal yang selama ini kebanyakan hanya berserakan di atas tanah dan diambil sekedarnya saja? Saya mungkin terlalu khawatir dengan semua hal yang mengancam, tetapi begini, jika kemudian pandangan ‘pohon setan’ ini kemudian lebih diterima oleh banyak orang di berbagai daerah, apa tidak sayang jika pohon kaya manfaat ini lambat laun akan hilang karena ditebang sembarangan? Pun kalau memang pohon ini menjadi favorit tempat tinggal makhluk astral, biarkan saja, kita petik saja manfaat lainnya yang berguna, bukankah kita punya Tuhan?! Demikian!
Secara pribadi kemudian saya berharap ke depannya ada inisiatif dari masyarakat atau pihak tertentu yang tergerak melirik potensi menggerakan ekonomi masyarakat berkelanjutan melalui manfaat yang dimiliki oleh kalumpang ini. Karena saya melihat sendiri di daerah sekitar Teluk Saleh populasi tanaman ini masih cukup banyak. Bahkan saya melihat sendiri ada satu pohon raksasa dengan potensi biji okal yang luar biasa, dan menariknya menurut masyarakat pohon kalumpang bisa terus berbuah sepanjang tahun! Bayangkan jika kacang okalnya kemudian diolah secara lebih baik dalam skala yang lebih besar, bukan hanya masyarakat yang mendapatkan sumber pendapatan ekonomi tambahan, tetapi juga bisa mengangkat nama daerah dari kacang okal yang selama ini kebanyakan hanya berserakan di atas tanah dan diambil sekedarnya saja? Saya mungkin terlalu khawatir dengan semua hal yang mengancam, tetapi begini, jika kemudian pandangan ‘pohon setan’ ini kemudian lebih diterima oleh banyak orang di berbagai daerah, apa tidak sayang jika pohon kaya manfaat ini lambat laun akan hilang karena ditebang sembarangan? Pun kalau memang pohon ini menjadi favorit tempat tinggal makhluk astral, biarkan saja, kita petik saja manfaat lainnya yang berguna, bukankah kita punya Tuhan?! Demikian!
* Pictures mostly by Me at Teluk Saleh, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Some pictures captured by Eko
Priambodo (screen captured Sony PMW 200). No
watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially
for
commercial purposes) without my permission. Don't make money with my
pictures
without respect!!!
Comments