Lima Belas Menit Yang Berharga: Proyeksi Cita-cita Wild Water Indonesia (WWI) di Tepian Teluk Saleh Bersama Generasi Penerus
Suatu pagi, seingat saya masih terlelap di sebuah kamar milik masyarakat Aipaya, usai lelah sehari sebelumnya melakukan sebuah pekerjaan. Pagi yang juga masih dini, tetapi memang seperti lazimnya kehidupan masyarakat pesisir, meskipun pagi masih juga dini, masyarakat selalu sudah begitu bersemangat menjalani kehidupan di hari barunya. Saya terbangun karena hiruk-pikuk yang sepertinya terjadi di halaman rumah tempat saya menumpang tidur. Saya kurang memahami bahasa yang digunakan karena sepertinya campuran antara Bugis dan bahasa Sumbawa. Masyarakat di desa tersebut memang didominasi oleh para perantau Bugis, tetapi karena telah tinggal puluhan tahun di Sumbawa, mereka kemudian juga menguasai dengan baik bahasa Sumbawa. Saya merasa malu ternyata saya adalah orang yang bangun paling akhir hari itu di rumah tersebut, tetapi alih-alih saya kemudian beranjak, malah melanjutkan untuk mencoba memejamkan mata. Tetapi hingar percakapan dan perdebatan di halaman rumah itu semakin menjadi. ...