Skip to main content

Posts

Showing posts with the label tomman

Sustainable Greeting: Giu, Srikandi Wild Water Indonesia dari Negeri Yang Jauh

Melalui caranya sendiri dan tidak diketahui oleh banyak orang, dia telah menjadi bagian dari usaha mulia mahaga petak danum (menjaga tanah air) yang dilakukan oleh ribuan relawan Wild Water Indonesia lainnya. Menuliskan sosok seorang perempuan muda penuh semangat dan bertabur talenta ini sejujurnya tidaklah mudah sama sekali. Terlalu banyak hal yang terjadi dalam lima bulan terakhir sejak pertemuan pertama dengannya di sebuah desa kecil di puncak gunung di Pulau Sumbawa, Mantar. Saya merasa memiliki banyak keterbatasan untuk menuliskan dengan baik betapa begitu banyak sumbangan kebaikan yang dia lakukan kepada saya dan juga kepada jaringan kepedulian perairan Wild Water Indonesia. Tetapi saya kemudian memutuskan tidak ingin takut menuliskannya, meski akan sangat sulit menjadi sempurna dan dapat merangkum semuanya, tetapi semoga setidaknya dapat menggambarkan sumbangan positif yang telah dia lakukan untuk jaringan kepedulian perairan ini. Sebuah jaringan kepedulian perairan Indon...

Ngecek Rawa Pening: Olivia Marianne dan Rekayasa Perburuan di Perairan Tawar Yang Berubah dan Cerita-cerita Lainnya

The greatest threat to our planet is belief that someone else will save it.(Robert Swan) Mengingat Rawa Pening adalah mengingat persahabatan. Bermain di Rawa Pening bagi saya juga adalah salah satu cara memaknai persahabatan. Bertahun lalu saya pernah keliling mancing di danau ini dengan dipandu seorang sahabat yang waktu itu masih berdomisili di kota Salatiga, Jawa Tengah. Ada dua kali perjalanan yang lumayan memakan waktu lama yang pernah saya lakukan di danau alami penuh legenda ini. Pertama sekitar tahun 2011-an bersama Mas Dudit Widodo, pemancing paling kesohor di negeri ini dan kemudian kalau tidak salah setahun kemudian bersama Cepy Yanwar, host paling ‘bungsu’-nya program Mancing Mania Trans|7. Pada kedatangan kedua inilah sempat terjadi insiden yang masih begitu jelas di ingatan saya. Diterjang angin topan dari pegunungan dan perahu kami nyangkut di sebuah tiang kecil di tengah danau entah dimana. Sepanjang hari waktu itu kami harus berjibaku menguras air yang memenu...

Laya, Ketika Ikan-ikan Predator Perairan Tawar Baper (Bawa Perasaan), Takluk oleh Keindahan Bunga-bunga

Langsung saja, ini juga hasil saya ngopi dengan masyarakat Dayak Ngaju di sebuah desa kecil di tepian Sungai Rungan, Kalimantan Tengah. Laya, adalah bahasa Dayak Ngaju, yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya adalah terpana, terpesona, terpukau oleh sesuatu. Istilah ini bisa dipakai untuk menerangkan kondisi seseorang atau juga binatang. Jika seseorang sedang terpana karena kecantikan atau ketampanan seseorang, dan kemudian jatuh cinta atau terkesan, tetapi kemudian perilakunya menjadi berubah (misal galau dan pendiam), maka dia bisa disebut laya. Begitu juga binatang baik yang berkaki empat ataupun ikan, bisa laya karena sesuatu yang terjadi di habitatnya. Ini pencerahan baru bagi saya karena selama ini saya tidak terpikir sama sekali tentang hal ini. Memang banyak pendapat yang menyatakan bahwa ikan-ikan perairan tawar dan juga laut, memiliki karakter respon tertentu menyikapi perubahan yang terjadi/berlangsung di habitatnya. Tetapi kata “terpana, terpes...

Untuk Orang-orang Barunai di Tepian Sungai Rungan & Ikan-ikan yang Terjebak di Danau Terisolasi (Bagian 1)

Untuk orang-orang Petuk Barunai di sekitar Sungai Rungan, Kalimantan Tengah. Yang tetap mampu bersikap dan melihat dengan keluhuran akal budi, ketika badai ‘jahat’ menimpa saya satu tahun lalu, dan efek-efek yang ditimbulkannya terkadang masih muncul sporadis hingga hari ini. Pernah terlintas untuk menghapus semua file foto, video, dan ingatan usai trip yang terjadi ke desa indah ini satu tahun lalu. Penyebabnya adalah isu-isu tidak bertanggung jawab yang ditimpakan kepada saya oleh pihak-pihak tertentu dengan segunung uang dan pengikut loyal yang sebagian besar hanya bisa menilai semuanya dengan ‘bias’. Untungnya, ketika saya merasa sendiri dan tertekan dan merasa dunia runtuh saat itu, saya masih diingatkan oleh Tuhan, bahwa semua selalu ada masanya. Tidak selamanya seseorang ataupun sesuatu mampu ‘menyetir’ semua orang. Mata yang silau akan mampu melihat kembali, yang lupa akan kembali sadar. Kini, setahun berselang, saya membuka kembali file Petuk Barunai, untuk m...