Skip to main content

Posts

Showing posts with the label wild culinary

Wild Chef: Dawen Taya, Antara Sayuran, Obat, Racun dan Kemahiran Mengolah Pangan ala Dayak Ngaju

Ini adalah hal baru dalam ranah kuliner tradisional yang saya ketahui, padahal saya sudah merasa menjelajah kemana-mana ke seluruh penjuru negeri, padahal seingat saya saya juga bisa dan pernah makan apa saja. Tetapi ternyata keilmuan kuliner tradisional saya masih sangat dangkal. Yakni tentang pemanfaatan daun tanaman taya, atau dalam bahasa Dayak Ngaju disebut “dawen taya”. Tanaman taya, adalah tanaman berkayu keras yang relatif masih mudah dijumpai di Pulau Kalimantan. Kabarnya di Pulau Kalimantan, populasi paling banyak dari tanaman ini ya di Kalimantan Tengah ini. Di daerah lain, tanaman bernama Latin Nauclea orientalis ini juga banyak terdapat di Pulau Bali (disebut bengkel ), di Boven Digul Papua dan juga di Pulau Timor. Dalam bahasa Indonesia disebut dengan nama gempol . Di dunia dikenal dengan nama canary wood , cheese wood atau burr tree . Secara wilayah sebaran dapat dijumpai di beberapa negara Asia Tenggara hingga Papua Nugini dan Australia bagian utara. Berbatang...

Wild Chef: Umbut Ilatung, Rasa Pahit, dan Masyarakat Dayak di Desa Paduran, Sebangau Kuala

Kembali kita akan membicarakan makanan khas pedalaman Kalimantan. Tepatnya yang saya jumpai di Desa Paduran, Sebangau Kuala, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Umbut ilatung sebenarnya nama lainnya adalah juhu singkah atau yang dalam bahasa Indonesia kita kenal dengan umbut rotan. Awalnya adalah hasil obrolan sore dengan keluarga Rudi Hamid, kepala desa Paduran. Ibu raudah, istri Rudi Hamid yang meski berusia senja, selalu bersemangat kalau membicarakan sedang sesuatu, keluarga ini sudah menganggap saya seperti anak sendiri, jadi apapun diceritain blak-blakan. Di antara keseruan bercerita kemudian terucap kata umbut ilatung yang enak, begitu katanya. Usut punya usut rupanya ini adalah umbut rotan. Saya sendiri pernah mendokumentasikan cara memasak umbut rotan ini di sekitar Palangkaraya, sekitar dua tahun lalu. Tetapi waktu itu bahannya kami beli dari pengepul di pasar, jadi bukan bahan segar, terlihat dari warna luar kulit umbutnya yang mulai berwarna coklat. Pedagang sendiri meng...

Melanjutkan Kembali Langkah Menyatukan Kearifan Lokal Perairan Indonesia, Wild Fishing, dan Wild Kuliner

Banyak sekali artikel di blog ini terkait program Jejak Petualang Wild Fishing sejak awal mula dirancang hingga hari ini pada usia 15 bulan, bisa di search dengan keyword “jejak petualang wild fishing” dan atau “jpwf”. Kemarin sore, tepatnya tanggal 22/07/2015 pukul 14.45 wib telah ditayangkan episode perdana ‘new’ Jejak Petualang Wild Fishing (JPWF). Hasil dokumentasi kami di pedalaman Kalimantan Utara bulan Mei lalu. Ada yang berbeda memang dengan JPWF karena host-nya bukan lagi seorang pemancing kesohor Indonesia, Joe Michael, melainkan seorang lady angler baru yang awalnya seorang pendaki gunung bernama Chintya Tengens. Nona Ambon yang memiliki jiwa petualangan sangat tinggi dan tahan banting di segala medan (gunung, laut, rawa, darat, sungai, dan lain sebagainya). Ketika tayangannya masih on air di layar kaca, begitu banyak sms/telp/inbox dan lain sebagainya yang masuk ke ponsel saya dan juga ke akun beberapa media sosial saya. Ada yang mengucapkan selamat dengan ...

Wild Chef: Gudang Pangan Yang Melimpah di Sungai & Hutan Ulayat Suku Dayak Berusu, Kalimantan Utara

Ada yang tercecer rupanya berkaitan dengan trip Jejak Petualang Wild Fishing (JPWF) ke Kalimantan Utara bulan Mei lalu dan baru malam ini teringat dan ternyata belum dituliskan di blog iseng ini. Yaitu mengenai kearifan lokal masyarakat terkait pemanfaatan alam mereka dalam memenuhi kebutuhan pangan, dan secara lebih ‘sempit’ lagi adalah dalam memanfaatkan alam mereka untuk membuat kuliner khas setempat. Sejak pertama kali memasuki wilayah hulu sungai dan hutan ulayat Suku Dayak Berusu di bagian hulu, dua hari perjalanan dengan menggunakan perahu, saya melihat kesan kuat betapa melimpahnya bahan pangan yang tersedia di hutan dan di sungai mereka. Karena apappun yang mereka inginkan dapat ditemukan disana dalam waktu yang relatif singkat. Sebagai gambaran, ketika mereka menginginkan daging binatang buruan semisal rusa, tidak sampai satu jam masuk hutan, mereka sudah kembali dengan rusa besar yang bahkan dagingnya tidak akan habis selama seminggu (rombongan kami terdiri dari tot...