Skip to main content

Posts

Showing posts with the label dayak

Wild Water Indonesia: Catatan Ekspedisi Mata Air Sungai Mahakam 2017(Part 2)

Catatan ini hanya akan terasa ‘nikmat’ jika para pembaca telah ‘mencicipi’ dengan Catatan Ekspedisi Mata Air Sungai Mahakam 2017 (Part 1) yang telah terlebih dahulu saya posting di Wild Water Indonesia. Dan bahkan jika para sahabat dan relawan memiliki akun Instagram jauh sebelumnya banyak foto dan catatan pendek terkait behind the scene ekspedisi ini yang dalam waktu satu bulan terakhir ini sepertinya cukup banyak saya publish di media sosial. Demikian! Baiklah kita lanjutkan lagi kisah kelana dan konsern lingkungan dalam Ekspedisi Mata Air Sungai Mahakam 2017 ini. Malam hari kedua di Ujoh Bilang sebuah penginapan kecil menjadi tempat berteduh yang cukup nyaman walaupun udara begitu gerah dan air yang ada di kamar mandi serupa dengan warna air Sungai Mahakam. Sebagai gambaran, air di Sungai Mahakam terutama bagian tengah (Mahakam Ulu – Kutai Barat - Kutai Kartanegara) dan hilir (Kutai Kartanegara – Samarinda _ laut) begitu ‘indah’ layaknya kopi susu kecoklatan. Dan rata-rata u...

Wild Water Indonesia: Catatan Ekspedisi Mata Air Sungai Mahakam 2017(Part 1)

Catatan ini pertama kali dipublikasikan di situs jaringan kepedulian perairan Wild Water Indonesia. Salam lestari! Bersama Julak Iswan dan Anang Tirta W. (WWI Region Kalimantan Timur) dan juga bersama Ignasius Rayung, Minggang lejau, Darius Dalung Lejau, Victorious Awang, dan sekitar 7 orang lainnya dari (WWI Region Mahakam Ulu dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Mahakam Ulu) pada tanggal 9-24 Oktober 2017 lalu kami melakukan sebuah perjalanan yang awalnya terkesan utopis, khayalan. Kenapa saya bilang “khayalan” karena memang apa yang kami lakukan sejatinya memerlukan biaya yang luar biasa banyak, usaha yang luar biasa besar, ketangguhan fisik dan mental yang di atas rata-rata, juga waktu perjalanan yang tidak bisa sebentar dan lain sebagainya. Ekspedisi Mata Air Sungai Mahakam 2017 awalnya adalah angan belaka ketika saya masih blusukan bersama para relawan WWI Region Malang Selatan. Waktu itu, akhir September hingga awal Oktober 2017 kami mulai melaksanakan program bermakna ga...

Wild Water Indonesia Fish Warrior: Mahaga Petak Danum atau Menjaga Tanah Air Indonesia dari Dominasi Destruktif Fishing

Dalam sanubari semua sahabat Wild Water Indonesia (WWI) saya percaya ada niat, tekad, semangat, kegelisahan untuk melakukan sesuatu yang terbaik bagi keberlanjutan potensi perairan di negeri ini. Terutama keberlanjutan ekosistem dan spesies peraira nnya agar dapat diwariskan kepada generasi penerus dalam keadaan layak. Itulah sebabnya kemudian muncul istilah "FISH WARRIOR". Diskusi awal tentang "FISH WARRIOR" ini berlangsung hampir setahun lalu antara saya bersama Bang Julak Iswan,  Bang Derry Setiawan dan Mas Anang Tirta semuanya dari para sahabat WWI Kaltim. Kami juga meyakini setiap sahabat WWI juga mencintai tanah air Indonesia ini. Bukan hanya keindahannya dan kekayaannya tetapi juga menyadari tantangan untuk ikut menjaganya sebaik dan sebisa mungkin. Munculah kemudian semacam keinginan merumuskan tekad mulia ini dalam "MAHAGA PETAK DANUM". Bahasa Dayak Ngaju yang artinya "MENJAGA TANAH AIR". Seorang renta di foto ini bernama Pak ...

Kenangan Empat Hari di Labang: Jalur Tikus dan Tantangan Kehidupan Masyarakat Dayak Okolod di Wilayah Perbatasan Indonesia – Malaysia

Saat longboat kami tiba di Desa Ngawol, salah satu desa di Kelompok Desa Labang, Kabupaten Nunukan waktu telah menunjukkan pukul 4 sore hari. Tidak ada dermaga kampung meskipun itu hanya terbuat dari gelondongan kayu ataupun bilah papan yang disusun rapi di depan gerbang desa, seperti sering saya jumpai misalnya di kampung-kampung di Mahakam Ulu (Kalimantan Timur) dan ataupun di daerah Kalimantan Tengah. Longboat yang membawa kami dari Mansalong (5 jam perjalanan ‘mendaki’ di bawah kampung ini) merapat begitu saja di tepian sungai berbatu yang sangat minim sekali memiliki tepian landai tersebut. Seluruh barang kemudian kami angkut sendiri, benar-benar sendiri dari tepian sungai menuju ke rumah panggung yang akan menjadi basecamp kami selama berkegiatan di desa perbatasan ini. Jaraknya lumayan sekitar 300 an meter. Dengan kontur tanah yang lumayan menanjak mengangkut barang-barang ini memerlukan semangat dan kesabaran tersendiri. Semua kampung di DAS Sembakung ini memang berada di d...