Saturday, 10 June 2017


Small things make a big difference! WILD WATER INDONESIA (WWI) adalah cita-cita. Adalah juga jaringan kepedulian perairan Indonesia dengan konsern; (1). Kampanye kegiatan perairan ramah lingkungan. (2). 'Melawan' kegiatan penangkapan ikan yang merusak yaitu setrum, racun dan bom ikan. Cara tangkap ikan yang merusak ini telah menjadikan ekosistem perairan Indonesia kehilangan keseimbangan ekologi, berkurangnya daya dukung dan manfaatnya bagi kehidupan. Dasar hukum konsern ini UU Republik Indonesia No. 31/2004 Pasal 84 Ayat 1 jo UU No. 45/2009 Pasal 85 Tentang Perikanan. Kenyataan bahwa seluruh sahabat WWI adalah individu yang tidak memiliki wewenang pada penegakan dan sanksi hukum, aksi sahabat WWI diwujudkan secara persuasif berupa himbauan dan inspirasi keteladanan kepedulian perairan. Beberapa konsern seluruh sahabat WWI di Indonesia saat ini antara lain; kampanye kegiatan memancing ramah lingkungan, aktif mendukung patroli perairan, partner aparat hukum menegakkan undang-undang perikanan, restocking dan relokasi ikan endemik, pendataan ikan langka endemik, bersih sampah perairan, edukasi perairan, kampanye catch and release ikan langka, perlindungan spesies ikan langka (fish sanctuary), bag limit (pembatasan jumlah tangkapan), transplantasi terumbu karang, reboisasi dan perlindungan mata air, mendukung kearifan lokal perairan berkelanjutan (sustainable). Informasi lanjutan terkait jaringan WWI dapat menghubungi email: wildwater.indonesia@gmail.com. #wildwaterindonesia #konservasi #conservation #ikan #fish #sungai #river #danau #lake #sea #laut #indonesia #illegalfishing #stopsetrumikan #stopbomikan #stopracunikan #stopnyampah #satu_wwi #wwi_30_april #wwi_untuk_indonesia

Sepanjang apapun saya menuliskannya, saya meyakini bahwa tetap tidak bisa merangkum semua semangat kepedulian keteladanan dan juga keikhlasan dari seluruh jaringan WWI pada tanggal 30 April 2017 lalu (Satu WWI) ketika seluruh jaringan ini ‘merenungkan’ kembali kegelisahan dan kepedulian perairan untuk negeri tercinta Indonesia ini. Prolog yang saya sertakan di atas selama satu tahun terakhir ini selalu saya posting baik itu di Instagram maupun di Facebook setiap kali saya dan juga ribuan sahabat WWI lainnya melakukan update kegiatan kepedulian perairan yang mereka lakukan. Kata-kata yang sungguh tidak ‘laku’ di jaman dimana media sosial dan juga media mainstream dipenuhi oleh ‘hiburan’ yang begitu ‘membius’ yang begitu dominan! Dan sebagian lagi oleh perang melalui media karena ‘disetir’ oleh kekuatan-kekuatan besar lainnya, sebagian karena politik dan sebagian lagi karena sentiment keagamaan. Satu bulan menjelang tanggal 30 April 2017 adalah masa-masa yang sangat menggelisahkan. Ada pertarungan yang begitu hebat antara keinginan-keinginan yang ingin saya lakukan bersama-sama dengan para sahabat di seluruh penjuru negeri dan juga kewajiban-kewajiban yang harus dijalani dan tidak mampu saya tolak terkait menjalani profesionalisme seorang pekerja keliling. Saya ingin menulis catatan kecil tentang, saya menyebutnya masa Satu WWI ini, bukan karena saya ingin selalu mendefinisikan sendiri tentang jarigan dan bentuk serta arah gerakan, meski hal seperti itu sebenarnya sangat sulit untuk saya hindari. Semuanya pasti akan saling ‘melilit’ karena pada mulanya memang semua ini menjadi gelombang setelah riak kecil yang tercipta di sebuah jembatan yang membentang di Kalimantan Barat pada tanggal 30 April 2016, setahun yang lalu. Satu hal yang ingin kembali saya tegaskan melalui catatan ini adalah bahwa kini, dan saya harapkan untuk seterusnya, cita-cita ini semoga selalu menjadi milik semua orang yang peduli di dalam jaringan ini. Dan konsern yang dilakukan selalu untuk semua orang di negeri ini! Untuk masa depan perairan Indonesia yang lebih baik! Untuk kebaikan generasi penerus! Satu WWI sejatinya telah beberapa minggu berlalu, dan baru pada hari ini saya mampu menuliskannya. Semata karena merenungkan kembali tentang cita-cita ini selalu menguras kecengengan emosi saya. Ada getaran dan haru yang begitu sulit saya bendung karena Puji Tuhan ‘jalan’ kepedulian ini semakin ramai, juga semakin lebar, juga semakin kuat karena begitu banyak sahabat yang memiliki cita-cita sama kini bahu membahu mencoba mewujudkan cita-cita sederhana yang sangat tidak mudah ini. Belum lagi karena prioritas menjalankan tugas dari tempat dimana saya bekerja yang memang sudah semestinya harus mendapatkan porsi lebih baik dalam kehidupan saya. Saya tidak tahu apakah catatan ini bisa mewakili semangat, kepedulian, kebersamaan, kesetaraan, dan keihklasan dari seluruh sahabat di penjuru negeri dalam Satu WWI ini. Setidaknya semoga bisa menghadirkan sedikit dari keseluruhan semua kepedulian yang dilakukan para sahabat Wild Water Indonesia dalam perenungan Satu WWI ini.

Satu WWI memang tidak pernah saya sebut sebagai perayaan, kalau peringatan mungkin masih bisa diterima, tetapi kalau perayaan sepertinya terlalu jauh karena WWI adalah jaringan kepedulian perairan yang sejatinya sedang menjalani ‘laku’ prihatin. Jadi kalau keprihatinan tersebut dirayakan, maka kemudian menjadi bias. Saya lebih suka memakai kata perenungan kembali atas komitmen saya sendiri dan juga seluruh sahabat WWI lainnya di seluruh penjuru negeri, dalam rangka ikut serta (baca: tidak lupa) dengan kondisi perairan yang ada di  negeri ini. Baik itu perairan umum (sungai, danau, rawa) dna juga perairan laut. Masih begitu segar di ingatan saya pada saat Satu WWI lalu, maksudnya tanggal 30 April 2017 lalu, saya sebisa mungkin menyapa seluruh sahabat WWI dengan “Selamat merenungkan dan menjalani kembali kegelisahan perairan ini”. Dan bukannya “Selamat ulang tahun!” Satu hal yang ingin saya tegaskan melalui catatan singkat ini adalah, bahwa WWI bukanlah milik saya, tetapi milik seluruh sahabat WWI dimanapun berada. Cita-cita ini juga bukan hanya milik saya tetapi milik semua orang yang peduli dengan kondisi perairan di negeri ini dan ingin mengembalikan kembali perairan di Indonesia menjadi kembali “wild water”. Perairan yang semuanya seperti dahulu lagi. Liar, alami, sehat, dan lain sebagainya. Meski memang sekilas saja ini seperti terkesan utopis, tetapi saya berkeyakinan bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk diwujudkan. Akan tetapi jika ternyata kemampuan saya, juga kemampuan ribuan sahabat WWI saat ini ternyata tidak mampu mewujudkan “wild water”-nya Indonesia ini lagi, karena jelas-jelas terjadi dari dulu hingga sekarang, bahwa yang merusak itu lebih banyak dengan kemampuan yang luar biasa besar, setidaknya saya dan seluruh sahabat WWI telah berusaha. Bukannya diam saja berpangku tangan sembari menghabiskan sisa hidup untuk menjadi politikus karbitan, ahli agama karbitan, dan juga penikmat perairan yang begitu ‘rakus’ dan lupa diri. Mentang-mentang terlahir sebagai manusia?!

Ada semangat dan kebersamaan yang luar biasa mengharukan yang dilakukan seluruh sahabat WWI di seluruh penjuru negeri dalam merenungkan Satu WWI. Saya akan mencoba membuat catatan dari apa yang dilakukan oleh para sahabat di seluruh Indonesia ini. Demi mengabadikan keikhlasan agar semoga, siapa tahu, bisa menjadi ‘kaca benggala’ bagi siapapun yang membacanya. Saya sadar bahwa semua keihklasan yang dilakukan para sahabat tidak semuanya ingin dipublikasikan secara detail. Tetapi bagi saya, tidak ada salahnya kita menyebarluaskan kebaikan, inspirasi keteladanan kepedulian, dan apapun itulah nama atau sebutannya. Meski jujur saja ada yang agak kurang bagi saya pribadi dalam Satu WWI ini. Yaitu gagalnya publikasi film documenter dalam rangka Satu WWI. Film dokumenter kepedulian perairan berbasis komunitas, yang merupakan gabungan video-video selama setahun terakhir ini. Ternyata ada hambatan yang tidak terduga terkait “mesin” dimana ternyata untuk mengkonversi file-file dari ponsel menjadi file yang bisa di-cutting di program Final Cut Pro lamanya mengalahkan perjalanan dari Bumi menuju Mars! Saya mohon maaf kepada seluruh para sahabat WWI dimanapun berada. Perlahan akan saya selesaikan film dokumenter Satu WWI ini. 

Bukan bermaksud membandingkan. Tetapi Satu WWI di empat region berikut ini patut saya beri catatan yang lebih panjang. Yakni WWI Yogyakarta, WWI Kalimantan Timur, WWI Kalampangan (Palangkaraya) dan WWI Sumbawa (Nusa Tenggara Barat). Kita mulai dari WWI Yogyakarta. Sahabat WWI Yogyakarta secara massa hingga hari ini adalah jaringan kepedulian paling besar yang ada di jaringan ini. Saya tidak mengetahui angka pastinya. Tetapi jika saya lihat postingan di Facebook page WWI Yogyakarta dinamika postingannya begitu dinamis dan sangat beragam. WWI Yogyakarta juga jaringan yang sangat kompleks karena terdiri dari beragam individu dengan perbedaan. Ada sahabat WWI yang berasal dari komunitas mancing, pemerhati perairan, akademisi, dan juga aparat penegak hukum. Jadi tak mengherankan memang jika dinamika empat region ini sangat tinggi.

Saya mulai dari WWI Yogyakarta (WWIY). Pelaksanaan Satu WWI di Yogyakarta secara skala kegiatan mungkin yang terbesar dibandingkan seluruh jaringan WWI lainnya di negeri ini. Secara garis besar antara lain adalah melakukan restocking ikan-ikan endemik di berbagai titik ‘penting’ (maksudnya perairan yang telah terdegradasi). Kemudian melakukan long march menuju ke Kilometer Nol Yogyakarta (Tugu). Di Kilometer Nol Yogyakarta sahabat WWIY juga melakukan penandatanganan petisi perairan, bisa jadi ini adalah petisi perairan tawar pertama yang ada di Indonesia, dilakukan bersama seluruh pengunjung Kilometer Nol di malam tanggal 30 April tersebut. Hasil dari petisi ini kemudian dikirimkan kepada pemerintah di Jakarta. Semoga mereka memperhatikan seruan dari Yogyakarta ini, sehingga tidak hanya perairan laut saja yang diperhatikan begitu hebatnya, terutama akhir-akhir ini, tetapi pemerintah juga memperhatikan perairan tawar yang semakin meradang di negeri ini. Pada tanggal 30 April sahabat WWIY juga melakukan pemasangan spanduk raksasa di Jembatan Srandakan, Bantul. Untuk mengingatkan seluruh masyarakat dan utamanya para pelaku illegal fishing di daerah ini. Pada tanggal 30 April juga masih dilakukan tebar benih ikan endemik. Dari foto-foto dan juga chat dengan para sahabat WWIY, kini mereka juga telah lama didukung oleh beberapa aparat penegak hukum di daerah Yogyakarta. Dalam peringatan Satu WWI tersebut saya juga melihat banyak sekali aparat penegak hukum yang mengikuti pelaksanaan Satu WWI disana. Ini adalah progress yang menggembirakan, sangat menggembirakan. Sejak awal sekali di setiap kali saya memposting kegiatan sahabat WWI dari seluruh Indonesia, selalu saya sertakan semacam ‘template’ caption, yang menyatakan bahwa sahabat WWI salah satunya adalah memiliki konsern mendukung patrol perairan dan penegakan hukum yang dilakukan oleh aparat (polisi). WWIY mewujudkannya dengan begitu cepat karena aparat hukum yang ada, memang secara nyata dan tegas kemudian menjalankan tugasnya dalam koridor undang-undang illegal fishing (penegakan dan sanksi hukum). Terimakasih sahabat WWIY! Terimakasih juga para aparat penegak hukum yang membantu para sahabat WWIY menjalankan konsern kepedulian lingkungan ini. Terlalu banyak daftar nama kalian semuanya. Jadi, gazzzzzzz terus!

Berikutnya kita menuju ke Kalimantan Timur, menjumpai para sahabat WWI Kaltim (WWIKT). Tepatnya ke kota Samarinda di tepian Sungai Mahakam. WWIKT dalam Satu WWI memilih kegiatan yang sangat berbeda dan diluar dugaan pemikiran saya yang seringkali biasa saja ini. Demi untuk menyebarkan konsern WWI ke masyarakat Samarinda dan sekitarnya, mereka kemudian menggunakan kampanye melalui media seni budaya bersama para sahabat dari Sanggar Seni Apo Lagaan. Salah satu sanggar seni paling kesohor di Kalimantan Timur. Bukan karena para penarinya, yang perempuan cantik-cantik, bukan pula alunan sape dari para pegiat Apo Lagaan yang selalu menghanyutkan. Meski saya beberapa kali mengalami betapa dahsyat ‘kekuatan’ alunan sape ini bersama beberapa dari mereka di pedalaman Kaltim. Tetapi memang sanggar ini memiliki komitmen jempolan terkait pelestarian seni budaya di Kalimantan Timur. Saya mengenal dengan baik beberapa orang di sanggar seni ini. Semoga saya tidak salah memahaminya, tetapi setahu saya Apo Lagaan adalah sanggar seni yang kental sekali terkait dengan seni budaya Dayak Bahau. Salah satu suku Dayak terbesar di DAS Mahakam. Setahu saya juga Lembaga Adat Besar Dayak Bahau juga berkedudukan di kota Samarinda ini. Meski secara geografis, masyarakat yang ‘diwakili’ oleh lembaga adat ini kebanyakan tinggal di DAS Mahakam bagian hulu (di pegunungan). Ada keberhasilan menyisipkan konsern perairan ke ranah lain yang tidak biasa di WWIKT. Dan memang semuanya sebenarnya melalui sebuah proses yang panjang dan juga melelahkan. Tetapi maksud saya begini, seni budaya memang salah satu cara ampuh untuk menyebarkan sebuah pesan. Apalagi di Kalimantan Timur, dimana seni budaya begitu lekat dengan kegiatan seremonial masyarakat di pegunungan dan juga kegiatan seremonial lainnya di berbagai kota di Kalimantan Timur. Dengan hadirnya orang-orang berpengaruh baik itu dari kalangan adat maupun pemerintahan dan juga masyarakat biasa dalam seremonial-seremonial seni budaya dan lain-lain tersebut, karena Apo Lagaan adalah sanggar seni besar yang sangat sering diundang menampilkan ‘pesona’ Kalimantan Timur, maka konsern perairan WWI di WWIKT dapat menyebar secara sangat halus dan juga sangat indah. Penyebaran konsern lingkungan melalui seni budaya yang dilakukan oleh para sahabat WWIKT, dalam tingkatan yang massif, baru sekali ini dilakukan oleh jaringan WWI. Melalui diskusi yang dilakukan oleh para “fish warrior” dalam jaringan ini, apa yang dilakukan oleh WWIKT ini kemudian menyebar dan menjadi ‘model’ yang patut untuk juga diterapkan di daerah lain.

Masih di Pulau Kalimantan, konsistensi kepedulian perairan juga ditunjukkan oleh para sahabat WWI Kalampangan, Palangkaraya. Saya merasakan semangat yang luar biasa dari para sahabat di jantung Borneo ini. Ada yang begitu menyita perhatian saya terkait WWI Kalampangan, yaitu adanya atau digunakannya simbol agraris yang kuat dengan digunakannya lambang jagung di logo region ini. Pada permulaan banyak sekali yang bertanya kepada saya tentang lambang jagung ini sebuah jaringan kepedulian perairan bernama WWI ini. Tetapi saya sangat memahami kenapa digunakan jagung sebagai penanda unik pra sahabat WWI Kalampangan (WWIK). Kalampangan adalah salah satu kecamatan di Palangkaraya yang dikenal sebagai sentra penghasil jagung di Kalimantan Tengah. Jadi memang ada semacam rasa kebanggan tertentu yang ditunjukkan oleh para sahabat WWIK, yang memang juga mayoritas ‘anggota’ WWIK adalah para sahabat peduli perairan yang tinggal di daerah Kalampangan. Kenapa kog malah Kalampangan yang begitu penuh semangat, dan bukannya Palangkaraya sebagai pusatnya Kalimantan Tengah? Saya tidak bisa menjawabnya. Mungkin para sahabat mancing dan semua yang peduli perairan di Palangkaraya ini tidak sebanyak dan sehebat para sahabat di Kalampangan ini. Kepedulian juga tidak bisa dipaksakan to?! Padahal jumlah orang yang hidupnya terkait dengan perairan tawar di Palangkaraya ini luar biasa banyaknya. Jadi personally saya sangat salut dengan para sahabat di Kalampangan ini. Dalam rangka Satu WWI mereka kembali menunjukkan kepedulian perairan yang tidak boleh dianggap sepele, karena mereka kemudian melakukan psy war di salah satu markas para perusak perairan (setrum dan racun ikan) di daerah Bereng Bengkel, Palangkaraya. Dengan menyebarkan puluhan dan mungkin ratusan banner illegal fishing di berbagai penjuru Bereng Bengkel dan sekitarnya! Kita tidak memang tidak pernah tahu nasib banner-banner itu, para sahabat di Kalampangan pernah mengirimkan foto before and after, bagaimana nasib banner himbauan yang baru dipasang esoknya sudah hilang. Di Yogyakarta malah ada yang dikembalikan oleh para perusak sungai ke teras rumah pemasangnya dengan “ancaman”. Yang mengharukan adalah, tidak ada dari para sahabat WWI yang menyerah untuk kembali melakukannya. Demi kebaikan?! Kenapa harus takut bukan?!

Terkait kegiatan satu WWI dari WWI Kediri, WWI Tulungagung, WWI Nganjuk dan WWI Ngalam (Malang) saya akan highlight secukupnya. Karena apa yang mereka lakukan sepengatahuan saya sudah begitu “membanjir” di media sosial. Satu WWI di Kediri diwarnai dengan edukasi ikan endemik yang dilakukan para sahabat di jalanan kota. Bertepatan dengan car free day apa yang dilakukan para sahabat di Kediri tentu menarik perhatian dari publik Kediri. Banner edukasi tentang ikan-ikan endemik yang telah didesain secara apik pun memenuhi maksud pembuatannya karena bisa memberi pemahaman baru untuk masyarakat luas. Tidak hanya untuk kalangan sendiri. Juga dipersiapkan beberapa ikan hidup endemik Kediri sehingga masyarakat, terutama anak-anak dapat melihat langsung tentang ikan-ikan asli mereka. Ini sangat penting. Ketika masyarakat Indonesia, karena degradasi ekosistem perairan kita yang luar biasa, dan kemudian pernah dilakukan introduksi massal oleh pemerintah kita dahulu, banyak yang memahami bahwa ikan Indonesia itu ya nila, bawal dan lain sebagainya. Yang ironisnya sebenarnya itu adalah ikan-ikan introduksi, bukan sli milik kita. Apa yang dilakukan para sahabat di WWI Kediri (dan sebenarnya juga dilakukan para sahabat WWI region lainnya, terutama WWI Yogyakarta) setidaknya memberi pemahaman yang menyeluruh tentang “ikan asli Indonesia”. Tidak dengan berbicara berbusa-busa di media sosial, tetapi dengan turun langsung ke jalan! Para sahabat WWI Nganjuk, Tulungagung, dan Malang melakukan kegiatan Satu WWI yang sedikit berbeda. Nganjuk dengan restocking ikan endemik di salah satu sungai di daerah ini. Begitu juga WWI Tulungagung selain restocking ikan endemik juga menyebarkan banyak sekali banner larangan illegal fishing ke daerah sekitar Tulungagung. WWI Ngalam mewarnai Satu WWI dengan membersihkan salah satu perairan di Kabupaten Malang dari sampah non organik bersama masyarakat sekitar! Para sahabat bisa melihatnya di update kegiatan yang dilakukan semua sahabat WWI ini karena selalu di-update di page Facebook masing-masing region. Saya kira tidak berlebihan jika saya sebutkan bahwa kita tinggal mengetikkan “wwi” atau “wild water Indonesia” di search menu Facebook dan kemudian ditambah dengan kata “region” tersebut, dan kita akan mendapatkan banyak sekali link disana! Saya tidak bersama para sahabat ini ketika melakukan kegiatan Satu WWI ini, tetapi saya yakin semua sahabat memahaminya karena saya juga menjalani Satu WWI yang sama juga tetapi di daerah lain di luar Pulau Jawa!

Semua yang terlibat dalam jaringan WWI adalah para relawan, yang artinya melakukan semua ini karena panggilan jiwa. Ikhlas! Jadi tidak ada dalam jaringan WWI ini sesuatu yang sifatnya hierarkis dan juga semacam keanggotaan-keanggotaan yang kaku. Dan apalagi keharusan-keharusan. Memang kita memiliki “inti” konsern yang menjadi semacam panduan arah. Jadi dinamika jaringan relawan ini memang tidak semuanya sama. Apalagi landasan gerakan dan konsern jaringan ini adalah “semampunya”. Memang ada beberapa region WWI yang awalnya begitu gempita tiba-tiba seperti menghilang. Memang tidak benar-benar hilang, tetapi seperti menghilang. Saya sebenarnya agak segan menyebutkannya tetapi bagaimanapun saya tetap harus memberikan apresiasi atas apa yang dilakukan oleh region-region di bawah ini sebelumnya. Mungkin pada waktu Satu WWI kemarin para sahabat di region berikut ini sedang sibuk. Tetapi semua region tersebut sebenarnya pernah dan masih melakukan konsern lingkungan hanya saja seperti ada penurunan. Saya akui beberapa region ini pernah melakukan kegiatan lingkungan skala besar, sebut saja seperti misalnya dilakukan para sahabat WWI Magelang dan Temanggung yang pernah “mengagetkan” dunia mancing di Indonesia karena melakukan gathering lingkungan skala nasional tahun lalu. Hal yang kurang lebih sama juga terjadi di WWI Pekalongan, Kendal, Sragen yang kesemuanya berada di Jawa Tengah. Dan terakhir di WWI Buntok (Kalimantan Tengah). Semoga pasca Satu WWI, semua region ini kembali bangkit seperti pernah saya lihat sebelumnya. Misalnya saja dengan para sahabat di Temanggung, yang begitu mengundang respek saya. Karena dari mereka jugalah saya pernah belajar banyak hal tentang konsern lingkungan terutama perairan tawar!

Awalnya saya ingin mengakhiri catatan ini dengan menuliskan Satu WWI yang saya lakukan di Pulau Sumbawa sembari menyebarkan kampanye Save Teluk Saleh. Tetapi mungkin tentang Save Teluk Saleh ini saya pisahkan saja dari Satu WWI lainnya karena khawatir catatan pendek yang ternyata gagal menjadi pendek ini menjadi membosankan. Satu hal yang pasti, personally saya ingin mengucapkan “selamat melanjutkan kegelisahan kepedulian untuk masa depan perairan Indonesia yang lebih baik” ini kepada seluruh sahabat WWI dimanapun berada. Semoga tidak pernah mundur untuk selalu ikhlas memberi teladan, tetap peduli, selalu setara, selalu bersama, dan terus menjadi seorang relawan. Tidak lupa saya mengucapkan selamat bergabung kepada beberapa sahabat WWI yang belum lama ini menyatakan komitmen kepeduliannya bersama-sama WWI. Ada WWI Batam, Kepulauan Riau. WWI Purwodadi dan WWI Sragen, Jawa Tengah. WWI Sukabumi, Purwakarta, Bandung dan Cianjur (semuanya di Jawa Barat). WWI Trenggalek (Jawa Timur). Show your concern! Talk less do more! Untuk masa depan perairan Indonesia yang lebih baik. Untuk kita dan generasi penerus! Seluruh kegiatan Satu WWI yang dilakukan oleh seluruh sahabat WWI di penjuru negeri dapat dilihat kembali di akun WWI di Instagram @wildwater_indonesia. Ketik hashtag #satu_wwi #wwi_30_april dan #wwi_untuk_indonesia. Atau di Facebook page Wildwater.indonesia. Salam Lestari! Salam Wild Water Indonesia! Mahaga Petak Danum (bahasa Dayak Ngaju yang artinya Menjaga Tanah Air)!















* Saya mengalami kesulitan menampilkan ratusan foto yang tercipta dalam Satu WWI tersebut, saking banyaknya kegiatan dan juga image yang tercipta dalam satu hari tersebut. Oleh karenanya saya kemudian memutuskan untuk hanya memasang satu foto saja yakni dari para sahabat WWI Yogyakarta, logo kita dan beberapa desain perenungan Satu WWI yang mewakili banyak sekali tentang kita, cita-cita kita dan lain sebagainya yang telah dan akan kita kerjakan bersama-sama selama ini. Salam Wild Water Indonesia. Salam Lestari!

4 comments:

pamungkas budi said...

Salam lestari....
kami iklas.. melakukannya.. demi perairan indonesia yang lebih baik...

Gaaass bosku

Michael Risdianto said...

Aku yo ikhlas bosku!!! Suwun dan mari terus bersama! #satu_wwi

wijayadi said...

#satu_wwi #satuindonesia
Terus semangat semua sahabat....

Anonymous said...

��������...terima kasih sudah berbagi keresahan dgn kami Bang Mike,selanjutnya kami para sahabat WWI dimanapun terutama di Kediri,akan terus selalu berusaha berjuang,dan menjaga apa yg kita cita"kan����������

Popular Posts

Google+ Followers