Friday, 27 June 2008

Gambar ikan di perangko yang direlease tahun 1997 ini adalah ikan belida (Notopteus chitala). Bentuk ikan ini adalah berbadan pipih dengan kepala kecil. Bentuk kepala dekat punggung cekung. Bungkuk dibagian tengkuk dan memiliki sisik kecil-kecil. Rahang semakin panjang sesuai dengan meningkatnya umur sampai jauh melampaui batas belakang mata. Sisik pasa penutup insang terdapat 20 – 22 baris. Berwarna agak kelabu dibagian punggung dan agak putih keperakan di bagian perut. Pola warna bervariasi sesuai dengan fasenya. Panjang maksimum kurang lebih 875 mm dan berat tubuh dapat mencapai 15 kg. Sisi badannya dihiasi deretan bola hitam yang masing-masing dikelilingi lingkaran putih seperti jendela kapal laut. Kalau sudah dewasa, gambaran tubuh itu hilang dengan sendirinya, diganti dengan sejumlah garis seperti sabuk hitam.

Walaupun ukurannya bisa menjadi besar, namun ikan ini juga digemari orang sebagai ikan hias untuk dipajang di akuarium air tawar. Mulut ikan Belida luar biasa lebarnya, kalau dibandingkan dengan kecilnya kepala. Itu berkaitan dengan caranya makan sebagai ikan pemakan daging, yaitu menyikat (menyambar) dan mencaplok mangsa yang berhasil diburu dan dipojokkan. Habitat dan penyebaran ikan Belida hidup di air tawar terutama di daerah banjir dan sungai. Dapat berkembang pada tempat-tempat kurang dari 30 meter dari permukaan laut. Di Indonesia sebenarnya meliputi pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Di Sumatera Selatan khususnya di daerah Ogan Komering llir, Ogan Komering Ulu, Muara Enim, Musi Banyuasin, Mursi Rawas, Kodya Palembang dan sebagian kecil daerah Kabupaten Lahat.

Ikan Belida bersifat predator (pemangsa), makanannya terdiri dari anak-anak ikan dan udang. Berkembangbiak secara alami di perairan umum menjelang air besar (awal musim penghujan, telur diletakkan pada tonggak-tonggak yang kuat pada kedalaman 1 – 2 meter. Sarang dibuat oleh ikan jantan dari ranting dan daun ikan tersebut juga menjaga telur dan anak-anaknya.

Tetapi kini mencari habitat ikan ini di Pulau Jawa luar biasa sulitnya. Konon di Bendungan Jatiluhur pernah ada klub mancing Jakarta yang "menanam" bibit ikan ini. Entah bagaimana perkembangan ikan ini di sana sekarang. Doa saya semoga ikan belida yang pernah ditebar di Jatiluhur itu berkembang biak dengan damai. Dan semoga juga ikan-ikan belida di pulau-pulau lain di negeri ini tetap lestari. Amin!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers