Friday, 27 June 2008

Dalam kultur Indonesia kehadiran orang asing di suatu daerah akan langsung dipantau dengan sangat seksama. Dulu mungkin masih dengan senyum yang meski seringnya dibuat-buat. Tetapi kini lupakanlah keramahan macam itu karena ternyata kultur kita kini adalah penuh curiga dan penuh prasangka. Ditambah lagi ini adalah jaman teroris jalan-jalan di mal dan tempat-tempat ibadah sambil menenteng belanjaan berisi es krim. Kecuali yang datang ke suatu daerah itu adalah orang asing yang datang itu berpenampilan mentereng dengan segudang simbol-simbol kekayaan maka kita akan langsung menyembah dan siap menjadi budaknya. Tidak percaya? Hitung saja sudah berapa lama kita menjadi budak utang luar negeri?

Ilustrasi di atas mungkin mirip dengan kasak-kusuk yang mulai merebak di kalangan pemancing Indonesia menyikapi kehadiran kolam peacock bass di daerah Pondok Cabe, Jakarta. Banyak yang setuju dengan kehadiran kolam ini karena memang spesies yang ada di kolam catch and release ini sangat eksotis mulai dari peacock bass, spatula, tiger fish, pacu dan lain-lain. Perlawanan ikan-ikan ini jika dipancing cukup hebat dan mampu memancing adrenalin kita terlebih jika kita memakai piranti kelas ringan. Saya pernah memancing pacu 2 kg di kolam ini dengan piranti 6 pounds dan sensasinya sudah seperti menarik monster dari dasar Laut Pasifik.

Mereka yang kontra dengan kehadiran kolam ini khawatir (karena peacock bass ini sangat cepat berkembang biak dan predator murni) ikan ini akan "bocor" ke perairan publik dan kemudian berkembang biak dan kemudian mengancam kelangsungan spesies asli Indonesia karena akan kalah bersaing dengan keperkasaan peacock bass ini. Kepedulian yang layak diacungi jempol. Masalahnya saat ini keragaman dan populasi ikan asli Indonesia di perairan publik terutama untuk freshwater area sudah dapat dikatakan rusak parah. Mereka yang bisa melihat akan mengatakan hal yang sama dengan saya bahwa keragaman dan populasi ikan asli Indonesia sudah dapat dikatakan rusak (bahkan sudah banyak spesies yang punah).

Jadi kenapa merasa terancam? Kekhawatiran merasa terancam harusnya terlontar jika memang ekosistem perikanan negeri kita ini masih benar-benar terjaga. Kalau sudah hancur begini? Saya lebih memilih memandang kehadiran peacock bass pond di Jakarta ini dari sisi positifnya. Kalau memang takdir menentukan ikan ini menyebar ke seluruh perairanIndonesia ya biarlah. Bukankah bisa dimanfaatkan sisi sportfishingnya? Daripada kita tiap hari memimpikan kehadirandan kejayaan kembali ikan-ikan asli Indonesia yang sejak kecil sudah kita racun dan potas??? Atau kalaupun kita tidak termasuk bagian pendosa yang suka tebar racun dan potas di perairan alami, setidaknya kita selama ini juga tidak melakukan apa-apa untuk melindungi ikan-ikan asli Indonesia itu dari tekanan manusia yang demikian hebat. Jadi ngapain sekarang marah-marah kalau ada ikan pendatang?

* Foto: Ikan peacock bass, spesies predator asli Amazon yang ada di Kolam **********, Pondok Cabe yang dikhawatirkan oleh banyak pihak akan 'bocor' ke perairan publik kita. (Photo by Me)

1 comments:

musida said...

Apa yang yang dikatakan Mas diatas ada benernya tapi ada juga kurang benernya. Jika ada orang yang melalukan perusakan apakah itu menjadi pembenaran bagi kita untuk melakukan hal yang sama meski dengan cara berbeda? Menurut saya akan lebih baik jika kita pakai ikan dalam negeri aja luntuk isi kolam pancingan.

Popular Posts

Google+ Followers