Thursday, 5 June 2008


Mungkin ini adalah kolam pemancingan catch and release pertama di Indonesia yang benar-benar murni menerapkan konsep C&R. Pemancing bisa melakukan aktivitas mancing di sini dengan membeli tiket untuk memancing sehari penuh (12 jam), harga tiketnya antara 100-150rb, dan semua ikan hasil pancingan tidak boleh ada yang dibawa pulang. Semua harus C&R. Kalau ada ikan yang sampai mati karena terlalu lama fight atau karena terlalu lama dijadikan "model" untuk difoto pemancing akan terkena denda. Di Kediri konon juga ada kolam C&R tetapi menerapkan konsep pembayaran Rp. 5 ribu per kg. Konsepnya sama bahwa semua ikan musti dilepaskan kembali tetapi kalau kolam yang di Kediri pemancing di charge berdasarkan total kg ikan yang berhasil dia pancing hari itu. Jadi misalnya seorang pemancing dalam sekali mancing berhasil menaikkan 10 kg ikan maka dia akan kena charge Rp. 50 ribu.

Apapun konsep pembayarannya kehadiran kolam C&R sejujurnya harus disambut dengan gembira. Tentunya selama kolam C&R itu tidak melulu memikirkan profit semata. Misalnya dengan harga tiket yang lebih ekonomis. Kolam C&R jika diperhatikan baik disadari atau tidak oleh pemilik kolam ataupun pemancing sesungguhnya membawa misi yang mulia. Seperti alasan pembuatan kolam Kolam Nguseup Lauk milik Ariel Tan di daerah Pondok Cabe Tangerang tersebut. Ariel mengakui bahwa pembuatan kolam ini bukanlah murni bisnis melainkan dibarengi dengan niat kuat untuk ikut terlibat dalam pelestarian ikan-ikan langka Indonesia dan juga sebagai ajang edukasi C&R. "Kalau berniat membuat kolam yang mendatangkan keuntungan besar ya saya mestinya membuat kolam galatama," katanya. Ajang edukasi C&R bagi Ariel lebih difokuskan pada anak-anak. Dengan didampingi orang tuanya selama di kolam ini akan terjalin komunikasi tentang C&R antara anak-anak dan orang tuanya. Asyiknya lagi selain mancing sepuasnya sambil belajar belajar C&R anak-anak tidak dipungut tiket alias gratis, hanya orang tuanya saja yang kena charge.

Jika kita perhatikan ikan-ikan yang ada di Kolam Nguseup Lauk kebanyakan adalah ikan eksotis "pendatang", bukan kolam asli Indonesia kecuali toman atau gabus. Peacock bass yang menjadi andalan kolam ini adalah milik belahan dunia lain dari Brazil hingga Malaysia. Ini bukanlah hal yang aneh meskipun itu dibenturkan dengan seruan "Lestarikan Ikan Asli Indonesia" yang juga menjadi tujuan pembuatan kolam ini. Sebab meskipun ikan-ikan di kolam ini adalah para petarung pendatang dengan belajar C&R di kolam ini efek sebenarnya adalah lestarinya ke spesies asli Indonesia yang ada di wild area. "Pemancing yang datang ke kolam ini nantinya akan terbiasa C&R" kata Ariel. Cara edukasi C&R model ini menurut Ariel pernah diterapkan di Malaysia dan sukses besar. Tekanan manusia (khususnya pemancing) terhadap ikan-ikan di perairan Malaysia baik itu freshwater, saltwater dan estuary kini mengalami penurunan drastis. Efeknya jelas, ekosistem perairan di sana menjadi lestari dan mendatangkan multiplier effect yang luar biasa dari dunia sportfishing, tourism, science dan lain-lain.

Anda tertarik dengan kolam C&R yang penuh ikan petarung nan eksotis di Kolam Nguseup Lauk? Jangan sampai Anda membawa umpan pellet dan atau livebait sebab kolam ini hanya mengijinkan digunakannya aplikasi teknik mancing light tackle casting dan fly fishing yang kita tahu kedua teknik ini menggunakan artificial lure semacam minnow, popper, pencil/stickbait, dan fly lure.

* Update 19/07/2010. Saat ini telah banyak bermunculan kolam C & R di beberapa tempat di Jakarta dan bahkan di Kediri. Tetapi )mungkin) inspirasi awalnya adalah Nguseup Lauk ini.
* Iklan Kolam Nguseup Lauk di Majalah Mancing edisi Juni 2008 (Desain iklan oleh Fram Shaw)

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers