Thursday, 30 October 2008

Semalam, saya bermimpi. Mimpi yang menyenangkan. Saya bermimpi bermain layang-layang besar bersama kawan-kawan saya. Layang-layang besar yang mesti ditarik beberapa orang untuk menaikkannya ke udara. Ini seperti yang saya lakukan saat saya masih anak-anak dan tinggal di kampung (kini di kampung saya sudah tidak ada lagi orang main layang-layang). Di saat musim angin dan juga banyak orang tidak pergi ke kebun karena musim panen sudah lewat, kami akan menaikkan layang-layang besar ke udara. Layang-layang itu biasanya akan kami pasangi sendaren, semacam busur tetapi dipasangi pita agar berbunyi keras seperti pesawat udara. Bunyinya bisa macam-macam, tergantung kreatifitas kita dalam mengukur panjang dan lebar dan ketebalan pita-nya. Sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami jika sebagai anak-anak jika layang-layang kami terbang tinggi di udara dan bernyanyi merdu di atas sana. Rangka layang-layang itu biasanya kami buat dari rautan bambu terbaik. Dan agar bisa terbang kami lalu memberinya baju dari plastik tahan panas dan dingin. Sejujurnya lembaran-lembaran plastik dari kantong plastik besar yang tebal. Plastik kami pilih dari yang paling baik agar saat layang-layang terbang selama sehari hingga seminggu di atas sana dia tidak akan sobek. Di waktu-waktu tertentu kami akan menurunkan layang-layang kami untuk perbaikan; misalnya memeriksa jahitan atau lem dari getah karet yang kami gunakan untuk melekatkan ‘baju’ ke rangka, dan lain-lain. Tetapi mimpi semalam, meski menyenangkan bagi saya sangat aneh. Layang-layang besar saya yang sedang saya turunkan dari udara bersama kawan-kawan tiba-tiba menukik ke bawah dan jatuh menghantam tanah.... Ada apa?

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers