Wednesday, 20 May 2009


Mungkin mereka harus melihat dengan mata kepala sendiri senja merah di Loloda Utara. Senja merah yang menyala membakar langit dan kita hanya terpaku di atas perahu kayu renta milik nelayan Pulau Doi yang tak mampu diperbarui oleh pemiliknya. Melihat senja merah itu menyala dan kita takjub karenanya sementara beberapa jengkal di bawah kita adalah lautan tak terukur dalamnya yang bertabur misteri dan mistis jelata. Lautan yang menyimpan jerit jelata berbagai masa dari sebuah tanah legenda bernama Halmahera. Mungkin, itulah yang harus mereka lihat, senja merah di Loloda Utara, agar mereka sadar siapa Pencipta-nya, agar mereka tidak lupa bahwa mereka hanyalah setitik debu hina di hamparan bergeloranya samudera.

2 comments:

Rachmad sadeli said...

Indah...Indah...Sungguh sebuah kepekaan yang tinggi menangkap fenomena alam dengan tulisan bertabur kata-kata penuh jiwa. Teruskan kawan...rekam terus...keindahan yang hanya bisa dilihat dengan mata batin yang tajam. http://media.isnet.org/sufi/Attar/toc.html

ngalauseribuharau.wordpress.com said...

hmm Loloda Utara di Halmahera mana ya? saya pernah ke Halmahera Tengah, di Teluk Weda..indah juga, trus ke Ternate dan Tidore, Indonesia memang indah....:)

Popular Posts

Google+ Followers