Monday, 6 July 2009

Demi melepaskan gundah dan me-refresh otak yang telah mulai penuh oleh ‘polusi’ Jakarta saya merapat ke kota kecil di Jawa Tengah bernama Tegal. Kota yang bersejarah bagi saya karena disinilah dua tahun lalu untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan sportfishing. Agak aneh karena perkenalan itu terjadi berpuluh tahun setelah kelahiran saya, padahal desa asal saya di Malang Selatan dekat sekali dengan pantai. Entah kenapa dulu saya tidak terbayang sedikitpun dengan yang namanya sportfishing. Sebelumnya, ‘karir’ mancing yang pernah saya tempuh hanyalah memancing mujaer, tawes dan lele di sungai-sungai di desa saya dengan umpan livebait macam cacing. Tapi sungai-sungai itu sepengtahuan saya kini telah musnah karena pendangkalan dan karena mata air di hulu-nya telah mati.

Kembali ke Tegal berarti kembali bertemu dengan sahabat-sahabat lama. Ada David Hidayat, Andi Bahari, Ang Sutawijaya dan lain-lain. Setiap pertemuan kami selalu merupakan saat-saat yang sangat menyenangkan. Mancing pada akhirnya menjadi salah satu bagian kegiatan saja karena nyatanya di Tegal kami pasti akan sibuk kuliner dan lain-lain. Spot yang saya sasar kali ini adalah spot yang sama yang pernah saya pancingi pada pertengahan tahun lalu bernama KJ, terletak di 2.5 mil di utara kota Tegal. Spot ini berupa karang dangkal yang cukup luas dan selalu menjanjikan sensasi mancing yang maksimal, terutama untuk pemakaian dan aplikasi teknik light tackle kasting dengan artificial lure, karena dipenuhi oleh ikan talang-talang (Queenfish) berukuran antara 3-7 kilogram.

Saat kedatangan saya telah saya perhitungkan jauh-jauh hari. Saya selalu datang ke kota ini saat angin barat ataupun angin timur sedang berhenti bertiup untuk sementara waktu. Biasanya ikan talang-talang di saat-saat teduh yang hanya beberapa hari itu akan gila-gilaan menghantam popper, spoon, pencil, dan bahkan umpan livebait kita (bandeng, belanak, dan udang kecil). Tetapi kondisi air harus mendukung juga. Air tidak boleh terlalu bening dan juga harus ada gerakan arus di lokasi. Dan karena semua faktor yang diperlukan saat itu semuanya sangat bagus kondisinya, saya dan teman-teman di Tegal pun sukses besar dalam memancing talang-talang. Belasan ekor ikan talang-talang dengan berat antara 3-4.5 kg kami taklukkan dalam waktu ½ hari saja. Lure yang paling laku kali ini adalah popper dark/black chrome dari Yo-Zuri seberat 25 dan 42 gram. Joran kami rata-rata kelas 15-35 lbs. Dan reel yang kami gunakan adalah reel-reel kelas 2000 hingga maksimal 4000 yang diisi dengan tali PE 2 dan PE 3. Pemakaian piranti set yang termasuk kelas ringan (untuk ukuran saltwater) ini kami maksudkan agar semakin memperbesar adrenalin rush dan kepuasan yang kami dapatkan.

Maka saya pun kembali ke Jakarta dengan senyum lebar. Kepada kawan-kawan pemancing Tegal saya berjanji kembali lagi jika angin kembali reda nanti. Tegal memang tiada duanya!

* Foto 1: Dijepret menggunakan kamera ponsel oleh kawan saya di Tegal. Terpaksa menggunakan kamera di ponsel karena saya tidak membawa DSLR camera. Berukuran kecil memang size fotonya. Tapi jujur deh, sensasi menaklukkan talang-talang ini dengan light tackle kasting sungguh tidak sekecil foto ini. Hehehehe...
* Foto 2: Di Tegal, popper kecil black/dark chrome biasanya juga akan mengundang GT imut seperti ini untuk menyambarnya. Bonus lain yang mengasyikkan selain ikan talang-talang.

2 comments:

trancepass said...

wah, jadi kepingin coba tuh. Tapi kapan ya, hehehe..

asep said...

waduh mantaf bro mancing talang-talangnya. foto lokasinya juga dong supaya kita bisa ngebayangin.

Popular Posts

Google+ Followers