Thursday, 6 August 2009

Yang tiba-tiba saja menyeruak di pikiran saya saat menyisiri tepian Kali Bekasi (Kali Bekasi memisahkan daerah Bekasi dan Kerawang) hingga ke daerah Muara Gembong tadi siang adalah puisi Chairil Anwar yang berjudul Kerawang-Bekasi (1948) dan kemudian buku Pramoedya Ananta Toer Di Tepi Kali Bekasi (1969). Dan tentunya imajinasi saya tentang “kira-kira seperti apa sih kondisi yang sebenarnya terjadi saat itu dan kemudian mengilhami kedua karya tersebut di atas?” Padahal siang tadi saya sedang dalam perjalanan memancing. Ternyata fishing trip bisa membukakan diri kita pada banyak hal selain memancing.

Dan saya semakin “tenggelam” di Kali Bekasi ketika di pinggiran jalan saya melihat pohon-pohon randu dicat dengan warna bendera Indonesia. Berapa banyak pengorbanan putra-putra bangsa di jaman perjuangan dulu di sepanjang Kali Bekasi ini? Saya mencoba merenungkannya. Tetapi semua renungan itu buyar saat seorang bapak-bapak berseragam dinas PNS mengacungkan kepalan tangan kepada saya dari kejauhan? Apa yang salah dengan hadir sejenak di Kali Bekasi? Apa yang salah dengan sebuah aktivitas memancing? Apa yang salah dengan bapak-bapak itu hingga mengacungkan kepalan tangan? Andai Kali Bekasi bisa berbicara...

* Foto 1: Nelayan melintas di Kali Bekasi menuju laut.
* Foto 2: Pohon randu dicat bendera Indonesia di tepian jalan sepanjang Kali Bekasi.
* Both pictures taken 06/08/2009.

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers