Saturday, 10 October 2009


Pernah nonton acara Monster Moves di National Geographic channel? Acara televisi yang luar biasa. Orang-orang Barat memang gila. Mereka, bagi kita kadang tampak “ngaco”, tetapi sesungguhnya mereka sangat sangat rasional. Dalam acara tersebut kita disuguhi dengan berbagai acara “pindahan” besar-besaran. Masalahnya acara “pindahan” ini bukan pindahan rumah yang seperti kita lakukan. Mengemas barang-barang di kardus atau semacamnya, Monster Moves adalah acara memindahkan bangunan-bangunan yang ukurannya besar-besaran dan hampir selalu adalah bangunan-bangunan penting yang memiliki nilai sejarah yang penting bagi wilayah tersebut (atau bagi masyarakat di sekitarnya). Misalnya saja mercusuar kuno di ujung Atlantik (bayangkan, bangunan mercusuar kuno dipindahkan utuh) ke tempat yang lebih aman agar tidak roboh karena tepian lokasi lama terkena abrasi dan mengancam mercusuar. Belum lagi episode lain seperti “pindahan” massal sebuah kota kecil, seluruh rumah dipindahkan utuh dengan ditarik truk-truk besar melewati salju yang membeku? Terlalu banyak yang menarik di acara ini. Baiknya silahkan lihat sendiri.

Nah, monster moves yang akan saya kisahkan dipostingan ini bukanlah seperti tayangan menarik di atas. Ceritanya begini. Sore itu kami merapat di sebuah pulau kecil milik Indonesia di Selat Malaka (Pulau Berhala). Kami lelah memancing dan berusaha menikmati sebisanya ‘fasilitas’ yang ada di pulau kecil tak berpenghuni ini; numpang mandi dan tidur di pos marinir, nongkrong di dermaga pulau, dan menikmati makanan ‘lezat’ sebisanya. Harusnya hari itu kami sudah berlayar, sejauh 60 mil ke arah Selatan, kembali ke Medan dan merenung selama lima jam di kapal yang berlayar pelan. Namun karena hasil mancing tidak sesuai harapan maka kami memutuskan pulang keesokan harinya saja. Ternyata ini adalah “feeling” atas apa yang akan terjadi berikutnya. Gelap datang dan tiba-tiba saja petir seakan berpesta di tengah laut sana, di arah Selatan persis di jalur pelayaran kami. Dan angin besar entah dari mana tiba-tiba menerjang seluruh perairan. Badai! Untungnya kami tidak jadi berlayar pulang, kalau saja kami telah berada di tengah laut sana, pastinya kami akan menjadi mainan “monster” laut Selat Malaka.

Kapal-kapal nelayan yang melaut di Selat Malaka ikut berteduh di sekitar pulau. Mereka melepas jangkar di laut dangkal yang aman dari batu-batu karang. Mereka tidak berani merapat karena kapal bisa dibenturkan ombak ke batu-batu karang tepian pulau dan bisa pecah berkeping. Tetapi tidak semuanya beruntung karena meski telah berada di dekat pulau, ombak dan angin tetap sangat besar. Kapal nelayan satu ini naas. Tali jangkar putus dan mesin tiba-tiba mati. Kapal terseret ke tepian pulau yang dangkal yang penuh batu-batu karang dan terguling (bagian bawahnya pecah). Ikan hasil melaut selama seminggu tumpah! Apes! Sejujurnya hari sebelumnya kami juga apes karena ada properti kami yang “ditelan” ganasnya perairan sekitar Pulau Berhala. Perhaps, monster monster moves around Berhala Island that day...

* Foto kapal nelayan yang terbalik di tepian pantai ini diambil tanggal 30/09/2009 di Pulau Berhala. Pulau kecil di laut perbatasan antara Indonesia (masuk wilayah provinsi Sumatra Utara) dan Malaysia.

1 comments:

Serena Fishing Club said...

turut berduka atas ilangnya salah satu properti dari team mancing mania di pulau berhala. yang jelas semuanya itu tidak sengaja terjadi nya.

Popular Posts

Google+ Followers