Friday, 6 November 2009

Sesungguhnya saya sangat ingin segera berbagi kisah trip terbaru saya ke Taka Bonerate (Sulsel) dan ke Kabupaten Berau (Kaltim) tetapi entah kenapa yang saya lakukan hari ini adalah malahan menghapus blog GT UNLIMITED (dulu URL-nya di www.gtunlimited.blogspot.com). Blog GT UNLIMITED saya buat sebagai media kampanye catcth and release ikan giant trevally (GT). Ikan GT, seperti kita ketahui bersama adalah spesies game fish yang populasinya sangat banyak di negara kita. Namun kini populasinya semakin terancam karena overfishing dan juga karena sikap para pemancing yang banyak 'menguras' ikan ini untuk dibawa pulang. Habitat ikan ini di berbagai fishing ground di Indonesia juga semakin rusak karena penggunaan bom ikan dan juga praktek menangkap ikan dengan racun yang dilakukan oleh nelayan. Bahkan kadang ada yang membawa pulang ikan ini banyak-banyak agar bisa berbagi oleh-oleh untuk seluruh RT! Padahal, 1 ekor GT saja (yang beratnya 5 kg saja misalnya) kalau untuk satu keluarga beranggotakan 4-5 orang belum tentu seminggu ikan ini akan habis. GT UNLIMITED saya hapus karena jujur saja tidak ada waktu lagi untuk mengurusnya. Blog ini semakin terbengkalai dan saya menjadi merasa bersalah kepada para pengunjungnya. Tetapi kampanye saya terhadap budaya Catch and Release GT dan ikan game fish lainnya tidak akan berhenti dengan 'matinya' GT UNLIMITED, itu pasti! Kini, waktu saya untuk mengkampanyekan catch and release malah menjadi semakin banyak dan bisa semakin fokus.

Saya ingin mengenang sebentar sebelum GT UNLIMITED benar-benar hilang. Foto yang ada di postingan ini pernah saya posting di GT UNLIMITED. Ini adalah usaha restitusi (berusaha menghidupkan kembali ikan GT dengan mengocoknya di dalam air agar insangnya kembali terisi oksigen) yang dilakukan oleh abk kami saat memancing di perairan Pulau Rondo, Aceh. Hampir 1 jam restitusi dilakukan. Biasanya tidak selama itu ikan GT sudah kembali sehat dan berenang kembali ke dalam air. Namun kali ini agak lama karena waktu fight sang pemancing dengan ikan waktu itu agak lama sehingga ikan GT up 40 kg ini terlalu kehabisan tenaga dan pingsan! Restitusi terus dilakukan, karena berat sang abk mulai lemas mengocok dan kapten serta abk kapal yang lain mulai bersuara "Angkat saja ikannya!". Maksudnya, bawa pulang saja ikannya, tak usah dilepaskan kembali ke laut. Namun kami bersikukuh bahwa ikan ini masih memiliki kesempatan hidup. "Kocok lagi!" teriak kami. Dan setelah suasana menjadi agak tegang di antara kami, karena kapal terpecah menjadi dua, pro dan kontra Cn'R, akhirnya sang GT ini kembali menggeliat dan menunjukkan tanda-tanda hidup. Abk dan kapten kapal jelas bersungut-sungut karena gagal membawa pulang ikan ini. Hilang kesempatan mereka mengkonversi 40 kg kali Rp. 20.000/kg-nya! Mungkin ada yang menganggap kami tidak manusiawi karena menghalangi kemungkinan kapten dan abk kapal kami mendapatkan tambahan dari harga sewa kapal yang kami berikan. Tetapi masalahnya kami adalah sportfisherman, bukan nelayan!

Kedua foto ikan GT di atas diabadikan di Pulau Rondo, Aceh, pada bulan Februari 2009. Bersama pemancing-pemancing 'gila' asal Surabaya (Rudi hadikesuma cs) kami memancing selama seminggu penuh dan berhasil mendapatkan strike dari banyak sekali ikan besar seperti GT, dogtooth tuna dan termasuk ikan black marlin 150 kg! Kisah ikan black marlin 150 kg tersebut juga sudah pernah saya posting di blog saya ini, kalau belum membacanya Anda bisa search di arsip blog, perkiraan waktu postingnya sekitar Februari atau Maret 2009. Mancing Mania Trans 7 pernah menayangkan hasil trip Aceh tersebut dalam tiga episode, dan seluruh negeri pun 'bergoncang' gara-gara black marlin 150 kg yang dipancing oleh Bayu Noer dengan tali PE4 (40 lbs atau sama dengan 20 kg) tersebut! Majalah Mancing, satu-satunya majalah sportfishing di Indonesia juga pernah memasang fotonya di kover depan salah satu edisi mereka.

* All pictures captured by Me. :)

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers