Saturday, 7 November 2009

Nama sungai dan kampung Dayak Punan di dalam postingan ini sengaja tidak saya informasikan secara jelas karena jujur saja saya tidak mau sungai indah ini didatangi oleh pemancing yang berkarakter PAKUSU, “Pasukan Kuras Sungai” yang selalu bertindak rakus dengan menguras semua isi sungai untuk memuaskan nafsu serakah mereka! Go to hell PAKUSU! Tulisan sederhana ini sekaligus saya maksudkan sebagai ucapan terima kasih dan hormat kepada kawan-kawan pemancing dari Tanjung Redeb, Berau yakni Bos Husin, Bos Eet, Welie, Asikin, Teguh, Utay, Awe, Adi, Jo, Dian, Darwis, dan Mbah. Dan pastinya tulisan ini dimaksudkan sebagai salah satu bentuk mengabadikan kenangan selama bekerja di lapangan bersama Bayu Noer dan Gilang Gumilang.
---
Kabut masih memeluk erat sang perawan, hutan Borneo, dan menyamarkan wajah-wajah tebing-tebing tepian Sungai X saat saya melongokkan muka kuyu dari luar jendela rumah milik seorang Dayak Punan warga kampung LX di salah satu sisi Pegunungan Muller di pedalaman Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Permukaan air sungai tampak samar kecoklatan tertutupi kabut. Tetapi hari ini matahari tampak sedang berusaha keras mengusir kabut dan mendung. Dengan didukung oleh ribuan suara satwa hutan yang masih perawan ini, pelan namun pasti sang surya meraih kemenangannya dan alam pedalaman Borneo yang cantik dan liar mulai menampakkan dirinya dengan jelas kepada saya.

Saat itu hari adalah kedua saya berada di pemukiman terpencil Dayak Punan tersebut. Sehari sebelumnya bersama sebelas kawan dari Tanjung Redeb (ibukota Kabupaten Berau) kami berjibaku dengan medan darat penuh debu menaiki ratusan bukit menggunakan mobil-mobil 4 wheel drive hampir 7 jam lamanya menembus jalan-jalan berdebu buatan perusahaan-perusahaan kayu yang rutenya mirip dengan rute reli Paris-Dakkar, menyeberangi sungai-sungai deras dan kemudian diteruskan dengan mengarungi jeram-jeram ganas Sungai X dengan long boat kecil milik para Dayak Punan yang menjemput kami di tepian sungai ketika jalan darat telah habis, di sebuah titik yang jaraknya dari kota sekitar 7 jam lamanya pada kecepatan 60-80 km per jam.

Perjalanan yang penuh berat, terbukti salah-satu ‘mobil hutan’ pun kami sempat ngadat di tengah jalan karena beratnya medan, dan yang lebih tragis, perahu long boat pengangkut logistik kami terjerembab jeram sehingga beberapa muatan pentingnya hilang dan atau tidak berfungi lagi karena ‘ditelan’ jeram dan atau karena basah terendam air; sebagian bahan makanan, telepon satelit, genset, dan lain sebagainya. Untungnya logistik bensin kami terletak di long Boat yang lain sehingga kami menjadi tenang. Karena jika sampai bensin hampir 100 liter itu hanyut atau tumpah, penjelajahan Sungai X akan tinggal mimpi belaka. Bekal makanan kami memang menyusut karena insiden itu, tetapi seorang kawan saya berkata “Selama ada Dayak disamping kita, usah khawatir karena sungai dan hutan belantara ini ibarat ‘supermarket’ jika mereka masuki. Apapun bisa mereka temukan. Jadi kita pun tidak mungkin akan kelaparan!”

Ada pepatah di kalangan Dayak Punan dan di antara warga kota di Kalimantan Timur, jika kita baru pertama kali memasuki pedalaman Borneo, maka alam akan menyambut kita dengan hujan. Tanda alam bersukacita dengan kehadiran kita. Di antara kami saat itu, saya dan dua orang kawan dari Jakarta adalah ‘anak baru’ di hutan-hutan Borneo. Dan entah mitos itu benar atau tidak, hujan deras sederas-derasnya memang tiba-tiba menyambut kami ketika waktu merangkak pukul enam sore di kampong LX. Padahal saat itu masih bulan Oktober, bulan dimana panas sedang meraja! Dan hasilnya, adalah sungai yang awalnya masih berwarna kehijauan, tiba-tiba menderu diterjang banjir kecoklatan seperi susu yang diaduk oleh ponakan-ponakan lucu kita, yang saya tatap dengan muka kecut dari pintu jendela pagi itu. Saya dan kawan-kawan ibaratnya telah berada di ‘pintu surga’, tetapi petualangan menuju surga Sungai X terpaksa harus ditahan dulu karena Sungai X yang saya tatap pagi itu sedang tidak mungkin untuk diarungi. Untuk menuju surga yang kami cari yang terletak di hulu sungai, ‘pendakian’ selama 6 jam melawan arus sungai dengan menggunakan long boat masih harus kami lakukan.

Hujan, bagi alam Borneo adalah berkah. Hutan kembali menerima siraman kesegaran air dari langit dan siap melanjutkan kehidupan alamnya yang liar namun harmonis. Tetapi bagi kami, para pemancing air tawar yang hendak memburu ikan-ikan predator penghuni arus deras di sungai ini, hujan adalah petaka. Karena tidak mungkin memancing dengan teknik kasting (memancing ikan dengan umpan tiruan berupa ikan-ikanan dengan peralatan mancing kelas 20-30 pounds) dalam kondisi air sekeruh ini. Jadi hari ini kami ibaratnya sedang berada di pintu surga namun hanya bisa termangu menatap aliran air yang terlihat tampak semakin keruh saja, dan sesekali mengusap peralatan memancing kami yang tersandar rapi di bagian belakang rumah sambil mendesah penuh harap agar air segera jernih. Untungnya pemukiman ini telah tersentuh peradaban yang dibawa oleh para misionaris. Maka kami mencoba menghibur diri kami dengan bergabung dengan aktivitas orang-oran Dayak Punan itu mengisi waktu luang dengan bermain tenis meja dan bola voli. Tetapi yang paling populer adalah badminton. Rupanya banyak fans Alan Budikusuma dan Susi Susanti di sini. Menakjubkan! Padahal kampung kecil ini begitu terpencil, tersembunyi jauh dan damai di dalam kelebatan hutan Borneo!

Ternyata saat itu orang-orang Dayak Punan tersebut sedang ‘holiday. Berkah dari alam lebih dari cukup untuk hidup beberapa waktu lamanya sehingga mereka memilih untuk mengisi waktu luang dengan berolahraga! Saya melihat mereka begitu ceria dan damai. Tidak "seram" seperti dulu sering saya dengar. Mereka tampak begitu menikmati olahraga, dan tidak peduli bahwa kami begitu gelisah karena takut ekspedisi ini akan gagal karena masalah cuaca.(Bersambung/To Be Continue...).

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers