Skip to main content

Ekspedisi Sapan/Kelah/Mahseer Borneo (2)

Nama sungai dan kampung Dayak Punan di dalam postingan ini sengaja tidak saya informasikan secara jelas karena jujur saja saya tidak mau sungai indah ini didatangi oleh pemancing yang berkarakter PAKUSU, “Pasukan Kuras Sungai” yang selalu bertindak rakus dengan menguras semua isi sungai untuk memuaskan nafsu mereka! Go to hell PAKUSU! Tulisan sederhana ini sekaligus saya maksudkan sebagai ucapan terima kasih dan hormat kepada kawan-kawan pemancing dari Tanjung Redeb, Berau yakni Bos Husin, Bos Eet, Welie, Asikin, Teguh, Awe, Utay, Adi, Jo, Dian, Darwis, dan Mbah. Dan pastinya tulisan ini dimaksudkan sebagai salah satu bentuk mengabadikan kenangan selama bekerja di lapangan bersama Bayu Noer dan Gilang Gumilang.
---
Target mancing kami di Sungai X ini adalah ikan sapan atau ikan kelai. Ikan air tawar penghuni sungai-sungai bersih di pegunungan yang berarus deras. Ikan eksotis dengan fighting ability yang tinggi yang kini telah mulai langka. Sapan adalah ikan endemis Asia, beberapa negara yang memiliki populasi ikan ini adalah India, Myanmar, Thailand, Indonesia dan Nepal. Nama Latin ikan ini adalah Tor tambroides. Di India ikan ini disebut ikan mahseer. Di Malaysia disebut kelah, empurau dan talian. Di Jawa ikan ini sudah hampir punah. Kalaupun ada itu berarti sudah dibudidayakan seperti di Jawa Tengah (disebut tombro/tambra). Di Kuningan, Jawa Barat ikan ini juga masih ada dan lestari dalam penjagaan adat dan disebut ikan dewa dan juga ikan kancra. Di Padang orang menyebut ikan ini dengan nama ikan jurung dan atau ikan gariang. Di Sunda orang menyebutnya ikan kancra. Di Sumatera bagian selatan dinamakan ikan semah. Ikan ini bisa tumbuh hingga seberat 50 kg (bayangkan ikan liar air tawar sebesar ini), namun sejauh ini besar ikan sapan yang kami tahu pernah ditangkap orang di pedalaman Borneo beratnya ada pada kisaran 20-30 kg saja.

Karena ikan ini telah langka dan termasuk ikan yang sangat eksotis, kini telah banyak pemancing yang berjiwa lingkungan tinggi di berbagai negara mulai membudidayakan ini dan juga menciptakan wilayah-wilayah konservasi khusus untuk ikan ini. Misalnya di Malaysia ada LSM khusus untuk konservasi ikan kelah yang bernama KAGUM (Kelah Action Group of Malaysia). Presidennya bernama Aznir Malek, seorang pemancing yang memiliki kepedulian lingkungan yang luar biasa. Saya pernah bertemu dengan orang hebat ini di Jakarta beberapa waktu lalu. Andai saya juga bisa melakukan aksi-aksi lingkungan seperti dia, melindungi ikan-ikan dari kepunahan dengan aksi yang mampu menjangkau lingkup yang luas. Tetapi mungkin saya juga melakukannya, meski hanya sebatas menghimbau dan memberi contoh tentang catch and release saja di Facebook, blog dan atau kalau beruntung di layar televisi. Ikan ini sejatinya adalah ikan konsumsi (rasa dagingnya konon sangat lezat), namun karena telah mulai punah banyak orang mulai memikirkan upaya-upaya konservasi. FYI, saat ini di pasaran Jawa satu kg ikan ini bisa dihargai 200 ribu rupiah. Di Malaysia bisa seharga 400 ribu rupiah per kg.

Ikan sapan, bagi Dayak Punan adalah ikan favorit karena rasa dagingnya sangat lezat. Namun meski begitu saya tidak melihat bahwa mereka selalu menjadikan ini sebagai lauk-pauk yang wajib ada sehingga eksploitasi pada ikan-ikan ini masih dapat dikatakan ada dalam kewajaran. Mungkin karena orang-orang Dayak itu lebih sibuk mencari uang (mereka tentu saja telah mengenal uang) dengan masuk ‘supermarket’ (baca: hutan) untuk mencari madu, sarang burung wallet, dan atau emas di sungai-sungai tersembunyi di dalam hutan. Eksotisme Dayak seperti kita baca di buku-buku kuno memang telah luntur. Jangan heran, di kampung tak tertera di peta ini ada antena parabola dan televisi. Meski mereka menyalakannya hanya pada waktu malam saat genset kampung dinyalakan. Dalam periode tertentu beberapa warga akan turun ke kota terdekat, misalnya Tanjung Redeb melalui sungai (bisa 2 hari untuk sampai) untuk menjual semua hasil hutan itu. Jujur saja, pendapatan orang-orang hutan ini per KK jika dinominalkan bisa setara gaji manajer kelas kakap di Jakarta! Masalahnya cuma satu, di dalam hutan uang-uang itu tidak selalu bisa digunakan. Orang-orang Punan malah sering memakan ikan bagarius atau freshwater shark karena lebih mudah ditangkap.

Kami memburu ikan sapan karena terpesona ingin merasakan sensasi bertarung dengan ikan eksotis ini. Sekaligus karena, untuk kasus di Indonesia, jika ingin memancing ikan ini di habitat aslinya itu berarti kita harus menempuh petualangan yang menegangkan! Lengkap bukan sensasinya? Ikan sapan memang sangat eksotis. Sisik-sisiknya berwarna keemasan. Begitu mengkilat saat tertimpa cahaya matahari. Figting abilitynya juga sangat kuat. Tidak mudah menaklukkan ikan ini saat sudah tersangkut di pancing kita. Dia akan terus melawan hingga detik terakhir. Dan ini yang dicari pemancing, pertarungan. Sejatinya ikan ini adalah pemakan buah-buahan, dedaunan dan juga bunga-bunga hutan. Namun ikan ini juga memiliki sifat predatory yang kuat. Jadi ikan ini juga bisa dipancing dengan umpan ikan-ikan kecil tiruan yang kami bawa dari Jakarta, hasil produksi sebuah perusahaan umpan di Eropa!

Hari semakin senja. Badminton, tenis meja, bola voli dan tour keliling kampung Dayak Punan ini telah kami lakoni. Namun resah hati tetap belum sirna. Namun secercah harapan bahwa Sungai X akan jernih esok hari kami temukan di langit. Cahaya sunset tampak begitu hangat. Langit yang begitu biru dan lembut tersapu oleh awan-awan tipis yang putih. Malam harinya bintang-bintang juga tampak menghias angkasa. Berdoa, hanya itu yang bisa kami lakukan agar esok surga yang kami cari itu bisa kami datangi. Satu-persatu kawan saya tertidur di bilik-bilik kayu setelah mati gaya dengan bermain catur dan kartu, tak peduli bahwa ada satu orang yang begitu sulit memejamkan mata karena ternyata genset yang hilang di jeram kemarin ternyata ‘kembali’ ke rumah ini dalam bentuk seseorang yang mendengkur dengan kencangnya. Hahaha!(Bersambung/To Be Continue...).

* Foto #1: Ikan seperti dipegang oleh dua orang guide mancing di India inilah yang kami cari di Sungai X. India dan Nepal mungkin adalah dua negara yang memiliki ikan-ikan Mahseer liar dengan ukuran raksasa. Ini karena habitat ikan-ikan itu yang berada di pegunungan yang sangat sulit diakses oleh siapapun (kecuali para petualang pemancing yang memiliki gunung uang) sehingga ikan-ikan ini bisa berkembang biak dengan tenang. Kalau di Indonesia, sudah ribuan orang yang mengantri untuk meracun dan atau mengebom habitatnya! Terlalu banyak tuntutan perut di negeri ini! Sumber foto Google.
* Foto #2: Saya, Asikin, Teguh dan Bayu (host Mancing Mania Trans 7). Foto #3: Wajah-wajah imut anak-anak Punan menonton televisi. Foto #4: Seorang Punan memamerkan ikan bagarius atau fresh water shark yang dia tombak di hulu sungai. Foto #5: Gigi ikan bagarius. Foto #6: Langit senja di kampung LX yang memercikkan harap esok akan cerah. Foto #7: Bayu Noer dan Gilang Gumilang (kameraman Trans 7) sedang bermain catur mengusir jenuh disaksikan Mbah. All picturess by Me except Foto #2 by Gilang Gumilang.

Comments

mizlan said…
salam persahabatan...wah!hebatnya tangkapan!..from mizlan malaysia snakehead hunter
To Mr. Mizlan:
Thx. But I not yet post the catch sir... You can chek while i post the "Ekspedisi Atuk Ong (3)"
Badrol Hisham said…
This comment has been removed by the author.
Dunia Kita said…
Wah, saya sangat suka tulisan anda, walaupun anda tidak menyebutkan lokasi ditulisan anda tp saya tahu tempat yang anda maksudkan, karena saya berasal dari sana.selama ini pun saya selalu menyembunyikan info mengenai tempat tsb karena takut dengan PAKUSU. saya senang bisa mengenal orang yg memiliki kepedulian spt anda. dan anda jgn kwatir krn selama ini kami menjaga habitat ikan sapan dengan sangat kuat sehingga tidak ada yang berani mengebom dan meracuni ikan disana.selain sapan ikan yang juga sangat kuat adalah Telsuung/rapala,dan sejenis kakap sungai. saya senang bertarung dengan mereka. anda bisa liat tangkapan saya di http://john-patrik07.blogspot.com