Friday, 6 November 2009

Dalam perjalanan menuju Kepulauan Taka Bonerate, saya sempat singgah dua hari (sehari saat berangkat, sehari saat pulang) di Tanjung Bira, Sulawesi Selatan. Tanjung Bira terletak di arah tenggara Makassar, 5 jam dengan mobil dari Makassar. Di Tanjung Bira inilah terdapat pelabuhan fery ke Pulau Selayar, baru dari kota Benteng di Selayar kita bisa mengakses Taka Bonerate (Benteng-Taka Bonerate sekitar 8 jam dengan kapal cepat). Jauh sekali memang. Kenyataan inilah yang membuat kenapa Taka Bonerate yang konon taman laut terindah terbesar nomor tiga di dunia (tapi kog pas di sana saya melihat buanyaaaak sekali karang dangkalnya mati diracun ya?) menjadi sepi. Jaraknya terlalu jauh dari jalur transportasi publik baik transportasi darat ataupun udara. Jadi wajar saja jika Taka Bonerate tidak mampu bersaing dengan Wakatobi misalnya, karena di Wakatobi kita bisa langsung 'turun dari langit' dengan menggunakan pesawat terbang dari Denpasar. :)

Tetapi kisah tentang Taka Bonerate ditunda dulu ya, yang ingin saya kisahkan adalah tentang Bulukumba, atau tepatnya Tanjung Bira. Ini adalah destinasi wisata di Sulsel yang menurut saya sangat menarik. Pantainya bagus dan bersih (cocok untuk berenang dan beraktifitas pantai lainnya) dan Tanjung Bira juga memiliki fasilitas yang lengkap (akses jalan dari makassar bagus, banyak resort dan hotel. Sunset dari Tanjung Bira juga cukup memukau. Mungkin kalau yang agak kurang menarik di Tanjung Bira adalah menemukan penjual makanan agak sulit, ada sih tetapi tidak banyak. Ini ada sebabnya, karena ternyata katanya tingkat kunjungan wisatawan ke Tanjung Bira tidak lagi seramai dulu, jadi warung-watung makanan tidak banyak (apalagi restoran). Ini juga ikut menjawab keheranan saya kenapa banyak sekali guest house, bungalow, resort, dan hotel begitu sepi di sini. Padahal Tanjung Bira dan fasilitas yang tersedia di sana saya lihat dalam kondisi bagus lho. Sayang sekali ya...

Nah lalu apa penyebab kenapa Tanjung Bira begitu sunyi? Kalau alam, jelas bukan penyebab sunyi-nya tempat ini karena Tanjung Bira sangat indah. Penduduk yang tidak bersahabat? Saya kira tidak juga, mereka cukup ramah kepada para pengunjung. Fasilitas yang kurang, tidak, karena di sini banyak sekali penginapan dan juga bisa diakses langsung bahkan dari Makassar. Ternyata, penyebab semua ini kata kawan saya adalah karena sempat diberlakukannya perda-perda (peraturan daerah) yang mengacu pada agama tertentu di wilayah Kabupaten Bulukumba. Sehingga praktis para turis yang dulu begitu ramai langsung menghilang karena jangankan minum bir di tepian pantai Tanjung Bira yang indah itu, bermain air pun haru ekstra hati-hati karena takut melanggar perda-perda tersebut. Efeknya luar biasa. Kini Tanjung Bira sunyi. Hanya satu dua turis asing terlihat. Hotel lebih mirip sebuah rumah kosong dibandingkan hotel. Dan banyak lagi efek lainnya.

Kawan saya itu bilang kalau sekarang ini khusus untuk Tanjung Bira perda tersebut tersebut tidak diberlakukan lagi, meski di daerah lain di Bulukumba masih. Tapi semua sudah terlanjur, bukan hal mudah untuk mengembalikan gelak tawa turis dan keriangan wisatawan dari berbagai penjuru tanah air di Tanjung Bira. Saya percaya bahwa sebuah peraturan, apalagi yang mengacu pada agama pasti bertaburan nilai-nilai luhur yang baik, hanya saja kita sebagai manusia harusnya ingat, bahwa di muka bumi ini banyak sekali orang yang beragama berbeda. Saya berharap turis-turis asing ataupun wisatawan domestik yang dulu selalu menjadikan Bulukumba sebagai salah satu persinggahannya kini telah menemukan tempat yang lebih hangat dan terbuka untuk mereka. Atau kalau saya boleh berharap lebih, saya berdoa semoga mereka mau kembali ke Tanjung Bira lagi. Semoga...

* Foto paragraf 1: (Foto #1) Sunset difoto dari sisi selatan Tanjung Bira. Sunset aslinya lebih menarik dibandingkan yang ada di foto ini. I promise you! (Foto #2) Kami bersantai di ‘tower’ sunset di Tanjung Bira sambil menyeruput kopi hitam panas. Semoga keceriaan kami bisa menular ke banyak orang dan bisa mengundang hadirnya pengunjung-pengunjung baru ke destinasi wisata yang indah ini. Amin! Photo by Gilang Gumilang & Me.
* Foto paragraf 2: (Foto #1) Sepinya suasana meja makan di waktu pagi di Bira Beach Hotel. (Foto #2) Bungalow yang mulai tak terawat di sisi selatan Tanjung Bira. Padahal sisi selatan ini merupakan tebing indah yang langsung menghadap laut. Photo by Me.
* Foto paragraf 3: (Foto #1) Suasana pantai Tanjung Bira saat siang. Padahal waktu itu hari libur lho. Kog sepi banget ya? Padahal pantainya berpasir halus dan bersih banget dan airnya juga bagus. (Foto #2) Miniatur perahu phinisi di ‘tower’ pandang sunset di Tanjung Bira, posisinya persis di ujung jalan aspal. Photo by Me.
* Image paragraf 4: Peta posisi Tanjung Bira Sulsel based on Google Earth map.

1 comments:

Love said...

Betul banget! Pantai Bira indah banget, pasirnya kayak tepung putih n halus, bersih pula! Aku orang Makassar tp baru pertama kali ke Bira, langsung jatuh cinta he he he, rencananya dalam waktu dekat bakal boyong keluarga balik mengunjungi Pantai Bira lagi. Bahkan temanku bilang Bira lebih indah dari Bali he he tau deh benar tidaknya!

Popular Posts

Google+ Followers