Friday, 6 November 2009

Bahkan, sebuah forum mancing di Jakarta bisa membuat sebuah turnamen yang jauh lebih baik daripada turnamen di Taka Bonerate kemarin. Semoga postingan ini tidak mengurangi rasa terimakasih saya atas undangan dari panitia sehingga saya dan kawan-kawan saya sehingga bisa mengikuti turnamen mancing di Taka Bonerate akhir Oktober yang lalu (15-18/10/2009). Meski bukan sebagai peserta, melainkan sebagai peliput yang diharapkan mampu berperan serta mengumandangkan pesona Taka Bonerate kepada khalayak yang lebih luas. Kejujuran kata orang terkadang menyakitkan, tetapi hal itu menurut saya lebih baik daripada kita mengulang hal yang tidak perlu/baik di lain hari hanya karena kita tidak mau terbuka menerima kejujuran. Postingan ini merupakan pendapat dan kesan pribadi saya sebagai pewarta yang kebetulan juga seorang tukang mancing. Jadi mohon jangan kaitkan ini dengan tempat dimana saya bekerja. Thanks.

Turnamen mancing di Taka Bonerate adalah kegiatan yang menurut saya sangat menarik dan tepat dilakukan mengingat kepulauan indah ini belum pernah dijadikan areal turnamen mancing. Kalaupun ada kegiatan mancing di kepulauan ini paling-paling hanya dilakukan oleh sekelompok pemancing Makassar, dan juga dari beberapa daerah lain di negeri ini termasuk beberapa grup pemancing luar negeri yang pernah menjajal lokasi ini pada masa yang lalu. Karena dilakukan oleh perorangan ataupun grup tertentu, gaung Taka Bonerate sebagai destinasi mancing menjadi kurang terdengar. Inisiatif dari Pemprov Sulsel dan Pemda Kabupaten Selayar untuk menggelar kegiatan yang bertaraf nasional di sini menjadi sebuah langkah yang sepatutnya mendapatkan acungan jempol dan mendapatkan dukungan dari komunitas mancing dan stakeholdernya.

Sayangnya dalam pelaksanaannya banyak sekali hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Saya tidak akan mengomentari kegiatan-kegiatan lain yang merupakan rangkaian Taka Bonerate Islands Expedition 2009, seperti kegiatan menyelam massal dan lain sebagainya, karena saya hanya mengikuti International Fishing Tournament 2009-nya saja. Jadi ijinkan saya berbagi kesan mengenai turnamen mancing tersebut, meski hanya sekilas saja. Ini saya lakukan semata-mata demi hal yang lebih baik di masa mendatang sehingga andaikan nanti diadakan lagi turnamen mancing di sana, semoga tidak seburuk yang kemarin sehingga para peserta ataupun siapapun itu yang akhirnya bergabung di even ini bisa dengan gembira mengabarkan kepada khalayak luas mengenai potensi di kepulauan indah ini.

Hari masih gelap di Jakarta saat saya dan kawan-kawan berada di Bandara Cengkareng pada tanggal 14/10. Kami sedang menunggu pesawat menuju Makassar yang akan berangkat agak siang, kami sengaja pagi-pagi sudah di bandara demi menghindari kemacetan. Singkat kata kami pun tiba di Makassar siang hari. Disambut kawan-kawan dari Tribun Timur Makassar termasuk dua kawan baru kami yang akan menemani kami selama berkeliling Sulawesi Selatan, Sandi dan Pius. Usai makan dan bersilaturahmi di Makassar kami langsung menuju Tanjung Bira melalui jalan darat selama hampir 6 jam, tengah malam kami tiba di Tanjung Bira dan langsung menginap di Bira Beach Hotel. Esok harinya kami telah berada di fery menuju Selayar. Siang hari tiba di Benteng, ibukota Selayar. Usai mengikuti ramah tamah dengan Pemda Selayar kami beristirahat di Selayar Beach Hotel lalu sore hari kami pun berlayar menuju base turnamen di Taka Bonerate, yakni Pulau Jinato/Jinatu. Dari Selayar dapat ditempuh dalam waktu 8-9 jam! Perjalanan yang luar biasa jika dihitung sejak dari Jakarta.

Pagi buta dengan menumpang KAL-Samalona, kapal patroli milik Lantamal VI Makassar, kami pun tiba di Jinatu. Dan mulailah 'drama' itu. Saya berfikir bahwa panitia turnamen mancing akan segera mengambil kami untuk kemudian dibawa ke base turnamen, tetapi yang terjadi malah kami terombang-ambing di depan Jinatu lebih dari dua jam (KAL-Samalona tidak bisa merapat karena pantai Jinatu sangat dangkal). Lalu kemana panitia turnamen yang konon bertaraf internasional ini? Turnamen pun dimulai, kami akhirnya menemukan sendiri kapal yang bisa kami ikuti dalam turnamen ini (di turnamen lain kami sudah disediakan kapal sendiri ataupun direkomendasikan untuk ikut tim tertentu). Jauh ketika masih di Jakarta kami diberitahu bahwa kapal kami telah disiapkan. Lha kog begini ketika di lapangan?

Tetapi okelah, batin kami, selalu ada error di lapangan. Turnamen hari pertama pun berlangsung dengan segala keanehannya. Pada turnamen kategori trolling ada peserta yang buah pancingan long line sehingga menghambat kapal-kapal trolling. Ada yang mengaku mendapatkan tuna 80 kg hanya berdasarkan foto di HP yang entah dijepret kapan (karena di kapal itu tidak ada pengawas ini bisa terjadi). Ada peserta yang 'ngamuk' karena kecewa ikannya dianggap tidak sah karena dipancing dengan handline (mereka tidak dikasih tahu panitia apa itu trolling), dan lain sebagainya. Baru hari pertama kami sudah pusiiiing melihat hal-hal ajaib ini. Jika dituliskan semuanya, daftar keanehan ini bisa berlembar-lembar. Saya sampai geli (baca: sedih banget) ketika saya berbicara dengan Kades Jinatu dia menjawab "Saya malah baru hari ini tahu Bang kalau desa saya dijadikan base turnamen!" Nah lo! Wakakakak!

Nah hari kedua pun diimulai. Berlangsung lebih baik namun sialnya saya hampir ketinggalan kapal angkut menuju Selayar (ini terjadi karena radio panggil di kapal saya memang tidak berfungi sejak hari pertama dan meski sudah minta ganti pun tidak ada perbaikan). Untungnya ada KAL-Samalona yang melakukan aksi waiting sampai semua 'muatan' terangkut kembali ke Selayar. Bayangkan jika sampai ada peserta yang tercecer! Aneh bin ajaib turnamen ini karena sampai kami meninggalkan Makassar pada tanggal 21/10 pun, kami tidak tahu siapa Direktur Turnamen (padahal seluruh Makassar sudah kami tanyai) dan kami pun juga tidak tahu siapa pemenangnya (kami berusaha bertanya kepada seseorang yang katanya ketua panitia turnamen mancing ini yang berinisial "M" tetapi jawabannya malah "tunggu saja nanti dikabari)! Menggelikan! Di turnamen lain, 1-2 jam setelah waktu timbang ikan ditutup nama-nama pemenang biasanya sudah dipajang di sebuah whiteboard atau di kertas di base turnamen.

Sampai hari ini pun saya berusaha menghubungi seseorang bernisial "M" itu tetapi selalu tidak terangkat. Padahal saya itu bukan mau minta duit! Ataupun minta jatah mobil hadiah turnamen! Masa bodoh dengan itu semua, saya hanya mau minta informasi yang benar karena sebagai jurnalist saya tidak boleh menuliskan ataupun memberitakan hal yang tidak valid, meskipun itu hanyalah berita turnamen mancing! Tetapi saya merasa seseorang yang katanya dipercaya melaksanakan turnamen mancing ini malah menghindar dan menutupi sesuatu?

Namun meski kecewa dengan tingkah polah panitia, hasil liputan turnamen mancing di Taka Bonerate yang bertitel International Fishing Tournament 2009 ini tetap saya kemas (bersama tim saya) sebaik mungkin. Karena saya percaya, bahwa Taka Bonerate meski telah mengalami tekanan lingkungan yang berat (saya melihat banyak sekali karang dangkal yang mati kena racun) masih memiliki masa depan. Alangkah sayangnya, Taka Bonerate yang masih memiliki masa depan panjang ini menjadi rusak dan redup citranya karena ketidakprofesionalan panita mancing?! Semoga ini bisa menjadi catatan bagi siapapun nanti yang dipercaya menggelar turnamen di tahun mendatang. Salam!

Usai gelar turnamen mancing, di Taka Bonerate digelar even menyelam massal. Saya tidak ikut. Tetapi alangkah terkejutnya ketika berada di Kaltim saya baca berita-berita ini; Penyelam Keluhkan..., Ratusan Penyelam Kelaparan.... Lho, bukan hanya pemancing ya yang mengeluh?!

* All pictures taken at Taka Bonerate, 15-18 October 2009 except the maps. Photos by Me.
* Foto #1: Ikan escolar di atas kapal Lady Popsa. Foto #2: Suasana pembukaan di base turnamen. Foto #3: Khalil dari Tim Lady Popsa mendapatkan barakuda. Foto #4: Karang mati di depan Pulau Inabo.
* MANCING MANIA TRANS 7 menayangkan hasil liputan "Turnamen Taka Bonerate" ini pada hari Minggu, 8/10/2009 Pkl 16.00 WIB.

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers