Monday, 4 January 2010

Tahun baru telah berlalu beberapa hari. Usai pesta-pesta di seluruh penjuru planet ini, dan juga miliaran resolusi tahun anyar yang dibuat oleh para penghuninya, kini semua telah kembali seperti sedia kala. Waktu berjalan terus, dan planet bernama bumi ini terus berputar menuju (mungkin entah kapan) ketuaanya. Saya berharap kita semua membuat sebuah kesepakatan dengan diri masing-masing untuk menjadi lebih baik lagi. Saya yakin hali itu sudah pasti. Siapapun kita, kita ingin menjadi lebih baik lagi. Semuanya tentu relatif. Berbeda-beda. Tetapi jika Anda adalah orang-orang biasa seperti saya ini, jangan kecil hati jika resolusi Anda adalah hal yang mungkin bagi orang yang lain adalah hal yang harus tidak dijadikan resolusi. Orang terlahir berbeda, jadi jangan terlalu mengikuti mimpi-mimpi surga para penguasa dan orang-orang yang memang sejak lahir sudah beruntung itu.

Saya melewatkan tahun baru dengan hal yang biasa saja. Menonton film dari dvd bajakan bersama yang tercinta dan lalu melongokkan kepala ke luar jendela kosan saat kembang api memenuhi langit kota. Berisik sekali suara letusan ‘pesta’ pergantian tahun itu. Tetapi inilah budaya urban yang mengklaim diri modern itu. Bising, jika dilakukan di saat tepat, makan disebut keren atau mungkin berbudaya. Keren, kata singkatnya. Dan karena tidak mau terjebak dalam arus hedonism pergantian tahun yang biasanya begitu parah, hari ke satu tahun baru kami hanya mengurung diri di kamar. Belajar memasak dan menikmatinya sendiri yang jujur saja rasanya hanya bisa kami banggakan sendiri. Haha.

Hari kedua di tahun baru, saatnya untuk keluar ‘sarang’. Dan langkah membawa kami bersama dua orang kawan menuju Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Satu dari kami bukan kawan sembarangan. Bagi saya dia adalah kawan, bagi dua orang yang lain dia adalah atasan. Beliau adalah owner PT Boogie Advindo (Bogor), produsen beragam rubber boat, rigid inflatable boat dan berbagai perlengkapan outdoor (utamanya olahraga dan rekreasi air) lainnya yang dalam ‘dunia air’ negeri ini cukup dipehitungkan. Bukan untuk berpiknik menikmati suasana bendungan terbesar di Jawa Barat ini, yang hari itu begitu sesak oleh pengunjung, melainkan untuk melakukan sesuatu bersama dengan sebuah speedboat yang telah ditambatkan disana beberapa hari sebelumnya. Rencana kami hendak berputar-putar untuk mencoba sebuah produk bersama rigid inflatable boat bernama Tsunami itu. Tetapi apadaya, mendung tiba-tiba menaungi seluruh penjuru Purwakarta dan hujan yang deras mengguyur bendungan. Membuat bubar seluruh pengunjung dan memaksa kami berteduh sambil mengenankan nikmatnya nasi timbel yang baru kami santap di warung masakan Sunda terdekat. Tsunami kedinginan dan sunyi di atas air, dan kami hanya melihatnya sambil berharap agar hujan segera berhenti.

Dan menjelang Magrib hujan akhirnya berhenti. Kami berlarian menuju Tsunami dan kemudian melaju membelah Jatiluhur bersama Tsunami dalam arah yang tidak terencanakan. Produk yang rencananya ditest ditinggalkan di depan gudang milik PODSI, batal diujicoba karena waktu yang terlalu dekat dengan gelap. Didorong dengan mesin 100 PK, Tsunami bisa melaju hingga 25 knot dan kami semua kedinginan di atasnya saking kencangnya angin yang menerpa. Gurihnya rasa ikan goring nila yang kami santap sebelumnya begitu cepat menguap karenanya. Tak lama, 1 jam kemudian kami telah kembali menuju Bogor yang malam itu sama hujannya dengan Jatiluhur. Acara yang bukan liburan, dan juga bukan bekerja ini pun usai. Hal yang mungkin biasa saja. Tetapi seorang lelaki yang usianya merangkak ke angka 31 tahun merasa nyaman dan gembira. Dulu sekali, di Bandung, dalam gundahnya dunia kampus yang tidak selalu berpihak pada orang-orang dari desa, dia pernah berfikir dan menerka-nerka, siapa orang dibalik produk berlabel “B” ini. Dan petang di Jatiluhur ini, bisa jadi adalah sebuah ‘kado’ tahun baru yang istimewa baginya. Semoga di mula warsa anyar ini, Anda juga dipenuhi banyak inspirasi untuk terus menjejaki hari yang akan datang dengan gembira. Salam!

* Foto #1 dan #2: Suasana senja di Waduk Jatiluhur saat hujan mulai mereda dilihat dari salah satu sudut. Honeslty, dilihat dari Gudang PODSI (Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia –kalau saya tidak salah).
* Foto #3: Mr. Anas Ridwan, Pak Dias dan Sandi Taruni. Foto #4: Saya duduk di depan kemudi speedboat (photo taken by Sandi Taruni).
* Foto #5 dan #6: Entah ini foto apa. Niatnya mau motret suasana dan lanskap di Jatiluhur tetapi karena sudah terlalu gelap hasilnya menjadi foto yang ‘entah’. Tetapi sayang juga kalau foto ini di delete begitu saja.
* Foto #7: Saya yang katrok berfoto di depan Tsunami seakan speedboat milik sendiri. Photo taken by Sandi Taruni.

1 comments:

Sandi Taruni said...

hope wonderful thing will come our way this year..

Popular Posts

Google+ Followers