Tuesday, 19 January 2010

(Mas) Dudit Widodo dengan ikan-ikan besar sudah bukan hal yang aneh lagi. Mau apa? Ikan Giant Trevally monster? Yellowfin tuna seukuran kebo? Billfish grander (grander=besar sekali)? Hiu raksasa? Semua sudah pernah dia ditaklukkan. Karena dokumentaris handal yang kini mengkomandani Mancing Mania Trans 7 ini sudah sejak kecil bermain di air. Selain menyukai bahari beliau juga petualang tangguh yang telah menjelajah begitu banyak wilayah terpencil di negeri ini sejak muda dan telah banyak menguak hal baru untuk negeri ini dan bahkan dunia. Jauh sebelum beliau memutuskan masuk TV7 di tahun 2000, sekarang berubah menjadi Trans 7, beliau sudah pernah menjelajah laut-gunung-hutan terpencil di negeri ini bersama tim dokumenter asing dalam rangka mendokumentasikan keunikan ragam budaya dan bahari di negeri kita misalnya saja pendokumentasian Suku Asmat (Papua), ikan Paus Lamalera (NTT), dan lain sebagainya. Banyak sekali jumlahnya dan semuanya menakjubkan! Saya tidak mungkin menuliskan terlau banyak karena beliau juga tidak terlalu suka publikasi mengenai dirinya. Meskipun jujur saja, pengalaman dia sebenarnya begitu luar biasa dan bahkan bisa ditulis menjadi buku biografi hebat yang bisa menginspirasi banyak kaum muda sekarang dan yang akan datang. Tetapi begitulah (Mas) Dudit Widodo, tidak mau dirinya dipublikasikan terlalu banyak. Saya tidak meminta restu beliau saat membuat catatan kecil ini tetapi semoga ini berkenan.

Mengenai ikan-ikan liliput (maksud saya adalah ikan-ikan air tawar berukuran mungil) sengaja saya mencoba menyarikan sedikit kenangan tentang hal ini karena mnurut saya ini sangat unik. Banyak orang yang beranggapan bahwa sebagai pemancing sport yang namanya telah begitu kondang saking seringnya muncul di layar TV, Dudit Widodo hanya mau bermain di laut lepas di wilayah terpencil yang dipenuhi ikan-ikan besar. Namun ternyata tidak demikian. Pada pertengahan Agustus 2009 beliau tiba-tiba mengajak kami untuk memancing di daerah Bandung dan sekitarnya (Padalarang, Cimahi dan Cianjur) khusus untuk memburu ikan-ikan air tawar berukuran mungil seperti ikan beunteur, ikan sepat, ikan paray dan lain-lain. Ini tak pelak mematahkan pandangan banyak orang selama ini. Bagi saya pribadi, hal ini semakin membuat saya hormat pada dokumentaris cum pemancing ini. Beliau benar-benar orang yang hebat karena mau merangkul semua kalangan pemancing mulai dari pemancing big game (ikan-ikan besar) yang kebanyakan adalah kaum berduit dan juga kalangan pemancing ‘pinggiran’ yang hanya memancing di dekat rumah dengan peralatan mancing seharga 5000 perak!

Jawa Barat mau tidak mau menjadi bagian tak terpisahkan catatan kecil ini karena di sanalah pertama kalinya Mas Dudit Widodo (MDW) kembali berkenalan dengan ikan-ikan liliput ini. Saya mengatakan berkenalan kembali karena dulu beliau juga sudah pernah kenal dekat dengan ikan-ikan kecil, tepatnya ketika beliau masih seorang kanak-anak Jakarta yang ‘bandel’ dan suka sekali memancing di selokan, kali, kanal, pintu air dan danau buatan di dalam kota di Jakarta. Jadi sangat mungkin sekali interaksi dengan ikan-ikan kecil ini menjadi terasa berbeda karena pernah bertautan dengan dirinya dulu. Ada kenangan. Ada napak tilas jejak-jejak langkah hidup di dalam ikan-ikan kecil ini. Saat itu, Agustus 2008 kami berkeliling ke berbagai lokasi air tawar di Jawa Barat dan berhasil memancing ikan-ikan mungil yang bahkan kadang ukurannya sangat-sangat kecil. Ikan sepat yang kami pancing di Cimahi masih mudah terlihat karena ukurannya rata-rata seukuran kemasan korek api kayu. Lha kalau ikan paray yang kami pancing di Waduk Saguling, Cianjur, ikan ini kadang sulit terlihat dengan mata telanjang dari jauh karena ukurannya hanya sebesar batang lidi! Saat itu saya melihat bahwa MDW sangat enjoy dan kadang tertawa kegelian sendiri dengn keputusannya berkenalan dengan ikan-ikan liliput. Hasilnya saat itu adalah episode ‘rakyat’ yang cukup menarik bertajuk “Liliput Jawa Barat” yang tak kami sangka ternyata sangat disukai banyak orang. Interaksi jenaka MDW dengan ikan-ikan mungil dan kalangan pemancing biasa saat itu sukses besar!

Kami semua lalu kembali sibuk melaut mengejar ikan-ikan besar. Kembali, ikan-ikan kecil kami tinggalkan sementara waktu. Tetapi kesan kesuksesan dengan ikan-ikan kecil terus terpatri dalam hati kami hingga akhirnya kemarin di awal Januari 2010 seiring dengan meledaknya ombak di berbagai fishing ground di negeri ini kami memutuskan kembali menemui ikan-ikan mungil kami. Kami tidak sendiri, seperti tahun lalu, kami kembali mengontak kawan-kawan dari Bandung Angler Team (BAT) untuk menemani kami memancing. Kini jumlah mereka membengkak beberapa kali lipat. “Gara-gara masuk di TV dulu itu yang ikan sepat,” kata Hary Buana saat kami tiba di Bandung’. Ada yang minta tanda tangan dan foto bareng gak,timpal saya. Wah kalau itu gw belum seberuntung elo, jawabnya. Hahaha, kami ngakak bareng. Bertemu kawan-kawan dekat memang sangat menyenangkan.

Usai melepas bibit ikan-ikan nilem di Situ Patenggang, Bandung Selatan pada hari Jum’at, hari Sabtu-nya kami lalu menjajal kolam-kolam di seputaran Bandung dan diakhiri dengan kembali ke kawasan Cibeber, Cimahi untuk kembali memburu ikan-ikan sepat. Dulu, Agustus 2009, saat kami datang kami tidak mendapatkan sambutan apa-apa dari warga sekitar. Namun kali ini berbeda, entah kenapa tiba-tiba banyak sekali yang mengenal kami dan berteriak-teriak. “Sepatnya mau dimasukkin TV lagi ya?” Bekas-bekas galian pasir di Cibeber hari itu masih seperti dulu kami lihat. Masih hijau dan menghibur mata mengingat lokasinya dekat sekali dengan kota Bandung. Ikan-ikan sepat masih kami dapatkan. Tetapi tidak semudah saat musim kemarau karena saat hujan seperti ini genangan air di bekas galian pasir itu terlalu tinggi. Meski jumlah strike tidak seheboh dulu, namun kami mendapatkan satu ekor sepat berukuran cukup besar yang untuk spesies ikan sepat sudah dapat dikatakan ‘monster’. Candra Sonjaya yang berhasil mendapatkannya. MDW juga mendapatkan ikan sepat yang cukup besar. Namun karena memancing ikan sepat ini menjadi semacam pengulangan saja, kami tidak berlama-lama. Meski sebentar namun everybody happy! Usai tengah hari kami lalu meluncur menuju kolam pemancingan dan Rumah Makan Alam Endah di Padalarang untuk mengisi perut yang keroncongan bernada sumbang sambil iseng mincing kasting ikan-ikan bawal. Hasilnya selain perut kenyang, selama 3 jam kasting seberat 12 kg ikan bawal terangkat dan harus dibayar semua! Hahaha! Malam harinya di sebuah hotel di Lembang, MDW memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mencari ikan-ikan mungil ini ke pedesaan di daerah Cianjur.(Bersambung)

* All pictures by Me. Don't use or reproduce
(especially for comercial purposes) without permission. Thanks.
* Foto #1: Close up bekas galian pasir yang terenda air di Desa Cibeber, Cimahi. Foto #2: Seekor kupu-kupu berwarna indah di tepian galian pasir menyapa kami. Foto #3: Para pemancing dari BAT yang menemani kami. Usai episode ikan sepat tahun lalu, member mereka berlipat ganda gara-gara mereka mejeng di Mancing Mania di Trans 7.
* Foto #4: Ikan sepat hasil pancingan Candra Sonjaya. Untuk ukuran ikan sepat, ini sudah termasuk ikan monster. Foto #5: Mas DW berhasil strike ikan mungil ini. Lihat ekspresinya yang tampak masih gemas karena takjub betapa tidak mudah memancing ikan air tawar bermulut mungil ini.

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers