Sunday, 31 January 2010

Foto-foto di bawah ini adalah beberapa jepretan asal dari berbagai ‘medan tempur’ mulai dari perairan perbatasan di Aceh, ‘panas’-nya perairan Kepulauan Riau, ‘kolam’ sampah raksasa bernama Teluk Jakarta, pedalaman liar di pegunungan Kalimantan Timur, dan lain sebagainya. Sebagai kenangan dan doa untuk seorang sahabat dekat bernama Gilang Gumilang yang akan segera memulai tugas barunya di program yang lain. Kali pertama bertemu dengannya pada bulan Februari yang dingin di sebuah ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta, saya tidak memiliki kesan banyak tentangnya selain badannya yang kurus itu. Uuuups! Haha!

Saya coba tuliskan cerita singkat mengenai foto-foto ini. Anda harus melihat foto-foto ini dari atas ke bawah secara berurutan jika ingin mendapatkan urutan yang benar berkaitan dengan keterangan ini. Foto #1 adalah saat Gilang Gumilang sedang mengangkat giant trevally pertamanya. Saat itu kami berada di Ujung Kulon. Saya lupa tanggalnya, tetapi kalau tidak salah waktu itu bulan September 2009. Foto #2 adalah candid saat Gilang asyik shooting suasana laut di Ujung Kulon. Bendera Indonesia di belakangnya menunjukkan dia sedang berdiri di atap kapal (Sept, 2009). Foto #3 diambil di Muara Gembong, Bekasi saat pembuatan episode mancing udang galah (prawn), juga pada bulan September 2009. Foto #4 dan #5 saya ambil pada bulan Februari 2009 di perairan sekitar Pulau Rondo, Aceh. Kami memancing bersama seama seminggu di sana dan berhasil membawa pulang ke Jakarta tiga episode saltwater fishing impresif yang salah satunya menampilkan ikan black marlin yang hooked up by jigging oleh Bayu Noer.

Foto #6, Gilang asyik memainkan Blackberry-nya saat kami rehat di sebuah restoran tengah laut bernama Nusa Resto (di dalam kompleks budidaya ikan milik PT Nusa Ayu Keramba) di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Foto #7, Gilang-saya-Hasan Daulay di atas yacht Noah’s Ark milik Johan Wibisono. Saat itu kami sedang bersandar di Pulau Pramuka dalam pembuatan episode baronang (rabbit fish). Bayangkan, yacht mewah miliknya hanya dipakai memancing ikan baronang. FYI, Johan Wibisono sudah bosan memancing ikan-ikan besar karena sudah hampir semua ikan raksasa di lautan lepas sudah pernah dia dapatkan (malin, tuna, dll), jadi sekarang ini beliau ingin santai memancing ikan baronang yang patilnya mantep itu. Hehe! Foto #8, shooting metode ngoyor atau wading saat memburu ikan baronang di Kepulauan Seribu (masih dalam perjalanan bersama Noah’s Ark). Ketiga foto ini (#6, #7 dan #8) diambil pada September 2009.

Foto #9, sang kameraman berjalang paling belakang saat menuju kapal feeder di Desa Sumur, Ujung Kulon. Foto #9, saya dan Gilang di Pulau Kambing, Sulawesi Selatan. Letak pulau ini ada di depan Tanjung Bira, daerah yang terkenal ke seluruh dunia dengan para pengrajin kapal phinisi-nya. Saat itu kami popping GT, tetapi nol strike. Karangnya sudah rusak. Hanya kambing-kambing yang menonton kami di sana. Foto #10, di tepian Sungai Kelay di liarnya pedalaman Borneo saat mencari ikan-ikan upper river seperti sapan (kelah/mahseer) dan hampala. Sehari sebelumnya, saat kami tiba tiba-tiba banjir dahsyat menerjang sungai ini. Kami terpaksa stop di kampung Dayak terakhir menunggu banjir surut dan air kembali jernih (Oct, 2009). Foto #11, shooting layaran (sailfish) di Kuala Rompin, Malaysia pada November 2009. Saat itu saya tidak ikut, foto ini diambil oleh Karly Tindage, bibi dari pemancing perempuan cilik bernama Sarah Ayu (mengangkat ikan bersama Bayu Noer).

Foto #12, di Cirata, Cianjur, Jawa Barat dalam pembuatan episode ikan-ikan air tawar (Juli, 2009). Di belakangnya adalah Mas Dudit Widodo yang hanya tampak kepalanya saja. Foto #13, diapit oleh Hasan Daulay dan Yono MKFT pada bulan September 2009 saat kami berada di Muara Gembong, Bekasi. Foto #14 diambil pada November 2009, saat kami menuju Pulau Berhala di 60 mil utara Medan. Perjalanan ke perairan perbatasan yang melelahkan dan tidak menghasilkan tangkapan yang hebat karena kondisi air yang tidak mendukung (mati arus dan terlalu dingin). Meski begitu, tanda “V” tetap dia acungkan sebagai tanda terus semangat! Foto #15, bulan Maret 2009. Saat itu kamai bersama-sama di Kepulauan Lingga, Riau Kepulauan dalam rangka menghadiri turnamen mancing di sana. Malam hari kami bersantai di dermaga sambil minum es teh manis (Kepulauan Riau panas banget!!!) dan tampak jelas siapa yang kulitnya tetap putih. Kiri-kanan: Gilang-saya-Bayu Noer-Abra. Foto #16 dan #17, masih di Lingga, selain Gilang tampak di sana adalah Abra Mardianto (foto paling bawah yang kiri) dan Bayu Noer (foto #16 berbaju biru).

Meski demikian, foto-foto ini tidak mampu merangkai semua hal yang telah terlewati bersama. Apalagi tidak setiap saat kami bersama, namun saat bertemu di lapangan ataupun di kantor dia sering mengucapkan kalimat ”Elo emang keren banget deh Mike” dan “Gak bener lo!” yang menurut saya ini adalah caranya yang khas untuk mengatakan “Apa khabar?” dan “Apakah kamu baik-baik saja?” Terlalu banyak yang harus dituliskan tentang apa yang telah terlewati bersama, baik suka ataupun duka. Tetapi tidak semua kisah bisa diceritakan dengan baik – dan tidak harus semua diceritakan. Dari tepian semenanjung yang masih terus berangin karena terpaan musim angin barat yang masih menggila, untukmu sahabat catatan kecil ini kupersembahkan. GUD LAK and GOD BLESS!!!

* All pictures (except #12 during trip Kuala Rompin, Malaysia taken by Karly Tindage) taken by Me. Don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without permission. Thanks.

1 comments:

MIZLAN said...

woooo...mantap tripnya bro! bravo!

Popular Posts

Google+ Followers