Wednesday, 27 January 2010

Tiga minggu terakhir ini tiba-tiba saja saya dan kawan-kawan satu tim melintas tiga kali di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Dan semuanya selalu singgah sementara antara satu hingga dua malam karena lelah mendera kami semua yang selalu diburu ‘hantu’ bernama ikan-ikan besar. Pelabuhan Ratu adalah pendaratan ikan tangkapan terbesar di Jawa Barat dan memiliki TPI yang selalu sibuk! Puncak kesibukan TPI di Pelabuhan Ratu biasanya terjadi saat musim ikan tuna (yellowfin tuna) yang berlangsung seiring dimulainya musim kemarau dan mencapai puncaknya pada bulan-bulan September atau Oktober. Tempat ini memang menjadi salah satu favorit kunjungan ikan tuna karena memiliki teluk besar yang persis menghadap Samudera Hindia. Di Pulau Jawa, letak strategis ini mungkin hanya bisa ditandingi oleh Sendang Biru, Malang Selatan.

Saat musim tuna seperti itu, perairan di sekitar Pelabuhan Ratu akan penuh dengan kapal-kapal nelayan yang berebut ikan tuna. Di antara ‘skuadron’ besar kapal nelayan aneka rupa dan ukuran ini, biasanya terselip satu atau dua kapal sportfishing yang dicarter oleh para pemancing sport. Mereka, biasanya sudah memantau keadaan sejak lama, juga tidak mau ketinggalan pesta tuna. Karena pesta bisa berlangsung liar, terkadang muncul insiden di tengah laut; kapal sportfishing terjebak di dalam jaring, srempetan kapal, dan lain-lain. Tetapi tidak ada yang marah berkepanjangan dalam sebuah pesta.

Sekarang ini, jika dilihat dari size dan jumlah tangkapan (melalui kacamata sportfishing) tuna di Pelabuhan Ratu tidak seheboh dulu lagi. Kita lihat saja misalnya hasil pancingan pada Kategori Tuna Sirip Kuning (YFT) saat FORMASI menggelar Turnamen Mancing Piala Presiden XI pada bulan Mei 2009 lalu. Pada hari pertama ada 4 yellowfin tuna yang berhasil dinaikkan dengan berat 48,10 kg, 42,85 kg, 30,10 kg dan 12 kg. Keempat Tuna Sirip Kuning ini adalah hasil perolehan Tim Wahoo (2 ekor), Tim WBW-I dan Tim Gandaria Civell Fishing Club. Pada hari kedua ada lagi tuna Tuna Sirip Kuning yang naik dengan berat 15,30 kg dan 74 kg. Yang terakhir ini sudah termasuk tuna ‘kebo’ (besar) namun sayang waktu itu terkena diskualifikasi karena terlambat ditimbang di Base Turnamen.

Namun saya dan kawan-kawan singgah di Pelabuhan Ratu saat tuna tidak sedang bermain di sana. Maka kamipun menjadi “bego” bersama dengan berkeliling kesana kemari ke seluruh penjuru kota yang sepi, main ke TPI yang juga sepi, nimbrung memancing ikan-ikan kecil dengan warga yang juga kesepian. Saat-saat di hotel lebih menyiksa lagi. Benar, kami disuguhi dengan view cantik berupa hamparan laut lepas, namun yang ada disana hanya ombak besar musim hujan dari arah selatan dan serombongan peselancar entah darimana yang tampak begitu gembira dengan keahlian mereka menaikki papan surfing untuk kemudian terjungkal di pasir pantai yang hitam dan kotor (jujur saja, pantai di Pelabuhan Ratu menurut saya kotor, bukan karena pasirnya yang hitam, tetapi karena sampah meskipun bukanlah sampah dalam skala besar) - mereka bukan peselancar hebat.

Tidak ada pemancing di keluasan samudera yang airnya tampak kehitaman karena memantulkan mendung yang berarak di atasnya itu. Tidak ada kami yang sedang sibuk menyiapkan tackle untuk kemudian melawan tenaga turbo ikan-ikan yellowfin tuna Pelabuhan Ratu yang namanya begitu mendunia itu. Sepi. Hanya suara ombak menderu yang hanya cocok untuk menulis puisi atau novel cinta dan kesedihan. Mengenai kondangnya tuna Pelabuhan Ratu, ini karena saya teringat seorang kawan di Singapura yang dulu sering sekali bertanya kepada saya apakah tuna di Pelabuhan Ratu sedang “hot”. Karena sangat sulit memprediksi kapan musim dan seperti apa kualitas musim tuna itu, apalagi kalau harus memenuhi ekspetasi Singaporean cerewet seperti kawan itu, maka saya sering menjawabnya dengan “tuna belum main, hanya tini”. Hahaha.

Namun meski tidak sedang musim tini, eh tuna, kami tetap singgah di Pelabuhan Ratu. Karena kami membutuhkan waktu yang dinamakan “istirahat”. Memanjakan diri lama-lama di balik selimut. Mandi dengan kualitas dan waktu seperti puteri keraton. Dan makan pelan dan penuh hikmat seperti seorang pangeran yang sedang sowan ke rumah sang pujaan hati yang pasang aksi jual mahal. Semuanya agar supaya badan kembali siap untuk menantang gelombang dan ‘gelombang’ berikutnya di hari-hari mendatang yang mungkin saja tidak ramah. Apa guna hidup kalau hanya untuk dipakai menghabiskan seluruh waktu untuk bekerja dan bekerja? Salam!

* All pictures taken by Me. Don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without permission. Thanks.
* Foto #1 & #2: Pemandangan menarik dari kamar hotel kami. Foto #3: Tonggak dermaga yang rusak di salah satu sudut pelabuhan. Foto #4: Pemandangan di sudut lain Pelabuhan Ratu, awan gelap juga berarak.
* Foto #5: Hangout di TPI, menyambangi para nelayan sambil mencari informasi ikan. Foto #6: Awan gelap memayungi dermaga TPI.
* Foto #7: Para pemancing dari kalangan biasa menghabiskan waktu dengan memancing dari sebuah sudut pelabuhan.
* Foto #8 & Foto #9: Kami hanya bisa pasrah saat senja gelap yang diiringi hujan kembali ‘menerkam’ kami.

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers