Thursday, 21 January 2010

Cerita yang hampir terlupakan gara-gara waktu yang bergerak semakin cepat dan tidak selalu berpihak pada keinginan untuk berbagi kisah melalui catatan. Waktu itu pertengahan Oktober 2009. Kami (saya, Bayu Noer dan Gilang) berkumpul bersama anak-anak kecil di sebuah kolam pemancingan ikan patin di daerah Ciputat, nama kolamnya Tambok Lobu. Ini adalah kolam ikan patin yang cukup popular di kalangan pemancing kolam di Jakarta karena memiliki ikan-ikan patin berukuran besar. Paling besar kata pengelola kolamnya yakni Mamat, ikan patin yang ada di kolam ini paling besar beratnya adalah 23 kg. Lumayan besar untuk ukuran ikan kolam air tawar. Yang menarik, kolam ini juga dipenuhi dengan ratusan ekor ikan patin bersize lumayan, antara 4-7 kg-an, sehingga potensi strike di kolam ini menjadi sangat maksimal. Singkat kata, setiap pemancing yang memancing disini pasti akan terpuaskan!

Jika Anda berminat memancing disini silahkan mencari informasinya dengan meng-klik di Google kata “tambok lobu” dan Anda akan menemukan alamat serta nomor kontaknya. Untuk memancing ikan patin, kolam ini sangat saya rekomendasikan. Tetapi, ikan di kolam ini tidak bisa dibawa pulang karena semua ikan yang terpancing harus dilepaskan kembali ke kolam hidup-hidup. Yak benar, ini adalah kolam catch and release patin, mungkin ini yang pertama di Indonesia. Meski tidak murni kolam catch and release patin, karena juga dijadikan ajang lomba galatama. Acara hari itu singkat cerita sukses besar, para jagoan cilik (anak-anak berumur 7 tahunan) yang kami bawa memancing di kolam ini berhasil strike ikan-ikan patin. Saya juga sempat mencoba tarikan ikan-ikan patin itu dan memang cukup lumayan tenaganya. Ditambah kolam yang cukup luas, gerak ikan patin menjadi sangat bebas sehingga aksi tarik-tarikan dengan ikan menjadi lama dan mengasyikkan.

Nah yang menarik dari acara mancing ikan patin bersama anak-anak ini adalah kita bisa mengenal dengan lebih dekat karakter anak-anak kecil tersebut. Ada banyak sekali anak-anak yang bergabung dengan kami saat itu. Dari Jakarta kami hanya membawa 4 orang anak, yang adalah buah hati kawan-kawan kami sendiri – si kembar Pa’an dan Pa’in anak rekan kami Hasan Daulay yang paling imut karena kembar, tetapi ternyata di lokasi jumlahnya tiba-tiba membengkak menjadi 20an orang anak dengan bergabungnya anak-anak sekitar kolam. Rupanya mereka juga fans berat acara mancing di televisi sehingga saat tahu kami sedang suting mereka langsung berkerumun! Namanya suting dengan anak-anak, kita harus super sabar dan berkomunikasi dengan berusaha sekuat tenaga menjadikan diri kita sebagai anak-anak itu. Karena kalau tidak demikian maka akan banyak sekali missed yang membuat banyak hal menjadi kacau. Tetapi sungguh, suting dengan anak-anak itu sangat menyenangkan. Memang berisik dan kadang bikin geregetan, tetapi overall sangat kocak.

Yang saya ingat nama anak-anak imut ini hanya 4 orang saja. Rahman anaknya rekan kami Jarot. Lalu Joshua. Lalu Pa’an dan Pa’in, si kembar buah hati Hasan Daulay. Rahman dan Joshua tidak seberani Pa’an dan Pa’in yang terus ready tiap terjadi strike. Bahkan kalau perlu, strike yang didapatkan Joshua atau Rahman akan direbut oleh si kembar ini. Rahman awalnya malu-malu dan tidak berani memancing sendiri, jadi harus terus didampingi oleh ayahnya. Tetapi lambat laun seiring dengan naiknya kepercayaan dirinya, akhirnya dia berhasil memancing sendiri tanpa didampingi siapapun. Ada kemauan yang keras dari buah hati Jarot ini untuk belajar dan kemudian tidak mau lagi tergantung terlalu banyak dengan ayahnya. Joshua tidak demikian. Entah karena jarang keluar rumah atau bagaimana, Joshua lebih pemalu dan harus selalu didampingi oleh ayahnya (saya lupa nama ayahnya). Dari awal sampai akhir Joshua tidak mau sendirian. Padahal kawan-kawannya yang lain sudah banyak yang asyik sendiri.

Yang paling luar biasa memang Pa’an dan Pa’in. Si kembar ini tidak memiliki rasa takut sama sekali. Awalnya mereka masih memerlukan seseorang yang ada disampingnya. Tetapi tidak lama kemudian dia sudah berani sendiri dan tidak mau didampingi sendiri. Dua bersaudara ini juga kadang bekerjasama berdua untuk mengalahkan ikan-ikan yang kadang berukuran 7 kg itu. Mental dan keberaniannya sangat besar, tidak gentar sama sekali meski kadang tertarik oleh ikan hampir dekat tepi kolam. Karakter orang Batak yang diturunkan oleh ayahnya sangat kuat tertanam di hati si kembar ini. Praktis, acara mancing ikan patin ini sedikit banyak berubah menjadi Pa’an & Pa’in Show! Hahaha! Jadi saudara, jika Anda memiliki buah hati yang masih kecil dan ingin mengenal karakter mereka dengan lebih jelas, mancing bisa dijadikan cara yang menarik. Tidak harus selalu dengan diajak outbound misalnya. Salam.

* All pictures by Me. Don’t use or reproduce (especially for commercial purposes) without permission. Thanks.
* Foto #1: Pa’in dan Pa’an memegang ikan patin ditemani kawan-kawan baru. Foto #4: Pa’in dan Pa’an saling bantu saat akan melepas kembali ikan ke dalam kolam.
* Foto #2 dan Foto #3: Suasana suting yang meriah. Tetapi jujur saja, suting dengan anak-anak kecil memerlukan kesabaran dan komunikasi tingkat tinggi yang lebih sulit dibandingkan dengan sesama orang dewasa.
* Alamat Kolam Patin Tambok Lobu: Jl. Hidup Baru No. 30 Sarua Lama, Ciputat, Tangerang. Telp: 021-74637944, 74637865. Hp 0856 9519 6317 (Mamat).

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers