Friday, 1 January 2010

Petang itu saya sedang berada di ruang editing video sebuah TV swasta yang dingin bersama beberapa kawan. Sebuah pesan singkat yang dikirimkan oleh dia yang tercinta masuk ke ponsel . Gus Dur berpulang…. Serasa menjadi tokoh penting saya menerima sms itu. Putra terbaik bangsa telah berpulang ke haribaan-Nya pada 30 Desember 2009 pukul 18.40 WIB. Dan seluruh warga negeri yang lelah karena terus dipermainkan para penguasanya, tidak termasuk Gus Dur, ini pun menangis. Saya ikut menangis. Sungguh… Tak kuat rasanya melihat layar kaca menyaksikan upacara pengiriman jenasah ke Jombang, Jawa Timur dan juga prosesi pemakaman lelaki humoris mantan presiden RI ke-4 yang bernama asli Aburrahman Wahid atau yang juga berjuluk Addakhil (Sang Penakluk) ini.

Saya menjadi ingat sesuatu. Pada pertengahan Desember 2009, saya berada di sebuah lobi hotel kecil sebuah kota di bagian timur negeri ini. Udara panas sekali saat itu dan saya mencari-cari apakah AC atau kipas angin hotel ini mati. Tetapi saya malah melihat bahwa foto presiden yang terpasang masih presiden RI ke-4 yang menjabat antara Oktober 1999 sampai Juli 2001 ini. Mungkin pemilik hotel terlalu mengidolakan Sang Kyai lucu ini atau memang dia lupa menggantinya selama 5 tahun terakhir ini saking sibuknya melayani tamu-tamu hotel? Entahlah. Apapun itu, ini setidaknya menjadi salah satu bukti kecil sepele betapa KH Abdurrahman Wahid ini memang banyak membekas di sanubari penduduk Indonesia yang majemuk ini.

Gus Dur, Lahir di Denanyar, Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940, bagi saya adalah tokoh fenomenal. Dengan kalimat sakti “gitu aja kog repot” dia mengalahkan jargon-jargon mantan presiden RI yang lain yang kebanyakan adalah jargon-jargon kaku yang penuh muslihat. Kelucuan dan ke-nylenehannya ini banyak dikritik oleh tokoh-tokoh lain yang selama ini mengagungkan kalimat-kalimat halus kaku penuh teori (yang sialnya kosong). Jelas, kebekuan politik negeri selama berpuluh tahun mendadak cair oleh tingkahnya yang kocak dan merakyat. Dan secara pribadi, saya suka sekali caranya menyikapi sesuatu yang terjadi di negeri ini. Segenting apapun negeri ini, dia terus melucu, mengajak rakyatnya tertawa. Dan saya menjadi sering tertawa kecut saat beberapa kawan yang waktu Gus Dur menjabat sebagai presiden sedang tinggal di luar negeri berolok-olok. Kata mereka yang tinggal di luar negeri itu. Aku sering diledekin oleh kawan-kawanku di sini, katanya. Bagaimana dia bisa menuntun negerimu, berjalan saja dia (Gus Dur) dituntun oleh ajudannya. Tentu ini menggelikan, andai mereka tahu, bahwa bukan Gus Dur yang dituntun, negeri inilah yang dituntun oleh Gus Dur agar keluar dari kebekuan dan kekacauannya.

Gus Dur adalah tokoh pluralis. Tak banyak anak kyai besar di negeri ini yang se-pluralis dirinya. Dan sebagai bagian dari kalangan agama minoritas, saya tentu menjadi begitu ‘dekat’ dan aman dengannya. Karena sebelumnya kalangan minoritas negeri ini sering menjadi bulan-bulanan kalangan agama mayoritas –sialnya sekarang ada tanda-tanda masa itu akan kembali. Jangankan mengurus hal-hal yang berkaitan dengan peribadatan, mengurus hal-hal lain yang sepele saja terkadang susahnya minta ampun dikarenakan kami adalah kalangan minoritas! Saya kurang ingat tahun persisnya. Tetapi waktu itu sekitar 1996 atau 1997an. Saat itu saya masih tinggal di desa kecil di Malang Selatan. Tiba-tiba saat sedang beribadah kami semua semburat keluar melarikan diri keluar rumah ibadah karena tiba-tiba ada yang membawa kabar bahwa akan ada massa entah darimana yang menyerbu rumah ibadah kami itu. Ibadah sejak hari itu menjadi momen penuh was was dan gundah. Maka ketika Gus Dur naik kursi presiden, kalangan kecil seperti kami ini menjadi lega. Saya kutip dari media NusantaraNew.Wordpress.Com –seperti diungkapkan oleh Hermawi Taslim, Gus Dur pernah berkata bahwa ““Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu”. Toleransi Gus Dur yang tinggi, dan yang diperjuangkan dengan caranya yang khas agar menular kepada seluruh penduduk negeri ini begitu sejuk bagi kami dan membekas hingga sekarang.

Karena pluralisme dan toleransinya yang luar biasa tersebut, meski dikritik oleh banyak sekali kalangan fanatik fundamental, pada tahun 2008 Gus Dur dengan tenang menuju AS untuk memenuhi undangan Simon Wiesenthal Center (SWC), sebuah LSM yang oleh kalangan Islam garis keras dianggap sebagai LSM Zionis garda terdepan di AS. SWC saat itu akan menganugerahkan Medal of Valor, Medali Keberanian, untuk keberanian Gus Dur menjadi seorang pluralis. Saat itu Gus Dur semakin memicu kontroversi dan demo di dalam negeri karena saat konferensi pers di Kantor PBNU Jakarta dia juga mengucapkan selamat atas kemerdekaan Israel yang ke-60. Mereka yang menuduh Gus Dur pro Zionis Israel, apa lupa, bahkan di Israel juga ada muslim. Dan bahkan di Palestina juga ada Kristen?! Fanatisme memang membuat orang tidak bisa berfikir dengan jernih.

Terlalu banyak kehebatannya. Saya merasa tak layak untuk menuliskan semuanya. Namun bagi saya pribadi, salah satu hal yang membuat saya begitu ‘hormat’ dengan kyai lucu ini adalah bahwa, seingat saya sejauh ini, dialah satu-satunya presiden RI yang tidak silau dengan uang. Dalam artian harfiah ataupun kiasan. Dialah satu-satunya presiden RI yang tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak terpuji berkaitan dengan uang semasa menjabat presiden RI. Bayangkan dengan presiden yang lain? Yang demi uang berani menodongkan senjata kepada rakyatkya. Yang demi uang rela menyelewengkan wewenang. Yang demi uang bahkan mau repot memanipulasi kejadian dan berita. Hal yang tidak akan pernah dilakukan Gus Dur, putra terbaik Indonesia yang semasa hidupnya pernah membantu istrinya berjualan kacang dan mengantarkan es batu untuk usaha es lilin yang dikelola istrinya (Barton.2002. Biografi Gus Dur, LKiS, halaman 108). Selamat jalan Gus. Sejuta doa dan harapan tahun baru ini juga untukmu... Requiscat In Pace!!!!

* Untuk bacaan singkat yang komprehensif tentang Gus Dur di internet silahkan berkunjung ke Biografi Gus Dur, Bapak Demokrasi-Pluralisme dan Abdurrahman Wahid.
* Foto #1: Gus Dur semasa menjadi presiden RI. Foto Wikipedia.Org.
* Foto #2: Seseorang bernama Lidya Wangsa berfoto bersama Gus Dur pada tahun 2007. Betapa Gus Dur begitu 'mempesona' semua orang. Foto diambil dari LidyaWangsa.Wordpress.Com.
* Foto #3 dan #4: Saat Gus Dur menerima penghargaan dari SWC di AS, Mei 2008. Foto ini banyak tersebar di forum-forum tetapi kebetulan saja saya ambil dari Khabibkhan.Wordpress.Com.
* Kartun diambil dari Kartunesia.Com.

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers