Monday, 18 January 2010

Senja itu langit begitu mendung dan udara sangat dingin. Kulit saya yang terbiasa dengan sengatan panas lautan dan gerahnya Jakarta tiba-tiba seperti diiris-iris dengan potongan es tipis. Kami (Tim Mancing Mania Trans 7) mulai ‘mendaratkan’ kendaraan di kota Bandung. Hari itu adalah Jum’at. Kendaraan di Pintu Tol Pasteur mulai padat tetapi masih terbilang biasa (baca: masih belum terlalu membuat kepala pusing akibat antrian panjang kendaraan). Biasanya hari Sabtu dan Minggu antrian kendaraan di pintu tol ini akan ‘meledak’. Biasanya pula, kebanyakan kendaraan tersebut ber-plat B. Kendaraan orang-orang Jakarta yang ditumpangi pengemudinya yang ingin melepaskan penat pemberian ibukota di kota Bandung yang dingin dan masih mampu memanjakan banyak jiwa hingga hari ini. Anda penikmat detak malam yang hingar? Anda pecinta gunung yang dingin dan sepi? Anda penikmat kuliner? Anda penikmat musik? Atau Anda adalah penikmat fashion? Bandung mampu memanjakan Anda. Tentunya siapkan kantong yang besar dan tebal. Haha!

Tetapi kehadiran kami bukan untuk berperan serta dalam arus hedonis yang semakin hari semakin kuat memeluk Bandung kini. Kami ‘mendarat’di Bandunng untuk menjumpai kawan-kawan mancing kami. Rencananya, bersama kawan-kawan dari BAT alias Bandung Angler Team, esok harinya kami akan bersama-sama menuju Situ Patenggang (Situ Patengan?) di daerah Ciwidey, Bandung Selatan untuk melakukan aksi tebar bibit ikan di danau tersebut. Katanya teman mancing, kog tebar ikan? Simpelnya begini. Kawan-kawan BAT sebagai pemancing tidak mau kalau hanya memetik dari alam, mereka juga ingin ikut menanam. Dan di 'mata' kamera ini sangat menarik. Anda tahu maksud saya. Tetapi meski hanya berniat berurusan dengan ikan, Jum’at malam itu kami sempat ikut mencicipi nikmatnya Bandung di sebuah café (yang katanya lagi naik daun dalam jagat kuliner Bandung-Jakarta) yakni Warung Pasta di dekat Kampus ITB. Tetapi jujur saja saya kurang menikmatinya karena lidah saya adalah lidah yang hanya ON dengan makanan manis dan atau super pedas dan bukan ramuan pasta Italia di Warung Pasta. Tetapi demi kawan-kawan, okelah! Tetapi meski makanannya bagi saya ‘menyiksa’ lidah saya, tidak demikian dengan ‘pemandangan’ di café ini. Hehehe!

Hari berikutnya, Sabtu, dalam 5 mobil terpisah kami sudah meluncur menembus hujan kota Bandung menuju selatan. Mendaki jalanan berkelok ke arah Ciwidey. Naik lagi terus melewati gerbang Kawah Putih dan Ranca Upas, lalu turun ke Situ Patenggang. Tak terasa dua jam perjalanan yang dingin terlewatkan dan pemandangan indah danau berada di depan mata. Momen ini mengingatkan saya pada ‘episode’ terindah saya ketika masih menjadi seorang mahasiswa di sebua universitas negeri di kota Bandung yakni nggembel (menggelandang) kemanapun setiap ada waktu libur kuliah. Situ Patenggang di pagi jam 9 hari itu belum begitu ramai. Tetapi volume kedatangan kendaraan roda empat semakin siang semakin tampak nyata. Telaga ini memang termasuk destinasi wisata yang cukup kondang di kawasan Bandung Selatan. Kami langsung menjadi pusat perhatian. Maklum salah satu dari kami adalah selebritas yang wajahnya menjadi idola jutaan pemirsa televisi negeri ini. Alih-alih kami bisa langsung menyiapkan pemberangkatan ke spot tujuan pelepasan bibit ikan, kami malah harus menonton sesi foto bersama dadakan yang digelar oleh para pengunjung Situ Patenggang. Untung saya bukan selebritas, jadi tidak ada yang mengajak foto bersama. Hahaha!

Bibit ikan yang akan kami lepas adalah ikan yang dalam bahasa Sunda disebut ikan nilem. Saya belum menemukan nama Latin dan Inggris untuk ikan air tawar mungil ini. Jumlahnya tidak banyak, hanya 1000 ekor. Tetapi jumlah ini sebenarnya luar biasa mengingat ikan nilem adalah ikan asli Jawa barat yang mungkin saat ini sudah hampir punah. Begitu kata kawan-kawan ENCLAVE yang merupakan ‘rekanan’ BAT dalam acara ini. ENCLAVE adalah kelompok konservatori ikan asli Jawa Barat asal Cianjur yang dikomandani oleh Yoyo Budiman. “Persiapannya terlalu mepet. Kalau saja agak panjang kami bisa menyiapkan bibit yang lebih banyak,” kata Yoyo kepada saya. Tetapi tetap saja jumlah seribu ekor ini adalah berkah luar biasa untuk perairan tawar Jawa Barat yang kini telah mulai kehilangan ikan-ikan aslinya. Program pelepasan bibit ikan asli Jawa Barat ini adalah kali kedua, sebelumya dilakukan di Situ Ciburuy, Padalarang. Setengah jam dari kota Bandung. Tetapi ketika saya menulis catatan ini saya mendengar kabar dari rekan-rekan BAT bahwa bibit ikan nilem yang dilepas di Ciburuy beberapa waktu lalu katanya baru ‘dipanen’ oleh warga sekitar. Menyedihkan!

Program konservasi ikan-ikan asli Jawa Barat ini dilakukan sebagai bentuk keprihatinan pada punahnya ikan-ikan asli lokal seperti ikan nilem, lika, arengan, kancra dan lain sebagainya dari perairan tawar Jawa Barat. Ironisnya, kini ikan-ikan dari luar negeri yang masuk ke Indonesia melalui komunitas ikan hias banyak yang ‘menyerang’ perairan tawar karena banyak yang dilepaskan di perairan tawar publik. Seperti misalnya ikan bawal, golsom, dan bahkan alligator fish asli Amazon, Brazil pun pernah ditemukan di perairan tawar kita! Sehari sebelum saya menulis catatan ini, saya bahkan mendapatkan ikan bawal yang notabene berasal dari Amazon saat memancing di daerah Calingcing, Cianjur, padahal yang saya cari adalah ikan khas Cianjur seperti beunteur dan gengehek. Ini sungguh memprihatinkan!

Akhirnya dengan menyewa perahu kami pun tiba di tepian yang sepi dari pengunjung di Situ Patenggang. Tiga kantong plastik besar berisi bibit ikan nilem mulai dibuka untuk dilepaskan isinya. Sekitar 22 orang terlibat dalam upacara pelepasan ikan nilem ini. Ikan nilem adalah ikan yang sangat cantik. Warnanya keemasan, memilik kemampuan renang super cepat, tetapi tidak bisa tumbuh besar. Ikan ini memiliki daging yang sangat lezat, dan inilah salah satu sebab kepunahannya, yakni habis karena ditangkap untuk konsumsi sejak dulu kala. Bergiliran kami semua mulai melepaskan ikan-ikan cantik ini ke Situ Patenggang dengan diiringi setumpuk doa agar dapat bertahan hidup, aman dari keserakahan manusia ketika masih dalam tahap berbiak, dan ketika sampai waktunya dapat memberi manfaat untuk siapa saja yang memerlukannya. Ikan-ikan mungil cantik ini pun mulai berenang di dalam air telaga yang dingin itu. Mereka berenang dalam kelompok-kelompok kecil dan tampak bebas merdeka. Karena tiba-tiba hujan, kami segera kembali ke areal parkir dan tak lama kemudian kami telah meluncur dalam mobil-mobil kami menuju Bandung. Sepanjang perjalanan pulang, lanskap Bandung Selatan masih tampak menakjubkan. Kabut dan pegunungan nan hijau menghibur mata dan pikiran dengan hebatnya. Di antara kabut dan pegunungan itulah, kami titipkan juga doa-doa kami pada masa depan ikan-ikan asli Jawa Barat. Semoga!

* All pictures (except pic #1 by Diana) by Me. Don’t use or reproduce (especially for commercial purpose without permission). Thanks.
* Foto #1: Saya, Bubung dan Asep berfoto bersama sebelum kami menuju ke spot pelepasan bibit ikan nilem. Foto #2: Situ Patenggang difoto dari jalanan di atas dekat pintu gerbang. Foto #3: Bibit-bibit ikan berada di dalam kantong air.
* Foto #4: Mas DW berbicara dengan para pemancing Bandung. Foto #5: Permukaan air Situ Patenggang. Foto #6: Bibit-bibit ikan sebelum dilepaskan. Foto #7: Profil ikan nilem dari dekat.
* Foto #8: Momen pelepasan bibit-bibit ikan ke dalam air. Foto #9: Close up pelepasan ikan. Foto #10: Kabut tepian hutan Bandung Selatan mengantar kami pulang.

2 comments:

Eko Budi Kuncoro (Ebe) said...

sip ..kasta tertinggi pemancing adalah ..saat memancing di alam mereka berusaha menggantinya..berbagi dengan alam..salam strike

Eko Budi Kuncoro (Ebe) said...

ikan nilem itu kalau di Jawa tengah ya namanya ikan nilem (Osteochillus haselti) banyak di budidayakan di Banyumas, Cilacap dan Purbalingga. itu sayang yang ditebar kok yang albino ? atau yang putih.. warna yang norak kalau di alam biasanya mudah diketahui predator..seharusnya yang warnanya alami atau yang hitam..ikan albino hampir pasti tidak eksis di alam karena daya penyamarannya sangat lemah..

Popular Posts

Google+ Followers