Skip to main content

Semakin Sulit Menemukan Spesies Ikan Asli Bumi Parahyangan

Tayangan Mancing Mania di TRANS 7 sore ini sangat menarik. Bukan karena saya ikut terlibat di dalamnya, melainkan karena ini merupakan salah satu dari banyak jawaban atas banyaknya pertanyaan dari komunitas mancing di negeri ini agar program ini sesering mungkin menampilkan tayangan freshwater fishing entah itu sportfishing ataupun baitfishing (memancing dengan umpan-umpan alami). Kali ini yang diangkat oleh Tim MM Trans 7 adalah dunia mancing air tawar di Tatas Sunda terutama di daerah Bandung dan sekitarnya. Saya tidak tahu dengan pasti, tetapi saya sangat yakin, bahwa memancing di air tawar merupakan bagian dari kehidupan orang Sunda sejak dulu kala. Budaya agraris yang sangat kuat, ditambah dengan kondisi geografis Tatar Sunda yang kebanyakan adalah pegunungan, apalagi karena letak laut sangat jauh dari pemukiman orang-orang Sunda, maka mereka lebih dekat dengan memancing di air tawar dibandingkan memancing ke lautan lepas. Hingga hari ini, komunitas mancing di Tatar Sunda sebagian besar adalah komunitas freshwater fishing.

Meski, menurut saya, baik itu freshwater fishing ataupun saltwater fishing sama-sama menariknya. Freshwater fishing lebih memerlukan ketelitian dan ketekunan yang lebih kuat dibandingan dengan saltwater fishing yang lebih memerlukan kekuatan fisik dan ‘kekuatan’ lainnya. Detail dan ketekunan juga diperlukan dalam saltwater fishing, tetapi masih kalah dengan freshwater fishing yang begitu banyak hal yang harus diperhatikan. Di laut, asal piranti mancing dan umpan sudah cukup, lalu kapal sudah tersedia, kita tinggal tancap gas menuju spot-spot incaran. Memang pasang surut air, kondisi arus, dan lain-lain hal juga akan menentukan keberhasilan kita di laut, tetapi di freshwater fishing terkadang detail yang lain musti diperhatikan dengan lebih detail lagi. Di freshwater fishing mengenai biaya dan mobilitas mungkin lebih mudah karena kita tinggal berkendara menuju spot sungai-danau-ataupun kolam terdekat. Tetapi misalnya kita hendak membicarakan tentang umpan, umpan pellet untuk di air tawar misalnya, ini bisa diracik dalam berbagai kombinasi yang aneka rupa yang mungkin akan membuat pemancing saltwater fishing menyerah.

Kembali ke Freshwater Bumi Parahyangan, judul tayangan Mancing Mania tadi sore, tayangan tersebut memperlihatkan kepada kita bahwa memancing di air tawar di lokasi seperti kolam ternyata juga memiliki keasyikkan tersendiri. Teknik kasting dengan umpan buatan untuk ikan-ikan bawal (ikan pacu) ataupun teknik baitfishing untuk ikan mas (Cyprinus caprio) ternyata juga mampu menghadirkan kegembiraan yang menarik bagi para pemancingnya ataupun para pemirsa. Ditambah dengan dipertontonkannya acara melepaskan bibit-bibit ikan nilem merah ke Situ Patenggang acara ini semakin menarik. Namun dari segi lingkungan, sebenarnya kita patut bersedih dengan kondisi lingkungan perairan tawar di Tatar Sunda saat ini karena melalui Freshwater Bumi Parahyangan tersebut kita bisa melihat bahwa saat ini ternyata tidak mudah menemukan ikan-ikan asli Jawa Barat.

Ini bukan kesalahan Mancing Mania yang membuat episode ini, justru kita harus bersyukur karena diberi pencerahan dan hiburan seperti ini. Ikan-ikan pancingan yang ada di Freshwater Bumi Parahyangan adalah ikan-ikan ‘pendatang’, bukan asli Jawa Barat (kecuali bibit ikan nilem merah yang dilepaskan ke Situ Patenggang, itu adalah ikan asli Jawa Barat, dan ini dilakukan saking prihatinnya para pemancing Bandung karena ikan-ikan asli sudah semakin langka dari Tatar Sunda) dan dan bahkan bukan asli Indonesia. Kita lihat ikan mas (Cyprinus caprio) misalnya. Ikan yang saat ini begitu popular di Indonesia sebagai ikan konsumsi, yang bahkan mungkin sudah dianggap oleh kebanyakan orang sebagai ikan asli Indonesia, sebenarnya adalah ikan asal dari China bagian selatan yang didatangkan ke Indonesia pada jaman Hindia Belanda oleh pemerintah waktu itu. Ikan ini pertama kali dikembangkan di Indonesia di kota Galuh (sekarang Ciamis), Jawa Barat pada tahun 1860an sebelum disebarluaskan ke seluruh penjuru negeri.

Kemudian ikan bawal air tawar (ikan pacu). Ikan yang kini juga sangat popular sebagai ikan pancingan dan ikan konsumsi ini adalah ikan asli dari Brazil! Bukan ikan asli Indonesia. Jika kita melihat dari sisi hobi, ikan pacu memang menawan. Predator dan fighting ability nya sangat mumpuni. Sempurna memenuhi keinginan pemancing yang ingin memacu adrenalin dan menguji teknik bertarung dengan ikan. Tetapi sisi menarik ikan bawal (pacu) ini memiliki potensi bahaya untuk ikan-ikan asli kita karena di air tawar kita saat ini, mereka tidak ada lawannya. Tidak ada yang bisa melawan sifat predatory ikan ini sehingga ikan-ikan asli kita kalah bersaing karena kalah berebut wilayah dan kalah bertarung (ikan-ikan asli kita yang kecil otomatis langsung dimakan oleh ikan bawal yang predator) dengan ikan-ikan bawal. Berikutnya ikan mujaer dan ikan nila.

Mujaer adalah ikan jenis tilapia yang hidup di Afrika. Sangat mungkin ikan ini pertama kali masuk ke Indonesia secara unpublished melalui kalangan tertentu pada jaman Hindia Belanda. Ini jika kita hendak menebak-nebak kemungkinan lain hingga akhirnya nama ikan ini diambil dari nama Pak Mujair, warga Blitar yang menemukan ikan ini di sebuah sungai di Blitar Jawa Timur pada tahun 1936. Ikan nila (Mozambique tilapia), saya baca di Wikipedia, malah baru-baru ini saja dimasukkan ke Indonesia (sekitar 1969-an).

Kemudian ikan lele dumbo. Ini adalah ikan varian baru dari keluarga catfish (ikan berkumis) yang belum lama ada di ‘jagat ikan’ kita (saya belum menemukan sumbernya darimana ikan ini dimasukkan, tetapi saya ingat sekali saat remaja di media pernah heboh tentang ikan lele dumbo ini karena mudah dibudidayakan). Untuk ikan lele lokal kita punya spesiesnya –bagi yang tidak tahu lele lokal bentuk ikan ini persis seperti ikan lele dumbo (lele dumbo warna kulitnya putih hitam) hanya saja warna tubuh lele lokal kemerahan dengan kombinasi kuning dengan patil yang sangat beracun. Mungkin tidak ada yang membudidayakannya karena sulit mencarinya bibit dan indukannya (sapa yang mau kepatil lele lokal?) di habitat aslinya. Secara pribadi saya sangat mengenal ikan lele lokal ini karena ini adalah target pancingan favorit saya waktu kecil saat hidup di kampung karena rasa dagingnya sangat lezat. Rekor terbesar saya dulu mungkin paling besar 1 kg, saya pancing dengan umpan cacing tanah. Sayang sekali dulu di kampung saya (tahun 1987an) tidak ada kamera jadi tidak ada dokumentasinya, jadi tidak bisa pamer di Facebook!

Kondisi ini, langkanya ikan-ikan asli dari perairan tawar kita, harus membuat kita sedih. Tetapi tidak boleh berkepanjangan karena yang perlu dilakukan adalah empati berbentuk aksi nyata. Apalagi Freshwater Bumi Parahyangan telah memberi kita pencerahan, membangunkan kita agar sadar dengan kondisi perairan tawar kita di Tanah Sunda. Dan mereka (Mancing Mania Trans|7) bersama kawan-kawan Bandung Angler Team pun telah memberi teladan yang patut dicontoh oleh siapapun yang peduli dengan semakin hilangnya ikan-ikan asli dari perairan tawar kita sendiri, yakni dengan menebar bibit-bibit ikan asli. Titik-titik embun segar yang ditampilkan oleh satu-satunya tayangan mancing di channel TV Indonesia ini sudah selayaknya dilanjutkan oleh kita semua di perairan tawar publik di sekitar rumah kita masing-masing. Agar anak cucu kita masih bisa mengenal apa itu ikan nilem, apa itu ikan-ikan asli Indonesia lainnya. Menyedihkan sekali jika suatu saat nanti anak cucu kita jika hanya mengenal ikan bawal saja. Ikan yang datang dari tempat yang sangat jauh, dari tempat yang bahkan kita sendiri belum pernah menjejakinya. Salam!

* Foto-foto pelepasan ikan nilem (Osteochilus hasselti atau Strain) di Situ Patenggang. Ikan penghuni air tawar ini bisa tumbuh hingga sepanjang 32 cm dengan berat 100 gram. Ikan ini tersebar di Jawa, Kalimantan dan Sumatera dengan habitat perairan tawar yang bersih. All pictures by Me. Don't use (especially for commercial purposes) without my permission. Thanks.

Comments

Syaiful Rachman said…
Ulasan yg sangat menarik, mudah2an dapat menggugah untuk menyadarkan kita akan kerusakan lingkungan di alam.
Ternyata banyak sekali ikan asli Indonesia yg populasinya sudah jauh berkurang, bahkan dibeberapa daerah sudah punah. Oleh karena itu sekarang saya kalo mancing bukan utk mencari ikan utk dikonsumsi, toh...kalo niatnya mau di konsumsi ngapain cape2 dan buang waktu utk mancing...hehe mending beli aja ke pasar ikan....haha, tetapi sensasi yg tidak dapat terbeli.

Seberapa lama kita bisa mendapat sensasi dari memancing tergantung stok ikannya di alam, oleh karena itu dalam memancing saya cenderung menerapkan sistem tangkap dan lepas (catch, tagging and release), maksudnya ikan yg masih kecil lebih bijak untuk dilepas, supaya bisa tumbuh besar dan punya kesempatan berkembang biak, ikan yg merupakan indukan sebaiknya dilepas agar dapat berkembang biak dialam, ikan indukan yg sedang bunting sebaiknya dilepas, karena jika kita mengambil 1 ekor ikan yg sedang bertelur, artinya kita akan kehilangan stok ribuan ikan dimasa depan, kalopun mau bawa pulang ikan secukupnya saja, 1 atau 2 ekor.

-But I hate pemancing yg serakah= over fishing
-I hate tukang setrum ikan dan tukang racun ikan, bikin punah ikan, dan ikan yg masih hidup akan mandul.
-I hate pemancing yg buang sampah di air, apalagi sampah plastik, perlu waktu ratusan tahun untuk di uraikan, sungai atau danau yg tercemar sampah, tidak akan ada lagi ikannya.
Seiring dengan berjalannya waktu, dimana banyak tempat yg tadinya bagus, banyak yang tergusur, oleh segala aktifitas manusia, mulai, dari penebangan hutan, pertambangan, pembangunan perumahan, oleh karena itu sangat diperlukan keperdulian kita untuk punya andil dalam penyelamatan lingkungan, kalo bukan kita, siapa lagi...? Sangat bijaksana kalo tempat2 yg masih tersisa untuk dijaga kelestariannya.


Salam
"Catch, tagging, photo and release"
for save environment
Rere'sKitchen said…
Mike,

Saya ada rencana trip freshwater fishing ke daerah cianjur selatan. Ada saran spot yg bagus?

Thx yah
Dear Ibu Rere... Trip freshwater-nya gimana? Kolam? atau wild fishing (danau and sungai).... Kalau freshwater wild fishing, mungkin daerah Jangari (dari Situ Patenggang ambil arah selatan langsung ke pantai selatan) masih banyak spot menarik... Sungai juga masih bagus, muara juga bagus.... View sepanjang perjalanan juga sangat indah.... Cuma mungkin kendaraan emang harus fit banget karena tanjakan dan turunannya lumayan menantang... Semoga membantu....