Monday, 12 April 2010

Akhirnya trip ini usai. Tadi siang pukul 13.00 WIT (atau pukul 11.00 WIB) kami semua telah merapat kembali di Fakfak usai menempuh 50 mil perjalanan dari spot yang disebut Air Kiti Kiti. Sebuah spot yang sangat lengkap (ideal) karena di lokasi ini semua teknik mancing bisa diaplikasikan. Fakfak masih seperti kami tinggalkan pada tanggal 7 April yang lalu, udaranya masih panas dan Kota Pala ini tetap memiliki jalanan yang berkelak-kelok dan naik turun tajam akibat kontur kota yang berbukit. Baiklah mari kita menengok ke belakang, ke enam hari yang lalu saat kami semua (10 pemancing + 10 kru lokal) mulai meretas kisah mancing kami di sini.

Tanggal 7 April kamai semua meninggalkan Fakfak dengan dua speedboat kecil menuju Air Kiti Kiti. Meski masing-masing speedboat didorong oleh 2 dan 3 mesin 40 PK, namun kami masih memerlukan waktu 4 jam lebih untuk sampai di lokasi. Lautan tenang seperti kaca dan arus sangat lemah sejak kami meninggalkan Fakfak (dan hal ini akhirnya terjadi hingga tadi pagi kami meninggalkan lokasi). Pukul 14.00 WIT kami tiba di lokasi. Camp site kami telah berdiri. Tenda besar untuk makan atau berkumpul bersama, tenda logistik dan bahkan dapur. Bahkan, makan siang telah disiapkan oleh kru lokal kami yang terdiri dari orang-orang asli papua. Tinggal tenda-tenda pribadi untuk kami saja yang belum didirikan. Lokasi camp site sangat keren karena hanya beberapa langkah saja dari sebuah mata air besar dan juga air terjun besar. Sungguh menarik, di belakang kami gunung dan hutan lebat, di kiri-kanan adalah mata air dan air terjun, di depan kami adalah lautan. What a nice place!

Hari pertama kami hanya casting dengan light tackle saja di sekitar camp site untuk mengisi waktu. Trip yang serius baru dilakukan pada tanggal 8 April 2010. Dalam dua kapal berbeda kami menelusuri lokasi-lokasi yang berbeda pula. Namun jaraknya tidak terlalu jauh dari camp site, paling jauh mungkin sekitar 5 mil saja dari tenda kami berdiri. Kapal Tani, kapal utama, diisi oleh orang-orang tua yang hanya ingin menghibur diri saja tanpa terlalu peduli dengan hasil mancing. Speedboat kedua yang lebih kecil diisi oleh orang-orang yang masih ‘muda’ dan ambisius untuk menaklukkan ikan-ikan besar. Di tim kedua ini saya ikut sebagai tukang ‘mengambil gambar’ dan sesekali mencuri waktu dengan ikut mancing baik itu popping ataupun jigging. Hasil tanggal 8 kurang bagus, karena arus ternyata masih sangat lemah. Pasangs urut air juga sangat rendah. Spot-spot popping di sini yang biasanya dipenuhi GT monster hanya berisi ikan-ikan umpan saja tanpa ada ‘preman’-nya. Tetapi tim light casting malah sukses besar karena mereka berhasil mendapatkan tangkapan yang lumayan dengan piranti mereka; ada bluefin trevally, kuwe lilin, kerapu, dan bahkan mangrove jack. Sangat menyenangkan melihat ekspresi orang-orang berumur up 60 tahun ini menceritakan kisah casting mereka.

Tanggal 9 April hasil juga masih buruk karena arus juga masih sangat lemah. Laut tetap flat seperti kaca. Menyebalkan sekali mancing di kondisi seperti ini. Popping mentok. Light casting mentok. Trolling susah dapat sambaran. Jigging juga mentok. Disini saya sempat berfikir trip kemungkinan akan gagal. Padahal masih ada 3 hari tersisa (dua hari untuk mancing, 1 harinya untuk kembali ke Fakfak). Praktis selama tanggal 9 ini kami hanya remuk ‘dihajar’ oleh popper dan metal jig kami tanpa ada hasil yang menarik. Namun untuk light casting hasilnya tetap menarik karena beragam strike didapatkan oleh kawan-kawan kami yang terdiri dari pemancing-pemancing tua asal Surabaya, Tulungagung, Bandung dan Samarinda. Tetapi masak iya sudah jauh-jauh ke Fakfak, dan lalu camping 6 hari di lokasi terpencil yang perawan, kami mau hanya memancing ikan berukuran 2 kiloan??? Bahkan pemancing Surabaya yang bernama Kosing, yang umurnya sudah mendekati 70 tahun pun berkata,”Pokoke aku pengen entuk iwak sing guedhe!” Pokoknya, saya ingin dapat ikan yang buesarrr!

Esok harinya hasil popping mulai menarik. Beberapa GT besar berhasil didapatkan, namun sial saya hanya mendapat yang kecil saja. Sebuah popping rod dari sebuah merk kelas menangah patah saat kami bermain di Tanjung van Den Bosch. Padahal ikannya gak monster-monster amat lho?! Jadi ternyata benar kata kabar di forum-forum, ada sebuah merk popping rod yang banyak KO di lapangan. Padahal popping rod yang patah itu baru dibeli dua bulan yang lalu! Gila! Tim santai yang berada di Kapal Tani juga sukses menaikkan beberapa ikan pelagis dengan teknik trolling dan juga mendapatkan ikan-ikan dasar dengan bottom fishing. Mulai ada titik cerah bahwa alam mulai berpihak kepada kami. Jadi di hari ini kami bisa berbagi cerita dan makan malam dengan sangat serunya saat sudah berkumpul di camp site. Apalagi kebanyakan orang-orang Surabaya yang suka sekali ngobrol itu, suasananya menjadi seperti sedang ada acara ludruk, kesenian tradisonal khas Jawa Timur yang selalu diselingi humor-humor segar yang memancing gerrrrrr penontonnya. Sore hari hasil jigging tim kedua cukup menarik karena banyak mendapatkan beberapa ikan dogtooth tuna (meski sizenya biasa saja) saat jigging di sebuah reef sedalam 90an meter yang terletak 4 mil di ‘depan’ Air Kiti Kiti.

Tanggal 11 April tim kedua akhirnya fokus jigging. Hasilnya sangat menarik. Ada dogtooth tuna, ruby snapper, dan juga amberjack. Namun karena kami tidak full sepanjang hari jigging, sesungguhnya trip ini lebih banyak santainya dibanding mancingnya, secara total jumlah tangkapan tidak terlalu banyak. Namun jika dilihat dari waktu jigging kami yang hanya 5 jam-an, hasil kami dapat dikatakan luar biasa. Ikan cukup banyak dan sizenya juga lumayan. Satu jigging rod patah saat dipakai fight dengan ruby snapper besar. Jigging yang kami lakukan adalah dengan teknik drifting karena kapal kecil kami tidak memiliki tali jangkar yang panjang dan juga spot-spot jigging yang kami pancingi adalah spot jigging baru yang kami temukan dari ketekunan menurunkan metal jig. Jadi kami sendiri sebenarnya juga tidak yakin apakah benar-benar di situ hot spotnya atau bukan. Takutnya kalau sudah pasang jangkar ternyata malah salah, daripada menghabiskan waktu lebih baik drifiting saja bolak-balik.

Jadi setelah sempat pesimis di dua hari pertama, trip ludruk-an ini akhirnya usai dengan kesuksesan. Untuk popping mungkin kami gagal karena faktor arus yang tidak mendukung aplikasi teknik ini (dan juga karena potensi popping di sini semakin 'surut' akibat matinya terumbu karang akibat racun dan bom ikan), namun untuk jigging mungkin kamilah yang pertama dengan jelas dapat memastikan (setelah beragam trip sebelumnya pemancing lain hanya meraba-raba saja potensi jigging di Fakfak) bahwa Fakfak juga sebuah jigging ground yang mantap! Jadi meski tadi pagi kami mesti berjubel di dalam kapal dengan segunung barang-barang menempuh perjalanan camp site-Fakfak selama 4 jam, hati kami tidak bosan dan gundah sama sekali karena jelas sekali kami membawa pulang kenangan yang mungkin tidak pernah akan terlupakan di fishing ground bernama Air Kiti Kiti. Salam dari ‘ibukota jigging’ di Kabupaten Papua Barat, Fakfak!

* All pictures by Me, Dadan Ardiansyah and also by my friend Cepy Yanwar. Don’t use or reproduce (especially for commercial purposes) without our permission. Especially if you are tackle shop, please don’t only make money from our pics without respect!!!
* Foto 1: Mas Dudit Widodo & Handoko. Foto 2: Me and ruby snapper. Foto 3: Foto bersama all team and kru lokal Papua di camp site. Foto 4: Air Kiti Kiti dari dilihat dari Tanjung Patar. Foto 5: Suasana sore di camp site, asap adalah tanda sedang ada aktifitas memasak dan atau membuat api unggun untuk mengusir nyamuk dan agas. Foto 6: Senja dilihat dari camp site. Foto 7: Inilah air terjun Air Kiti Kiti. Foto 8: Si jangkung, saya lupa namanya, sedang asyik berusaha menyerok kawanan ikan tembang yang bermain di depan camp site. Foto 9: Telepon satelit menjadi satu-satunya alat berhubungan dengan dunia luar. Foto 10: Dua buah kapal mancing kami. Foto 11: Kamera beristirahat usai melaut dan saatnya ikan bakar/asap. Foto 12: Terumbu karang di Air Kiti Kiti banyak yang mati juga. Foto 13: Popping rod yang patah. Foto 14: Dadan Ardiansyah dengan ruby snapper hasil jigging. Foto 15: Ming, Dadan & Handoko dengan dogtooth tuna hasil jigging. Foto 16: Ming dengan ruby snapper hasil jigging.
* JANGAN SAMPAI KETINGGALAN TAYANGAN TRIP INI HANYA DI MANCING MANIA TRANS 7!!!

1 comments:

Hageng JogjAngler said...

Mantap nan...sip ditunggu reportnya di media...

Salam

Popular Posts

Google+ Followers