Thursday, April 15, 2010

Pertama kali mendengar tentang Provinsi Sulawesi Barat adalah ketika saya berada di Sangatta, Kutai Timur. Saat itu sedang berlangsung Nusantara Fishing Tournament 2009 (Oktober) yang digelar oleh Pemda Kutai Timur. Dan kebetulan awak kapal (kapten dan abk) yang saya ikuti adalah orang-orang dari Mandar (Kabupaten Polewali-Mandar), sebuah kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat dekat Majene. Saya sangat terkesan dengan orang-orang Mandar tersebut karena sangat tangguh dan mahir di laut, rajin dan sangat menghargai ‘tamu’nya. Sayang sekali saya tidak bisa lagi menghubungi para awak kapal ini yang berada dibawah ‘komando’ Kapten Basri itu untuk sekedar berkirim kabar dan mengucapkan terimakasih atas pencerahan tentang kerja keras dan keteguhan saat diamuk badai di Selat Makassar beberapa bulan lalu. Tadi sore saya coba kembali menghubunginya dengan menelepon nomer hp yang pernah dia kasih di tengah Selat Makassar beberapa bulan lalu untuk sekedar mengabarkan diri bahwa akhirnya tercapai juga niat memancing di Sulbar, ‘rumah’ Basri.

Selama ini, sejauh saya ketahui, sangat jarang sekali ada report saltwater sportfishing dari daerah Sulawesi Barat. Apalagi dari Mamuju, ibukota Sulawesi Barat. Beberapa kawan pemancing yang saya tanyai malah berbalik bertanya,”Dimana itu Mamuju?” Saya masih cukup beruntung rupanya karena tidak tahu report memancing-nya saja, orang lain malah ada yang tidak tahu secara posisi geografisnya Mamuju. Jadi hingga kemarin malam saat masih di Horison, Makassar saya belum tahu sama sekali bagaimana kondisi potensi sportfishing di perairan Mamuju. Satu-satunya yang sudah saya tahu hanyalah tide table (table pasang surut) keluaran EasyTide.Com dan juga informasi mengenai tepian pantai di Mamuju berdasarkan penggambaran Google Earth.

Jika melihat pada table pasang surut keluaran EasyTide.Com, maka terlihat sekali bahwa naik-turunnya air di lautan Mamuju sangat tinggi dan cukup drastis grafiknya. Sangat mungkin, jika hendak mengaplikasikan teknik memancing dasar (bottom) ataupun jigging di sana nanti akan sedikit repot karena arus yang sangat kencang/kuat. Namun ini merupakan ‘celah’ untuk aplikasi teknik lain misalnya popping. Trolling bisa menjadi pilihan terbaik saat teknik-teknik tersebut di atas tidak lagi. Namun jika kedua teknik tersebut kurang memuaskan hasilnya maupun agak sulit diaplikasikan di sana, maka popping bisa menjadi solusi terbaik. Perairan Mamuju menurut seorang kawan memiliki tepian pantai yang bertebing-tebing terjal. Dan hal ini juga tampak jika kita melihat peta Mamuju di Google Earth. Memang survey untuk sportfishing dengan hanya mengandalkan sounding ke orang-orang bukan pemancing, peta dan tide table saja tidak cukup dan gambaran yang didapatkan pun biasanya jauh dari memadai. Namun setidaknya kita tidak berdiam diri menjadi ‘katak’ di dalam tempurung tho?!

Dan siang tadi pukul 12.00 WIT saya, Cepy Yanwar dan ‘kapten’ Dudit Widodo pun akhirnya mendarat di Bandara Tampa Padang dengan menggunakan pesawat ATR 72-500 milik Wings Air. Penerbangan dari Makassar-Mamuju perlu waktu 50-an menit. Thanks to Wings Air yang telah membuka trayek ke sini (penerbangannya tiap hari pula), karena jika tidak, maka satu-satunya cara untuk sampai di Mamuju adalah dengan mendarat 12 jam menyisir pantai barat Sulawesi dengan mobil! Tadi di pesawat jumlah penumpang tidak banyak karena ini jalur baru dan juga bukan weekend. Tetapi mungkin jika semua aktivitas di Mamuju sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Barat nanti telah normal, maka penerbangan antara Makassar-Mamuju akan sangat sibuk. Agak sayang jarak antara bandara dengan kota cukup jauh, sekitar 40 kilometer. Namun karena di sini mobil tidak banyak jadi terasa cepat saja jika ditempuh dengan kendaraan roda empat.

Memasuki kota Mamuju yang kecil, kata kawan kami di sini saking kecilnya kota maka jika ada jarum terjatuh maka seluruh kota akan bisa mendengarnya, dimana-mana tampak sedang terjadi pembangunan besar-besaran untuk menahbiskan Mamuju sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Barat. Mulai dari gedung-gedung perkantoran skala besar, tempat ibadah besar nan megah, dan bahkan hotel berbintang dengan ratusan kamar tampak sedang dibangun. Bisa dibayangkan nanti jika Mamuju sudah benar-benar lengkap sebagai ibu kota, maka kota kecil ini akan tampak ‘mengkilat’. Semoga semua pembangunan Mamuju untuk menunjang fungsi-nya sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Barat segera selesai. Saat ini, sambil menunggu datangnya senja untuk berkeliling kota dan melihat keramaian kota yang mungkin ada (kabarnya kita bisa nongkrong di pantai jika senja) sebelum esok turun ke laut, maka saat ini kami cukup tenang ‘berteduh’ di sebuah hotel yang saat ini menjadi yang terbaik di seluruh Mamuju yakni Srikandi Hotel. Kapten Basri, andai engkau dan semua abk-mu bisa melihat bahwa kini aku berada di dekat rumahmu, dan juga akan memancing lautan di ‘depan’ rumahmu... Semoga kalian selalu baik-baik saja di laut sana dan selalu tegar menghadapi gelombang hidup. I wish all your fishing wishes come true. Tigh lines!!!

* All pictures by Me. Don’t use or reproduce (especially for commercial purposes) without our permission. Especially if you are tackle shop, please don’t only make money from our pics without respect!!!
* Foto 1-3: Mamuju dilihat di Google Earth. Foto 4: Peta Provinsi Sulawesi Barat. Foto 5 & 6: Wings Air take off dari Bandara Hasanudin, Makassar on 10.00 WIT dan landing di Bandara Tampa Padang, Mamuju 50 menit kemudian. Foto 7: Tabel pasang surut daerah Mamuju untuk seminggu ke depan berdasarkan EasyTide.Com. Foto 6: Masjid Raya Mamuju sedang dibangun. Foto 8 & 9: Hotel berbintang lima Maleo sedang sedang dalam pembangunan. Tampaknya akan menjadi hotel terbesar di sini dalam waktu dekat ini. Dibangun di lahan reklamasi di dekat 'boulevard'-nya kota Mamuju. Foto 10: Srikandi Hotel. Foto 11: Pantai ini jika sore hari katanya adalah pusatnya keramaian di Mamuju. Foto 12: Pulau Kareumpang di 'depan' Mamuju.

0 comments: