Saturday, 29 May 2010

Untuk kawan-kawan mancing di Surabaya lainnya, MAAF kami datang diam-diam tanpa memberi kabar dan juga singgah… Karena waktu sangat sempit sementara pekerjaan yang harus kami lakukan sangat banyak…

Surabaya. Sejak saya kecil hingga sekarang ibukota Jawa Timur ini tak pernah benar-benar jauh sama sekali. Maksud saya dari hati saya. Dari desa saya diahirkan dulu, di sebuah desa di pegunungan dekat pantai di daerah Malang Selatan sana memang jaraknya 150 km. Dua jam lebih jika kita berkendara dengan kecepatan 60 km per jam. Dari kota Malang sendiri mungkin hanya sekitar 90-an km saja. Namun karena sejak kecil saya sudah sering sekali main ke kota ini untuk berkunjung ke saudara-saudara yang tinggal di sana, meski jauh kota ini tidak pernah terasa jauh sama sekali. Dan bahkan selepas menyeleseaikan pendidikan menengah atas di Blitar pada tahun 1997-an saya sempat menitipkan mimpi di kota ini selama kurang lebih satu tahun lamanya sebelum saya meninggalkannya untuk merajut mimpi di Bandung, Jawa Barat untuk melanjutkan pendidikan di Kota Kembang tersebut.

Ketika saya berada di Bandung, kota Surabaya yang namanya konon diambil dari nama sura (ikan hiu) dan baya (buaya) -karena di muara-laut di kota ini konon pada jaman kuno dulu adalah daerah tempat ikan hiu dan buaya berebut daerah kekuasaan- sempat terlupakan karena keasyikan berada di Bandung. Dan malam hari di tanggal 17 Mei itu, setelah hampir 11 tahun kemudian (sebenarnya tidak persis seperti itu karena dalam kurun waktu itu sudah beberapa kali saya singgah di sini), saya kembali menjejak kota yang panas ini setelah pesawat menerbangkan saya dari Jakarta selama 1 jam 20 menit lamanya.

Bandara Juanda -menurut saya Juanda adalah bandara termegah di negeri ini setelah Soekarno-Hatta di Jakarta- saya jejak ketika malam telah beranjak pada pukul 20.00 WIB. Seorang kawan dekat, pemancing terkenal negeri ini yang namanya begitu kondang, Rudi Hadikesuma, menjemput saya-Kapten Dudit Widodo-dan rekan saya Cepy (kameraman) dengan senyum lebar. Biasanya pertemuan antara Tim Mancing Mania dengan Rudi hadikesuma selalu berarti bahwa sebuah ekspedisi mancing skala besar ke fishing ground ‘gila’ dengan target ikan-ikan berukuran monster sedang dilakukan. Namun kali ini tidak. Kami sedang ingin bermain-main di ‘halaman’ rumah saja. Benar, kami rencananya akan memancing ikan-ikan dasar di perairan Selat Madura. Tepatnya di rumpon-rumpon milik Marlin Fishing Club Surabaya (MFC Surabaya). FYI, MFC Surabaya adalah salah satu klub mancing paling terkenal di negeri ini karena terdiri dari orang-orang kaya yang gila mancing dengan destinasi ke seluruh penjuru negeri dan bahkan ke seluruh dunia. Untuk menjadi anggotanya saja konon iuran pertama-nya hanya adalah 20 jt! Klub ini punya kapal mancing sendiri dan lain sebagainya. Klub mancing paling keren di Indonesia!

Dan malam selama di Surabaya adalah malam yang sangat panjang. Hingga kami tak sadar (tepatnya tak mau tahu) bahwa esok pagi-pagi sekali kami semua sudah harus melaut. Tetapi memang tak ada tidur cepat jika kita bertemu kawan-kawan dekat. Apalagi jika tema utamanya adalah mancing. Ada saja yang dibicarakan. Mulai dari kisah-kisah mancing terbaru yang baru saja dilakukan, sampai produk-produk mancing terbaru yang dikeluarkan oleh produsen tackle. Dan bahkan hingga pada tips dan trick mengatasi sakit pinggang saat umpan disambar ikan-ikan besar. Hahahaha… Begitulah, dengan badan dan mata yang masih sangat ingin terbaring di kasur empuk, pagi pukul 06.00 WIB kami semua telah berada di Dermaga PORAS Jatim (berada di daerah Tanjung Perak juga), di sinilah salah satu kapal mancing milik MFC Surabaya ditambatkan. Pak Hengky, salah satu pendiri dan motor-nya MFC juga ada di sana.

Kapal mancing milik MFC yang ditambat di sini adalah kapal mancing yang memang peruntukkan utamanya adalah untuk bottom fishing. Saya lupa namanya, Putri apa gitu namanya. Panjang sekitar 12 meter dengan lebar sekitar 2.5 meter. Modelnya kalau saya tak salah ini adalah model center console, model yang memang diproyeksikan lebih untuk bottom fishing. Didorong dengan mesin 200PK dua buah, kapal ini laksana torpedo yang membelah Selat Madura. Dan selama hampir 7 jam lamanya kami hilir mudik di perairan ini, lebih sibuk daripada kapal patroli perairan sekalipun. Karena ternyata MFC memiliki banyak sekali rumpon. Mereka menanam rumpon-rumpon ini atas inisiatif dan dana sendiri. Rumpon yang dijadikan lokasi mereka mancing iseng saat mereka tidak bisa melakukan trip mancing ke tempat-tempat yang jauh. Jadi jujur saja trip mancing ke rumpon mereka lebih cocok disebut trip mancing iseng. Karena kalau mau serius mereka akan mancing ke Papua, NTT atau ke luar negeri, tempat ikan-ikan besar berada. Namun yang namanya mancing, mau iseng atau serius selalu menarik, apalagi jika bersama MFC karena tampaknya mereka semua adalah jebolan Srimulat (group lawak) semua. Hehehehe…

Selain guyonan khas Suroboyoan yang seakan tak pernah habis itu, yangs aya suka jika berada di antara orang-orang Surabaya adalah pada karakter mereka yang terus terang saat berbicara dan juga pada sifat egaliter mereka. Tidak ada yang ditutup-tutupi dan semua orang adalah setara. Dan jika sudah begini, mancing dasar selama 7 jam lamanya pun seperti baru 30 menit saja. Sebagian besar ikan yang kami pancing adalah kakap merah (red snapper), lalu cukup banyak juga ikan-ikan kuwe kecil dari jenis spotted trevally, dan sejumlah kecil ikan kerapu (grouper).

Mancing dasar bersama MFC adalah mancing dasar yang ideal. Karena meski kami memancing di lokasi rumpon yang konon pasti selalu ada ikannya, kami juga ditunjang dengan teknologi yang cukup. GPS, sounder dan Fish Finder dari kelas yang sangat baik adalah perangkat yang ada di kapal. Dan rumpon mereka ternyata sangat banyak, puluhan, sehingga kami tak perlu takut pulang dengan tangan kosong karena jika satu rumpon sedang kosong kami tinggal pindah ke rumpon berikutnya.

Akhirnya semua pulang dengan hati senang. Saya termasuk diantaranya karena selain akan membawa pulang ke Jakarta sebuah episode bottom fishing yang menarik saya juga terpuaskan banyaknya strike yang saya dapatkan. Pukul 19.00 WIB kami kembali merapat kemalaman di Dermaga PORAS Jatim. Badan saya sangat lelah, apalagi sejak dari Jakarta saya sudah menderita flu dan batuk berat juga demam. Namun Tour Jawa Timur belum selesai, karena keesokan harinya kami akan langsung berangkat ke Kediri (3 jam dengan mobil dari Surabaya), konon ada kolam mancing yang berisi ikan-ikan air tawar ber-size jumbo disana. Tunggu ya, nanti saya posting di sini kisahnya. Salam!

* All pictures by Me. Don’t use or reproduce (especially for commercial purposes) without our permission. Especially if you are tackle shop, please don’t only make money from our pics without respect!!!
* Foto #1: Alung dengan red snapper jumbo. Foto #2: Foto rame-rame sebelum pulang. Foto #3:Peta Jawa Timur. Foto #4: Surabaya dari ketinggian. Foto #5: Pick up-drop zone di Juanda. Foto #6-#7: Boat center console milik MFC Surabaya. Foto #8: Didorong dengan dua mesin 200 PK memang nyuuuut! Foto #9: Salah satu fasilitas di kapal ini adalah sea map dari Blue Chart. Foto #10-#12: Salah satu motor MFC Surabaya adalah Om Hengky (Foto #11). Foto #13: Rame-rame pamer ikan. Foto #14: Halim-Kapten Dudit Widodo-dan saya.
* Jangan lewatkan tayangannya hanya di MANCING MANIA TRANS 7!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers