Friday, 25 June 2010

Untuk seluruh Parasastra dimanapun kalian berada…

Hari ini lumayan menarik. Waktu bekerja terasa berjalan lambat sehingga ada beberapa hal pribadi bisa dilakukan. Flu yang mulai berkurang meski batuk masih menyerang membuat pikiran lumayan ringan. Saya tak yakin hendak melakukan aktivitas apalagi di malam yang digoda rintik hujan seperti ini selain tidur. Tetapi sepotong masa lalu berkunjung yang membuat saya merasa perlu untuk menuliskan barang sepotong kalimat untuk mensyukuri kedatangannya. Seorang ‘adik’ di klub fotografi yang saya bentuk empat tahun lalu di Kampus Sastra UNPAD, Jatinangor, mengabarkan bahwa bersama beberapa kawan satu klub mereka akan melakukan perjalanan panjang Bandung-Lombok demi memuaskan hasrat ‘menjepret’. Dan saking kaget dan gembiranya saya tak tahu harus berkata apa. Ini membanggakan saya, bahwa sebagai seorang anak kuliahan dengan berbagai keadaan yang kadang menjadi keterbatasan menutup ruang gerak, mereka tetap semangat untuk mengisi hari-hari mereka dengan sesuatu yang luar biasa menarik dan berani. Semoga perjalanan dan misi kalian sukses kawan!

Ada banyak program mendatang yang menarik yang disepakati saat kami berkumpul di Puncak tanggal 7-9 Mei 2010 lalu dalam rangka merayakan ulang tahun Parasastra ke-4 (yang tepatnya jatuh pada 5 Mei). Salah satunya adalah membuat buku kumpulan foto dengan konsep yang agak unik sehingga tetap bisa dikonsumsi publik meski sebenarnya tujuan utamanya adalah untuk konsumsi intern. Dan salah seorang kawan yang in-charge dalam tugas tersebut ternyata malam ini juga menghubungi saya. Kebetulan yang menarik. Dua kawan Parasastra tanpa janjian melakukan kontak dengans aya untuk hal yang semuanya sangat menarik. Puji Tuhan! Dan karena foto-foto dokumentasi ulang tahun ke-4 Parasastra itu masih juga bermalas-malasan di dalam hard disk saya, alangkah baiknya jika mereka dibangunkan agar menemani coretan ini melewati gerimis malam yang tak juga mampu mengusir panasnya Jakarta ini.

Menengok ke belakang, Parasatra didirikan sebagai wadah pembelajaran fotografi dalam arti seluas-luasnya. Kondisi kegiatan kemahasiswaan Kampus Sastra UNPAD pada saat Parasatra dideklarasikan pada tanggal 5 Mei 2006 mulai kurang menarik terutama untuk mahasiswa/wi yang haus akan kegiatan positif di luar jam perkuliahan. Ada kecenderungan dari birokrat kampus untuk mengarahkan agar aktivitas mahasiswa melulu memikirkan kuliah saja. Ini agak kurang populer di sebagian kecil mahasiswa/wi yang juga ingin mereguk ‘nikmatnya’ penjelajahan ide dan kreatifitas selama mereka berada di bangku kuliah. Telah banyak sebenarnya UKM kampus yang mencoba mewadahi kehausan mahasiswa/wi akan aktivitas luar kuliah yang menarik, namun dari tahun ke tahun UKM yang ada ya itu-itu juga dengan kegiatan yang itu-itu juga). Sebagian UKM malah mulai loyo dan ‘bobo’ karena gagal regenerasi yang berakibat pada macetnya organisasi dan kegiatan-kegiatannya.

Saat itu Parasastra hadir dengan berbeda dan akhirnya menjadi pilihan baru yang cukup menarik untuk masyarakat Sastra UNPAD. Fotografi selalu identik dengan kamera dan melulu memotret atau membahas foto. Parasatra mencoba menawarkan pilihan baru dengan tidak menjadi ‘agen’ bodoh dalam kemayu dan konsumtifnya dunia fotografi saat ini. Parasatra menjadi sebuah komunitas yang udik namun penuh harga diri. Didirikan oleh delapan mahasiswa yang tidak semuanya memiliki kamera foto SLR namun semuanya mencintai fotografi dan mencoba mendapatkan sesuatu yang penting untuk langkah hidup masing-masing melalui fotografi. Karena semuanya mencintai fotografi dan biar bagaimanapun kamera juga tetap diperlukan, kata solidaritas menjadi kunci keberhasilan komunitas kecil ini bertranformasi menjadi komunitas yang mampu bersuara cukup keras di kampus, di Jatinangor dan bahkan di Bandung. Kini setelah memiliki empat angkatan, Parasatra bahkan telah menyeberangi Selat Sunda menuju Sumatera dan juga berkeliling seluruh Jawa untuk berbagi cerita dengan banyak orang. Sebentar lagi Parasatra akan mencoba ‘melihat’ Bali dan Lombok.

Yang ditekankan dengan kuat di Parasatra sejak hari pertama kelahirannya adalah bahwa Parasatra harus menjadi wadah pembelajaran fotografi yang luas. Dan sangat tegas disepakati bahwa dalam regenerasi tidak ada "cara-cara kuno" seperti mirip ospek kampus misalnya. Tidak harus semua ‘jebolan’ Parasatra menjadi fotografer, atau diarahkan menekuni fotografi doang selama berkegiatan. Melainkan bagaimana seseorang anggota Parasatra mampu menjadi individu yang memiliki nilai plus di mata orang lain dengan hal-hal yang berguna. Dan itu bisa apa saja. Tentunya yang baik. Seorang kawan saya, yang nomor anggotanya adalah 001 malah menjadi pegawai bank. Padahal jujur saja tidak ada kaitan yang kuat antara Sastra Unpad dan fotografi dengan bank. Ada kawan yang kini menjadi videographer sukses di Jakarta. Semuanya ketika ditanya kenapa bisa sehebat demikian jawabnya,”semua karena kita dulu pernah belajar ‘hidup’ besama di Parasastra”. Dulu kami sering menjadi orang-orang aneh di mata dosen dan kawan-kawan kampus karena sering sekali merusak pemandangan selasar kampus dengan memajang karya-karya kami di tembok atau di kain-kain hitam yang kumal. Dulu mereka mengejek kami dengan segala keterbatasan kami. Kini mereka, terutama kampus, ikut harum namanya karena nama mereka kami bawa kemana-mana. Tetapi apakah mereka peduli? Karena biar kita sebaik apapun, selalu sulit merubah pandangan kaum ‘mapan’ dengan kenyataan-kenyataan yang baru.

Untuk kawan-kawan Parasastra dimanapun kalian berada saat ini. Kemarin di Puncak tidak semua dari kita bisa berkumpul. Tetapi harap diingat, kita dulu dan kemarin pernah menggantungkan mimpi bersama. Mimpi sederhana pada sebuah hidup yang berwarna dan menarik yang coba kita wujudkan melalui ‘jalan’ fotografi. Aku tahu, hidup tidak selalu seindah harapan. Dan adalah wajar jika kita kemudian mencari solusi yang terbaik untuk masing-masing. Tetapi aku yakin, bahwa Parasastra telah ikut menyumbang pada semangat dan ketangguhan kalian saat ini dalam melayarkan perahu kalian masing-masing sdalam hidup keseharian yang bermartabat dan penuh kebaikan. Kita pernah berkumpul dahulu dan kemarin lalu. Jangan dilupakan bahwa kita masih memiliki janji untuk kembali bertemu untuk berbagi kisah dan berbagi semangat lagi. Kita telah membangun rumah bersama yang sederhana, tidak ada alasan bahwa kalian tidak tahu jalan untuk kembali. Apapun kalian saat ini dan dimanapun kalian berada, jangan pernah ucapkan selamat tinggal. Sampai jumpa!

* Foto-foto diambil oleh member-member Parasastra selama acara berlangsung. Sorry guys gw lupa sapa aja yang njepret foto-foto ini...

2 comments:

Muhammad said...

Semoga selalu semangat teman-teman
FIGHT FOR THE GLORY OF PHOTOGRAPHY

vanillawork said...

aaaaaakkkk ... bang mikeeee....

Popular Posts

Google+ Followers