Sunday, 15 August 2010

Untuk kawan-kawanku para pemancing tebing di Malang Selatan, Jawa Timur.

Terkadang, kita kembali ke rumah dengan cara yang aneh. Tidak terencana dan karenanya tidak bisa melakukan banyak hal selayaknya sedang pulang ke rumah seperti kepulangan yang telah dipikirkan jauh-jauh hari sebelumnya. Tetapi kita tidak bisa selalu menyesali cara kepulangan yang aneh itu karena bisa jadi diri kita telah terikat dengan sesuatu yang baru yang menuntut tanggung jawab dan totalitas. Demi itu semua, rumah pun bisa menjadi tersingkirkan ke urutan kesekian dari daftar prioritas keseharian. Tetapi kita tidak 100% salah dengan ketidakmampuan pulang ke rumah dengan cara yang wajar itu. Meski sangat disayangkan kesempatan untuk menikmati rumah menjadi terbuang, di sisi lain mungkin sedang melakukan sesuatu yang terbaik saat dulu sekali bertekad meraih sesuatu di ‘luar’ rumah kita. Selama seminggu lebih berada di kota Malang (21-27/8/2010), dan lalu geser ke selatan selama tiga hari ke daerah Malang Selatan, puji Tuhan saya masih diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di rumah selama satu jam. Ini juga sebuah berkah yang tetap harus disyukuri.

Perjalanan ke Gunung Semeru(3676 m dpl) seminggu sebelumnya ternyata belum menghasilkan sesuatu yang cukup untuk dibawa kembali ke Jakarta. Ranu Kumbolo (2400 m dpl) terlalu misterius dan megah untuk kami kenal dengan baik dalam waktu yang singkat. Danau di ketinggian yang begitu dingin dan sunyi ini memerlukan keteguhan dan kesunyian yang panjang juga jika kita ingin berhasil memancing di sana. Dan itu tidak mudah karena kita harus berjuang dengan tulang yang merintih dipeluk dingin yang seakan menjelma irisan tipis tajam nan perih itu. Selain itu selama di Ranu Kumbolo juga terlalu banyak acara, dan memang acara utama selama di sana sebenarnya bukan mancing melainkan bergebung bersama para petualang yang sedang mengucap syukur pada peringatan kemerdekaan negeri ini. Mereka memang mendahului hari yang seharusnya (17/8), namun ini lebih baik karena setidaknya mereka melakukan hal positif untuk memperingati kemerdekaan negeri ini. Dan memang sedikit rumit jika berada di gunung ini pada 17/8 karena ribuan orang akaan berdesak-desakan naik. Kesunyian dan kedekatan dengan alam yang dicari biasanya menjadi hilang.

Bergerak ke pedesaan di selatan menjadi pilihan yang paling realistis karena lokasi di daerah ini memungkinkan bagi kami untuk melanjutkan usaha-usaha pembuatan pertunjukkan ikan ini. Memang di selatan daerahnya tidak sehijau Malang bagian utara, dan tidak juga semakmur daerah utara yang subur dan kaya itu. Pemandangannya juga tidak seindah di bagian utara dimana mata kita bisa dimanjakan dengan landscape menghijau dan gunung-gunung. Tetapi daerah selatan memiliki anugerah lain yang tidak dimiliki oleh utara yakni keteguhan hati hidup di alam yang keras, dan satu lagi adalah laut, tempat segala misteri bermuara. Malang Selatan adalah nyanyian sederhana dan ketegaran menghadapi hidup yang tak mudah. Namun tempat lahir saya ini kini telah jauh berubah jika dibandingkan dengan masa-masa kecil saya misalnya. Ada kemakmuran yang tampak dengan jelas di sana. Ada senyum yang mudah dijumpai. Berbeda sekali dengan dulu ketika alam begitu keras kepada manusia.

Namun meski berada di sini selama hampir dua hari lamanya, rumah kecil saya tetaplah sebuah tempat yang jauh dari jangkauan. Padahal pada sebuah kesempatan, rumah itu hanya berjarak sejengkal saja. Tetapi inilah namanya tanggung jawab dan keharusan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Karena kedatangan ke Malang Selatan ini adalah dalam rangka menunaikan tugas sebagai seorang pekerja, rumah harus dilewatkan karena jelas-jelas itu tidak masuk dalam perhitungan pekerjaan. Jadi maafkanlah aku rumahku, rindu itu masih harus ditahan untuk entah sampai kapan. Namun meski kita tidak bertemu, aku yakin ada senyum itu, karena kamu pasti mendengar kabar dari angin yang menyampaikan padamu bagaimana caraku kembali kemarin itu. Segala sesuatu ada masanya. Ada masa murung, ada masa tersenyum. Mungkin inilah waktu bagi kita untuk tersenyum itu. Kita masih tidak memiliki apa-apa, tetapi kita telah melihat banyak hal berbeda berlalu dalam hidup kita. Dan hari-hari ini, jelas berbeda dengan hari-hari yang dulu begitu kejam mendera kita itu.

Aku masih terus bersyukur melihat senyum daerah selatan saat kendaraan gagah kami semakin menjauh dari kota kecamatan kami yang semakin maju itu. Ada dengus pekerja jalan, derak kasar alat-alat berat, tanah-tanah yang digali, dan bukit-bukit yang dipotong. Pesisir selatan Malang kini sedang bergejolak namun tiada panas menyertainya. Hanya senyum yang ada. Syukur itu harus kembali diucapkan karena itu adalah demi terbukanya akses seluruh pesisir selatan dari Banyuwangi hingga Pacitan. Bayangkanlah nanti yang akan terjadi ketika semua itu telah selesai dikerjakan. Senyum kita bisa semakin lebar dan matahari boleh terbit lebih pagi lagi karena kita semua semakin siap dan mudah mencari air hidup.

Ada serombongan kawan satu desa yang menemani kami mencari sunyi di pesisir selatan Malang ini. Mereka adalah orang-orang lugu tanpa pamrih. Bagi mereka dapat berkawan dengan sesama pencari ikan lain, dan apalagi bisa membantu membuat pertunjukkan ikan yang kami buat adalahsebuah kehormatan besar. Meski aku sedikit kecewa karena ternyata tidak semua dari kami yang katanya terpelajar dari kota besar ini menghargai mereka dengan tulus. Tetapi biarlah itu berlalu ditelan ombak yang menampar tebing Bajul Mati, tempat dimana kami semua kemarin mencari sunyi menunggu ikan-ikan datang meminang umpan. Memang selalu ada pemisah dan keterputusan meski itu sering diingkari oleh mereka yang tidak pernah ke desa mengunjungi kami orang-orang desa ini. Kami adalah orang desa yang sering hidup dalam bahaya, meski alam begitu keras jelas tidak akan mundur, apalagi saat itu kita sedang menunggu kemurahan Tuhan mengirimkan ikan. Ini jelas berbeda dengan kecengengan kota yang penuh janji-janji itu.

Dan bahkan meski alam begitu kejam mendera dengan hujan dan dingin di tebing selama hampir semalam, pagi harinya orang desa seperti kamilah yang tetap lebih siap untuk menjalani hidup. Ikan tak seberapa yang kami dapat, tetapi untuk apa mengeluh? Alam bukan kita yang punya? Ikan juga bukan kita yang menciptakan? Tidak bisakah kita mengerti ini? Jadi kenapa ada yang menjadi begitu kasar pada kemurahan Tuhan kala ikan tidak sedang menghampiri kita? Jangan lakukan! Ingatlah saja bahwa sebagai manusia, sebagai sesama pencari ikan, kita telah melakukan yang terbaik yang kita bisa. Biarlah Tuhan dan alam yang menentukan kelayakan kita untuk mendapatkan berkahnya. Ingatlah bahwa kita pernah memekikkan teriakan lantang itu bersama-sama di tepi pantai Bajul Mati! Ingatlah juga bahwa tanpa kami orang-orang desa ini, teriakan “MERDEKA!” itu tidak akan pernah berbunyi sekeras itu menentang deburan ombak!

* ALL PICS TAKEN BY ME AND MY FRIENDS. PLEASE DON'T USE THIS ARTICLE AND THE PHOTOGRAPHS WITHOUT MY PERMISSION. THANKS!!!
* Foto-foto diabadikan pada tanggal 28-29 Juli 2010 di Bajul Mati, Malang Selatan saat pembuatan episode 17 Agustus untuk MANCING MANIA TRANS 7.

2 comments:

Berbisnis dengan hati nurani,emosi dan spiritual said...

Nice blog...salam kenal gan..!!

Mampir2 di blog ane ya..
http://codolsky-organized.blogspot.com/

Sandi Taruni said...

it's not easy but we'll get by... much love..

Popular Posts

Google+ Followers