Skip to main content

Mampir di Boyolali: Menengok Sahabat dan Mancing Ikan Bawal Monster di Umbul Tlatar

Teriring ucapan terimakasih kepada Deddy Yulianto, Dhimas, dan Pak Hartanto.

Seharusnya usai trip ke Gunung Semeru (3676 m dpl), kisah yang saya posting lebih dahulu adalah tentang trip ke Malang Selatan, Jawa Timur, kampung halaman saya sendiri. Namun karena timingnya belum pas maka kisah Malang Selatan ini saya pending dulu setidaknya sampai minggu depan. Trip ke Boyolali, Jawa Tengah menjadi stock yang paling mungkin untuk dikisahkan di blog iseng ini karena di kota kecil ini kami (Tim Mancing Mania Trans 7) sempat singgah sejenak untuk merasakan merasakan sensasi tarikan ikan-ikan bawal air tawar (bawal hitam) bersize jumbo. Lokasi tepatnya di Umbul Tlatar, sebuah tempat wisata yang lengkap karena selain memiliki kolam ikan mereka juga memiliki restoran, kolam renang, tempat terapi ikan, bahkan ‘lapangan’ woodball yang telah go international (woodball adalah olahraga mirip golf tetapi yang ini lebih bernuansa kampung/merakyat). Namun sejatinya trip ke Boyolali ini bagi saya menjadi sangat penting karena akhirnya saya bisa menjumpai sahabat-sahabat yang sebelumnya hanya saya kenal di dunia FB saja yakni Dhimas dan Deddy, yang anehnya kedua sahabat ini adalah warga Solo dan Salatiga.

Boyolali tidak pernah masuk dalam list lokasi mancing yang bisa didatangi sampai pada pertengahan Maret lalu saat saya berada di Kolam Tirta Mas, Kediri. Ketika berada di Kediri ini saya berjumpa dengan kawan-kawan mancing dari Surabaya yang mengatakan jika saya ingin memancing ikan bawal yang size-nya lebih besar (di Kediri ukuran ikan bawal antara 3-13 kg) maka saya harus pergi ke Boyolali. “Tlatar”, kata kawan tersebut. Nah, usut punya usut ternyata kawan-kawan FB saya yakni Dhimas dan Deddy ini ternyata tahu lokasinya. Maka jadilah mereka ‘tim survay’ dadakan untuk membantu saya mengumpulkan informasi tentang kolam ini. Memang dari informasi awal sudah sangat jelas bahwa pemancingan di Umbul Tlatar ini memiliki koleksi ikan-ikan bawal dengan size yang sangat menarik. Namun meski ini sangat menarik untuk kami datangi, kejelasan untuk menyambangi Boyolali tidak pernah ada titik terang mengingat arah trip kami selalu seringnya ke laut. Namun kesempatan selalu ada, dalam rangkaian ‘tur’ darat ke Jawa Timur maka Boyolali pun mau tidak mau harus masuk dalam daftar pemberhentian atau ‘tur’ akan menjadi aneh.

Usai mengakrabi tebing-tebing di Malang Selatan pada 27-28/7, kami pun telah berada di Boyolali pada 29/7 sore hari. Lokasinya ternyata memang menarik. Umbul Tlatar ternyata adalah kompleks wisata yang cukup menarik karena memiliki beragam tawaran untuk para pengunjungnya seperti saya sebutkan tadi. Suasananya juga sangat meneduhkan pikiran. Air jernih dari air mengalir dimana-mana dengan derasnya. Aliran air alami ini oleh pengelola dimanage sedemikian rupa sehingga menciptakan sebuah harmoni yang natural dan menyegarkan siapa saja yang datang ke lokasi ini. Tanggal 29/7 rencananya kami hanya ingin melihat kondisi kolam yang akan kami pancingi esok. Namun ternyata godaan strike terlalu indah untuk ditolak sehingga kami sempat menjajal sebentar tarikan ikan-ikan bawal yang menghuni kolam ini. Dan memang menarik. Memang jumlah strike tidak ‘banjir’ mengingat populasi ikan yang juga tidak berlimpah, namun size ikan-ikannya sangat menarik. Dan memang ini yang lebih penting karena sensasi tarikan dan suasana pertarungan dengan ikan menjadi semarak. Daripada jumlah ikannya seperti cendol dawet tapi sizenya setengah kiloan semua, ya mending agak harus menunggu sebentar (karena populasi ikan yang terbatas) tetapi setiap kali strike minimal beratnya 3 kg bukan?! Jadi pada hari pertama ini setidaknya 10-15 strike telah kami unduh lebih dahulu tanpa rasa berdosa kepada kawan-kawan kami yang baru akan bergabung esok. Malam hari di Boyolali tidak banyak pilihan menarik untuk anak-anak muda seperti kami. Uuuups! Jadi kamipun mencoba legawa suasana di sebuah kamar hotel yang katanya terbaik di kota kecil ini.

Tanggal 30/7 pukul 08.00 WIB kami kembali ke Umbul Tlatar. Pak Hartanto, pengelola Umbul Tlatar menyambut kami dengan ramah. Kawan-kawan mancing kami dari Solo dan Salatiga juga telah siap di tepi kolam. Termasuk jejeran ‘hidangan’ lezat yang terdiri dari kepiting kali (cuyu), potongan mentimun, tempe mentah, buah kersen, potongan kelapa, pellet, daun kol (kubis) dan lain sebagainya. Persis makanan untuk menenteramkan pemain kuda lumping yang sedang ngamuk di arena. Hidup kami begitu susah? Tidak, karena semua tadi adalah untuk umpan ikan-ikan bawal penghuni kolam. Keberagaman umpan untuk ikan-ikan bawal ini juga sebuah pencerahan yang baik untuk saya. Saya tahu bahwa ikan bawal (pacu) adalah spesies herbivora, namun sebelum ini saya tak pernah menyangka bahwa sebegini ‘rakusnya’- kah ikan-ikan bawal itu. Spesies asli belantara Amazon ini memang dikenal luas sebagai pemakan buah-buahan tepian sungai. Namun saya tak menyangka jika adaptasi ikan bawal pada kondisi setempat lokasi sedemikian besarnya (ini ilustrasi untuk penggunaan buah kersen sebagai umpan ikan bawal karena mengikuti kebiasaan ikan yang melahap buah-buah kersen matang yang jatuh ke dalam kolam). Umpan minnow juga kami pakai, namun karena ikan-ikan bawal di sini kadung keenakan dengan santapan 'vegetarian', agak susah memancingnya dengan artificiallure macam minnow atau spoon.

Dan kami sungguh menikmati acara mancing di Umbul Tlatar ini. Apapun umpan yang kami turunkan hampir selalu disambar. Kalaupun ada sedikit halangan adalah saking jernihnya air kolam yang membuat ikan-ikan bawal itu sangat waspada. Namun karena jumlah kawan yang banyak, hidangan yang ‘nendang’, dan banyaknya strike yang berkualitas yang kami dapatkan, masalah jernihnya air di kolam ini menjadi tidak terlalu penting lagi untuk dibahas. Saya tidak mencatat bagaimana kronologis strike selama di kolam ini karena saya terlalu enjoy dengan suasana Umbul Tlatar yang menyegarkan pikiran. Apalagi staff dan pengelola Umbul Tlatar begitu baik menerima kami. Lengkap sudah, acara ini pun menjelma menjadi sebuah rekreasi mancing yang ideal.

Jagoan-jagoan setempat tampaknya tak mensia-siakan kesempatan ini untuk strike dan kembali strike. Saya mencatat Deddy menaikkan beberapa bawal besar, juga Dhimas. Tangan rekan kami Hasan juga sedang ‘wangi’ karena sangat sering strike, beberapa di antaranya dari ikan bawla bersize jumbo. Juga kawan kami dari Semarang yang baru bergabung, Pak Karsono (nama kawan kami itu) juga strike banyak ikan bawal besar. Kalau ada yang kurang beruntung, mungkin hanya Kapten DW dan saya saja karena jarang sekali mendapatkan strike. Tetapi tidak apa-apa. Inilah tantangan menjadi jurnalis mancing, yang lain asyik strike, kita harus mengabadikannya. Yang jelas acara ini happy ending, diakhiri dengan naiknya ikan bawal up 10 kg. Oh ya, catatan tentang umpan, yang paling efektif adalah umpan kepiting kali (cuyu) dan potongan daun kol (kubis). Umpan yang lain juga disambar, pellet dan potongan mentimun misalnya.

Saya tak menduga, acara di Umbul Tlatar ternyata demikian menghibur. Beragam ikan mulai dari bawal, nila, tawes berhasil kami dapatkan. Oleh karenanya melalui coretan iseng ini saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Pak Hartanto selaku pengelola kolam, Deddy dan Dhimas yang telah banyak membantu kami dengan tulus. Salam!

* ALL PICS TAKEN BY ME, AND MY FRIENDS. PLEASE DON'T USE THIS ARTICLE AND THE PHOTOGRAPHS WITHOUT MY PERMISSION. THANKS!!!
* Foto 1: Hasan Daulay berhasil strike bawal besar. Foto 2: Foto all team. Foto 3: Suasana kolam pemancingan yang sangat asri. Foto 4: Deddy dengan nila jumbo. Foto 5: Foto seorang staff kolam (Arif) dengan ikan tawes.Foto 6: Beragam umpan untuk sang bawal. Foto 7: Ikan-ikan bawal berenang dengan tenang di salah satu sudut lokasi. Foto 8-9:Pak Hartanto+Me. Dhimas+Me. Foto 10: DW-Deddy and Dhimas. Foto 11:DW release ikan. Foto 12: Bayangan ikan bawal sebelum menyerah.

Comments

Rudy said…
Bung Michael,
Mohon info di tlatar ini sistem pembayarannya bagaimana? kiloan dan bawa pulang ikan, harian atau seperti di kediri?

Salam kenal,
Rudy.
Sistemnya model kolam Tirta Mas yang di Kediri, yakni catch and release pond..
Rudy said…
Ok thx atas infonya pak, kapan2 mau coba ah. Smg - boyolali lebih dekat drpd smg-kediri, he3.