Saturday, 14 August 2010

Suatu senja di tahun 2008. Reel ini jika saya tak lupa adalah Orvis #5, milik Hock. Senja mulai merangkak dan tampak pada warna langit biru lembut yang terpantul di permukaan air kolam. Umpan-umpan fly ini adalah 'peluru-peluru' kami dalam menaklukkan ikan-ikan bawal/pacu penghuni Kolam Pondok Cabe, Tangerang. Tempat yang pernah menjadi meeting point beberapa fly fisherman di negeri ini entah masih ada atau tidak.

Dua hari lalu saya tiba-tiba begitu rindu dengan seorang sahabat, lebih tepatnya adalah guru saya dalam teknik fly fishing, Hock. Pemancing asli Singapura yang entah kenapa memutuskan tinggal di Indonesia. Seseorang yang sangat baik, low profile, jauh dari stereotype yang banyak saya dengar dari orang-orang kita yang dilekatkan kepada orang-orang Singapura. Dulu sekali, satu atau dua tahun lalu, kami sering sekali memancing bersama di sebuah kolam catch and release di Pondok Cabe, Tangerang, di kolam milik sahabat kami juga, Ariel. Fly fishing dalam tiga tahun lalu masih begitu sepi, sangat sedikit pegiatnya. Sekarang kondisi ini telah sedikit berubah karena kemunculan fly fisher baru di negeri ini. Tak mau hanyut dalam lamunan, maka saya langsung mencoreti “wall”-nya dan tak lama kemudian muncullah dia di YM saya. Ternyata dia belum terlelap padahal malam sudah begitu larut. Dia masih ‘sehat’ begitu katanya, meski ‘lonely’. Kata yang baru pertama saya dengar darinya selama ini. Namun saya tak bisa saya menjelaskan kata ‘lonely’-nya Hock ini di sini karena ini hanya untuk diketahui sahabat-sahabat terdekat saja.

Karena Hock inilah maka saya mengenal sedikit tentang fly fishing. Dia tak lelah mengajari saya dalam sempitnya waktu yang kami miliki. Tanpa dirinya, tak mungkin bagi saya untuk bisa hooked up ikan giant trevally imut di Aceh pada 2008 lalu dengan fly fishing. Dan masih banyak hal terbaik lainnya. Namun ‘kursus’ fly fishing saya ke Hock yang baru dimulai itu terpaksa saya pending beberapa waktu terakhir ini karena ternyata popping, jigging, dan spinning based fishing lainnya begitu ‘posesif’ dan menyita sebagian besar waktu saya. Fly fishing menjadi terlupakan, maaf Pak Hock. Tackle fly fishing saya itu kini teronggok di sudut kamar tanpa pernah disentuh selama sekian waktu. Tak berdebu, tetapi jelas kesepian. Akan tetapi keterpisahan sementara saya dengan fly fishing ini sedikit terobati dengan adanya group INDONESIA FLY FISHER yang dulu pernah saya buat di Facebook. Coretan iseng, foto-foto, video banyak diposting oleh member-member group ini. Bahkan ada member dari Rusia dan Australia yang rajin sekali memberi ‘kompor mleduk’ di sini berupa foto-foto ikan keren yang membuat kepala mau pecah rasanya karena ‘sakau’.

Reel Orvis #5, Kolam Pondok Cabe, dan ikan pacu/bawal adalah masa-masa yang patut dikenang. Di kolam yang sempat menuai pro-kontra di kalangan sportfhisherman negeri ini, karena kolam ini memiliki koleksi ikan-ikan predator yang didatangkan dari luar negeri, saya dan Hock sering menghabiskan waktu bersama. Di kolam ini jugalah untuk pertama kalinya saya strike dan bisa hooking ikan dengan fly fishing. Semoga saya belum lupa cara melakukannya lagi. Dimulai dengan pelajaran tanpa hook saya disuruh melemparkan tali berulang kali hingga bisa. Saya ingat hampir sehari penuh pekerjaan saya di sini adalah melakukan back cast dan roll cast saja. Gila! Padahal orang-orang yang lain sudah sibuk strike ikan. Untung saya tidak menyerah, jika hari itu saya menyerah mungkin ceritanya akan lain, fly fishing mungkin akan menjadi ‘buku’ yang indah yang tak pernah bisa saya ‘baca’ hingga hari ini. Kondisi kolam ini sebenarnya tidak terlalu ideal sebagai lokasi fly fishing, namun karena ini adalah tempat sahabat kami dan kami seringnya mendapat free charge, maka kolam ini pun menjadi langganan meski lokasinya ‘ngumpet’ dan susah ditembus dengan kendaraan bergardan rendah saking sempit dan berlobangnya gang menuju ke lokasi. Ikan-ikan pacu/bawal di paragraf ini adalah beberapa strike awal saya dengan teknik ini, semua tak mungkin terjadi tanpa Hock.

Dan tiba-tiba pada penghujung 2008 saya pun berpetualang ke Aceh. Berbeda sekali rasanya menenteng-nenteng fly fishing tackle saat bepergian. Berbeda dengan saat menenteng heavy duty tackle macam popping, jigging, dan lain-lain yang sering mengakibatkan bagasi kita overweight itu. Menenteng tackle fly fishing, meski itu masih dalam tube, terasa ringan (dan memang ringan bukan?), keren, bebas, dan terasa segar di pikiran. Fly fishing memberi kita sebuah spirit baru dan mengingatkan kepada kita sebuah tanggung jawab baru. Trip ke Aceh pada saat itu sebenarnya bukanlah trip fly fishing, melainkan trip popping bersama FCAK Banda Aceh. Namun saya selalu tergoda dengan kemungkinan dan petualangan baru. Maka fly fishing menjadi hal yang paling mungkin untuk dilakukan.

Pulau Weh, base trip popping saat itu ternyata memiliki banyak sekali daerah payau yang datar sehingga cocok untuk aplikasi fly fishing. Jauh-jauh hari Hock telah membekali saya dengan sebuah peluru mematikan, shrimp fly. Dan hasilnya adalah seekor ikan giant trevally kecil imut di sebuah muara payau tak jauh dari bungalow tempat saya menginap. Momen fly fishing di kesunyian Pulau Weh saat itu masih begitu jelas hingga saat ini. Saya begitu bebas dan tak peduli apakah akan menangkap ikan atau tidak. Menatap landscape lokasi mancingnya saja sudah membuat saya tak mau pulang rasanya. Perasaan yang tak ada lagi sekarang karena tertelan rush hour bernama dateline dan dateline lainnya. Saya merekomendasikan Pulau Weh ini sebagai salah satu fly fishing destination untuk para fly fisherman negeri ini. Beberapa trip fly fishing kemudian digelar oleh kawan-kawan lain ke pulau ini, sayang sekali mereka kurang beruntung karena waktu mereka tidak banyak sehingga eksplorasi mereka kurang maksimal. Saya berhasil di Pulau Weh dan bisa merasakan kebebasan dalam mancing itu juga karena Hock.

Sejujurnya saya tidak tahu hendak menulis apa saat ini, begitu banyak hal bergejolak di kepala dan semuanya minta perhatian untuk dianggap sebagai yang paling penting. Satu hal yang pasti, untuk sahabatku Hock, kami akan selalu bersamamu. Jadi kapan kita akan ngopi, tying, atau mancing bareng lagi??? Kamu memiliki semua hal terbaik di hidup ini kecuali mungkin saat ini ‘lonely’ itu. Tunggu sebentar saya pasti akan berkunjung ke sana. Kopi sudah siap kah?! TIGHT LINES BRO!!!

* ALL PICS TAKEN BY ME NAD MY FRIENDS. PLEASE DON'T USE THIS ARTICLE AND THE PHOTOGRAPHS WITHOUT MY PERMISSION. THANKS!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers