Friday, 3 September 2010

Masih, blog ini adalah catatan sekadar dalam cepat dan sempitnya waktu selama perjalanan, dari pengapnya sebuah kamar kecil di sudut panas kota Jakarta, dari main petak umpet dengan omelan pacar, dan dari mana saja ketika hasrat untuk berbagi kisah itu muncul, dan dari segala keterbatasan saya sebagai 'wong ndeso'. Saya bukan siapa-siapa, hanya kisah-kisah di blog ini yang bisa saya bagi, karena hanya kisah perjalanan yang saya miliki. Semoga Tuhan selalu memberi berkah untuk sebuah kisah yang tak pernah terputus. Semoga Tuhan selalu menyertai kita semua! Amin!

Tegal Laka-laka Yang Kali Ini Agak Sepi…
Well, akhirnya kami (MMT7) merapat di kota Tegal senin sore (30/08) . Kota tempat ‘racun’ mancing masuk dengan telak pertama kali ke dalam aliran darah saya pada tahun 2007. ‘Racun’ yang sebenarnya telah ada sejak saya kecil, namun di kota kecil di jalur Pantura inilah ‘racun’ itu kemudian menjadi begitu mematikan. Saat itu saya singgah di kota ini bersama dedengkot sportfishing Indonesia yakni Adhek Amerta, Lutfi, dan bos Majalah Mancing, Pak Agustinus Sutandar.

Sore saat kami merapat kota Tegal masih sepi namun tetap panas layaknya kota Pantura lainnya. Jalanan begitu hingar oleh truk-truk besar yang membuat kami enggan keluar hotel yang begitu ‘damai’. Meski sejujurnya tidak sepenuhnya begitu bagi saya karena hingga pukul 2 dini hari di tanggal 31/09 saya masih berkutat dengan tugas yang mendesak untuk segera selesai karena “itu” harus segera tiba di Jakarta. Banyak yang menganggap yang kami lakukan adalah “so easy”, tetapi mereka sebenarnya tidak pernah tahu yang sesungguhnya terjadi. Perairan Tegal, beberapa hari terakhir sebelum kami datang kurang kondusif untuk mancing. Demikian kata kawan-kawan mancing di Tegal; David, Andreas, dan lain-lain. Air terlalu jernih dan arus sangat lemah. Sehingga spot paling potensial di perairan Tegal, yakni Karang jeruk, kerajaan talang-talang (queenfish) itu sepi sambaran. Keterangan ini saya cross chek di situs easytide.com memang klop. Arus sangat lemah. Teknik kasting memang akan mentok jika sudah begini. Bahkan mancing dengan livebait sekalipun. Udang hidup ataupun ikan bandeng yang dikoncer belum tentu akan disambar oleh ikan karena visibility mereka yang meningkat tajam akibat air yang terlalu jernih. Ikan, jika air terlalu jernih, akan sangat awas sehingga tahu mana makanan yang aman dan mana yang berbahaya (yang ada pancingnya).

Namun, biasanya si Mike ini sering membawa hoki saat datang ke tegal. Bukan mau narsis tetapi demikian ungkap kawan-kawan Tegal saya. Sejauh ini memang saya tidak pernah gagal di Tegal. Entah kenapa. Jadi dengan yakin pada pukul 5 pagi di tanggal 31/08 kami pun meluncur ke spot sejauh 3 mil laut tersebu tuntuk kasting talang-talang. Memang benar air sangat jernih dan arus sangat lemah. Sudah begitu angin mati pula, panas sekali rasanya. Dan pagi-pagi kami sudah dihadiahi dua barakuda berukuran sedang yang hooked up dengan teknik trolling. Lalu siang sedikit ada ikan talang-talang 4 kiloan yang hooked up dengan umpan spoon (kasting). Sisanya ada selusinan ikan dasar setengah dan satu kiloan yang didapatkan oleh para abk kapal yang ikut mancing. Memang bukan sebuah trip mancing yang sukses, tetapi mengingat semuanya memakai artificial lure, tak pantas jika ini disebut gagal. Namun saya kali ini gagal di Tegal karena spoon dan popper saya tidak berhasil mendapatkan strike satu ikan pun! Juga saya sampai missed tidak memfoto hasil-hasil mancing! sakin gtelernya karena kurangtidur! Tidak masalah, yang penting tripnya lumayan sukses. Malam harinya kami pun mengadakan perpisahan di sebuah resto milik Robby, kawan saya seorang pemancing di Tegal, Anak Ayam. Saya merekomendasikan Anak Ayam ini jika Anda berada di Tegal. Seafood dan Chinese food-nya nendang abis! Saya tidak bohong!

Bertemu Fans MMT7 Garis Keras di Cirebon…
Tanggal 31/10 siang diam-diam kami telah merapat di kota Cirebon. Hanya petugas sebuah bank yang tahu kedatangan kami karena kami sempat minta ‘uang jajan’ kepada ATM mereka. Hahaha! Seperti pasukan penyusup yang hendak mengadakan penyerbuan, tak ada satu pemancing pun yang tahu kami telah berada di dalam kota. Namun apa daya, tiba-tiba perut keroncongan dan kami tidak tahu dimana restoran yang menu-menunya cukup enak. Udara kota Cirebon yang panas edan membuat otak kami semakin tidak konsentrasi dengan strategi kedatangan kali ini. Pesan singkat pun saya luncurkan ke seorang kawan mancing, Yan Yan namanya, ditambah NB: Ntar aja kalau mau ketemuan kita sekarang mau sendiri dulu. Capek euy! Namun apa daya, memang susah jalan bersama seorang seleb (maksud saya Kapten DW). Tak sampai 15 menit kami telah dikerubuti oleh hampir 20 orang pemancing Cirebon di sebuah restoran nasi lengko dan sate yang cukup populer, RM. Hadji Barno. Jadi ceritanya penyusupan kami gagal total! Kocak banget!

Sekalian sambil makan, rencana trip yang akan dimulai nanti malam pukul 23.00 wib pun dirancang. Perairan sekitar kota Cirebon adalah perairan dangkal (under 20 meter). Perlu berlayar setidaknya 30 mil laut agar bisa bertemu dengan laut yang agak dalam (up 30 meter). Jadi perjalanan terpaksa harus dimulai pada pukul sebelas malam agar waktu mancing kami esok hari tidak habis untuk berlayar menuju spot mancing. Saya sebenarnya tidak terlalu konsen mendengarkan rencana ini, maklum, hampir 48 jam sebelumnya di Tegal saya hanya sempat tidur tak lebih dari 6 jam. Gila! Namun berkat nasi lengko, sate kambing dan es durian mata saya sedikit terbantu sehingga menyala 5 watt lebih terang dari sebelumnya.

Tim MMT7 kemudian rehat sejenak di sebuah hotel yang cukup megah di Cirebon. Kecuali saya, karena kawan-kawan Cirebon menculik saya menuju sebuah kolam bandeng untuk pemanasan sebelum nanti malam berangkat mancing. Mereka salah orang, karena bukan saya selebnya, tetapi mereka tidak mau tahu. Hal yang harus disyukuri, mereka adalah kawan-kawan dari jauh yang selama ini hanya bisa bertegur sapa di dunia maya dan kini sangat rindu ingin ditemani mancing. Halah! Ketika kemudian bertemu dengan para pemancing Cirebon ini, mata saya tiba-tiba terbuka bahwa ternyata mereka begitu bersemangat dan kompak! Sangat kompak! Gambarannya begini. Di kota ini banyak klub mancing, tetapi demi suksesnya trip bersama MMT7, pemancing tidak mau egois dengan klubnya, meski sebenarnya saya pada awalnya hanya menghubungi satu klub saja. Kemudian mereka menggelar rapat umum, halah lagi, dimana salah satu keputusannya bahwa masing-masing klub atau komunitas mengirimkan satu perwakilannya saja sehingga tidak ada kecemburuan terhadap trip dengan MMT7 ini. Tidak semu aorang bisa ikut, tetapi masing-masing klub/komunitas terwakili! Hebat banget! Saya tidak ingat semua nama yang kemudian mewakili klubnya masing-masing itu tetapi di antara mereka ada Yanra Hardy, Mang Cecep, Haji Udin, Jack, Iman, Yan Yan, dan Lilik.

Dan para wakil klub/komunitas itulah yang kemudian bersama kami melaju di atas kapal menembus gelap malam menuju utara pada pukul 24.00 wib (1/10) ke spot yang kira-kira 50 mil laut jauhnya! Spot dimana kami akan mengaplikasikan mancing dasar memburu ikan-ikan kakap merah (red snapper), jenaha, kuwe, kerapu, dan lain-lain. Alam kurang berpihak kepada kami, angin begitu besar bertiup di tengah laut. Ombak setidaknya 1-2 meter terus menghantam kapal kecil kami (12 x 2.8 meter). Namun kami terus menuju utara, mencari peruntungan dan membuktikan niat kami. Manusia yang berusaha, Tuhan menentukan. Puji Tuhan di tengah cuaca yang tak bersahabat sedemikian rupa, kami dapat dikatakan cukup sukses. Hingga pukul 12 siang, setidaknya lusinan ikan-ikan dasar berukuran 1-4 kilo berhasil naik ke kapal kami. Umpan yang kami gunakan udang hidup. Agak sulit mencari umpan cumi di TPI Cirebon, jadi kami memakai umpan udang hidup.

Saya kurang mengenal karakter para pemancing Cirebon sebelumnya, kecuali sesorang bernama Akiong yang anehnya juga nongol saat saya tiba di Cirebon ini – saya bertemu kali pertama dengannya pada tahun 2007 di Tegal, tetapi bayangan saya terhadap orang-orang Cirebon adalah ceplas-ceplos, kocak, apa adanya dan ramai! Dan kadang sedikit ‘gila’. Dan ternyata memang benar. Yang ‘gila’ memang benar-benar ada. Lihat saja misalnya pemancing bernama Lilik, demi trip ini di arela botak dan kemudian mencoreti kepalanya dengan tulisan MMT7 besar-besar. Ternyata di Cirebon ada fans garis keras! Saya tidak bisa menyelesaikan kisah ini hingga lengkap seperti terjadi. Tidak harus semuanya dikisahkan. Biarlah laut dan ikan-ikan yang menyimpannya. Yang pasti coretan ini juga dimaksudkan sebagai ucapan terima kasih saya kepada kawan-kawan baik kami di Jogja, Boyolali, Tegal dan Cirebon yang telah demikian baik menerima kami. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan Anda semua. Salam!(Tamat)
* All pictures by Me and or my friends. Don’t use or reproduce (especially for commercial purposes) without our permission. Especially if you are tackle shop, please don’t only make money from our pics without respect!!!
* Foto #1: 01.30 am. Sungguh, saya ingin berbaring dikasur itu. Foto #2: Foto iseng, dinding resto Anak Ayam, Tegal. Foto #3: Resto Anak Ayam, tegal tampak dari depan. Foto #4: Saya+DW dengan buah hati seorang kawan. Foto #5, #6, #7: Nasi lengko. Es durian. Dan lalu sebuah tambak bandeng pinggiran kota Cirebon. Foto #8, #9: Rame-rame sebelum masuk hotel. Foto #10, #11: Di depan toko pancing Win, Cirebon. Foto #12: Makan nasi jamblang, mirip sego kucing-nya Jogja-Solo. Foto #13: All team. Foto #14, #15, #16, #17: Jadi seleb sehari. Mang Cecep memakai kaos Singin’ Drag (www.singindrag.com). Saya, Yandra + Yan Yan. Fans MMT7 garis keras. Foto #18: Mas DW dengan ikan kerapu (ikan terbesar dalam trip ini).

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers