Saturday, 30 October 2010

Seiring dengan tetap terpasangnya sketsa diri saya di sebuah jejaring sosial dan juga di kedua blog saya, karya seorang kawan mancing bernama Satria Nb yang sejujurnya belum pernah ketemu secara langsung akhir-akhir ini, kecuali mungkin pada tahun 2003-2004 dulu di Bandung, saya berpikir sudah semestinya jika sang “seniman Bandung’” yang membuat sketsa ini mendapat ‘tempat’ di blog iseng ini. “Semua harus ditatet, semua harus mendapat tempat” kata seorang penulis besar. Sebenarnya ‘pertemuan’ saya dengannya di jagat maya beberapa waktu lalu tidak pernah terbayang sama sekali akan terjadi. Bahkan jujur saja saya acuh saja meski sudah agak lama dia mengirimkan private message ke inbox saya. Punteeeen bos! Haha! Lha wong saya merasa tidak kenal e? Pasti, orang-orang mancing yang setiap hari nge-add saya itu. Dan saking bejibunnya yang nge-add saya tiap hari, saya jarang sekali memperhatikan dengan seksama.

Dulu sekali, sebenarnya saya pernah berjumpa dengan “seniman Bandung” ini di sebuah tempat di sudut kota, kalau tidak salah di daerah Buah Batu. Di kantor sebuah free magazine terkenal di kota Bandung, Ripple. Free magazine yang mungkin merupakan pioneer berkembangnya gerakan free magz di seluruh negeri dan termasuk salah satu supporter militan gerakan indie di Bandung. Namun, dulu itu kami tidak bertegur sapa secara serius. Maklum, saya juga cuma diajak main oleh seorang kawan yang kebetulan bekerja di Ripple dan “seniman Bandung” ini konon adalah salah satu (owner?) dari Ripple. Namun sampai hari ini saya tidak pernah mengkonfirmasikan mengenai hal ini. Dan kalau tidak salah “seniman Bandung” ini termasuk salah satu front man sebuah band indie yang pada masanya sempat populer di kalangan anak-anak indie dan pecinta musik alternatif Indonesia, nama band itu Pure Saturday.

Saya begitu ingin bertemu dengan kawan lama ini, namun meski kini Jakarta-Bandung sebenarnya hanya 2 jam berkendara, dan meski telah beberapa kali melintas kota ini saya belum mendapat kesempatan untuk bertatap muka dengan sang seniman. Jika saya bisa bertemu lagi yang pertama ingin saya tanyakan adalah “kog bisa-bisanya sekarang hobi mancing?!” Wong dari dulu selalu genjreng-genjreng main musik? Namun tentu saya sangat gembira dengan keputusannya untuk terjun mancing. Pertama karena semakin banyak orang-orang yang menekuni mancing. Kedua karena dengan terjunnya dia ke dunia mancing, berarti ‘darah segar’ pada perkembangan dunia mancing di negeri ini karena dia memiliki banyak talenta. Bayangkan, akan sangat menarik misalkan suatu saat akan muncul album musik bertema mancing, atau band yang bernuansa ‘fishy’, atau sebuah pertunjukan musik untuk menggalang dana konservasi ikan langka, atau sebuah kartun mancing. Dan lain sebagainya. Ikan dan fishing ground negeri ini memang telah merosot kualitasnya, namun dengan hadirnya orang-orang hebat seperti “seniman Bandung” ini, dunia mancing tentu akan semakin ramai dan semakin kaya warna! Dan tentunya akan semakin banyak hal yang diabadikan! Saya yakin!

Sketsa Satu: Adhek Amerta
Dan dugaan saya benar. Saya tidak tahu sudah berapa lama dia terjun ke dunia mancing, namun tiba-tiba saja dia sudah membuat dunia mancing ini ikut menggeliat dengan sesuatu yang berbeda. Belum sebuah karya kartun mancing, album musik mancing yang sangat saya inginkan hadir di negeri ini, tetapi karya-karyanya yang unik ini telah turut mewarnai dunia mancing Indonesia dengan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Mungkin dia sedang iseng, atau memang seniman itu selalu iseng, tetapi tiba-tiba saja di sebuah jejaring sosial muncul sketsa-sketsa mancing darinya yang cukup menggelitik. Sketsa pertama adalah sketsa yang menggambarkan sosok Adhek Amerta. Master popping dan jigging Indonesia. Pemancing asal Bali yang begitu mendunia dan berjasa besar pada perkembangan teknik popping dan jigging. Pembuat popper (lure popping) dan fishing operator kelas dunia yang terkenal dengan kapalnya yang bernama GT, kependekan dari nama spesies Giant Trevally.

Sketsa Adhek Amerta menggambarkan beliau sedang berada di atas kapal dan menggendong seekor ikan giant trevally besar. Di tangan kanannya masih tersandar tackle popping yang baru saja dipakai memancing sang ikan, sementara sang pemancing tampak tertawa lebar tanda puas dengan hasil pancingannya. Saya sangat familiar dengan sumber sketsa ini. Adalah sebuah foto yang dijepret oleh Agustinus Sutandar (owner Majalah Mancing) pada saat berlangsung turnamen mancing di Kupang, NTT pada akhir 2007 lalu. Salah satu turnamen klasik di negeri ini. Adhek Amerta saat itu ikut turnamen (hal yang sebenarnya agak jarang beliau lakukan) dengan membawa ‘bendera’ Majalah Mancing dan keluar sebagai juara pertama popping (dan seingat saya juara umum juga) berkat ikan GT seberat 32 kg. Ikan yang dia gendong di dalam sketsa itu.

Memandang sketsa karya Satria Nb ini ada rasa baru yang berbeda. Saya sangat ‘dekat’ dengan foto Adhek Amerta ini, karena ketika Agustius Sutandar telah merapat di Jakarta, saya juga yang mentransfer foto ini dari kamera dan kemudian ‘memasaknya’ untuk kemudian diterbitkan di Majalah Mancing. Namun ketika telah menjadi sebuah sketsa, ada sebuah pengendapan indah yang entah apa istilahnya dalam dunia seni, yang membuat momen tertawa Adhek Amerta dan ikan GT 32 kg di Kupang NTT ini menjadi semakin sublime. Dan saya merasa sangat enjoy menikmati nuansa baru yang keluar dari sketsa tersebut.

Sketsa Dua: Hary Buana
Hary Buana adalah sosok pemancing Bandung yang khas. Saya berteman baik dengannya. Sejak saya masih menjadi ‘tukang masak’ di Majalah Mancing dan hingga kini saat telah ‘berlabuh’ di Trans 7. Pemancing ini tumbuh besar sesuai dengan karakter tempat dia tinggal. Bandung dan sekitarnya adalah pegunungan, jauh dari laut. Oleh karenanya mancing yang berkembang di daerah ini adalah mancing di air tawar dengan target ikan-ikan air tawar yang kadang secara size tidak seberapa besar. Namun tentu secara sensasi dan keunikannya semua teknik mancing masing-masing memiliki kekhasan yang tidak bisa diperbandingkan. Hary Buana pun ‘tumbuh’ besar dengan menikmati berkah mancing di Bandung yang khas itu; mancing ikan-ikan kecil semisal baunteur dan sepat di sungai-sungai kecil dan bekas galian pasir, mancing di sungai-sungai di luar kota Bandung, dan sesekali ke laut.

Hary Buana termasuk salah satu pemancing yang getol mengkampanyekan kelestarian ikan-ikan asli Indonesia, khususnya Jawa Barat. Bersama rekan-rekan lain di BAT (Bandun Angler Team) mereka bersinergi dengan Enclave Conservation giat melakukan kampanye pada kelestarian ikan-ikan Jawa Barat dan kini malah kampanye ini telah meluas pada kelestarian ikan-ikan asli Indonesia. Tetapi sosok Hary Buana begitu lekat di mata ‘penggemarnya’ sebagai pemancing ikan-ikan kecil, terutama ikan beunteur (wader), saking seringnya dia mancing ikan ini dan menulis tentang ikan ini di media-media mancing. Bahkan saat wajahnya nongol di televisi, Hary Buana menceploskan statement spontan yang sangat saya ingat yakni “kalau ke Bandung belum mancing ikan sepat, berarti belum menginjak kota Bandung”. Bisa’an euy! Dan di tangan Satria Nb, maka sketsa yang dihasilkan adalah sosok Hary Buana dengan ikan beunteur (wader) mungil yang dia taruh di telapak tangannya. Sungguh, ini sangat klasik! Bandung pisaaaan!

Sketsa Tiga: Beany Sudjana
Beany Sudjana juga adalah pemancing Bandung. Tak bisa dihindari sketsa-sketsa Saria Nb akan banyak menggambarkan sosok pemancing Bandung sebab Satria Nb sendiri urang Bandung asli! Tak banyak yang saya tahu dengan sosok Beany, saya beberapa kali berjumpa dengannya di Bandung namun selalu saat asyik mancing rame-rame jadinya tidak pernah mengobrol secara serius. Yang pasti, pemancing satu ini orangnya cukup ekspresif dan ‘rame’. Jadi jika sedang mancing ada dia, dijamin suasana tidak akan sepi. Karakter ‘rame’ ini yang kemudian dipilih Satria Nb untuk diabadikan di sebuah sketsa yang sumber aslinya adalah sebuah foto Beany dengan ikan kakap putih yang dipancing di Pondok Bali, Pamanukan. Dengan tawa lebar, Beany memegang seekor ikan kakap putih dengan kedua tangannya. Kegembiraan mancing itu ya seperti terlihat di tawa Beany ini. Karena konon, hanya mancing lah yang bisa merubah stress seberat apapun menjadi fresh yang benar-benar murni!

Sketsa Empat: Yan Yan Fm
Belum lama saya bertemu dengan pemancing asli Bandung yang bermukim di Cirebon ini. Tepatnya ada Lebaran tahun ini. Saya tidak tahu nama aslinya, tetapi nama bekennya adalah Yan Yan Fm. Pemancing ini adalah salah satu penggerak beberapa komunitas mancing di Cirebon dan merupakan salah satu motor FAC, Facebook Angler Community. Orangya baik, rame dan kocak. Karakter yang rata-rata menjadi karakter orang-orang mancing. Bukti bahwa mancing itu luar biasa penting untuk ditekuni oleh manusia karena membuat orang menjadi begitu gembira dan bersahabat. Saat itu saya bersama ‘kapten’ MMT7 sedang mampir di Cirebon untuk menyelesaikan pembuatan episode Mancing Saat Lebaran di Pantura. Dan Yan Yan adalah kontak kami di kota ini.

Berkat Yan Yan inilah kami kemudian dipertemukan dengan komunitas besar para pemancing Cirebon yang menurut saya rata-rata orangnya kocak dan sangat seru. Mereka semua juga sangat antusias dalam menyambut kami, sampai-sampai waktu tidur pun harus saya relakan untuk dipakai mancing ikan bandeng. Ikan yang tidak masuk dalam list perjalanan karena fokus kami adalah ikan-ikan di rumpon-rumpon di laut Cirebon. Namun saya tidak menyesal sama sekali bisa mengenal Yan Yan dan kawan-kawan Cirebon lainnya. Malah jika ada kesempatan, saya ingin kembali ke sana karena waktu itu saya merasa agak bersalah sebab saya begitu teler karena usai perjalanan panjang dari Jogja dan Tegal sehingga tidak bisa maksimal bergaul dengan mereka. Sorry cuy! Saya baru tahu dari sketsa Satria Nb ini bahwa Yan Yan Fm adalah ‘pendekar barakuda’. Hahahaha!

Sketsa Lima: Seven Crew
Pikiran saya langsung melayang ke sebuah pulau gersang di bagian timur negeri ini saat menatap sketsa berjudul “Seven Crew” ini. Kenangan tentang pulau yang panas, tanah yang tandus, dan batu-batu yang merajalela di tanah pulau itu itu kembali muncul. Nama pulau itu adalah Rot terletak di Provinsi NTT. Di peta-peta lama disebut dengan nama Roti. Letaknya di ‘bawah’-nya Kupang. Satu jam dari Kupang jika menggunakan kapal cepat. Pulau yang di sebuah iklan makanan instan ikut disebutkan karena termasuk sebagai pulau paling selatan Indonesia. “Dari Sabang sampai Merauke, dari Rote hingga ke Miangas” begitu kira-kira lagu di iklan makanan instan itu. Saat itu bulan Maret 2010. Mancing Mania Trans 7 (MMT7) di bawah komando DW mengadakan ekspedisi ke pulau yang terkenal sebagai destinasi surfing dunia ini.

Niat ekspedisi adalah ingin kembali ‘mereguk’ sensasi strike yang pada waktu-waktu sebelumnya sudah pernah sukses dilakukan oleh MMT7 dan oleh para pemancing kesohor lainnya. Rote tiba-tiba saja menjadi primadona para pemancing Indonesia karena kesuksesan ekspedisi pertama MMT7 pada 2009 dan kesuksesan NTT Grand Prix Fishing Turnament yang acara puncaknya digelar di sini. Namun niat mereguk kembali sensasi strike ikan-ikan monster di Rote musnah karena saat kami mengaduk-aduk perairan pulau ini dengan teknik popping, telah beberapa waktu sebelumnya perairan Laut Timor ternyata tercemar parah oleh tumpahan minyak sebuah kilang minyak Australia yang bocor! Jadi ekspedisi ini pun ‘gigit jari’ karena hanya mendapatkan beberapa ekor ikan besar saja. Jauh dari harapan dan ‘terjun bebas’ jika dibandingkan dengan kesuksesan-kesuksesan sebelumnya. Namun semua harus dicatat, semua harus mendapat tempat. Dua buah postingan tentang ekspedisi ini saya buat di blog iseng ini berikut foto-fotonya. Dan salah satu foto itu ternyata dipilih oleh sang “seniman Bandung” untuk menjadi inspirasi sketsanya. “Seven Crew”. Menggambarkan sebuah keberangkatan mancing di sebuah pantai yang tiada dermaga. Agak murung, karena telah beberapa hari belum menggaet ikan-ikan besar. Haha!

Sketsa Enam: Maik…. Wkwk!
Ini yang terakhir. Sketsanya adalah diri saya sendiri. Satria Nb mengambilnya dari foto perjalanan MMT7 ke Pulau Lembata (Lomblen) di NTT juga. Lembata adalah pulau yang kondang ke seluruh dunia kerena ada desa kecil bernama Lamalera, tempat tinggal para pemburu paus dengan menggunakan tombak (sea hunters). Saat itu hari ke-5 kami popping di perairan Lembata. Telah puluhan ikan giant trevally besar dinaikkan. Badan telah remuk namun hati sangat gembira. Namun meski tetap ingin tinggal, mancing harus diakhiri karena Jakarta tak boleh lama ditinggalkan atau akan ‘tenggelam’. Haha! Foto itu adalah tentang sebuah kepulangan tanpa yang penuh percaya diri dan tanpa keraguan. Saya suka dengan kutipan kata-kata seorang penulis yang ditaruh dalam sketsa ini. Cerita perjalanan ini juga ada di blog iseng sini (ketik Lamalera di Search) agar Anda bisa membacanya kembali. Saya tak tahu kenapa Satria Nb memilih foto ini. Padahal saya juga punya banyak foto-foto dengan ikan besar. Tetapi itulah seniman, dia bebas dan bisa menggambarkan sesuatu yang tidak dirasa oleh oleh orang-orang biasa. Dan meski belum bertemu lagi dengannya, saya ikut bersuka cita karena kawan lama saya ini begitu bersemangat menyumbangkan talentanya pada dunia mancing Indonesia yang heeeehhhhhhhhh ini. Salam Bung!

* Foto 0-1: Inilah sosok Satria Nb saat bermusik & saat kini sering asyik mancing. Foto 2-3: Sketsa Adhek Amerta+foto aslinya. Foto 4-5: Sketsa Hary Buana+foto aslinya. Foto 6-7: Sketsa Beany Sudjana+foto aslinya. Foto 8-9: Sketsa Yan Yan Fm+foto asslinya. Foto 10-11: Sketsa Seven Crew+foto aslinya. Foto 12-13: Sketsa saya+foto aslinya.
* All sketch by Satria Nb. Don’t use or reproduce (especially for commercial purposes) without our permission. Especially if you are tackle shop, please don’t only make money from our pics without respect!!!
* Pictures of Satria Nb+guitar, Hary Buana, Beany Sudjana, and Yan Yan Fm copyright belongs to themselves. Photo Satria Nb+trevally by Hary B.
* Pictures of Me by Rudi Hadikesuma. Foto Rote by Me. Foto Adhek Amerta by Agustinus Sutandar.

4 comments:

Darmadi said...

wah keren abis Mike, sketsanya Satria Nb, bisa jadi bisnis tuh Mike (join dgn Satria), buat sketsanya jadi gambar di kaos yg yayangnya Mike (ST) bikin, apalagi jika sketsanya pemesan kaos itu sendiri, makin keren n cool abis tuh.

Michael Risdianto said...

Hahaha.... Pak Darmadi mau jadi pembeli pertama???

Darmadi said...

Yes so pasti, Mike. Semalam ide sy lbh berkembang lg,ajak Satria and Singin Drag kerja-sama sementara utk amal.Bikin kaos Singin Drag dgn sketsa made in Satria (sketsa sesuai request pembeli) hasil penjualan sebagian utk bantu Mentawai n Merapi, selanjutnya baru pure bisnis.Gimana ST and Satria and kamu Mike?

Sandi Taruni said...

ST itu maksutnya saya ya? hehe.. geer, bau baca commentnya pak.. thx utk supportnya.. semoga bisa berkolaborasi.. ;)

Popular Posts

Google+ Followers