Wednesday, 26 January 2011

# Seperti dikisahkan oleh ‘Kapten’ Mancing Mania Trans|7, Dudit Widodo.
# Tulisan ini adalah kisah yang kepentingan utamanya sebenarnya dipersiapkan untuk mengisi rubrik Mancing Mania Trans|7 di Tabloid Berita Mancing edisi 10 Februari 2011.


Dalam beberapa trip memancing yang saya lakukan di berbagai pelosok negeri bersama Tim Mancing Mania Trans|7, saya berjumpa dengan banyak pemancing dengan berbagai latar belakang dan pengalaman mancing yang berbeda. Berkumpul dengan mereka adalah saat tepat untuk saling bertukar informasi, saling berbagi ilmu, dan cerita seru. Berbagai kisah menarik yang diceritakan selalu membuat kita rindu untuk kembali segera pergi memancing! Salah satu yang menggelitik hati saya adalah kisah tentang sensasi strike ikan samson dan ikan kingfish yang dikisahkan oleh para pemancing yang pernah pergi ke Australia. Saya pernah pergi memancing ke Australia sebelumnya namun belum pernah berhasil hooked up ikan samson dan ikan kingfish ini.

Ikan samson dan kingfish adalah ikan dalam famili Carangidae dengan genus Seriola. Nama Latin ikan samson adalah Seriola hippos, sedangkan ikan kingfish nama Latinnya adalah Seriola lalandi. Keduanya tidak terdapat di perairan Indonesia. Jenis yang ada di negeri kita adalah ikan amberjack atau Seriola dumerili. Dari semua jenis ikan dalam keluarga Seriola ini, samson fish dan kingfish adalah ikan dengan kemampuan fight yang sangat kuat. Terutama ikan samson, ikan ini adalah salah satu ikan paling prestisius yang paling ingin dipancing oleh para sportfisherman di dunia. Hidup di perairan dengan kedalaman sekitar 70-90an meter, ikan samson bisa mencapai berat up 50 kg dengan panjang hingga 1.8 meter. Di Australia ikan samson dan kingfish tersebar di bagian barat dan terutama di Negara Bagian Queensland.

Kembali ke Australia
Tak saya duga, tiba-tiba ada ajakan dari Tim Cardinal Bandung (Toni, Luminto, dan Sherly – anak Toni) yang mengajak saya untuk ikut pergi memancing ke Australia dengan target utama kingfish dan ikan samson. Tanpa berfikir dua kali saya pun mengiyakan. Ikut menemani saya dari Tim Mancing Mania Trans|7 adalah Bayu Noer dan Denis Polapa. Pada pertengahan Desember kami pun berangkat menuju Negara Bagian Queensland dengan tujuan utama kota Gold Coast, sebuah kota wisata yang harus kami tempuh dengan tujuh jam penerbangan dari Jakarta.

Keesokan harinya kami pun sudah berada di South Port untuk berangkat menuju lokasi mancing. Jujur, saat berada di South Port ini saya begitu kagum dengan pemandangan dunia mancing yang saya lihat. Dermaga yang begitu bagus, puluhan dan mungkin ratusan kapal mancing mewah berjajar rapi, laut yang begitu bersih, dan para pemancing yang lalu-lalang dengan wajah-wajah ceria. Tidak hanya infrastruktur dunia mancing yang begitu mapan dan lengkap. Di sini juga terdapat regulasi mancing yang dipatuhi oleh semua pihak demi kemajuan, kenyamanan, dan masa depan sportfishing itu sendiri. Di sini setiap pemancing harus memiliki SIM. Ada bag limit (jumlah maksimal ikan yang boleh dibawa) yang harus dipatuhi, ada size minimal yang boleh diangkat/dibawa pulang, dan lain sebagainya. Berbeda sekali dengan keadaan di negeri kita sendiri.

Namun saya tak mau terhanyut dalam suasana perbandingan yang begitu njomplang tersebut. Kami harus segera berangkat. Selama di Queensland ini kami menggunakan jasa fishing operator Sea Probe yang dioperasikan oleh Gavin dan Robert. Operator mancing terkenal di Gold Coast. Kapal yang digunakan adalah kapal Blackwatch dengan panjang sekitar sebelas meter dan mampu melaju hingga 28 knot! Jadi jangan berharap dalam perjalanan kita bisa menunggu sambil tidur seperti di Indonesia karena tak perlu waktu lama untuk sampai di lokasi mancing. Sebelum memancing di spot ikan samson dan kingfish, kami harus berhenti dahulu di spot ikan umpan sekitar 8 mil dari South Port untuk mencari ikan-ikan umpan yakni ikan tailor. Benar, kami akan menggunakan umpan-umpan hidup ini untuk memancing dengan teknik dasaran (bottom fishing) dengan umpan hidup (live bait). Caranya umpan hidup diturunkan ke kedalaman tertentu dengan rangkaian pancing yang telah diberi timah pemberat. Meski ikan samson dan kingfish bisa di-jigging, kami tidak mengambil opsi ini.

Kingfish, Kingie, Hoodlum, Yellowtail, atau Bandit!
Dari lokasi ikan umpan spot ikan samson dan kingfish kira-kira berjarak 24 mil. Kami memancing dengan cara drifting. Jadi kapal tidak dijangkar di atas spot melainkan dibiarkan hanyut. Caranya kapal diposisikan lebih dahulu di kepala aurs lalu dibiarkan berhanyut ‘menyapu’ areal mancing. Selama berhanyut inilah umpan-umpan kami turunkan ke kedalaman 70 hingga 90 meteran. Dan memang Australia luar biasa! Strike dari ikan kingfish kami dapatkan terus menerus tanpa henti. Jika di negeri kita double strike itu sudah termasuk istimewa, di sini triple dan bahkan quarto strike itu biasa. Saya sampai tidak ingat berapa banyak kami berhasil strike. Saya, Bayu, Toni, Luminto, dan Sherly sampai capek fight dengan ikan.

Justru yang menjadi perhatian penting kami selama ‘pesta’ strike kingfish ini adalah bagaimana memilah mana ikan yang menurut peraturan mancing disini boleh dibawa pulang dan mana yang harus dilepaskan kembali ke laut. Di Queensland, ukuran minimal ikan kingfish yang boleh diangkat 65 cm. Dan setiap pemancing hanya boleh membawa pulang ikan maksimal 5 ekor saja. Jika kita melanggar aturan ini, sanksi berupa denda dan hukuman lain harus siap kita terima. Jangan berharap ada keringanan atau cara lain untuk mengakali peraturan di negeri yang menjunjung supremasi hukum dalam artian sebenarnya ini.

Saya sangat terkesan dengan kekuatan ikan-ikan kingfish tersebut. Jika sudah hooked up, ikan ini akan terus melawan dengan gigih bahkan hingga saat berada di dekat kapal tanpa mengalami dekompresi sedikitpun! Bandingkan dengan ikan-ikan lain yang hidup di kedalaman serupa, rata-rata mereka langsung dekompresi saat sudah berada di permukaan. Itupun kemampuan fightnya hanya beberapa menit awal saja. Tetapi tidak dengan kingfish. Ikan ini tetap full power meski sudah naik ke permukaan air. Bahkan menurut saya perlawanan ikan ini cenderung brutal saking kuatnya. Luar biasa! Kata kapten kapal, Gavin kingfish begitu tangguh seperti itu karena memiliki jantung yang besar. Ikan ini juga sangat cantik, warna kuning dan putih di tubuhnya begitu cantik. Ikan ini bisa tumbuh sepanjang 2 meter dengan berat up 50 kg. namun ukuran yang kami dapatkan rata-rata antara 10-15 kg saja.

Akhirnya Samson Fish Australia
Memancing di Australia, apalagi melalui operator mancing seperti Sea Probe ini, adalah memancing dalam kenyamanan dan keharusan-keharusan yang semestinya. Ini juga menjadi perhatian saya. Bagaimana para pemancing dan pecinta laut dari seluruh penjuru dunia tidak ingin memancing di Australia misalnya jika para fishing operator seperti Gevin dan Robert ini begitu mahir, begitu entertain, dan begitu memahami mancing, ikan dan lautnya? Ditambah dengan laut Australia yang begitu bersih, indah dan sangat terjaga kelestariannya? Andai apa yang kami alami di Australia ini ada di Indonesia? Masalah keamanan juga menjadi prioritas utama pihak-pihak terkait di Australia. Misalnya saat berada di laut, kapten kapal selalu berkoordinasi dengan petugas penjaga pantai yang piket di darat. Jadi keamanan semua yang dilaut benar-benar dipantau dengan seksama.

Namun meski kami begitu kami masih penasaran untuk mendapatkan strike dari ikan kingfish dan terutama mendapatkan strike dari ikan idaman para pemancing kelas dunia, samson fish! Maka pada hari kedua saat kami dibawa oleh Sea Probe menuju spot yang baru, saya berharap kami dapat menaikkan ikan samson. Selama perjalanan menuju kami iseng untuk menurunkan trolingan. Dan hasilnya adalah beberapa ikan lemadang atau dolphinfish. Ikan yang juga disebut mahi-mahi ini cukup menghibur kami selama perjalanan menuju ke lokasi mancing. Apalagi pada hari ini Daryl, saudara Toni dari Melbourne ikut bergabung. Suasana menjadi semakin ceria.

Umpan ikan tailor kembali menjadi andalan kami di spot baru ini. Dibandingkan dengan spot pada hari pertama, frekuensi strike ikan di lokasi ini tidak sehebat di spot pertama. Namun harapan untuk mendapatkan big strike dari big fish di lokasi ini lebih besar. Spesies-spesies khas Australia berukuran kecil menjadi perolehan kami di awal-awal mancing. Ada flathead dan mackerel tuna, dan lain-lain. Menjelang sore, saya seperti mendapatkan feeling bahwa pada saat inilah saya mungkin bisa mendapatkan strike dari ikan besar. Saya lalu memasang umpan ikan tailor berukuran besar dan juga telah siap dengan sabuk gimbal di pinggang saya.

Tiba-tiba joran saya melengkung tajam. Tarikan ikan sangat kuat, bahkan dua kali lebih kuat dibandingkan tarikan ikan kingfish. Dan saya harus berjibaku ekstra keras agar ikan bisa dinaikkan. Untungnya piranti mancing yang saya gunakan tidak terlalu kecil sehingga saya tak khawatir akan ada kekecewaan akibat piranti yang kurang tepat. Sabuk gimbal yang telah saya pasang sebelumnya sangat membantu saya meladeni perlawanan ikan. Saat bertarung saya masih belum tahu ikan apa yang menyambar ikan saya namun feeling saya mengatakan ini bukan kingfish karena karakter fightnya sedikit berbeda. Pelan namun pasti akhirnya ikan berhasil saya naikkan, dan viola!, akhirnya saya berhasil mendapatkan samson fish Australia! Kapten Gavin langsung turun ke dek bawah saat melihat saya berhasil menaikkan ikan samson ini. Dia menyalami saya sambil mengucapkan selamat! Jarang-jarang ada yang bisa mendapatkan ikan samson di spot ini karena sebenarnya ini adalah spot ikan kingfish. Suasana saat itu benar-benar luar biasa, sulit saya lukiskan. Benar-benar mantab! Akhirnya samson fish Australia berhasil daya dapatkan!

* Most pictures by DENIS POLAPA and Sea Probe crew. Don’t use or reproduce (especially for commercial purposes) without our permission. Especially if you are tackle shop, please don’t only make money from our pics without respect!!!
* Foto 1: Mas Dudit akhirnya berhasil mendapatkan samson fish Aussie. Foto 2: Ikan-ikan kingfish yang didapatkan. Foto 3: Foto bareng dengan ikan kingfish. Foto 4: Sailing over Gold Coast ocean. Foto 5: Mr. Luminto dan Gavin memegang ikan kingfish. Foto 6: Denis dengan 'rekan-rekan sekampung halaman'. What?! Foto 7: Darrel and dolpinfish. Foto 8: Mr. Toni dan Gavin memegang ikan samson.

3 comments:

Darmadi said...

Hi Mike akhirnya kisah mcg km nongol lagi, sdh sembuh total dong, Mike. Congratulation to mas Dudit n Mas Bayu atas trip sukses di "The Land Down Under".Memang top kingfish and samson fish nya,mirip AJ ikannya.

Michael Risdianto said...

Thanks again kembali mampir di blog aya Pak Darmadi.... Saya dah kembali sehat meski sebenarnya tidak pernah kembali benar-benar sehat.....

Cyntya said...

blog nya berbobot banget, banyak info yang berguna!
coba yang ini: http://pighuntingnz.com/

Popular Posts

Google+ Followers