Tuesday, 21 June 2011

Trip Selat Dampier, Raja Ampat digelar tanggal 17-23 Maret 2011. Dengan pemancing Handoko, Darwan (Surabaya) dan Tarigan, Imam, Herry, dan Albert (Timika). Kru MMT7 yang berangkat adalah Cepy, Arfane dan saya.

Kepulauan Raja Ampat, siapa pecinta bahari yang tak kenal (atau tidak pernah mendengar) keelokan kepulauan nan cantik di Papua Barat ini. Beribu dan bahkan berjuta pecinta bahari di dunia ini mungkin telah datang untuk datang ke sini untuk mencicipi keindahannya. Hadirnya lebih dari 30 operator diving kelas dunia di sini, dengan mother ship-nya yang mewah dan besar itu, juga resort-resort diving nan mahal itu, adalah salah satu bukti bahwa Raja Ampat adalah destinasi bahari kelas wahid di bumi ini. Begitu banyak rasa kagum terhadap Raja Ampat ini juga dituangkan oleh para pengagumnya di hampir semua media di dunia ini. Juga media-media kelas dunia dari media televisi, cetak dan online telah pernah membuat liputan tentang tempat ini. Dan yang membanggakan, Raja Ampat adalah milik kita. Semoga memang benar-benar begitu.

Mungkin 99,9 % orang yang datang ke Raja Ampat adalah dalam rangka untuk menyelam, snorkeling dan berkegiatan bahari lainnya tetapi tidak untuk mancing. Sejauh saya tahu selama ini, sangat-sangat jarang trip mancing dilakukan ke tempat ini karena Raja Ampat adalah wilayah konservasi bahari, yang sialnya ada paradigma dari pemangku wilayah, pemangku kebijakan dan stakeholders lainnya yang beranggapan bahwa hal itu (konservasi bahari) berarti tidak untuk didatangi oleh para pamancing (pemancing yang saya maksud di sini adalah pemancing sport, sportfisherman), kalangan pemancing yang menurut saya bahkan kepeduliannya pada kelestarian bahari juga tidak kalah hebatnya dengan para penyelam, dan bahkan tidak kalah dengan aktivis lingkungan sekalipun.

Siapa yang peduli bahwa banyak spesies ikan yang kini telah mulai langka? Siapa yang peduli pada pencemaran laut? Siapa yang peduli pada pencurian ikan-ikan kita oleh kapal-kapal asing? Siapa yang mau bersusah payah membuat rumpon-rumpon di tengah laut demi agar ada ikan-ikan berkumpul? Siapa yang peduli pada restocking ikan-ikan yang mulai punah di perairan tawar? Banyak pihak yang peduli, dan salah seribunya adalah para pemancing! Maksud saya, banyak sekali pemancing yang terlibat dan memikirkan kelestarian bahari Indonesia ini. Namun sialnya, sumbangsih pemancing untuk mengkampanyekan dan ikut serta pada pelestarian ekosistem bahari ini banyak disepelekan oleh banyak pihak, terutama oleh mereka yang tidak mengerti apa itu sportfishing dengan berkata bodoh,”tetapi kalian tetap memancing ikan…?” Maka kami tidak kaget saat pada hari ketiga memancing di sebuah spot tengah laut yang bahkan sudah keluar jauh dari areal yang dilarang dipancingi sesuai peta yang kami lihat di desa terdekat, kami masih diomelin oleh para penyelam dan beberapa bule yang tiba-tiba mengejar kami dengan speedboat,”No fishing here!” Saya bilang aneh karena mereka diam-diam kadang juga mempraktekkan spearfishing. Saya tidak berniat membuka front, tetapi ini memang ironis. Andai mereka tahu tentang catch and release, tag and release, bag limit, fishing season, dan lain-lain di dunia sportfishing. Andai mereka tidak egois dan menganggap kami bodoh!

Saya tiba di kota Sorong, ibukota Papua Barat pada siang hari tanggal lima Maret. Masih sebagai ‘abk’-nya Tim Mancing Mania Trans 7. Di bandara telah menunggu beberapa kawan Papua kami dan seorang pemancing dari Surabaya yang telah datang lebih dahulu. Sore hari rombongan kami akan semakin banyak karena empat orang pemancing dari PT. Freeport Indonesia (Timika) yang sedang cuti juga akan bergabung. Jadi jumlah total tim inti ada 8 orang. Ditambah kru lokal jumlahnya akan menjadi 12 orang. Cukup ramai untuk membuat kegaduhan di sebuah desa kecil yang akan menjadi basecamp kami selama seminggu penuh di Pulau Batanta, sebuah pulau besar di Raja Ampat. Batanta adalah pulau besar yang diapit oleh Pulau Salawati dan Pulau Waigeo. Perairan di sekitar pulau ini tidak termasuk sebagai destinasi favorit para penyelam, yang favorit adalah perairan sekitar Waigeo (Air Borek misalnya), inilah sebabnya kami memilih Pulau Batanta sebagai basecamp dan perairan sekitarnya untuk dipancingi untuk menghindari friksi dengan para penyelam dan operator diving yang pasti akan gerah melihat para pemancing.

Dan kami datang sesuai prosedur yang semestinya harus dilakukan. Pemandu kami, yang juga sehari-hari merupakan pemandu diving, telah mengurus ijin kedatangan kami dan menyampaikan maksud kedatangan kami bahkan kepada sebuah dinas pemerintahan yang berwenang mengurus kepulauan semacam ini. Hal yang tidak selalu kami lakukan. Di Raja Ampat jauh-jauh hari sudah kami lakukan karena kami sadar bahwa Raja ampat adalah warisan bahari dunia yang harus dijaga oleh siapa saja yang mengaku mencintainya. Dan kami adalah salah satu pecintanya, meski kami datang untuk memancing ikan. Tetapi apa yang salah sebenarnya dengan memancing? Kalau kami memancing untuk menguras isi laut, untuk membunuh ikan-ikan langka, dan atau untuk mengotori laut, orang boleh mencibir kami. Tetapi kami tidak demikian; bag limit, catch and release, selalu kami lakukan. Namun selalu ada celah bagi orang yang tidak mengerti memancing dan atau membenci pemancing (atau membenci kami?) untuk nyerocos dengan kalimat bodoh,”Tetapi kalian menyiksa ikan?”

So, pada hari kedua kami semua telah melaju dalam dua buah kapal kayu model longboat (namun berukuran besar) menuju ke sebuah kampung kecil di sebuah teluk kecil di Pulau Batanta untuk ‘mendirikan’ basecamp kami. Sebenarnya kami menuju kesana untuk beramah-tamah sebentar dengan para penduduk kampung (semacam permisi), menaruh barang-barang, dan lalu langsung kabur mancing pada sore harinya. Hehehe. Ternyata basecamp ini tidak sejauh yang saya bayangkan sebelumnya. Saya pikir, saat masih di Jakarta, Raja Ampat adalah kepulauan yang jauh letaknya seperti misalnya Kepulauan Takabonerate misalnya (jika dari Makasar). Namun ternyata Raja Ampat hanya berjarak bahkan 2 jam saja jika dengan kapal berkecepatan tinggi. Kami, karena menggunakan mesin 40 PK saja, baru sampai 4 jam kemudian. Lebih dari cukup untuk menghabiskan dua bungkus rokok dan memanaskan pantat kami. Saya perokok berat, jadi maaf ya bagi pengunjung ini yang anti perokok. Hehehe.

Basecamp kami adalah sebuah Kampung X yang tenang. Kecil, panas, namun indah. Penduduknya juga sangat-sangat ramah. Tak saya duga Raja Ampat sepanas ini, suhu udara saat siang hari bisa menyentuh angka 38 degree. Entah apakah karena kami datang pada bulan Maret, saat sedang panas-panasnya? Namun yang jelas suhu sepanas ini membuat saya yang sudah hitam ini tidak terlalu khawatir. Paling akan berubah ungu warna kulit saya. Hitam ke ungu tidak terlalu buruk saya pikir. Kampung X dipilih karena kecil, sepi, dan ada air tawarnya. Kampung ini juga memiliki dermaga kayu yang cukup bagus dan memiliki semacam dua buah gubuk besar di ‘gerbang’ kampung, tempat yang kami perlukan untuk memusatkan kegiatan kami; menaruh barang, tidur saat malam, memasak, dan termasuk menjadi sekretariat saat para penduduk sudah tidak begitu sabar menantang kami adu bola di lapangan kampung. Haha. Tentunya ajakan main bola ini dikesampingkan dulu. Datang jauh-jauh untuk mancing e, masak belum-belum main bola?

Keindahan bahari di Raja Ampat memang mengaggumkan. Air laut yang begitu bersih. Langit begitu biru. Reef-reef yang begitu indah. Terumbu karang yang begitu hidup bahkan di depan kampung sekalipun! Tetapi kami tidak mau ngawur. Setiap berangkat memancing, kami melihat dulu peta perlindungan laut yang ada. Mana yang boleh dipancingi dan mana yang tidak, jadi kami benar-benar hanya melakukan aktivitas memancing kami di areal yang diijinkan saja. Penduduk adalah referensi pertama kami. Mereka menunjukkan dimana lokasi yang boleh dipancingi. Baru kemudian kami melihat ke peta yang dikeluarkan oleh Pemkab Raja Ampat. Jadi fishing trip kali ini benar-benar dilakukan dengan kesadaran dan fokus di atas rata-rata karena kami juga mencintai Raja Ampat. Ikan-ikan yang kami pancing juga selalu kami usahakan untuk dilepaskan kembali dalam kondisi sehat walafiat. Kalaupun ada yang dibawa pulang, itu adalah ikan-ikan konsumsi dalam ukuran dan jumlah yang wajar. Wajar dong jika kami membawa seekor tenggiri besar misalnya, lha kru kami juga harus makan lauk? Wajar jika ada ikan-ikan tenggiri ukuran 2 kiloan kami bawa beberapa ekor untuk ibu-ibu di kampung yang begitu sukacita menangani urusan dapur untuk kami selama disini?

Target kami jelas adalah ikan-ikan besar. Jadi ikan-ikan kecil sebenarnya tidak masuk hitungan kecuali dipancing dalam jumlah secukupnya untuk lauk pauk saja. Giant trevally (GT) atau ikan bobara adalah target utama kami disini. Itulah sebabnya tackle kami sebagian besar adalah tackle popping kelas PE6 ke atas. Ikan-ikan pelagis semacam tenggiri, wahoo, dan billfish tidak kami jadikan target utama disini. Itulah sebabnya kami juga tidak membawa piranti trolling. Meski ternyata tak bisa dihindari, dengan piranti popping ternyata kami mendapatkan banyak ikan pelagis dari spesies tenggiri. Namun resikonya banyak popper (umpan popping) putus olehnya akibat gigitan gigi guntingnya pada tali leader kami. Ikan demersal laut dalam menjadi target kami. Namun informasi yang kami dapatkan sangat sedikit jadi sebenarnya kami tidak terlalu berharap dapat memancing dogtooth tuna, ruby snapper atau amberjack disini. Namun kami menyiapkan dalam jumlah cukup beberapa piranti mancing untuk teknik jigging. Siapa tahu ada perwakilan ikan ruby snapper atau dogtooth tuna tiba-tiba mengirimkan ‘undangan’ special kepada kami. Areal yang menjadi fokus kami kali ini adalah Selat Dampier yang memisahkan Pulau Batanta dengan Pulau Waigeo. Di sini terdapat banyak sekali reef dangkal yang mana hampir semua reef itu berada di tengah-tengah selat. Dari mulut selat di depan Pulau Augusta hingga di ujung selat yang lain yang mengarah ke Pulau Senapan jauh di timur, penuh bertabur reef dangkal. Ditambah dengan pergerakan arus selat yang selalu dinamis (meski tidak sepanjang hari), perairan Selat Dampier ini menjelma menjadi sebuah surga bagi siapapun yang menyukai teknik popping.

Jadi setelah sampai di Kampung X, kami tidak berlama-lama, usai menurunkan logistik dan barang-barang lain, usai beramah-tamah sebentar dengan para warga kampung, kami langsung tancap gas menuju spot-spot yang dekat dengan kampung. Kami terbagi dalam dua buah longboat. Saya, Darwan dan Pak Handoko (Surabaya) berada di longboat yang dikemudikan oleh Kapten L, sedangkan Tim MM Trans 7 lainnya yakni host Cepy dan kameraman Arfane berada di longboat utama yang dikapteni oleh Kapten D. Mereka memancing bersama dengan kawan-kawan pemancing dari Freeport Indonesia yang sengaja cuti demi menuntaskan hasrat popping di sini. Ada Pak Tarigan, Pak Heri dan Pak Imam. Karena waktu kawan-kawan Freeport Indonesia ini sempit, hanya akan berada disini selama sekitar 3 hari saja, maka kamera utama ditempatkan di kapal mereka. Baru kemudian kalau mereka sudah pulang, pemancing di longboat Kapten L akan pindah ke longboat utama karena Kapten L akan mengantar para pemancing dari Freeport Indonesia tersebut untuk pulang ke Sorong.

Meski sebenarnya cukup lelah, namun setengah hari ini semaksimal mungkin ingin dibuat berarti. Beberapa strike mungkin akan sangat menghibur kami. Namun bagaimanapun, berada di daerah baru kita tidak bisa selalu bisa langsung ngeh dengan keadaan ataupun karakter lokasi tempat kita ‘bermain’. Jadi pada hari pertama ini hasil kurang bagus. Di longboat utama ada beberapa stike namun hanya ikan-ikan GT kecil. Di kapal longboat saya juga ada, namun hanya dua ekor saja GT berukuran sedang. Hasil ini sebenarnya membuat kami nge-drop karena sejak berangkat dari rumah masing-masing, yang terbayang adalah monster dan monster GT. Banyak! Dan ini adalah lokasi yang jarang dipancingi orang, harusnya tidak seperti ini hasilnya, pikir kami. Jadi pasti ada yang salah. Aturan bahwa kami harus menjauhi pantai setidaknya 500 meter, sebagai daerah yang boleh dipancingi sesuatu aturan yang ada, seharusnya tidak membuat chance strike kami mengecil, karena begitu banyak sekali reef di tengah selat. Dan aturan bahwa tidak boleh menjangkar di atas reef, seharusnya juga tidak mempengaruhi kami, karena kami toh juga tidak akan menjangkar. Popping kog menurunkan jangkar? Itu bukan lagi popping namanya. Popping ya idealnya memang harus drifting (berhanyut).

Padahal popper telah kami lemparkan ke segala penjuru reef, longboat memutari reef beberapa kali, dari satu reef ke reef yang lain. Juga teknik popping terbaik yang bisa kami lakukan sudah kami terapkan. Pun juga kesabaran dan doa. Hehe. Pasti ada yang salah. Jadi karena belum menemukan jawaban, kami anggap hari ini kami menghibur diri bahwa kami memang hanya sedang pemanasan, tidak perlu hasil yang banyak dan besar. Mungkin juga, pikir kami, kami salah waktu, karena mungkin saja arus terbaik sudah lewat tadi pagi atau siang tadi. Jadi kami sebenarnya telah kehilangan best time untuk popping di areal ini. Atau mungkin malah arus terbaik tidak terjadi saat siang, melainkan malam. Siapa tahu?

Malam hari pertama di Kampung X terasa mengesankan. Usai makan malam kami duduk-duduk di dermaga (dari susunan kayu-kayu) sambil rebahan melihat bintang. Dan para penduduk kampung banyak yang bergerombol di sekitar basecamp kami untuk sekedar menyapa dan baku cerita. Namun seramah apa pun mereka, seramah apa pun kami menanggapi, faktor bahasa memang tidak bisa dipaksakan. Jadi niat dan kelapangan hati kadang sering terhambat oleh masalah bahasa. Mereka menguasai bahasa Indonesia, meski semacam ada delay sebentar untuk mereka mengerti yang kami maksud, dan kami mengerti apa yang mereka maksud. Namun kami telah memberi porsi yang sangat banyak untuk bergaul dengan mereka dan terkadang kami perlu waktu untuk rebahan di dermaga dalam diam, sambil memandangi sejuta bintang yang berebutan memantau kami dari atas langit malam. Haha! Informasi yang kami kumpulkan mengenai karakter Selat Dampier dari para penduduk semakin banyak dan kami sudah tak sabar untuk terlelap mengarungi mimpi menuju pagi datang menjemput kami yang sedang kasmaran strike GT!

Dan ‘jimat’ yang menjadi pegangan kami saat hari baru datang (yang kami dapatkan dari para penduduk kampung semalam), dan kami telah melaju di atas longboat masing-masing hanya tiga kata saja,”ikan umpan, dan arus”. Jangan membuang tenaga saat tidak bertemu ikan umpan dan di lokasi tidak ada arus yang bagus, sebagus apapun itu reef yang akan ditemui hari ini. Lebih baik pindah lokasi mencari reef lain yang ada ikan umpannya dan atau arusnya. Maka akan kau dapatkan GT atau ikan-ikan besar lainnya. Bukan hal yang sulit. Kami hanya bisa berharap dengan mesin kecil yang terdapat di longboat kami, kami bisa menjelajah jauh ke sudut-sudut selat dan menemukan buruan kami. Sasaran pertama dalah Reef K. Reef ini hanya berjarak 30 menit saja dari Kampung X. Lurus ke utara persis di depan kampung. Reef yangs angat luas. Berada di tengah-tengah selat. Ada sebuah atol luas di tengah-tengah reef ini. Reef ini bukan destinasi para penyelam, arusnya gila, namun atol luas di reef ini konon ini adalah tempat favorit para penyelam yang ingin istirahat atau ingin snorkeling. Wah, ada kemungkinan bertemu para penyelam yang pasti akan gerah dengan kehadiran kami disini?

Tetapi, pilih mana? Menghindari penyelam atau bertemu GT? Pilihan kedua pastinya, meski konsekuensinya akan bertemu para penyelam. Jadi kami pun sibuk memancing. Toh kami berada jauh di luar areal perlindungan yang kami lihat dip eta-peta konservasi di wilayah ini. Kami juga tidak menjangkar di dekat reef karena kami hanya perlu terus bergerak di dekat tubirnya saja (drop off). Reef K ini luar biasa luasnya, untuk sekali putaran saja, jika kita full melempar popper, untuk satu putaran belum tentu satu jam bisa tembus. Jadi kami sangat puas melempar karena tidak pernah kehabisan titik. Lha wong titiknya ada dimana-mana. Gila, saya bilang gila. Ikan umpan seperti cendol dawet. Penuh di segala penjuru reef (namun tidak di atas arus, biasanya agak jauh di luar kepala arus). Juga arusnya (kala-kala) sangat bagus. Di berbagai sudut kala-kala malah kadang terasa menyeramkan saking besarnya putaran dan benturan arus. Hasilnya cukup memuaskan. Longboat utama berhasil strike dua GT monster (Cepy dan Pak Imam), juga beberapa ikan GT besar lain dan barakuda besar. Longboat saya kurang beruntung, hanya GT kecil dan beberapa barakuda sedang. Pak Handoko dan Darwan, melihat lokasi yang sangat cantik ini lebih memilih kasting dengan piranti kecil, jadi chance mendapatkan monsternya menjadi berkurang.

Friksi dengan penyelam (dan atau operator selam) memang tidak bisa dihindari. Saat sedang asyik popping tiba-tiba datang speedboat dari jauh menuju ke arah kami. Beberapa bule di atasnya dengan tiga abk orang asli Papua. Kami sudah tahu maksud mereka. Pasti menyuruh kami pergi. Ada bule cewek di atas speedboat itu. Mereka memang arogan. Mengusir kami pergi tanpa kompromi. Hanya “No fishing here!” terus yang diucapkan. Padahal dia juga tahu, bahwa ini jauh di luar peta yang dilarang memancing. Abk-abk Papua di speedboat mereka ketawa-ketawa senang karena tampaknya mengenal kami dari layar kaca, jadi mereka malah berteriak-teriak slogan kami. Suasana nya menjengkelkan namun lucu juga. Karena hari juga telah sore, dan hanya membuang-buang tenaga saja jika dilayani, maka kami pun memilih pulang ke Kampung X untuk melepaskan rindu pada hidangan yang telah disajikan oleh tukang masak kami. Kita sama-sama tahu peraturannya, kita juga bukan pemilik laut ini, kita juga hanyalah para pecinta Raja Ampat, tetapi kenapa bule selalu merasa lebih berkuasa?

Banyak kasus yang lebih parah sebenarnya. Di Pulau Mengkudu NTT misalnya, pernah ada bule mengibarkan bendera negaranya, padahal dia hanya menyewa pulau itu. Di beberapa wilayah lain, ada bule menjaga pulau yang mereka sewa dengan menempatkan penjaga bersenjata senapan berpeluru tajam. Spot-spot bahari terbaik Indonesia, untuk siapa? Apakah kita pernah tahu, dengan yakin, apa yang sebenarnya terjadi di pulau-pulau yang kemudian dijadikan semacam wilayah tak terjamah itu? Bisa jadi hanya sebagai cara untuk menjaga privasi, bisa jadi karena ada hal lain disana. Mungkin.

Tak terasa hari ketiga pun datang. Panas-nya Raja Ampat semakin terasa menyengat di kulit. Meski begitu Kapten D yang menjadi pengemudi di longboat utama tetap saja melaut tanpa memakai baju. Ini adalah hari terakhir bagi teman-teman pemancing dari Timika bersama kami. Esok mereka akan kembali ke Sorong lalu menuju ke Timika untuk kembali ke ‘hobi’ masing-masing di PT. Freeport Indonesia. Jelas hari ini mereka akan tampil all out. Berbekal pengalaman pada hari-hari sebelumnya, kali ini kami tidak mau membuang tenaga percuma saat arus di reef-reef tengah Selat dampier sedang mati atau lemah. Jadi kami hanya memaksimalkan waktu saat arus bergerak deras saja. Dan karena waktu yang ada tidak banyak, dalam sehari hanya saat menjelang siang dan menjelang petang saja, waktu kami mengeksplorasi reef tidak banyak. Namun hasil hari terakhir ini cukup fantastis. Rombongan Timika berhasil memancing beberapa GT monster dan ikan pelagis lain berukuran besar (barakuda dan tenggiri). Semuanya dengan teknik popping. Sayangnya ada satu joran PE8-10 menjadi korban keganasan monster Raja Ampat, patah. Namun begitu, ikan GT monster nya tetap berhasil dinaikkan.

Hari berikutnya Tim Timika sudah melaju ke Sorong saat pagi masih redup. Tinggalah Tim MMT7 dan Tim Surabaya yang tinggal. Saat melepas kawan-kawan Timika ini tak tega rasanya, mata dan gestur mereka menunjukkan belum mau pulang, tetapi apa daya waktu cuti sudah habis. Kwak?! Berarti tinggal 5 orang saja yang tersisa. Kini hanya diperlukan satu longboat untuk memancing. Suasana menjadi lebih sepi dengan pulangnya kawan-kawan Timika, namun mobilitas kami jujur saj amenjadi semakin lincah karena kini hanya ada satu longboat saja yang siap diarahkan kemanapun ke penjuru Selat Dampier. Kapten L mengantar kawan-kawan ke Sorong, jadi kami hanya ditemani oleh Kapten D saja. Kapten mancing terbaik di seluruh Papua Barat, yang setia mengantar kami ke pasar ikan dimanapun di Selat Dampier ini. Lucu, cukup sebutkan kode “buka segel kapten”, maka Kapten D langsung membawa kami ke spot-spot baru yang luar biasa. Atau sebutkan “oksigen!” untuk menggantikan kata “istirahat” yang bisa berarti merapat ke pulau atau berhenti popping.

Kami semakin bergerak ke sisi timur Selat Dampier, ke arah laut lepas. Ada banyak pulau di areal ini (Pulau Dua, dan lains ebagainya). Disini ternyata kondisi reefnya lebih gila. Banyak reef dan arusnya lebih deras. Kala-kala (upweilling) ada dimana-mana. Dan ikan umpan yang boiling di permukaan, alamaaaak, seperti di raksasa di pasar-pasar ikan saja saking banyaknya ikan umpan. Bunyi kecipak ikan umpan ini sampai seperti bunyi aliran air sungai yang sedang banjir saja. Sungguh surga mancing di bumi Raja Ampat ini. Dan semua piranti popping kami, mau yang merk keren ataupun merk culun, popper biasa ataupun popper mahal, semua laku keras. Mencari double strike bukan hal sulit. Tinggal lempar ke atas reef, tepian reef atau ke sekitar ikan umpan, maka akan langsung “BUUUUM!”, popper disambar. Hanya saja, saking banyaknya ikan pelagis macam tenggiri dan barakuda, banyak leader kami putus dan popper rusak. Padahal yang kami harapkan adalah GT yang besar-besar saja. Hari ini kami benar-benar puas! Tak terhitung strike yang kami dapatkan. Ikan yang kami dapatkan pun sangat variatif, padahal hanya dengan teknik popping saja. Ada tenggiri, GT, big eye trevally, barakuda, red bass, dan juga kerapu.

Siang hari kami merapat di Pulau A yang kosong dan sangat indah. Persis seperti pulau cantik di kartu-kartu pos. Kosong, bersih, pasir putih, reef bagus, langit biru dan pepohonan kelapa. Kami merapat bukan untuk berjemur atau snorkling menikmati keindahan pulau, yang mungkin akan dilakukan oleh pelancong lain non pemancing saat merapat kesini, kami merapat untuk berteduh saking tidak tahannya dengan sengatan panas (catt: longboat kami tidak dipasangi atap karena kami memancing dengan teknik popping sehingga atap longboat dilepas). Memandang gugusan pulau di kejauhan dan bersihnya langit serta birunya air laut, kami duduk –duduk di batang-batang kayu yang hanyut entah dari mana. Tiba-tiba datang dua buah speedboat yang larinya digas seperti sedang mengejar setan. Mereka merapat persis di sebelah speedboat kami. Suasana tiba-tiba tegang. Speedboat pertama ditumpangi beberapa bule dan tentara bersenjata. Speedboat kedua penuh sesak dengan penduduk lokal yang semuanya membawa parang. Kami tidak menyapa, mereka juga tidak. Jumlahnya ada sekitar 30an orang. Beberapa orang tampak membawa radio panggil. Waduuuuh….!!!

Untuk beberapa lama kami tidak mengerti apa yang sedang dan akan terjadi. Saya mengambil inisiatif bertanya kepada bule yang ada di antara mereka. Ternyata mereka datag untuk membersihkan pulau (bagaimanapun ada sedikit sampah plastik yang nyangkut di pulau ini entah dari mana, dan kadang satu dua gubuk rumbia yang dibuat oleh orang yang berteduh…). Bule-bule itu dari sebuah stasiun TV luar negeri yang sangat terkenal. Berencana membuat episode survival game di puau ini selama 40 hari. Pulau harus ‘dibersihkan’ dan nantinya selama tapping tidak boleh ada aktivitas di pulau ini dan juga aktivitas lalu lalang boat penduduk yang mendekati pulau. Selama 40 hari! Dan karena bule-bule ini pintar, maka mereka membuat deal dengan pemda untuk memuluskan program mereka di Pulau A ini. Waoooow! Raja Ampat untuk siapa sih sebenarnya? Yang bener saja, demi tapping sebuah episode TV luar negeri, penduduk dilarang melintas dengan boat dekat pulau ini? Selama 40 hari? Padahal reef-reef sekitar pulau ini adalah tempat warga mencari ikan-ikan tenggiri dengan cara mancing tonda? Begitulah. Tidak usah diperpanjang paragraph ini. Capek! Yang pasti, hari ini kami berhasil memancing ikan dalam jumlah dan size yang lebih dari cukup. All released except mackerel.

Hari berikutnya kami kembali melaut. Cuaca mendung dan sedikit rintik hujan. Tiba-tiba cuaca berubah drastis dibandingkan dengan hari kemarin yang panasnya demikian menyengat. Arus di berbagai reef di tengah Selat Dampier tetap dinamis. Namun angin kencang dari arah utara membuat kami tidak fokus memancing karena khawatir. Siang hari kami memutuskan merapat di sebuah desa di Pulau Batanta, jauh dari basecamp kami, untuk melihat-lihat. Desa yang kokoh. Sebuah gereja besar berdiri di pusat desa. Dermaga yang cukup bagus dan pola pemukiman yang sangat rapi. Ciri khas kampung-kampung yang didirikan para misionaris. Saat duduk-duduk di sebuah warung para penduduk desa berkumpul dan kami saling bertegur sapa. Mereka kaget. Kog kami berani melaut? Lho kenapa bapak? Tanya kami. Menurut mereka, ternyata di televisi-televisi Indonesia disiarkan berita tentang tsunami Jepang yang kemarin terjadi dan diramalkan arah gerakan tsunami itu akan sampai di daerah ‘kepala burung’ Papua (manokwari, Sorong, Biak) antara hari ini hingga besok pagi. Tsunami besar! Sebuah kota di Jepang hancur lebur! ‘Kepala burung’ Papua siaga satu!

Oooow…. Ooooow …. Begitu kami semua menjawab dengan mulut melongo. Namun dengan perhitungan terhadap tata letak Kepulauan Raja Ampat, kami yakin tsunami itu tidak akan menghantam perairan ini. Kalau Biak-Manokwari mungkin, karena daerah tersebut menghadap Pasifik. Tetapi saya menjadi galau akan seorang kawan yang tinggal di sebuah kota di Jepang. Di kota manakah tsunami besar itu? Seberapa parah? Berapa korban jiwa? Dan seterusnya. Sialnya disini tidak ada sinyal selular untuk berhubungan dengan dunia luar. Hanya sinyal televisi itulah penghubungnya. Saya hanya berdoa dan menenangkan diri semoga tsunami besar itu bukan di sebuah kota di Jepang tempat kawan saya tersebut tinggal. Ternyata, di saat yang sama, ini saya tahu beberapa hari kemudian setelah saya memeriksa email, kawan saya di Jepang tersebut ternyata baik-baik saja dan malah mengkhawatirkan keadaan saya yang berada di perairan yang tepat menjadi sasaran arah pergerakan tsunami besar tersebut. Dan dia juga gundah, karena tidak bisa menghubungi saya. Dugaan kami benar, tidak ada tsunami menerjang Raja Ampat, hanya air pasang naik yang sangat drastis hingga menenggelamkan dermaga untuk beberapa saat lamanya saat malam hari.

Hal tsunami Jepang dan pergerakannya yang mengarah kepada kami ini juga membuat banyak orang di Jakarta khawatir, terutama kantor kami, Trans 7. Atasan-atasan kami sampai menghubungi pihak-pihak terkait untuk mencari keberadaan kami. Juga kawan-kawan dan orang-orang yang mencintai kami, mereka jungkir balik mencari informasi tentang keberadaan. Namun kami (kata mereka setelah kami dapat dihubungi pada tanggal 23 Maret) seperti hilang ditelan angin. Tidak ada kabar berita. Bagaimana kami bisa berkirim kabar, telepon satelit yang harusnya kami bawa berpetualang sedang rusak di Jakarta dan sedang diservice (dan tidak selesai-selesai service-nya). Jadi, kami meminta maaf kepada semua yang telah mengkhawatirkan kami selama kami berada di Raja Ampat saat tsunami Jepang itu terjadi. Tak mungkin disebutkan satu-satu persatu disini. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan dan perhatian Anda semua terhadap keselematan kami.

Sebenarnya jumlah dan size ikan yang kami pancingi selama di beberapa hari disini telah lebih dari cukup. Namun karena kami telah jauh-jauh datang ke ‘surga di bumi’ ini demi memancing, maka waktu yang tersedia kami maksimalkan. Meski sebenarnya, jujur saja, raga juga lelah. Lelah yang menyenangkan. Namun pada hari terakhir ini kami telah membuat deal dengan para warga kampung untuk setuju bertanding sepakbola. Kru MMT7 ditambah pemancing Surabaya dan abk+kapten, melawan warga kampung. Tantangan yang menyenangkan juga. Apa susahnya bermain bola? Maka kami berjanji pulang lebih awal demi menggelar final Liga Champion versi Kepulauan Raja Ampat. Haha! “Tolong lapangan dan gawang disiapkan!” pesan kami saat berangkat mancing kepada warga kampung. Dan saat kami pulang, ternyata persiapaan yang dilakukan ternyata sangat serius. Termasuk para supporter lokal telah siap di pinggir lapangan; ibu-ibu, nenek-nenek, dan anak-anak kecil. Tak perlu diceritakan panjang lebar, setelah bermain 30 menit kali dua, kami kalah telak!!!! Ternyata bermain bola melawan penduduk asli Papua seperti bertanding sepakbola melawan kawanan kuda liar, mereka berlari seperti angin! Padahal udara sangat tipis/panas!!!

Demikianlah. Saya telah menulis! Hoaheeeeem. Ngantuuuuk! Hehehe...

* Most pictures by me. Don’t use or reproduce (especially for commercial purposes) without our permission. Especially if you are tackle shop, please don’t only make money from our pics without respect!!!
* Foto #1-#3: Nice view from A Island. Sepotong senja yang banyak diprotes orang. Sailing yacht yang berpapasan dalam perjalanan. Foto #4-#5: Suasana di dalam basecamp. Basecamp dari kejauhan. Foto #6-#7: View dari basecamp. Menu makan siang yang menyambut kami. Foto #8-#9: Lapangan bola di Kampung X. Disambut anak-anak kampung. Foto #10-#11: Albert dengan GT pertama. Barakuda yang menyambar popper saya. Foto #12-#13: Pemandangan Pulau B dari boat. My pinky popper stay cool there. Peta konservasi di tiap kampung yang selalu kami datangi untuk memeriksa batas-batas yang tidak boleh dipancingi. Foto #14: Tarigan dengan great barakuda perolehannya. Foto #15-#16: Makan siang di atas longboat. Pak Heri dengan GT imutnya. Foto #17-#18: Darwan dengan GT sedang. Saya dengan big eye trevally. Foto #19: Gereja di Kampung A. Foto #20-#21: Saya dan Cepy dengan ikan-ikan imut. Foto #22-#23: Peta konservasi di Kampung A. GT sedang perolehan saya. Foto #24-#25: Arfane merilis GT. GT besar perolehannya. Foto #26: GT mama perolehan Imam. Foto #27-#28: Cepy dan tenggiri on popping. Arfane kembali hooked up GT besar. Foto #29-#30: Dare to join us??? Foto #31: handoko dengan GT besar. Foto #32-#33: Saya hooked up tenggiri on popping dua kali. Banyak yang putus gara-gara ikan tenggiri di sini. Foto #34-#35: Berusaha mencetak gol. Tim final Liga Champion Kampung X. Foto #37: Saya yang semakin putih. Hehe!

7 comments:

satria nb said...

Thnks mike, walaupun kaki ini belum pernah menginjakan di satu tempat yg milik nya sendiri dan di puja orang di seluruh dunia, tapi dengan membaca tulisan ini bisa merasakan nikmat dan lelahnya berputar2 di tanah sana.
Selain kekayaan yg pasti mengesankan, reaksi dari para bule itu selalu nempel di kepala.. ironis sekali antara mereka sebagai 'polisi' kelestarian atau arogansi sebagai pemilik, kadang memori bangsa kita sebagai bangsa di jajah dan bangsa minoritas teringat kembali.. tapi mungkin jika ada kempatan berhadapan langsung nanti, komunikasi, diplomasi dan sifat 'keukeuh' perlu dilakukan, "enak ajaa.. ini juga tanah kita, negara kita.. kita juga toh bukan perampok atau penjahat yg gak tau aturan kok! jangan beri kesempatan lagi modus perbedaan warna kulit menjadi ajang ber-'superior'-ria..!
Great fishing trip mike! terimakasih tulisan nya.
Cheers!

Michael Risdianto said...

Satria. Thx bro.... Begitulah.... Ayo kita kongkow2.... Banyak kisah.... :)

Darmadi said...

The best story (and the longest) and photos of yr fishing trip so far, Mike!! kapan jadwal tayangnya di MMtrans 7? kalo udah item trus berubah ungu, itu bagus mike, biar kayak orang papua, tinggal rambutnya aja yg beda!! biar tuh bule yg arogan mengira kamu orang papua!! andai sy ada di sana saat kejadian diuber bule, sy akan balik ngomong:QUOTE :
Don't you ever dare to judge us and accusing us in destroying the fish environment here in Raja Ampat!! We're anglers who practising sportfishing and have high respect to our environment, not some mad fisherman who exploiting the fish to extinction!! and don't you ever forget we're indonesian at indonesian sea, in fact you're the one who are guests here and happens to have a load of dollars in yr hand!!but that doesn't make you a "ruler" of our sea!!
UNQUOTE

OK that's all mike, keep on writing yr fascinating stories of fishing trip!!

Michael Risdianto said...

Terimakasih Pak Darmadi atas kunjungan rutinnya ke blog iseng ini... Begitulah nyatanya... Banyak tempat luar biasa kini bukan jadi 'milik' kita sendiri karena dijual murah (mungkin) ke mereka-mereka yang datang entah dari mana...

Ada plus minusnya memang....

Andai, kita bisa mengurusnya sendiri dan tidak tergoda untuk menyerahkan permata-permata terbaik kita kepada mereka.... :(

BERITA MANCING said...

Nice fishing story... saya sampai terbawa larut dalam arus ceritanya dan bagaikan nonton siaran langsung MMT7.
Saya juga prihatin, sedih, atas kejadian bule yg ngomel2 ngusirin pancinger...! Emang mereka yg punya daerah, emang hanya orang diving yg bisa menikmati kemolekan Raja Ampat. pancinger juga manusia..., pancinger juga punya hak atas Raja Ampat, apalagi pancinger Indonesia.
salam hangat utk semua kru MMT7

amik said...

bang mike, saya ikut merasa prihatin dengan mental2 org2 yg punya pemikiran sempit soal spor fishing. mereka hanya bisa mencibir saja tanpa mengerti dan tanpa mau mengerti akan arti sport fishing. sering saya mengalami hal semacam ini tetapi sebagai manusia yang saling menghargai, saya selalu mengalah demi kebaikan. toh kalau sport fishing saya lakukan juga alam akan tetap lestari tanpa sepengetahuan org yang kurang mengerti akan sport fishing. thanks bang mike.....

OzaTarigan said...

Kapan ya bisa kesana lagi

Popular Posts

Google+ Followers