Friday, 2 September 2011

















Untuk sahabat saya Fadila Wicaksono (Pete) yang sudah anteng di Kalimantan! Hehehe! Saya pernah bermimpi, bisa mengabadikan momen-momen indah dengan piranti 'pembeku gambar' terbaik. Fotografi telah membuat saya gelisah bertahun-tahun namun harga piranti-nya yang berada di awang-awang itu masih jauh dari jangkauan. Ikan mungil yang kita sebut dengan ikan beunteur atau wader ini pun, meski menurut saya momennya sedang indah untuk diabadikan, akhirnya hanya bisa dijepret dengan perangkat selular. Ikan yang tidak dianggap cukup bergengsi oleh banyak kalangan, namun mampu bertahaan melintasi berbagai perubahan lingkungan hingga hari ini. Semoga kisah ikan beunteur ini bisa dinikmati. Salam!











Saya tak pernah menyangka bahwa di ‘halaman’ rumah saya sendiri, saya bisa menjumpai kemegahan yang akan saya kisahkann ini. Di Jawa, menurunnya kualitas lingkungan dan pesatnya pertumbuhan populasi penduduk, telah ikut menyumbang pada menurunnya (dengan cepat) populasi spesies ikan-ikan air tawar di habitat aslinya. Tetapi apa yang tampak di depan mata saya sekarang memunculkan kesadaran dan kegembiraan, bahwa masih ada spesies ikan air tawar di Jawa yang memiliki masa depan. Di sebuah lembahan besar di daerah Malang Selatan, terdapat sebuah sungai berair jernih dengan dasar bebatuan. Air gemericik mengalir di cerukan-cerukan. Tidak terlalu deras. Bening dan agak dingin. Daun-daun kering yang terjatuh dari pepohonan tampak beberapa hanyut dibawa air. Ada air terjun tampak di kejauhan. Di beberapa badan sungai, terdapat semacam lubuk dangkal namun lebar, dan olalaaaaaaa, ribuan ikan beunteur (wader) berenang dan sedang ‘makan siang’ dengan damai di dalamnya.

Kisah ‘cinta’ dengan ikan beunteur ini dimulai dari batalnya keberangkatan saya ke Gunung Rinjani dan Taman Nasional Komodo gara-gara sebuah penyakit yang harus segera dioperasi. Praktis saya tidak bisa kemana-mana. Dan usai operasi saya memutuskan ‘membasuh’ diri sejenak di desa kelahiran, sebuah desa kecil di Malang Selatan. Desa tercinta namun jarang saya tengok. Tetapi sepertinya sekarang saya akan sering pulang kampung. Sebab kini telah tersedia banyak flight ke sana. Ada Garuda, Lion Air, Batavia Air dan bahkan Sriwijaya Air. Jadi jika dulu kita musti menghabiskan waktu antara 12 hingga 15 jam di bis malam atau di kereta, kini cukup 1 jam 15 menit saja dari Bandara Soetta, Jakarta. Sehingga jika kita berangkat dari Jakarta, mau kabur ke Malang pas weekend pun tidak masalah. Senin juga sudah bisa bersibuk ria kembali di ibukota. Tetapi saya jamin jika sudah sampai di Malang, Anda akan malas pulang. Why? Ah saya susah menjelaskannya, silahkan coba sendiri kapan-kapan.

Bulan Juli, dimana acara nge-beunteur ini dilakukan, seharusnya menjadi bulan yang istimewa. Ada penambahan umur yang seharusnya saya syukuri dengan doa. Ada banyak jadwal perjalanan yang harus dikerjakan dengan semangat dan ceria. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Sakit, operasi, dan lain sebagainya mengacaukan semua hal yang telah direncanakan jauh-jauh hari. Kepulangan ke Malang menjadi semacam obat untuk menebus semua kekacauan yang terjadi sebelumnya. Diniatkan sebagai semacam terapi untuk mengembalikan ceria yang sempat meredup karena operasi sebuah penyakit yang baru saya lakukan, dan misi lainnya adalah untuk menengok seorang wanita yang telah melahirkan saya dan mengurus saya hingga sebesar ini sekarang, Ibu.

Jadi sebenarnya tidak ada niat sama sekali untuk pulang ke kampung halaman dengan tujuan utama untuk memancing. Lama tidak kembali ke kampung halaman memmbuat saya takjub. Kampung kecil saya yang dulu tampak biasa saja, kini telah berubah menawan. Jalanan kampung telah diaspal bagus yang bahkan mobil sedan pun bisa melaju dengan nyaman. Salah satu tanda kemajuan yang harus disyukuri karena ini memudahkan transportasi lalu-lintas keluar dan masuk kampung, menggerakan roda ekonomi kampung, dan bisa memicu banyak multiplier effect lainnya. Perlu waktu tak sebentar untuk hadirnya tanda-tanda kemajuan yang kini banyak bertebaran di kampung ini, sama seperti saya, perlu waktu tak sebentar untuk pulang kampung halaman dengan senyum yang benar-benar lebar seperti sekarang ini. Saya malas pulang, karena merasa belum mendapatkan apa-apa di rantau, malu, tetapi kepulangan kali ini berbeda, saya boleh tersenyum lebar karena merasa yakin sedikit banyak telah mampu membuktikan bahwa semua yang dulu saya katakan kepada Ibu saya bukanlah mimpi siang hari. Tanggal 22 Juli saya pun menginjakkan kaki di halaman rumah dengan senyum yang lebar.

Namun terbiasa bekerja dengan dateline padat dan trip-trip panjang yang menguras tenaga dan pikiran, membuat kenyamanan bernama bermalas-malasan di rumah terasa cepat menjemukkan. Banyak sebenarnya yang bisa dilakukan sambil bersantai. Memetik gitar di beranda. Atau berkeliling family membicarakan ladang. Namun yang paling banyak ditanyakan oleh sanak saudara adalah kapan saya menikah. Meski begitu menyenangkan berada terus di rumah, terus saja ada gelisah yang mengusik. Tak terasa hari sudah tiba pada tanggal 24 Jui. Masih ada dua hari tersisa sebelum kembali ke Jakarta. Kenapa tidak mancing mumpung ada waktu luang? Ya kenapa tidak mancing? Ada sungai? Danau? Bendungan besar. Dan bahkan ke laut. Tetapi ke tampaknya laut tidak mungkin, meski jarak laut dengan rumah tidak terlalu jauh, kondisi fisik belum mendukung. Tiba-tiba teringat seorang kawan yang sering kontak di dunia maya, yang tinggal tak jauh dari kampung, hebat ya kini di kampung pun orang bisa bermain internet. Jadilah saya telpon dia dan langsung sepakat untuk mancing ikan-ikan kecil saja, beunteur aka wader. Ikan kecil yang menjanjikan sensasi strike ‘besar’!












Kawan saya itu biasa saya panggil Pete (tampaknya dia suka makan petai sehingga dipanggil Pete), lebih muda dari saya, namun giat memancing. Bahkan dia pernah nongol di Majalah Mancing dan juga di Mancing Mania Trans 7. Artis dah pokoknya di kampung mah?! Karena sudah siang saat saya menelepon dia, maka waktu yang ada kami pakai keliling kota kecamatan untuk menyiapkan peralatan mancing dan umpan. Esok pagi kami sepakat kabur ke selatan, jauh dari kampung, untuk mancing ikan mungill tersebut. Hal piranti untuk ikan beuteur akan saya bahas di bagian akhir tulisan. Khusus tentang umpan, saya memakai umpan ala Cianjur, Jawa barat yang disebut geleng (campuran kuning telur bebek, potongan kecil daging tuna/tongkol, lalu makanan anak-anak Chiki Balls). Bahan-bahan itu diulek jadi satu hingga menjadi sebuah adonan kenyal yang wangi-amis. Umpan jenis ini dijamin tidak ada yang lawan. Mungkin satu-satunya umpan yang bisa melawan keampuhan umpan ini hanyalah (maaf: kotoran manusia). Ada yang lucu tentang umpan ini. Ibu saya saya pesenin membeli telur bebek ke pedagang yang biasa lewat depan rumah, dua butir, saya tidak memberitahu untuk apa, eh sore hari saat saya pulang belanja peralatan mancing, telur bebek ini sudah didadar dan tersaji di meja makan. Wahahahaha. Kami semua ngakak setelah tahu sebenarnya ini akan dipakai apa. Jadilah esok pagi menunggu pedagang lagi yang lewat untuk kembali membeli telur bebek. Pedagang telurnya tentu saja gembira karena kami kini rajin membeli telurnya.















Keesokan harinya di tanggal 25 Juli, berdua dengan Pete, dengan satu motor jenis matic saja, pete mati-matian melarang saya membawa motor saya sendiri, kami pun meluncur berboncengan ke daerah selatan, sekitar 40 menit dari rumah. Berboncengan, melewati jalanan yang sebagian mulus diaspal, bergeronjal batu makadam, dan melintasi jalur lintas selatan yang baru dibuka namun kini telah mulus karena kerikilnya telah dihaluskan. Dua cowok keren yang mengundang tatapan heran setiap mata yang berpapasan dengan kami, karena kami sedang serius berangkat mancing dan tidak peduli apapun. Haha. Ah andai mereka tahu kami ini sering nongol di layar televisi pasti mereka akan menghentikan kami dan menawarkan dua cangkir kopi panas. Ngarep! Sepanjang perjalanan saya takjub dengan kondisi desa-desa yang kami lalui. Desa memang, tetapi terasa nyata bahwa kemajuan ada dimana-mana. Jauh berbeda dengan dulu di jaman saya kecil. Dan saya bersyukur kepada-Nya. Gimana tidak ada kemajuan. Jauuuh di selatan, dimana tidak ada rumah pun, kita bisa akses Facebook dari Blackberry kita. Dimana-mana petani tampak sumringah karena palawija begitu subur. Motor bagus bersliweran. Mobil pengangkut hasil bumi lalu-lalang. Jalanan cukup bagus. Ada harapan yang bersinar terang. Desaku, telah melangkahi sebuah pintu kemajuan dan terus melangkah masuk ke dalamnya dengan semangat.

Kami pun tiba di sebuah sungai jauh dari perkampungan, namun dilintasi jalur lintas selatan (Catt: jalur lintas selatan direncanakan akan terentang jauh membelah sisi selatan Jawa Timur, dari Banyuwangi hingga Pacitan). Usai foto-foto beberapa pemandangan yang bagus kami langsung mencari tempat memarkir motor, akhirnya kami taruh di bawah jembatan, dan kami beringsut ke spot sekitar jalan. Air sungai dalam kondisi sempurna. Tidak terlalu deras dan juga tidak terlalu jernih. Tetapi matahari begitu panas ‘menyalak’ membakar kepala. Piranti langsung di set dan umpan geleng kami pasang. Dan tak perlu waktu hingga semenit, umpan sudah disambar, terus dan teruuuus. Sialnya Pete lebih hebat dari saya. Dia terus hooked up hingga ikan ke tujuh sementara saya baru satu ekor. Tak perlu minder, maklum selama ini saya seringnya mancing popping. Wakakakakak! Tetapi sungguh saya gemes dengan ikan-ikan di spot pertama ini. Susah sekali nyangkut di kail saya. Padahal jelek-jelek begini saya pernah sukses nge-beunteur di sungai-sungai di Jawa Barat dan bahkan Jawa Tengah lho?!

Sesi pertama usai, Pete sudah menaikkan sepuluhan ekor dan saya baru dua ekor. Entah karena panas atau apa kami merasa lapar. Untunglah Ibu saya mengerti kami pasti akan lapar. Bekal yang dicantolkan di stang motor pun kami buka. Kami duduk manis di bawah jembatan dan mulai melahap bekal kami. Beberapa petani melintas namun menolak kami tawari bergabung makan. Dan indahnya, ada pete yang telah dikupas di antara bekal-bekal itu. Sungguh, seorang ibu memang sangat mengenal apa yang disukai oleh anaknya. Makanan yang sederhana namun terasa luar biasa. Suasananya memang mendukung. Kita melahap makanan sambil memandangi sungai dimana kiri-kanan sungai adalah pertanian yang menghijau. Udara segar. Angin berhembus semilir. Suara burung-burung di kejauhan. Langit biru di atas sana yang cerah. Hal-hal yang kadang lupa kita syukuri. Hal-hal yang di banyak tempat lain mungkin mulai menghilang tergeser oleh deru pambangunan.
Perut telah kenyang dan hati pun semakin senang.

Harus ada perbedaan. Jadi usai makan siang saya memilih spot saya sendiri. Pete tetap berada di bawah jembatan, namun saya memilih turun agak kebawah ke bebatuan yang dipenuhi ceruk kecil berisi air. Ada semacam genangan besar disana namun banyak ditumbuhi lumut. Sepintas kondisi airnya lebih buruk dibandingkan bagian atas sungai. Namun bisa jadi ini malah spot yang lebih potensial untuk menggaet ikanbeunteur karena visibility nya rendah (ikan beunteur sudah dipancing jika air terlalu jernih). Meski panas, saya mantab mencoba spot ini dan duduk manis di atas batu datar persis di bagian atas genangan. Umpan pertama langsung hooked up. Benar khan? Ini spot yang potensial. Hingga beberapa menit kemudian ada sekitar 5 ekor ikan beunteur sudah menggelepar di atas tanah. Pete yang berada di bawah jembatan rupanya juga sukses menggaet ikan beunteur, malah ada yang big size, sebesar korek api gas. Dia beruntung sekali, bahkan ada ikan gabus yang dia naikkan. Padahal dia memakai umpan untuk ikan beunteur. Gabus yang malang. Sudah makan siang bolong, makan umpan yang salah pula. Sebuah foto ikan beunteur yang cantik dengan latar belakang langit biru tadi telah sukses saya upload ke Facebook, melintasi ruang dan waktu, mendunia. Hehehe.











Kami perlu tantangan yang lebih. Ingin melihat dan merasakan yang lebih. Pete hafal seluk beluk sungai ini. Jadi kami kemudian merapikan peralatan untuk beringsut ke tempat lain. Sebenarnya masih di sungai yang sama, tetapi masuk dari tempat yang berbeda. Kali ini kami akan mengarah semakin ke bawah ke dekat air terjun. Motor kami pacu lagi melintasi jalur lintas selatan dan kami kemudian berbelok di sebuah ladang entah milik siapa, melintasi jalan setapak, masuk ke semak-semak dan tiba tepi sungai di atas air terjun. Sayang sekali karena posisi kami di atas air terjun kami tidak bisa menikmati keindahannya. Namun kami dihibur dengan ‘penampakkan’ lain yang menurut saya jauh lebih indah. Bahkan megah. Di sana, di sebuah cerukan memanjang berair jernih, cerukan yang dilimpahi aliran bening air terjun mini dari bagian atasnya, tampak ribuan ikan beunteur berenang dengan damai. Sungguh, ini benar-benar beunteur sanctuary yang sempurna dan luar biasa. Ikan-ikan itu sangat banyak, cuek berenang kesana-kemari, seakan tidak peduli dengan dua cowok keren yang menatap takjub dari atas.

Oke, ikan beunteur juga bukan spesies yang luar biasa istimewa dalam daftar spesies ikan air tawar kita, dia hanyalah ikan mungil namun memiliki daya tahan bertahan hidup di perairan alami yang luar biasa. Tetapi kali ini sungguh, saya takjub, karena tidak menyangka akan melihat hal seperti ini di sini, di kampung halaman saya sendiri. Sungai ini juga bukan sungai perawan yang tidak terjamah, kebun warga ada di kanan kiri sungai. Petani bahkan menanam sayur mayur tidak jauh dari ‘surga’ ini. Juga mengambil air dari sungai ini untuk menyirami tanaman mereka. Tetapi padatnya populasi ikan di spot ini membuat saya terharu karena ini pertanda bahwa (saya yakin 100% para petani juga mengkonsumsi ikan-ikan ini sebagai lauk pauk) ada kepedulian luar biasa dari siapapun yang sering berinteraksi, mereka pasti melakukan interaksi tersebut dengan sangat sangat arif. Mereka pasti tidak merusak sungai ini dengan racun ataupun setrum, jika iya, saya percaya tidak akan melihat kemegahan ini. Karena apa, kalau mau niat jahat misalnya, satu biji potas juga bisa menamatkan ribuan ikan ini wong ikan-ikan ini ibarat berada dalam satu bak besar berisi air. Jadi, ada niatan mulia dari siapapun mereka yang sering berada di dekat loaksi ini untuk membiarkan lokasi ini tetap alami dan indah bagi semua mahkluk air di dalamnya. Terimakasih Tuhan! Saya sampai lupa memancing dan sibuk memotret dengan perangkat selular saya.

Lagian ikan-ikan ini juga susah banget dipancing saking jernihnya air disini. Gimana tidak jernih, dengan mata telanjang saja, ikan-ikan itu kelihatan sedang melakukan apa. Ada yang cuma berenang sana-sini. Ada yang sedang mencari makan. Dan ada yang sedang berkejaran entah sedang apa (mungkin yang ini adalah ikan-ikan yang sedang kasmaran). Ini membuat saya yakin pada satu hal, bahwa kelestarian ataupun pelestarian ikan di habitat alami mereka, bukan karena tidak dimanfaatkannya berkat dari Tuhan bernama ikan tersebut, tetapi bagaimana memanfaatkannya dengan arif lingkungan. Beunteur sanctuary yang saya lihat ini buktinya. Dan konsep seperti inilah sebenarnya yang diterapkan di banyak daerah yang memiliki areal konservasi untuk ikan-ikan air tawar. Di daerah Sumatera Barat misalnya, mereka menerapkannya dengan lebih sistematis dan ketat bernama lubuk larangan. Hampir setiap kampung memiliki lubuk larangan. Di Malaysia juga ada yang serupa dan malah dengan skala yang lebih besar dan telah berhasil ‘dijual’ untuk wisata mancing kelas internasional. Ikan beunteur mungil yang berenang riang di dalam air ini seperti berkata bahwa sebenarnya masih ada masa depan bagi spesies ikan-ikan air tawar di Pulau Jawa di habitat alami mereka. Tentunya dengan syarat, bahwa ada kearifan lingkungan yang cukup dari siapapun yang berinteraksi dengan mereka dan habitatnya (pemancing, warga sekitar, pelaku industri, dan lain sebagainya).

Dasar pemancing yang sudah jatuh cinta mati dengan ikan beunteur. Saat saya sedang asyik melamunkan beunteur sanctuary sambil merendam air di sebuah cerukan kecil, Pete berhasil hooked up ikan beunteur besar. Lebih besar dari batang korek api gas. Untuk ikan beunteur, ukuran ini termasuk ‘monster’. Pete girang bukan kepalang. Saya mengambil beberapa fotonya dan juga video rilisnya. Tidak sepatutnya babon beunteur itu kami angkat karena dia bisa saja menetaskan jutaan telur dalam beberapa bulan ke depan sebelum mungkin ajal menjemputnya. Saya sudah kalah telak dengan Pete jadi saya memutuskan tidak memancing lagi dan konsen mengambil gambar apa saja yang menarik mata saya. Meski hanya menggunakan Ipod, hasilnya foto dan videonya tidak mengecewakan. Tetapi saya tidak kuat juga untuk tidak menjajal ‘surga’ kecil ini. Kail saya lalu saya turunkan ke dalam air dan saya mencoba peruntungan saya di lokasi ini. Karena cerukan ini cukup dalam. Ada sekitar 2 meteran dalamnya, pelampung harus ditaruh tinggi di atas agar umpan bisa menjangkau kedalaman ideal yang lebih gelap. Kalau ditaruh terlalu di atas tidak akan dimakan oleh ikan-ikan itu karena mereka tahu ada tali yang mengikat mata pancing itu. Jadi kami harus mengejar ikan-ikan yang ada di kedalaman, ikan-ikan yang entah sedang asyik ngapain. Tidak buruk, meski beberapa kali gagal, akhirnya naik juga satu ekor ikan yang size nya cukup mengesankan. Usai diambil fotonya, video rilisnya juga kami abadikan.

Saya sebenarnya malas sekali pulang dan ingin terus berada di dekat sungai ini, malam hari konon lebih gampang jika berniat memancing beunteur-beunteur monster. Kemping di tepi sungai ini pasti sangat indah. Tetapi apa daya, tiket pesawat yang ada di tas pinggang saya jelas tertulis tanggal 26 Juli pukul 12.45. Jadi sebelum hari keburu gelap, apalagi spot ini juga jauh dari pemukiman, malah dekat dengan hutan pesisir selatan, kami memutuskan menyudahi acara nge-beunteur kami dengan senyum kepuasan. Pete juara. Dia hooked up ikan sangat banyak, saya hanya beberapa ekor saja. Tidak sampai sepuluh ekor. Andai ada kesempatan kembali ke tempat ini, saya akan menginap di sini agar mampu mengeksplorasi badan sungai yang lain termasuk air terjunnya. Kami lalu mendorong motor kami menaiki sebuah bukit kecil dan lalu memacunya menuju jalur lintas selatan. Di antar oleh matahari senja yang masih juga panas kami terus meluncur pelan. Di sebuah belokkan kami memotong untuk masuk ke areal perkampungan. Dan lalu masuk ke jalan beraspal. Terus ke utara hingga ke halaman rumah saya beberapa puluh menit kemudian.











Mungkin kita sering gundah dengan kondisi populasi ikan-ikan air tawar di Pulau Jawa, mungkin kita sering marah pada aksi-aksi tidak ramah lingkungan dalam menangkap ikan di pulau ini, mungkin kita juga malah apatis saking sudah rusaknya kualitas habitat dan merosotnya populasi ikan-ikan di sungai-sungai di Jawa. Tetapi percayalah, masih ada harapan, selama kita tidak pernah berhenti berharap. Beunteur sanctuary di sebuah kampung kecil di pesisir selatan Malang membuktikannya. Karenanya, kita tidak boleh berhenti berharap dan berusaha untuk terus melakukan sebuah perbedaan positif untuk anak cucu kita nanti. Salam!

Macam-macam Jenis Ikan Wader
Ikan wader, atau beunteur (Sunda) tersebar di hampir semua pulau utama di Indonesia. Ikan ini termasuk ikan yang tangguh karena populasinya hingga saat ini di perairan alami kita masih cukup baik. Habitat ikan ini biasanya adalah sungai, parit, selokan dan juga danau yang berair jernih. Banyak ditangkap dengan berbagai cara karena ini adalah ikan air tawar yang terkenal lezat. Kadang dipancing atau dipelihara untuk dijadikan sebagai umpan mancing ikan predator. Mampu tumbuh hingga sebesar dua jari orang dewasa dengan panjang sekitar 10an cm. Wader adalah jenis ikan dari suku (famili) Cyprinidae. Ikan wader ada beberapa jenis; wader pari (lunjar padi), wader bintik dua (spotted barb), dan beberapa jenis lainnya. Selain di Indonesia, persebarannya juga terdapat di banyak negara Asia lainnya.

Konon, jika mengacu pada Wikipedia, ikan dari famili Cryprinidae mempunyai berbagai macam jenis. Diperkirakan ada lebih dari seratus jenis. Dua jenis yang sangat populer (dan paling banyak) adalah wader pari atau lunjar padi (Rasbora argyrotaenia). Jenis kedua paling populer adalah wader bintik dua (Puntius binotatus). Wader bintik dua merupakan salah satu spesies wader yang di beberapa daerah di Indonesia biasa disebut sebagai beunteur (Sunda), wader cakul atau wader (Jawa), puyan (Banjar), tanah atau sepadak (Bengkulu). Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai spotted barb atau common barb. Jenis lain ikan wader (dalam Bahasa Latin) antara lain; Rasbora argyrotaenia (Silver Rasbora), Rasbora aurotaenia (Pale Rasbora), Rasbora baliensis, Rasbora bankanensis, Rasbora beauforti (Spotlight Rasbora), Rasbora einthovenii (Blue Line Rasbora), Rasbora jacobsoni, Rasbora kalbarensis (Kalbar Rasbora), Rasbora sumatrana (Sidestripe Rasbora), Rasbora tawarensis, Rasbora tobana, Puntius bantolensis, dan Puntius javanicus.

Teknik dan Piranti Menggaet Wader
Tidak rumit. Untuk joran/stik pancing biasa digunakan joran tegeg yang soft atau medium taper dengan panjang 2,4 atau 2,7 m (jika sungai/lokasinya lebar) semakin lentur joran akan semakin sensitif merespon tarikan ikan wader yang ukurannya memang kecil kecil. Jadi sensasi strikenya tetap maksimal. Di Jawa Barat, misalnya di Cianjur, yang populer adalah joran lentur kecil dari bambu yang disebut jeujeur. Panjang sekitar 1.2 meteran. Jeujeur dibuat sangat lentur dan diraut dengan apik sedemikian rupa, hingga saking lenturnya, kadang bisa kita lengkungkan membentuk angka delapan.

Untuk tali/line digunakan tali mono bening dengan ukuran sekecil mungkin (2 lbs) dengan diameter 0.1 atau 0.12 mm. Semakin kecil tali lebih baik karena tidak akan terlalu terpengaruh dengan arus sungai (di sungai/selokan/parit beunteur hidup di dekat arus/aliran air). Mata pancing/hook bisa dipilih pancing nomer 0,5 – 0,8 . Mata kail yang terlalu besar membuat ikan mudah mocel, memang dibutuhkan keahlian tersendiri untuk memasang mata kail no. 0.5/0,8 pada line 0,1mm.

Kita juga perlu pelampung sebagai indikator sambaran. Terakhir kita memerlukan stopper. Kita juga perlu timah daun untuk dipasangkan di senar di dekat kail agar umpan cepat turun ke dalam air. Berbagai jenis umpan bisa dipilih. Wader sebenarnya cenderung omnivora sehingga varian umpannya cukup banyak; cacing, pelet, nasi, roti, tahu bacem, mi rebus, bakwan, lumut dll. Umpan favorit yang sering saya gunakan adalah umpan model Cianjur yang disebut geleng yang terbuat dari campuran telur bebek (kuningnya saja) yang diulek jadi satu dengan potongan daging tongkol dan jajan anak-anak yang disebut Chiki Balls. Cara mancingnya? Ah gampang. Pasang semua piranti lalu atur kedalamannya, jangan sampai menyentuh dasar sungai. Jangan lupa pasang umpannya dulu. Catatan, kudu ekstra sabar dan memiliki daya penglihatan yang mantap untuk melakukannya. Hehehehehe. Salam!

* Most pictures by me & Pete. Don’t use or reproduce (especially for commercial purposes) without our permission. Especially if you are tackle shop, please don’t only make money from our pics without respect!!!

2 comments:

Darmadi said...

gile mike, spotnya mantapp bener tuh!!air bening, view ok,ikan banyak,hawa segar, sepi, wah edan tenan tuh spot!!!ditambah makanan favorit dan teman yg ok, bener2 small paradise in your small village!!! Ibu kamu pasti seneng liat anaknya "berhasil" jadi "orang", dlm arti gak banyak orang yg menyalurkan hobi (spt mancing, travelling,fotografi)adalah pekerjaan utamanya. blm lagi jadi ngetop srg nongol di tipi he..he..he.. Congratz to you mike for having such a wonderful time in yr life...

trancepass said...

lama tak berkunjung ke blog ini. makin keren aja..!

Popular Posts

Google+ Followers