Saturday, 21 January 2012






Ijinkan saya kali ini untuk berbagi kisah pribadi sejenak. Tak pernah terbayang dulu bahwa saya akan mencintai olahraga memancing sedemikian dalamnya seperti sekarang ini. Tetapi ternyata “petir” mancing yang menyambar tiba-tiba di pertengahan 2007 itu begitu dahsyat dan saya tak bisa mengelak lagi dari sengatan “listrik”-nya yang demikian mematikan namun indah ini. Waktu berjalan cepat tanpa terasa, seperti arus yang tak terlihat namun membawa kapal kita hanyut hingga jauh ke tengah laut. Saya mengalami banyak hal indah sekaligus menyedihkan dalam mengarungi dunia mancing yang “gila” ini. Berpetualang tanpa bekal yang cukup, hanya berbekal doa dan persahabatan misalnya. Ataupun hal-hal lain yang kiranya tak perlu disebutkan terlalu jelas disini. Hal-hal yang indah, sudah tak terhitung banyaknya yang terjadi akibat mancing ini. Dan saya berterimakasih kepada Tuhan dan kepada Anda semua yang telah begitu baik menerima saya sebagai sahabat di berbagai tempat dan di berbagai kesempatan, dalam suka dan duka. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan Anda semuanya. Dunia mancing di Indonesia telah berkembang pesat. Sebagai salah satu fishing ground terbaik di dunia Indonesia telah sukses menjadi destinasi favorit para pemancing dari berbagai penjuru bumi. Toko-toko pancing berserak di setiap kota, dan selalu ramai. Operator mancing jempolan juga banyak beroperasi di negeri tercinta ini. Mulai yang dioperasikan oleh anak bangsa sendiri, salah satu yang paling hebat Adhek Sportfishing misalnya sampai yang dioperasikan oleh bule ataupun orang-orang Jepang. Adhek Sportfishing misalnya, adalah salah satu operator mancing terbaik di dunia. Dan penjuru lautan yang jauh di negeri indah ini telah begitu ramai oleh celoteh sekaligus jerit reel para pemancing yang ingin memacu adrenalinnya melawan ikan-ikan predator. Banyak yang berpendapat, bahwa tinggal di luar negeri lebih nyaman, karena pekerjaan kesehatan kesejahteraan keamanan lebih baik. Tetapi bagi saya, lahir dan besar sebagai orang Indonesia adalah yang paling membahagiakan karena bisa potensi mancing di negeri ini demikian luar biasa. Sayang sekali infrastruktur negeri ini di berbagai daerah yang potensi mancingnya luar biasa kurang memadai, sehingga biaya mancing yang menjadi sangat tinggi kadang tidak terjangkau oleh kita.

Ada titik-titik penting yang saya lewati dalam dunia sportfishing negeri ini yang sangat berperan membantu saya memberi banyak pemahaman, banyak sahabat, dan begitu banyak berkat kepada saya selama ini. Majalah Mancing selama 2007-2009 adalah “pintu” masuk pertama yang membuat saya belajar untuk pertama kalinya menjadi jurnalis sekaligus pemancing yang baik. Bersama dua orang pemancing senior negeri ini (Nursasongko Anwar dan Agustinus Sutandar, para pendiri Federasi Olahraga Memancing Seluruh Indonesia) saya diberi pelajaran pertama tentang sportfishing, sustainable sportfishing, dan lain sebagainya. Meski kini telah jarang berjumpa dengan mereka, mereka selalu memiliki tempat tersendiri di hati saya. Terimakasih kepada Anda berdua, meski kita sering tidak sependapat akibat kemudaan say ayang bersemangat ini, terutama kepada Nursasongko Anwar. Akan tetapi “pintu” terlebar yang membawa saya jauh “berlayar” dalam gempita olahraga memancing di negeri ini adalah program MANCING MANIA di TRANS 7, pioneer tayangan olahraga memancing di televisi Indonesia yang hingga hari ini menjadi tayangan favorit di seluruh negeri (dan bahkan di luar negeri). Program yang dicetuskan dan terus dikawal hingga hari ini oleh Mas Dudit Widodo ini adalah “kapal” terbaik yang mendidik saya tentang banyak hal agar menjadi jurnalis sekaligus pemancing yang terbaik. Namun yang membawa saya untuk ikut menjadi yang terbaik bersama MANCING MANIA TRANS 7 adalah seorang Denis Polapa, jurnalis TV handal sejak jaman TV 7. Terimakasih kawan!!!



Melihat banyak hal, merekam banyak hal, bergaul dengan aneka rupa dan watak pemancing, berkompromi dengan segala cuaca, berkompromi dengan segala jenis ikan, membuat saya semakin mencintai olahraga mancing hingga sulit untuk menjelaskannya. Meski jujur saja, saya tidak segila Anda semuanya (hehehehe) karena segila-gilanya saya, saya tidak memiliki tackle-tackle terbaik misalnya. Yang pasti ada banyak hal yang kemudian mengendap dan sebaik mungkin selalu saya kembalikan kepada dunia memancing yang telah begitu luar biasa menghidupi saya selama ini. Dinamisnya olahraga memancing dan potensialnya Indonesia sebagai fishing ground kelas dunia menumbuhkan banyaknya pemain kelas dunia di ranah sportfishing dunia. Misalnya saja, pembuat artificial lure untuk memancing. Adhek Amerta, Heru Gombong, Budi Popper, dan lain sebagainya telah mencatatkan namanya dengan gagah di ranah sportfishing dunia. Saya tak perlu menuliskan terlalu jelas misalnya kenapa di New Caledonia (Pasifik) misalnya begitu banyak popper made in Indonesia. Begitu juga misalnya di Jepang, kenapa begitu banyak tackle shop menjual Adhek Popper. Fakta, Indonesia memiliki para pemancing yang hebat! Saya pribadi jujur mengidolakan Adhek Amerta. Pemancing senior berpengalaman yang begitu ramah baik dan selalu terbuka asal Bali. Dan saya merasa terberkati bisa berteman dengan beliau.

Suatu hari, “angin” laut tiba-tiba berhembus jauh memasuki kota Jakarta dan seseorang di samping saya berkata kenapa saya tidak bergerak lebih jauh di dunia sportfishing ini? Saya menjawab telah begitu banyak kawan dekat yang melakukannya, menjadi pemancing pro. Dalam artian hidup dari dunia mancing. Baik itu menjadi guide mancing, lure maker, membuka toko pancing, dan atau menerbitkan majalah atau tabloid misalnya. Namun ternyata “angin” sepoi-sepoi itu bukannya mengecil dan hilang malah menjelma menjadi badai bernama HIME LURE. Sebuah brand yang dengan sadar saya bikin untuk (saat ini) melemparkan popper ke pasar mancing Indonesia. Keputusan mempublikasikan HIME LURE bukanlah keputusan gelap mata yang diputuskan semalam. Sulitnya keputusan untuk mengiyakan adalah karena saya tahu saya akan bersinggungan dengan kawan-kawan baik yang sebelumnya telah melakukan hal serupa, dimana banyak di antara mereka adalah senior saya sekaligus idola saya sendiri. Namun mungkin inilah jalan yang harus saya tempuh, HIME LURE akhirnya dipublikasikan di akhir 2011 dalam kesederhanaan namun dipenuhi dengan semangat dan keyakinan. Bukan untuk menjadi pesaing, meski hal ini tak bisa dihindari, melainkan untuk meneruskan semangat para senior sekaligus guru-guru mancing saya yang selama ini telah memberi saya banyak pengetahuan di dunia mancing ini. Saya harap mereka mengerti dengan keputusan saya ini.

Prototype pertama popper HIME LURE diuji di laut pertama kali pada awal 2011 di Raja Ampat, Papua. Beberapa popper ukuran besar, dari 150-170 gram. Dan hasilnya ternyata luar biasa. Waktu itu saya berfikir hasil tersebut karena Papua adalah fishing ground yang masih sangat potensial sehingga saya tidak boleh arogan dengan hasil tersebut. Akan tetapi dua trip berikutnya yang juga digelar di tempat yang sama, dimana kami juga membawa popper-popper lain kelas dunia yang telah lebih dahulu sukses, memberi saya keyakinan bahwa HIME LURE memiliki masa depan karena ternyata keaslian bentuk dan warnanya ternyata mampu bersaing dengan gagah dengan merk-merk lain yang telah sukses mendunia. Bahkan satu merk popper dari negeri Kanguru sampai kalah telak secara jumlah strike. Padahal spot mancing sama, kami juga sekapal, namun hasil jauh berbeda. Waktu itu kami bermain di sekitar pulau cantik bernama Batanta. Oleh karena prototype pertama popper HIME LURE tersebut belum memiliki nama, maka saya memberinya nama BATANTA untuk mengabadikan tempat bermain pertama popper-popper HIME LURE.

HIME LURE masih bayi kecil yang sedang belajar banyak hal. Namun seluruh kru HIME LURE adalah bayi pilihan yang begitu bersemangat. Sehingga jika sekarang misalnya popper Batanta menjadi pilihan banyak pemancing, itu bukan karena HIME LURE menjual omong kosong, namun memberi bukti sebagai yang layak untuk dipilih oleh para pemancing popping di negeri ini. Banyak catatan manis di akhir 2011 yang ditorehkan oleh para pemakai popper Batanta. Dan kami sangat berterimakasih kepada Anda semuanya yang telah begitu baik memberi kepercayaan kepada bayi kecil bernama HIME LURE. Dua report di akhir 2011 yang menurut kami terbaik adalah report dari angler Jakarta, Joe Michael yang bolak-balik Papua seperti pesawat terbang. Joe Michael mengaku secara pribadi ke saya, ada saat, dalam sehari di abisa strike 30 ekor GT dengan menggunakan Batanta “pinky” 80 gram. Sebelum akhirnya popper tersebut kemudian hilang karena diminta oleh ikan GT untuk dipajang di rumahnya. Hehehe. Report paling akhir di tahun 2011 adalah perjalanan tim Mancing Mania Trans 7 ke Pulau Sumba, dimana sebagai kru MMT7 saya juga ikut serta. Dari begitu banyak GT dan monster GT yang landed selama pembuatan episode Mancing Mania Spesial Natal 2011 tersebut, semuanya hooked on Batanta 140 gr black!!!

Saat ini saya sedang menunggu report mancing yang paling saya nanti di awal 2012. Seorang pemancing Belanda membawa beberapa Batanta 150 gram ke Oman (Afrika), yang konon adalah pusatnya GT monster di bumi ini. Saya berharap HIME LURE kembali membuktikan dirinya sebagai “yang layak dipilih” oleh para pemancing popping. Jika itu terjadi, maka saya tidak perlu untuk merasa malu ataupun segan kepada semua senior dan guru-guru saya, karena saya (meski apa yang saya lakukan ini mungkin akan terasa tidak nyaman bagi beberapa orang) akan terus membesarkan bayi HIME LURE ini dengan semangat, kerendahan hati, keterbukaan, dan kerja keras seperti mereka semua pernah ajarkan kepada saya. Saya percaya mereka mengerti keputusan saya ini. Salam!

* Foto courtesy of Joe Michael/Andry Sugianto & Michael Risdianto. Don’t use or reproduce (especially for commercial purposes) without our permission. Especially if you are tackle shop, please don’t only make money from our pics without respect!!!
* Keterangan foto: Angler Joe Michael dengan GT Papua-nya pada salah satu trip ke Raja Ampat // Saya berhasil landed GT 38 kg di Sumba pada November 2011 // Joe Michael dengan lure favoritnya, Batanta 80 gr pinky landed GT Raja Ampat // Host Mancing Mania Trans 7, Cepy Yanwar landed GT di Sumba, NTT // Joe Michael adalah kawan terbaik yang mensupport Hime Lure dengan sangat luar biasa //Seekor GT Sumba landed on Batanta 140 gr black // HIMEEEEEE!!! // Cepy Yanwar memberi jempol untuk Hime Lure // Joe Michael di Raja Ampat, Papua // Saya di sebuah reef dekat pulau kosong di Papua // Cepy Yanwar landed tenggiri besar pada Maret 2011 // Arfane Yudhithia (kameraman Mancing Mania Trans 7) landed GT besar di Raja Ampat // Ikan redbass pun “horny” dengan popper Batanta 80 gr black // The champion, Batanta “pinky” // You love GT’s? Hime loves you! // HIME HIME HIME…..!!! //

3 comments:

trancepass said...

makin mantab aja blog mancing ini...

Michael Risdianto said...

Terimakasih bro! Apa kabar? :)

Darmadi said...

Now Mike's passion not just only in writing,fishing,photography,hiking or loving nature, but also in doing business. Congratz Mike on yr Hime Lure launching.

Popular Posts

Google+ Followers