Sunday, 22 July 2012

Kembali ke Jakarta usai perjalanan panjang selama selapan belas hari mengelilingi kota-kota di pesisir selatan Jawa Tengah hingga daerah Yogyakarta adalah saat yang luar biasa. Meski selalu ada yang mengganggu. Misalnya setelah beberapa menit turun dari pesawat di Cengkareng kita sudah sibuk dengan kegelisahan apakah Jakarta masih macet seperti biasa, adakah sesuatu gangguan di jalur tol keluar bandara, atau adakah orang 'bodoh' yang menghalangi jalan di dekat gerbang pembayaran parkir yang membuat kendaraan lain menjadi susah keluar. Karena jika terjadi, waktu terbang Yogyakarta ke Jakarta yang hanya satu jam bisa menjadi tidak banyak artinya karena Cengkareng ke Jakarta Selatan akan terpaksa harus ditempuh selama hampir tiga jam lamanya. Kota Jakarta memang tidak cocok sebagai kota untuk mobile, meski sayangnya di kota inilah hampir lima puluh persen orang Indonesia yang masuk dalam kategori mobile berada atau hilir mudik datang dan pergi mengunjunginya. Karena sebuah maskapai yang selalu rajin delay itu, saya terpaksa melewatkan momen penting yang digelar oleh kawan-kawan saya di Jakarta, meski saya sebenarnya telah menginjak Jakarta pada tanggal 18 Juli pada pukul 22.00 wib, padahal kawan-kawan baik tersebut menjamin bahwa “saya akan ditunggu” selama apapun itu. Namun karena perhitungan waktu tempuh Cengkareng ke Mampang lalu ke Kelapa Gading yang tidak sebentar, saya memohon maaf tidak bisa menghadirinya. Semoga saya tidak mengecewakan mereka dan saya yakin mereka bisa mengerti.

Tidak pernah terbayang sebelumnya kini saya begitu bersemangat jika kembali ke Jakarta. Dulu hal seperti ini tidak terlalu saya pikirkan karena Jakarta hanyalah wujud-wujud yang itu-itu juga; macet, panas, keras, sinis, dan tidak saling mengenal! Tetapi saat ini muncul sesuatu yang lain dari keruwetan Jakarta ini. Bukan, bukan figur calon gubernur yang sedang ramai diberitakan media, bukan juga tentang sesuatu yang mengejutkan lainnya – misalnya selebritis yang tobat dari pembawaan “alay”-nya (saya rindu seleb-seleb yang santun dan penuh talenta seperti jaman dahulu, bukannya selebritis jaman sekarang yang pintar membuat skandal dan tipu muslihat percintaan), atau misalnya berita koruptor yang dipenjara berat – karena kita tahu hal ini juga sangat sulit terjadi di negeri ini. Sesuatu yang lain yang bagi saya istimewa itu adalah seseorang yang berisik namun baik, yang membuat saya kewalahan bbman namun memberi saya banyak semangat, seseorang yang cantik meski saya tahu dia jarang berdandan, seseorang yang apa adanya dan memberi tempat terbaik saya apa adanya di hatinya. Seorang perempuan. Kemana saja saya selama ini hingga baru sekarang mengenalnya? Atau kemana saja dia selama ini hingga baru sekarang mengenal saya?

Saya tidak pernah dengan sengaja menggelar sesuatu untuk sebuah hari kelahiran. Yang hampir selalu saya lakukan hanyalah mengambil waktu sunyi sejenak untuk berdoa, mengucap syukur pada waktu yang terlewati, dan memohon bimbingan pada waktu yang akan datang kepada Dia yang punya hidup. Hal yang memang paling pantas saya lakukan karena saya toh juga ‘produk’ asli ndeso yang tidak pernah mengenal perayaan-perayaan selain hari raya Natal. Di luar itu, semua hari sama. Anda akan memiliki pendapat berbeda sesuai dengan latar belakang Anda masing-masing. Ada yang menjadikan ulang tahun untuk sesuatu permintaan materi misalnya, ada yang menjadikan ulang tahun untuk merajuk segila-gilanya karena kakak atau orang tua Anda berlimpah dengan berkat. Saya juga melakukannya, namun saya hanya meminta hidup yang lebih baik saja kepada Tuhan melalui doa sederhana, doa yang juga jarang saya panjatkan di tengah himpitan tuntutan hidup dan keharusan-keharusan lainnya di jaman yang serba instan dan aneh ini. Doa untuk hari-hari yang akan saya lewati kemudian, untuk keluarga di kampung yang mungkin sedang bergelut dengan kegelisahan gagal panen ataupun harga hasil pertanian yang rendah, untuk sahabat-sahabat entah dimanapun mereka berada. Dan juga untuk seseorang yang tercinta yang juga mungkin sedang berjibaku dengan kerasnya hidup di suatu titik di sebuah kota yang terpisahkan oleh ribuan mil laut dari Jakarta. Meski saya tahu, bahwa dia lebih kuat dan lebih segala-galanya dibandingkan saya.

Saya tidak terkejut ketika dia dengan wajah riang dan cenderung usil itu kemudian tiba-tiba berdiri di depan saya, karena memang begitulah pembawaannya. Tetapi saya terkejut untuk sebuah pemberian yang ternyata mengingatkan saya lagi bahwa laut itu tidak pernah jauh, hanya saja saat sekarang saya memang harus hidup di daratan, agar memiliki banyak rasa syukur pada sebuah kehidupan. Ada beberapa usaha yang saya lakukan untuk memiliki sebuah jam tangan yang cukup baik. Namun semua usaha saya itu gagal karena saya ternyata tidak pandai memilih barang dan seringnya salah memilih barang, meski itu sebenarnya adalah barang yang sangat saya perlukan, yang seharusnya saya bisa memilih dengan lebih baik karena saya tentunya memiliki banyak waktu menimbang dan berfikir. Pernah ada masa yang sangat panjang, dimana waktu berjalan namun seperti tidak bersinggungan dengan saya. Seringnya waktu tidak pernah cukup untuk menyelesaikan semua urusan, karena selalu ada hal yang harus harus dan harus untuk kembali dikerjakan dan diselesaikan. Waktu berjalan, tetapi saya jarang sekali menengoknya. Namun kini, berkat dia, tampaknya saya akan memiliki banyak waktu untuk menyapa dan menengok waktu. Ada goresan-goresan gambar yang pernah sangat dekat dengan saya. Kapal dan peta. Yang lebih mengejutkan adalah bahwa rupa kapal yang digoreskan oleh produsennya adalah rupa dari kapal mancing (fishing fleet). Lalu ada selarik bagian dari peta laut yang menggambarkan lautan yang sayangnya belum pernah saya datangi, Atlantik.

Saya percaya bahwa akan ada masa saya berada di sana, memancing BIGGEST yellowfin tuna dalam hidup saya, atau bertemu dengan marlin GRANDER yang paling gagah. Namun andaikan itupun juga tidak terjadi, syukur saya tidak akan berkurang karena dia yang tersenyum di depan saya ketika “waktu” itu saya pegang telah lebih dari segalanya. Meski jujur ketika bersamanya, saya inginnya waktu bukannya berputar seperti “waktu” yang sekarang saya kenakan ini, melainkan menjadi “waktu” yang berhenti atau terlempar ke masa lalu sejenak agar kami bisa mengawali dengan lebih indah semua hal yang kini terjadi. Seharusnya ini semua tertulis ketika hari menunjuk tanggal ketika angka empat belas ditambah dengan angka lima (Anda bisa melihatnya pada tanggal ketika "waktu" pada foto ini diabadikan), tetapi siapa yang bisa melakukannya ketika waktu begitu sempit dan cepat sementara banyak hal harus kami lakukan bersama-sama? Namun meski begitu, engkau tahu, untukmu Gwen tulisan sederhana ini ‘kugoreskan’ dengan sepenuh hati. Grazie. Suwun ndukkk....

* Pictures taken by Me. Don’t use or reproduce (especially for commercial purposes) without our permission. Especially if you are tackle shop, please don’t only make money from our pics without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers