Search This Blog

Loading...

SHARE THIS

Share |

Thursday, January 26, 2012

Kembali Ke Sumba: GT Monster, Popping With Santa Claus & Batanta 140 gr Black

Suksesnya trip spesial Natal 2011 untuk Mancing mania Trans|7 ini, dan selesainya tulisan ini, tak ada kata lain yang bisa saya ucapkan selain Deo Gratias (Terimakasih Tuhan).

Tulisan ini bisa jadi akan menjadi sangat personal. Pulau Sumba, NTT adalah salah satu popping ground terbaik di Indonesia, dan bahkan dunia. Hampir tidak ada pemancing popping yang sengaja melewatkan Pulau Sumba dalam riwayat dan rencana trip popping mereka. Jika ada pemancing popping yang belum menginjak tanah Sumba, itu hanya masalah waktu, meski berat dan susah, mereka pasti akan terus mencoba menembus perairan Sumba untuk melemparkan popper terbaik mereka dan mengeluarkan tackle terbaik mereka di sini. Sumba adalah surga popping yang menyediakan pertarungan terbaik bagi siapa saja yang berkesempatan popping di pulau para umbu ini. Menurut saya, di Indonesia ada tiga pulau yang bersaing ketat sebagai yang terbaik sebagai destinasi popping di Indonesia; Alor, Lembata, dan Sumba. Semuanya di propinsi Nusa Tenggara Timur. Tetapi pamor Alor sebagai popping ground tampaknya tidak berumur panjang. Pulau ini kondisi drop off nya terlalu dalam tampaknya lebih menjanjikan sebagai jigging ground, meski di beberapa titik merupakan spot popping yang baik. Dan nyatanya memang kebanyakan trip kesini main technique yang diaplikasikan adalah jigging dan bukannya popping. Saya mencatat, salah satu popping trip paling sukses ke pulau ini dilakukan oleh Tim Mancing Mania Trans7 bersama sekelompok pemancing Jakarta – Jepang sekitar pertengahan 2010.

Lembata, pernah membuktikan diri sebagai “markas”-nya GT monster di Indonesia. Pulau tempat orang-orang Lamalera tinggal dan menangkap paus dengan tombak ini boleh berbangga karena hampir tidak memiliki ikan GT berukuran kecil. Akan tetapi kharisma Lembata sebagai sarangnya GT monster ini saat ini mulai meredup. Lembata meraih kepopuleran sebagai popping ground terbaik diam-diam. Tidak banyak pemancing yang tahu dan mampu menembus ‘kekerasan’ alam di pulau ini. Namun pulau tandus yang dipopulerkan oleh dokumenter handal Indonesia, Mas Dudit Widodo ini akhir-akhir ini begitu bising oleh trip-trip mancing berskala besar dari pemancing-pemancing popping papan atas Indonesia dan bahkan para pemancing Jepang (yang masuk lewat Alor). Ada khabar, bahwa konon kini GT monster telah susah didapatkan di Lembata. Padahal dulu, setiap strike ikan GT di Lembata, setidaknya pasti beratnya up 25 kg! Trip terakhir saya ke pulau ini bersama Mas Dudit Widodo dan Rudi Hadikesuma, kalau tidak salah November 2010, kami mendapatkan banyak ikan GT dengan ukuran antara 25 hingga GT 42 kg! Lembata adalah pulau paling mempesona di Indonesia bagi siapa saja yang ingin mendapatkan GT monster yang bisa memecahkan rekor nasional, rekor dunia sekalipun. Tak heran pulau tandus ini banyak diincar para pemancing popping. Tak banyak yang bisa menembus “ketebalan” benteng pulau ini. Akan tetapi beberapa pemancing top Indonesia dan Jepang, telah melontarkan popper-poppernya di sini. Sehingga meski di forum-forum, atau website sportfishing dunia pulau ini tampak sepi-sepi saja dan diacuhkan, sebenarnya kenyataannya tidak demikian. Karena kebanyakan datang ke sini secara diam-diam dan sengaja tidak mempublikasikannya.

Kembali ke Sumba. Dibandingkan dengan Lembata dan Alor, Pulau Sumba lebih terbuka. Semua orang bisa masuk lewat “pintu” manapun. Sumba yang meski panas, memiliki keterbukaan hati yang khas untuk menerima siapapun datang. Tentunya laku dan kesantunan tertentu diperlukan agar kita bisa mengakses spot-spot popping terbaik di pulau ini. Satu hal yang pasti meski menurut saya Sumba lebih cosmopolitan (terbuka) dibandingkan Alor dan Lembata, Sumba ternyata memiliki ketangguhan yang lebih. Jadi meskipun sudah tak terhitung banyaknya popping trip ke sini, baik itu trip kecil maupun trip-trip berskala besar dari dalam dan para pemancing luar negeri, Sumba tetap gagah hingga hari ini. Sekali lagi, hingga hari ini. Pertanyaannya. Mampukah kita sebagai pemancing, demi kesuksesan trip kita, mampu menyesuaikan diri dengan kekhasan Sumba. Maksud saya begini. Ya, Sumba bisa Anda akses langsung dari sisi laut yang manapun. Ibarat kata, Anda datang tanpa ba bi bu, cukup dengan fishing fleet yang mendukung, Anda sudah akan bisa mengeksplorasi Sumba. Tetapi menurut saya itu bukan yang terbaik. Kecuali Anda adalah orangorang soliter yang memang tidak bisa hidup di antara banyak orang. Salah satu “kunci” terbaik mengakses Sumba adalah, Anda diterima menjadi sahabat para “raja laut” Sumba. Yang meski tampak keras itu, sebenarnya adalah pemancing-pemancing yang berpengalaman dan selalu mau untuk berbagi. Selain cara yang khas yang dilakukan orang-orang Sumba dalam menjaga spotnya seperti ilustrasi di atas, tak dapat dipungkiri Sumba memang memiliki potensi sportfishing yang luar biasa mengaggumkan. Sisi selatan Sumba adalah popping ground yang dahsyat. Dari perbatasan Sumba Barat hingga ke Waingapu. Ratusan kilometer tebing terjal, batu mandi, dan drop off membentang. Sisi utara Sumba lain lagi, disini adalah jigging spot yang hingga hari ini masih menyimpan potensi yang disegani. Kondisi geografis yang menantang, dan musim angin telah menjaga Sumba tetap gagah hingga hari ini dan meneguhkan dirinya sebagai sportfhsing ground paling dahsyat di Indonesia. Saya memiliki ilustrasi pribadi yang kebenarannya boleh Anda bantah. Jika Lembata memiliki GT monster paling hebat di Indonesia, tetapi populasinya tidak banyak. Pun jumlah spot di Lembata tidak berapa banyak. Alor juga demikian. Tetapi Sumba sangat lengkap dan luas! Jadi, jika ingin merasa lengkap sebagai pemancing popping dan jigging, jangan pernah abaikan Sumba.

Sumba Selatan: Santa Claus & Debut Batanta Popper di Sumba
Saya baru tiga kali ke Sumba. Di akhir 2009 bersama Bayu Noer. Akhir 2010 bersama Mas Dudit Widodo, Rudi Hadikesuma dan Cepy Yanwar. Dan terbaru adalah 24-29 November 2011 lalu dalam rangka pembuatan episode Mancing Mania special Natal 2011. Trip terbaru ini saya hanya datang berdua dengan Cepy Yanwar. Dan Sumba sekali lagi membuktikan dirinya sebagai popping ground terbaik yang dahsyat. Dalam trip terbaru ini kami disambut hangat oleh Om William, Om Sem, dan Fandy. Om William adalah pemancing senior Sumba (tepatnya Sumba barat) yang tinggal di Bali yang berjuluk “Raja Laut”-nya Sumba. Kisah ini dimulai di Jakarta. Suatu sore di Mampang saya mencetuskan ide kepada bos saya di kantor. Kenapa tidak kita mengunjungi Om Santa Claus Sumba untuk ditayankan di Mancing Mania pada Minggu, 25 Desember 2011? Dan ternyata langsung acc. Setelah memastikan Om William siap bergabung, kami pun langsung menyiapkan trip ke Sumba. Biasanya kami pergi bertiga, tetapi kali ini karena kondisinya mendesak dan jumlah kru yang berada di Jakarta terbatas, hanya saya dan Cepy Yanwar saja yang berangkat. Padahal posisi saya sebenarnya adalah reporter dan bukannya kameraman. Tetapi siapa takut? Toh hal seperti ini bukan sekali dua kali saya lakoni. Malah memperkaya diri kita dengan ilmu baru yang bermanfaat. Meski konsekuaensinya pasti akan super repot karena harusnya kami berangkat bertiga. Malah bagus untuk menempa diri. Sumba yang panas, keras, dan tugas yang harus dipikul sebaik mungkin. Tak banyak yang bisa menuntaskannya dengan baik.


Saya dan Cepy mendarat di Bandara Tambolaka, Sumba Barat sekitar pukul 12 siang. Panas yang luar biasa langsung membakar kami yang mengantuk (pesawat paling pagi dari Jakarta memaksa kami tidak tidur malam sebelum berangkat). Fandi, menantu Om William menjemput kami. Kami tiba di kediaman Om William di Waikabubak (ibukota Sumba Barat) 1.5 jam kemudian. Waikabubak adalah kota kecil yang panas, berdebu, dan sibuk. Benar-benar kota dengan cirri khas Sumba. Jika kita tak terbiasa dengan panas menyengat, pasti tidak akan nyaman. Apalagi bagi Anda yang tidak terbiasa dengan lalu-lalangnya orang-orang asli Sumba yang selalu membawa parang kemanapun mereka pergi. Tetapi kami telah terbiasa karena begitulah Sumba sebenarnya. Anda hanya harus menjadi diri sendiri dan tidak perlu mencampuri urusan orang lain maka semua akan baik-baik saja. Ada sesuatu yang genting sebenarnya saat kami tiba di Waikabubak. Saat kami hendak berangkat ke base camp di Teluk Aili, sekitar 3 jam ke arah selatan menggunakan, tiba-tiba semua toko di kota ini tutup. Ternyata ada pertarungan antara dua suku yang berseteru di dalam kota! Menurut Om William hal ini akan berlangsung panjang karena nyawa selalu akan dibalas nyawa. Tetapi Om William menenangkan kami dengan, mereka tidak akan menyentuh orang lain yang tidak ada urusan dengan masalah tersebut. Jadi ibaratnya meski kita melintas di antara mereka yang saling mengacungkan parang, karena kita bukan bagian dari dua kubu, maka kita akan baik-baik saja. Tetapi meski begitu saya tidak mau begitu. Karena saya jauh-jauh ke Sumba untuk ikan GT monster!

Kami akhirnya tiba di Teluk Aili sekitar pukul sembilan malam karena ada insiden di perjalanan. Untuk mencapai Teluk Aili kami menggunakan dua buah mobil yakni Daihatsu Rocky dan Toyota Hardtop. Hardtop berangkat di depan beberapa puluh menit dan baru Rocky. Medan menuju Teluk Aili memang berat. Satu jam terakhir kita benar-benarmelewati jalanan dalam hutan yang penuh turunan,tanjakan, dan kelokan tajam yang ekstrim. Nah ketika pas di tengah hutan ternyata ada t-rod nya Rocky yang lepas! Jadi kami terjebak ditengah hutan antara pukul 5 hingga 8 malam. Hardtop menjemput kami kembali sekitar pukul 7 malam karena khawatir dengan kami yang tidak sampai-sampai di basecamp. Namun kami tetap harus membetulkan dahulu t-rod Rocky yang istilah Jawa-nya mlese (meleset posisinya) itu baru kemudian beriringan menuju basecamp. Basecamp kami adalah sebuah rumah sederhana di tepi pantai. Beratap ilalang dan beralaskan papan. Tidak terlalu terawatt karena ini adalah “gubuk” yang dibangun Om William hanya untuk memancing. Di teluk besar ini hanya ada satu orang saja yang tinggal, yakni orang kepercayaan Om William bernama Eja. Eja mirip orang dari pedalaman benua Afrika yang panas itu. Tidak berbaju, tidak bersandal, kemana-mana membawa parang dan atau tombak. Jika melihatnya, kita seperti terlempar ke masa silam yang jauh. Yang pasti dia orang sederhana yang pemberani dan atau mungkin nekat. Hidup sendiri di teluk sunyi yang jauh dari peradaban ini. Hanya berteman anjing. Depan gubuknya lautan, belakang gubugnya adalah hutan. Dapat dihitung dengan jari tangan dalam setahun berapa orang yang mau bersusah-susah untuk mengunjunginya. Lokasi basecamp kami ini benar-benar di ujung dunia. Tidak ada apa-apa selain alam yang megah dan panas. Tidak ada sinyal hp, tidak ada tetangga, tidak ada toko makanan, dan sulit air tawar! Jadi selama 4 hari 3 malam kami disini, kami tidak mandi karena bekal air tawar yang kami bawa hanyalah air minum saja. Entah bagaimana Eja mandi. Mungkin dia berjalan beberapa kilometer ke dalam hutan, mungkin disana ada sumber air tawar. Bagi saya dilokasi seperti ini mandi menjadi tidak terlalu penting, jadi daripada berjalan kiloan meter demi mandi, lebih baik duduk menikmati pantai sambil merindukan pacar di Jakarta. Hehehe.

Pada akhir 2010 Tim Mancing Mania Trans|7 juga menjadikan teluk indah ini sebagai basecamp selama 4 hari. Inilah pertemuan kami untuk pertama kalinya konsep mancing bersama Santa Claus untuk ditayangkan setiap Natal datang berhasil diwujudkan. Sehingga untuk urusan tidak bisa mandi, nyamuk di waktu malam yang jumlahnya ribuan, panas yang “gila”, dan lain-lain di basecamp saya sudah terbiasa. Hanya saja pada trip ini tugas saya menjadi double karena selain menjadi reporter saya juga harus bertugas menjadi kameraman. Keesokan harinya kami bangun sepagi mungkin untuk kemudian naik ke kapal utama yang di jangkar agak di tengah. Kami harus naik sampan kecil dahulu. Pantai yang dangkal tidak mengijinkan kapal kayu kami merapat ke pantai. Kami lalu berangkat menuju spot-spot yang dulu pernah kami datangi dimana kami disambut “mesra” oleh ikan-ikan GT monster. Sumba Selatan menurut saya waktu itu sungguh luar biasa karena rate strike dan size GT yang kami dapatkan sungguh dahsyat. Akan tetapi pada trip kali ini kondisinya jauh berbeda. Kami tidak mendapatkan strike berarti dari ikan-ikan predator di sini. Selama dua hari popping dengan tiga pemancing, kami hanya menaikkan 5 ekor GT saja! Padahal di tahun 2010 tersebut, kami sampai malas lagi popping saking banyaknya sambaran. Memang, setahu saya usai trip pertama yang kemudian ditayangkan di Trans|7 tersebut tiba-tiba Sumba Selatan disorot oleh para pemancing popping dan membanjirlah popping ke tempat ini. Padahal dulunya perairan perbatasan Sumba Timur dan Sumba Barat ini tidak terlalu dilirik orang karena sulitnya medan. Jadi padatnya trip-trip popping tersebut, sedikit banyak mempengaruhi kondisi spot. Belum ditambah saat kami datang kemarin, laut terlalu flat dan arus bawah juga sangat lemah! Jadi klop sudah, boncoz sih tidak, tetapi hasilnya tidak seperti kami bayangkan sebelumnya.

Di Sumba Selatan kemarin, GT paling besar didapatkan oleh Fandy, beratnya sekitar 25 kg saja! Dan yang menggembirakan saya dalah, semua ikan GT yang berhasil kami naikkan semuanya memakai popper Batanta 140 gram black buatan Hime Lure. Padahal dulu, “peluru” paling mematikan untuk dipakai popping di Sumba adalah popper Halco. Tetapi dalam trip ini, halco benar-benar tidak disambar sama sekali. Enak sih dilempar dan dimainkan. Ringan namun bisa dilempar jauh, splash-nya pun meski tanpa sentakan keras pun bisa memercik besar dan berbunyi keras. Tetapi saat kami memakai Halco ini, kami benar-benar nol strike dan baru strike saat para pemancing akhirnya mau mencoba popper hitam jelek yang say abawa dari Jakarta, yakni Batanta 140 gram black. Saya tidak arogan, ini adalah kesaksian. Di sebuah batu mandi, yang padahal telah satu setengah hari kami gempur dengan menggunakan Halco, sama sekali tidak ada sambaran, namun pada setengah hari terakhir, saat kami menggunakan popper Batanta 140 gram black, langsung 3 ekor GT landed! Mungkin teori bahwa ikan juga memiliki “ingatan” itu benar, itulah kenapa sebabnya popper Halco disini tak disambar sama sekali. Karena pada puluhan (atau ratusan?) trip oleh pemancing lain pada tahun-yahun sebelumnya, semuanya memakai popper-popper Halco karena (sorry) harganya ekonomis dan sangat bagus baik tampilan dan action-nya. Di spot berikutnya kami berhasil landed lagi dua ekor. Namun meski peruntungan kami pada sisa hari ketiga tersebut membaik, kami keburu patah arang dan memutuskan untuk kembali ke kota Waikabubak esok hari baru kemudian bergeser ke Sumba Timur pada hari kelima untuk menjajal sebuah spot yang konon baru ditemukan oleh salah satu pemancing yang merupakan keluarga Om William, yakni Om Sem.

Reef Sem: Berani lempar, Berani Bertanggung Jawab
Kami tiba di spot baru temuan Om Sem siang hari saat matahari Sumba sedang panas-panasnya. Kami menumpang di rumah warga kampung yang letaknya tak jauh dari spot. Laut persis di hadapan kami. Kapal Raja Laut 2 milik Om William sudah sampai sehari sebelumnya dan tampak ditambat dengan sangat kuat karena angin bertiup kencang. Bapak Hans yang merupakan “guide” dadakan yang akan ikut memandu kami menenangkan kami bahwa esok pagi angin akan reda, hanya sore hingga malam saja angin di spot ini bertiup kencang. Semoga batin saya. Karena jika ternyata esok angin juga meledak lagi, maka kami akan tamat, maksudnya kami akan tidak bisa melaut dan episode special Natal untuk Mancing Mania Trans|7 akan semakin berat untuk diselesaikan mengingat waktu yang terbatas. Kampung tempat kami bermalam adalah kampung nelayan yang tidak teratur tata letaknya. Rumah tersebar dimanapun di antara pepohonan dan jalan kampung yang ada sebenarnya adalah sela-sela pepohonan yang terbuka dan berpasir. Yang harus disyukuri adalah kampung ini memiliki air tawar dan juga ada sinyal hp! Jadi pacar di kota tak perlu sewot lagi karena kita bisa mengirim kabar. Meski terkadang sinyal juga hilang, terbang bersama angin. Namun udara tetap panas dan gerah! Sehingga kami sulit tidur, apalagi kepiting-kepiting pantai sebesar kepalan tangan orang dewasa suka nimbrung dengan kita. Masuk ke dalam rumah tanpa permisi dank arena kita tidur di lantai maka kondisi kita menjadi terancam. Sebenarnya hal itu bisa diatasi dengan menutup pintu. Tetapi jika pintu rumah ditutup, kita seperti tidur di dalam oven. Sosis bisa matang bung! Wkwkwkwk!

Pagi datang dengan cepat. Panas yang sangat menyengat kulit kami yang “lembut”. Kami sarapan dengan cepat dan langsung kabur ke laut menjemput nasib kami hari ini. Spot temuan Om Sem adalah reef-reef dangkal yang tidak jauh dari pantai. Mungkin jaraknya hanya 1 mil saja dari daratan. Dan konon saat ini, reef ini adalah yang terbaik di Sumba saking banyaknya ikan predator terutama GT. Tak banyak spot seperti ini; dekat dengan daratan, dekat dengan kampung nelayan, tetapi GT nya berlimpah. Tetapi kami masih harus membuktikannya hari ini apakah hal tersebut benar adanya. Raja Laut 2 yang didorong dengan mesin 50 pk x 2 dengan cepat mengantarkan kami tiba di lokasi. Piranti popping kelas PE 8 dan PE 10 kami juga telah siap di rod holder. Popper-popper kini semu adiganti dengan Batanta 140 gram Black. “Si hitam saja yang dipasang,” kata Om William. Meski sebenarnya popper 140 gram ini kurang cocok bagi Om William, Fandy dan Om Sem karena berat. Mereka biasanya hanya memakai popper 80 gram. Tetapi sebelum kami menyapa GT di spot ini kami harus berunding dahulu siapa yang melempar duluan dan siapa yang harus bersabar menjadi abk lebih dahulu. Kapal tidak mengijinkan empat orang popping bersamaan, hanya untuk dua angler popping saja, maksimal 3 popping berbarengan.

Cepy dan Fandy menjadi pemancing pertama yang melempar. Fandi di haluan dan Cepy di buritan. Batanta 140 gram pun langsung terbang jauh dan mendarat dengan gagah di kepala arus reef. Tak perlu waktu lama memainkan popper, sekali dua kali sentakan langsung “buuuuuum!”, double strike pula. Ini dia yang kami cari, sekali roll gambar semua bisa terekam. Sejak melempar, memainkan umpan, sambaran, dan fight! Tak lama kemudian dua ekor GT dengan berat antara 15-25 kg pun kami naikkan. Cepy masih belum puas. Dia kembali melempar karena strike pertama baginya belum begitu menguras tenaga. Kembali strike! “Yaaaah, kecil!” teriaknya karena tenaga ikan yang ringan, padahal sebenarnya karena GT sedang berenang ke arah kapal. Tepat saat ikan GT berbalik arah menjauhi kapal, maka baru terasa bahwa ini adalah ikan besar. Om Sem sampai ngakak melihat polah Cepy yang kemudian menjadi kewalahan meladeni perlawanan ikan. Sebagai pemancing muda tenaga Cepy sebenarnya sangat prima, namun dia gemar sekali memakai rod medium action dengan lifting power yang sedang, sehingga saat kena sambaran ikan besar, maka pertarungan menjadi lama. Ini akan berbeda misalnya saat itu dia memilih memakai joran popping kaku yang juga dia bawa. Meski ngos-ngos an, akhirnya GT ketiga kami naikkan. Size nya sangat menarik, up 25 kg. Kembali Batanta popper 140 gram black menunjukkan dirinya sebagai yang terbaik. Saya katakan seperti ini karena saat kemudian Fandy mengganti popper dengan halco, dia tidak juga disambar dan baru disambar lagi saat dia mengganti popper dengan Batanta black! Om Sem sampai terheran-heran. Padahal awalnya dia meragukan kemampuan popper ini. Saya yang senyum-senyum senang dibalik kamera karena “peluru” saya ini tidak memalukan sama sekali. Strike ke-4 giliran Om Sem yang tampil. Dia berdiri di haluan dan juga tampak kewalahan dengan perlawanan ikan. Maklum dia lebih banyak trolling dibandingkan popping. Makanya Om Sem, popping dong jangan trolling melulu. Hehehehe. GT ke-4 akhirnya berhasil dinaikkan oleh Om Sem.

Situasi pesta strike ini terus berlangsung dan semua angler ikut kebagian merasakan fight. Om William sang Santa Claus pun ikut popping dan strike. Paling banyak strike adalah Cepy karena dia adalah “seleb” yang memang harus banyak-banyak strike. Oleh karena spot ini ditemukan oleh Om Sem, maka kami kemudian menamainya dengan Serra Sem (Reef Sem) untuk mengabadikan namanya. Akan tetapi meski semua angler telah pesta strike dari ikan-ikan GT dengan size yang lumayan, jujur, tidak ada yang berukuran monster hingga up 30 kg sehingga kami belum benar-benar terpuaskan. Masalahnya tenaga para pemancing telah terkuras akibat memakai popper besar dan terus fight. Ditambah dengan matahari Sumba yang jumlahnya ada lima, maka situasinya menjadi tidak mudah. Hanya ada satu pemancing tersisa yang belum strike, yakni saya yang berhari-hari setia di belakang kamera namun dengan jelas muka telah begitu memelas ingin strike meski hanya satu ekor GT saja. Saya sebenarnya lebih senang semua pemancing yang ikut strike sebanyak mungkin sehingga gambar cukup dan syukur-syukur ada yang monster untuk closing nantinya. Tetapi ada saat dimana saat itu kami harus makan siang di atas kapal sehingga kamera tidak perlu on. Saya permisi untuk popping di depan sendirian sambil menunggu para angler selesai mengisi “bensin” masing-masing. Saya percaya bahwa spot ini tidak mungkin tidak dihuni oleh GT monster.

Pada lemparan pertama saya menggunakan rod Ripple Fisher Fanta Stick yang dipasangi dengan Batanta 120 gram pink. Tetapi memang rod kaku ini tidak nyaman untuk saya (atau memang rod ini lebih cocok untuk bule-bule berbadan besar itu?), terlalu kaku, maka saya kembali menaruhnya dan berganti dengan rod lain yang lebih lentur. Nah di rod yang berikut ini sejak tadi telah dipasangi dengan Batanta 140 gram black. One cast berikutnya saya arahnya ke depan kapal. Namun tidak ada respon. Ketiga kalinya saya melemparkan ke kiri jauh sambil berucap Deo Gratias. Deo Gratias adalah bahasa Latin yang artinya Terimakasih Tuhan, maksudnya saya berterimakasih karena trip ini akhirnya sukses dan meski misalnya saya juga tidak dikasih strike, saya tetap berterimakasih kepada Tuhan karena episode Mancing Mania Trans|7 untuk spesial Natal 2011 materinya telah lebih dari cukup untuk dibawa pulang ke Jakarta. Selain itu karena saya sedang mengingat seseorang tercinta yang memiliki tattoo tulisan latin ini. Orang terbaik yang selalu memberi saya semangat dan teladan untuk terus tersenyum menghadapi jalan hidup yang berliku. Jika pada lemparan ketiga ini tidak ada sambaran, bisa jadi kredibilita saya sebagai pemancing popping mungkin akan diragukan, setidaknya pasti dicengin oleh pemancing lain dan saya bisa jadi menjadi keki dan akhirnya benar-benar tidak akan strike. Tetapi dalam hati saya tidak percaya jika disini tidak ada GT monsternya. Maka sambil sedikit melamun, popper terus saya sentak dengan sentakan keras sehingga splash yang keluar begitu besar dan suara popper pun keras!

Tampaknya tidak akan ada sambaran. Satu sentakan terakhir sebelum popper saya naikkan kembali untuk dilempar saya tetap setia megawasi dan memainkan popper dengan yakin. Saya sangat terkejut saat popper hendak saya angkat ke kapal tiba-tiba dari bawah muncul sesosok GT besar yang tanpa senyum dan permisi langsung menghantam popper dan kembali berenang dengan cepat ke dalam air. Posisi popper saat itu sekitar dua meter saja dari sisi kapal. Ini situasi strike yang tidak saya harapkan karena strike di dekat kapal pinggang kita langsung “kena”. Berbeda sekali dengan strike di kejauhan dimana kita memiliki kesampatan memainkan ikan lebih lama sehingga kita tidak terlalu tersiksa dengan beban ikan. GT terus menukik ke dalam dan membawa lari tali dengan perkasa. Rod medium action dari merk kelas menangah ini sampai lurus rus! Tidak bisa diungkit sama sekali. Benar-benar menyiksa dan menjadi bahan lelucon yang meriah di buritan. Saya tidak melihat, tetapi Om Sem jelas sekali ngakak saking senangnya melihat saya melongo dan tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi pemberontakan ikan. Setelah sekitar 3 menit, GT tampaknya mulai mengendurkan larinya. Dengan hati-hati butt rod saya taruh di gimbal dan mulai untuk fight. Masalah berikut adalah lifting power rod yang sialan. Memang, jika bermain di sarang monster tidak boleh main-main dengan rod gak jelas! Lifting power yang parah membuat kita sangat tersiksa karena sulit memompa joran dan meunggulung tali. Dia melengkung indah memang, tetapi ya terus begitu saja sehingga hanya mau bergerak jika badan kita ikut mengayun agar rod bisa dipompa. Masalahnya adalah, pinggang kita tidak bsia bertahan selama itu. Jadi ada beberapa momen saya melepas rod dari gimpal dan hanya menjepitnya saja di sikut saya. Ada sekitar 20 menit hal ini terjadi sebelum akhirnya GT monster Reef Sem ini bisa diakhiri perlawanannya. Pertarungan paling melelahkan dengan ikan GT yang pernah saya hadapi! Kami tidak membawa timbangan untuk mengukur berat ikan ini, tetapi kami menaksir up 35 kg tetapi tidak sampai 40 kg! Menurut Om William ini adalah ikan rekor paling besar di Reef Sem dan belum terpecahkan hingga saat tulisan ini dibuat.

GT monster yang saya tarik itulah yang kemudian menjadi penutup trip. Cepy yang harusnya menjadi host sejak awal strike terpaksa merekam seluruh gambar karena tak bisa dipungkiri ini adalah ikan GT monster yang memang kami cari-cari dan emmang harus direkam. Kami semua tersenyum karena ini akan menjadi episode yang sangat sensasional. Om William, Om Sem, Fandy, Cepy saya lihat tampak gembira. Pukul tiga sore saat angin mulai berhembus kencang kami memutuskan untuk pulang ke kampung. Awan tebal tampak berkumpul di langit namun matahari senja terlihat berusaha keras menembus kepekatannya. Terlihat sangat indah namun mematikan jika sudah “meledak” menjadi hujan nanti. Dalam hati saya berucap “Deo Gratias” lagi dan segera memasukkan kamera ke dalam dry bag agar aman dari cipratan air laut. Salam strike! God bless you all!

* Foto courtesy of Michael Risdianto, Cepy Yanwar & Fandy. Don’t use or reproduce (especially for commercial purposes) without our permission. Especially if you are tackle shop, please don’t only make money from our pics without respect!!!
* Keterangan foto: Kata Om William sang “Raja Laut” Sumba GT monster ini beratnya antara 35-40 kg // Saya sebenarnya bertugas sebagai kameraman dan reporter // Pas difoto dengan ikan besar eh malah mata merem // Sapi-sapi Sumba menghalangi perjalanan. Permisi Om, kami numpang lewat. :D :D :D // Hardtop & Rocky, soulmate sejati selama di Sumba // The long and winding road // Sunset saat menuju Teluk Aili // GR kecil di Sumba Selatan. Heran padahal Sumba Selatan harusnya spot “gila” // Sunses saat hendak kembali ke basecamp di Teluk Aili // ABK pun memakai topi Santa Claus // Bersama Om William aka Santa Claus Pulau Sumba // Cepy hooked up GT pertama di Sumba Selatan // Fandy dengan GT monster di Serra Sem // Om William juga hooked up GT monster di Serra Sem // Hooked on Batanta 140 gram black // The Team! Saya, Cepy, Om William dan Om Sem. Photo by Fandy // Cepy dan Batanta 140 gram black // Badai siap meledak di Serra Sem // Popper-popper buatan Hime Lure yang telah dihantam GT berkali-kali // Cepy dengan GT hitam di Serra Sem // Saya fight // Cepy dan GT lain di Serra Sem // Saya menggigit joran dan terus diketawain oleh Om Sem //

Tuesday, January 24, 2012

Not Lost In Papua: Fishing Trip Raja Ampat, Papua 2011 Part 3

Ada satu video shot yang mungkin bisa menggambarkan betapa populasi ikan di Raja Ampat sangat luar biasa, silahkan berkunjung ke One Cast One Strike di blog Hime Lure.

Bagi saya pribadi, dalam setahun bisa tiga kali bolak-balik ke salah satu “surga di bumi” yakni kepulauan Raja Ampat, Papua Barat, adalah sesuatu yang sangat-sangat saya syukuri. Tentunya pendapat ini akan berbeda dengan orang lain yang bisa jadi lebih sering misalnya. Saya mengenal dua pemancing Jakarta, dua kawan dekat ini mungkin dalam sebulan bisa dua minggu lebih di Raja Ampat, karena dia memiliki usaha di sana. Jadi bagi mereka, mungkin ke Raja Ampat layaknya saya bolak-balik kosan saya di Mampang usai bekerja di kantor, yang juga di Mampang letaknya. Bagi kawan-kawan yang lain yang belum pernah ke Raja Ampat, saya mungkin dianggap “enak banget” dan atau “enak ya jalan-jalan terus, bikin iri!” Padahal jelas-jelas saya kesana tidak untuk jalan-jalan (dalam artian bersenang-senang) melainkan untuk bekerja. Senang? Tentu! Tetapi apakah untuk bersenang-senang? Tidak! Kami dimanjakan oleh pemandangan dan susana laut yang menakjubkan, ya! Tetapi apakah tidur di atas pasir di dalam tenda selama seminggu itu selalu menyenangkan? Jawabnya silahkan ditanyakan kepada kepiting-kepiting di Pulau M, tempat kami mendirikan base camp selama seminggu. Hehehe.

Trip pertama ke Raja Ampat telah saya posting di blog iseng ini. Silahkan klik Pertarungan Selat Dampier untuk kembali membacanya. Disana terlihat jelas bawah pada trip bulan maret 2011 tersebut kami terlihat sedikit gagap karena bermain di fishing ground yang benar-benar baru kami kenal. Hasil sebenarnya sangat maksimal tetapi kami merasa sedikit kehabisan tenaga mengkover areal yang demikian luas sementara di langit sepuluh matahari membakar tubuh kami hingga kering. Namun kami puas karena ada setidaknya GT monster yang kami naikkan. Ketiga GT tersebut up 30 kg dan di rilis kembali. Trip kedua dilakukan bulan Mei 2011. Kami mendirikan base camp sendiri di sisi selatan Pulau Batanta karena tergoda dengan “rayuan” dari Kapten D, yang berkata pada bulan Maret, bahwa jika kami menginginkan monster GT, maka Tanjung B lah tempatnya. Namun tak mungkin jika saat itu juga kami mengeksplorasinya karena Kapten D ini berkata pada hari trip terakhir. Memang si Kapten D ini kelewatan, bilang ada spot monster di hari terakhir saat tenaga sudah habis, bbm tinggal tersisa sedikit, dan logistik juga sudah menipis. Maka pada bulan Mei tersebut, kami kembali untuk membayar lunas semua penasaran kami dengan menaikkan beberapa monster GT di Tanjung B. Apalagi dalam trip ini ada pemancing popping kelas wahid Indonesia, yakni Rudi Hadikesuma yang merupakan jaminan naikknya GT monster. Kisahnya ada di Tentang Pemancing, Bulan, Hujan dan Ikan. Dan semua perjalanan ke Raja Ampat ini telah menghasilkan lima episode eksklusif untuk Mancing Mania Trans|7.

Jadi dengan berbagai pelajaran berharga dari dua trip sebelumnya, pada akhir November 2011 kami kembali lagi ke Raja ampat dengan lebih yakin, bersemangat, dan dengan “armada” yang lebih besar. Ada tiga kapal! Satu kapal kayu 15 x 3 meter bermesin 40 x 2, satu speedboat 8 x 3 meter bermesin 40 x 2, dan terakhir adalah speedboat cepat Aurel milik seorang pemancing Sorong yang didorong oleh dua buah mesin besar. Saya lupa berapa pk, tak kurang dari 150 pk x 2 yang pasti. Di dua kapal terdahulu sebagian besar adalah para pemancing yang pada dua trip terdahulu juga ikut ke sini, “dikomandani” oleh Handoko Wiharja, pemancing senior asal Surabaya. Sedangkan di speedboat Aurel adalah “juragan-juragan”-nya Raja Ampat. Mereka adalah pemancing-pemancing yang tiap minggu memancing di Raja Ampat karena bolak-bolik Jakarta – Sorong mengurus usaha. Jika ditotal, termasuk dengan kru lokal, kami ada sekitar 30 orang lebih. Jadi tak heran jika selama tujuh hari penuh, Pulau M dan Pulau W yang menjadi base camp kami selama trip berubah menjadi “metropolitan”! Padahal sebelumnya kedua pulau tersebut adalah pulau yang hampir kosong! Hanya Pulau W yang berpenduduk sekitar 10 jiwa. Pulau M benar-benar kosong melompong sebelumnya. Jadi jika suatu saat Anda datang ke Pulau M ini dan kemudian sayup-sayup ada suara aneh menyanyikan lagu-lagu macam Utha Likumahua, The Mercys, dan atau Queen sekalipun, itu adalah hantu-hantu Pulau W yang telah hafal lagu-lagu yang kami putar di Ipod selama seminggu di pulau ini tiap malam. Hehehe.

Target kami dalam trip ini jelas ikan-ikan monster. Buat apa jauh-jauh kalau hanya menargetkan yang biasa? Bukan kami tidak menyukai size biasa, size berapapun ada nilainya, tetapi size does matter. Jadi kami memilih yang besar saja. Jadi kalaupun akhirnya dapatnya size sedang atau kecil, setidaknya telah menargetkan yang size “mama”. Tetapi lebih dari itu semua, kami akan memfokuskan pada titik-titik baru yang pada dua trip sebelumnya belum kami datangi. Kedua kami akan mencoba untuk kembali jigging mengejar “kapal selam” yang konon banyak bersliweran di salah satu karang dalam di Tanjung B. Lagi, kata Kapten D. Jadi jangan tanya tackle macam apa yang kami bawa. Tetapi saya kurang suka memotret tackle, karena tackle-tackle mahal itu bukan milik saya, jadi cukup jika sedikit saya singgung disini. Tackle popping ada kali 20 set! Reel didominasi oleh dua merk ternama yakni S dan D. Yang lebih beragam adalah rod-nya. Ada Smith, Hots, Carpenter, dll. Untuk jigging merk lebih beragam, tetapi saya paling suka memakai overhead-nya Accurate. Berat di awal, tetapi ternyata lebih nyaman dibandingkan jigging dengan spinning reel. Maklum pemula, baru tahu sekarang. Ditambah dengan popper range 80-140 gram, metal jig 170-350 gram, PE 5-12 dan lain sebagainya, sebenarnya tackle kami lebih dari cukup untuk membuka usaha toko pancing bernama Raja Ampat Fishing Tackle yang akan dijaka oleh Kapten D, “tukang kompor”asal Kampung Dome, Sorong!!!

Tidak usah bertele-tele. Jujur, kami tidak mendapatkan ikan monster dalam trip ini. Bahkan, GT up 30 kg pun tidak. Juga dogtooth up 10 kg pun tidak. Memang kami mendapatkan banyak dan beragam ikan, baik dengan teknik popping dan jigging. Jika tidak percaya silahkan tanya ke dang Joe Michael misalnya, salah satu pemancing dalam trip ini yang memakai speedboat Aurel, dia bahkan bisa landed hingga lebih dari 30 GT dalam dua hari saja! Teknik jigging juga gagal menaikkan monster, padahal target kami tidak muluk-muluk, yaaah kalau dogtooth tuna setidaknya up 10 kg lah. Atau kalau amberjack up 15 kg. Tetapi kami hanya mendapatkan beberapa yang sizenya under 10 kg semua. Teori itu, jika dalam sportfishing teori ini memang ada, ternyata benar. Kakek-kakek kita berkata,”Jika di spot mancing terlalu banyak ikan-ikan kecil, maka ikan-ikan monster akan selalu kalah cepat menyergap umpan-umpan kita”. Alasannya antara lain karena ikan besar kalah cepat bergerak dengan cucu-cucunya. Jika tidak percaya, ajak kakek Anda balapan lari. Sehingga meskipun di lokasi tersebut ada GT monsternya, dia pasti lebih memilih menjadi penonton cucu-cucunya berpesta popper daripada ikut rebutan. Dan “sialnya” Raja Ampat adalah surga ikan, baik dari tingkat populasi maupun keberagaman spesies! Jadi hingga hari terakhir trip, kami harus cukup puas dihibur dengan ikan-ikan GT size antara 8-20an kg saja. Namun ada momen yang bagi saya fantastis. Saat kawanan tenggiri berpesta menghajar pencil dan swimmer kita. Gimana tidak berkesan, lempar umpan sambil merem pun (memejamkan mata) pencil kita bisa langsung dihantam oleh tenggiri! Dan sizenya mak! Ada yang 25 kg an! Saat itu Cepy yang juara mendapatkan tenggiri paling besar. Lihat sendiri fotonya entah berapa kg itu.

Enaknya mengkover areal yang luas dengan tiga buah kapal adalah, kita tidak perlu rebutan spot mancing. Jadi jika misalnya Tim Joe Michael ada di spot A misalnya, maka dua kapal lain akan memilih untuk memancing di lokasi lain yang jaraknya berjauhan. Kadang jarak kami bisa terpisah 10 mil laut. Untungnya ada radio, meski lebih sering tidak bisa dipakai saking kami terpisah jauh, sehingag kami terkadang tetap bisa berkomunikasi. Untungnya lagi adalah kami membawa tiga buah kamera video. Jadi pas sudah, mau dimanapaun para pemancing mengadu nasib di spot pilihan masing-masing, tukang suting akan selalu ada menemani. Kurang apa? Silahkan mancing sepuasanya dan kami siap mendokumentasikan? Meski tukang suting suka gatal, dan sekali dua kali lemparan suka nimbrung.

Kembali tentang teori. Konon, kata kakek-kakek kita lagi (kalau pemancing-pemancing senior baca blog ini dan merasa masih muda saya bisa dilempar popper :d) ada pilihan untuk menghindari hantaman ikan-ikan kecil. Satu, dengan memakai umpan-umpan besar yang cenderung enggan dihantam ikan-ikan kecil. Khusus untuk GT, taruhlah memakai popper up 140 gr. Tetapi siapa yang mau sepanjang hari melemparkan umpan yang bisa mematahkan tangan ini? Untuk GT, kita bisa mengindari GT besar katanya dengan swimbait yang tipe subwalk, yakni bergerak di bawah permukaan. Tetapi nyatanya kami selama disini, selalu dikerumini oleh fans-fans abg (GT kecil). Cara berikut adalah cara yang sedikit unik, yakni menghabiskan ikan-ikan kecil (ini bukan berarti membunuh, maksudnya terus menaikkan ikan-ikan kecil tetapi kemudian dirilis lagi), karena trauma, ikan-ikan kecil kemudian akan malas menyambar umpan lagi sehingga memberi kesempatan untuk kakek GT tampil. Tetapi jika sepanjang hari sambaran ikan GT kecil tidak pernah habis? Kita yang repot. Kenyataan ini sebenarnya menggembirakan, karena ini membuktikan bahwa Raja Ampat adalah “surga di bumi”. Namun ini tidak bagus untuk para pemburu monster yang ingin mendapatkan ikan-ikan rekor ukuran besar yang bisa dipakai membuat pening kepala para pemancing lain akibat shock. Atau mungkin kami tidak diberkati oleh GT monster dalam trip ini karena kami terlalu kuat memiliki “niat jahat?”, yakni ingin menebar racun dosis tinggi yang bisa membuat pemancing lain sakau strike?! Hanya Tuhan yang tahu.

So, karena kisah ini sudah terlalu “berbusa” baiknya silahkan dinikmati saja foto-fotonya. Keterangan foto perlu juga untuk dibaca karena disana saya sertakan informasi penting juga. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, silahkan hubungi saya melalui email. Tetapi maaf saudara-saudara, jika pertanyaan tersebut adalah tentang koordinat spot, apalagi spot jigging saya mungkin akan kesulitan menjawabnya. Bukan saya pelit berbagi informasi, tetapi justru saya tidak ingin mengurangi sensasi petualangan mancing Anda karena akan menghilangkan sisi “wild” dan “adventure” dalam trip yang mungkin akan Anda lakukan di Raja Ampat. Namun saya siap diajak berdiskusi tentang fishing trip ke Raja Ampat. Kecuali Anda adalah kru TV lain yang menjadi pesaing Trans7, tempat saya bekerja. Salam strike!!!

* Foto courtesy of Joe Michael/Andry Sugianto & Michael Risdianto. Don’t use or reproduce (especially for commercial purposes) without our permission. Especially if you are tackle shop, please don’t only make money from our pics without respect!!!
*Tarigan, pemancing asal Timika, mendapatkan ikan rainbow runner dengan teknik jigging // Ini dia popper juara selama trip, Batanta pinky 80 gram dari Hime Lure. Sssssst, bahkan merk Aussie dan merk lainnya pun kalah rate strike-nya // Handoko hooked up ikan tenggiri menggunakan umpan swimmer // Pulau Batanta & Salawati dilihat dari udara // Pohon kelapa di Pulau M // tenda-tenda kami dekat sekali dengan pohon kelapa. Harus banyak berdoa agar tidak ada kelapa yang jatuh // Tiba di base camp setelah 3 jam melaut dari Sorong // Cepy hooked up tenggiri besar dengan umpan popper // Tarigan hooked up GT // Joe Michael mungkin adalah pemancing dengan rate strikenya paling tinggi selama trip // Ahin akhirnya berhasil hooked up GT pertamanya. Ini adalah pengalaman pertamanya popping // Beramai-ramai foto dengan GT // Tarigan strike GT lagi // Beragam popper kami bawa // Takya dari Hime Lure juga sukses hooked up ikan tenggiri. Sayang tidak ada fotonya karena saya sibuk mengambil gambar video // Tiga foto terakhir adalah pembuat catatan iseng ini. Hehehe….. //

Saturday, January 21, 2012

Story Of Hime Lure, Especially Batanta "Pinky" Popper

This is story of HIME LURE.

Howdy. Ijinkan saya kali ini untuk berbagi kisah pribadi sejenak. Tak pernah terbayang dulu bahwa saya akan mencintai olahraga memancing sedemikian dalamnya seperti sekarang ini. Tetapi ternyata “petir” mancing yang menyambar tiba-tiba di pertengahan 2007 itu begitu dahsyat dan saya tak bisa mengelak lagi dari sengatan “listrik”-nya yang demikian mematikan namun indah ini. Waktu berjalan cepat tanpa terasa, seperti arus yang tak terlihat namun membawa kapal kita hanyut hingga jauh ke tengah laut. Saya mengalami banyak hal indah sekaligus menyedihkan dalam mengarungi dunia mancing yang “gila” ini. Berpetualang tanpa bekal yang cukup, hanya berbekal doa dan persahabatan misalnya. Ataupun hal-hal lain yang kiranya tak perlu disebutkan terlalu jelas disini. Hal-hal yang indah, sudah tak terhitung banyaknya yang terjadi akibat mancing ini. Dan saya berterimakasih kepada Tuhan dan kepada Anda semua yang telah begitu baik menerima saya sebagai sahabat di berbagai tempat dan di berbagai kesempatan, dalam suka dan duka. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan Anda semuanya. Dunia mancing di Indonesia telah berkembang pesat. Sebagai salah satu fishing ground terbaik di dunia Indonesia telah sukses menjadi destinasi favorit para pemancing dari berbagai penjuru bumi. Toko-toko pancing berserak di setiap kota, dan selalu ramai. Operator mancing jempolan juga banyak beroperasi di negeri tercinta ini. Mulai yang dioperasikan oleh anak bangsa sendiri, salah satu yang paling hebat Adhek Sportfishing misalnya sampai yang dioperasikan oleh bule ataupun orang-orang Jepang. Adhek Sportfishing misalnya, adalah salah satu operator mancing terbaik di dunia. Dan penjuru lautan yang jauh di negeri indah ini telah begitu ramai oleh celoteh sekaligus jerit reel para pemancing yang ingin memacu adrenalinnya melawan ikan-ikan predator. Banyak yang berpendapat, bahwa tinggal di luar negeri lebih nyaman, karena pekerjaan kesehatan kesejahteraan keamanan lebih baik. Tetapi bagi saya, lahir dan besar sebagai orang Indonesia adalah yang paling membahagiakan karena bisa potensi mancing di negeri ini demikian luar biasa. Sayang sekali infrastruktur negeri ini di berbagai daerah yang potensi mancingnya luar biasa kurang memadai, sehingga biaya mancing yang menjadi sangat tinggi kadang tidak terjangkau oleh kita.

Ada titik-titik penting yang saya lewati dalam dunia sportfishing negeri ini yang sangat berperan membantu saya memberi banyak pemahaman, banyak sahabat, dan begitu banyak berkat kepada saya selama ini. Majalah Mancing selama 2007-2009 adalah “pintu” masuk pertama yang membuat saya belajar untuk pertama kalinya menjadi jurnalis sekaligus pemancing yang baik. Bersama dua orang pemancing senior negeri ini (Nursasongko Anwar dan Agustinus Sutandar, para pendiri Federasi Olahraga Memancing Seluruh Indonesia) saya diberi pelajaran pertama tentang sportfishing, sustainable sportfishing, dan lain sebagainya. Meski kini telah jarang berjumpa dengan mereka, mereka selalu memiliki tempat tersendiri di hati saya. Terimakasih kepada Anda berdua, meski kita sering tidak sependapat akibat kemudaan say ayang bersemangat ini, terutama kepada Nursasongko Anwar. Akan tetapi “pintu” terlebar yang membawa saya jauh “berlayar” dalam gempita olahraga memancing di negeri ini adalah program MANCING MANIA di TRANS 7, pioneer tayangan olahraga memancing di televisi Indonesia yang hingga hari ini menjadi tayangan favorit di seluruh negeri (dan bahkan di luar negeri). Program yang dicetuskan dan terus dikawal hingga hari ini oleh Mas Dudit Widodo ini adalah “kapal” terbaik yang mendidik saya tentang banyak hal agar menjadi jurnalis sekaligus pemancing yang terbaik. Namun yang membawa saya untuk ikut menjadi yang terbaik bersama MANCING MANIA TRANS 7 adalah seorang Denis Polapa, jurnalis TV handal sejak jaman TV 7. Terimakasih kawan!!!

Melihat banyak hal, merekam banyak hal, bergaul dengan aneka rupa dan watak pemancing, berkompromi dengan segala cuaca, berkompromi dengan segala jenis ikan, membuat saya semakin mencintai olahraga mancing hingga sulit untuk menjelaskannya. Meski jujur saja, saya tidak segila Anda semuanya (hehehehe) karena segila-gilanya saya, saya tidak memiliki tackle-tackle terbaik misalnya. Yang pasti ada banyak hal yang kemudian mengendap dan sebaik mungkin selalu saya kembalikan kepada dunia memancing yang telah begitu luar biasa menghidupi saya selama ini. Dinamisnya olahraga memancing dan potensialnya Indonesia sebagai fishing ground kelas dunia menumbuhkan banyaknya pemain kelas dunia di ranah sportfishing dunia. Misalnya saja, pembuat artificial lure untuk memancing. Adhek Amerta, Heru Gombong, Budi Popper, dan lain sebagainya telah mencatatkan namanya dengan gagah di ranah sportfishing dunia. Saya tak perlu menuliskan terlalu jelas misalnya kenapa di New Caledonia (Pasifik) misalnya begitu banyak popper made in Indonesia. Begitu juga misalnya di Jepang, kenapa begitu banyak tackle shop menjual Adhek Popper. Fakta, Indonesia memiliki para pemancing yang hebat! Saya pribadi jujur mengidolakan Adhek Amerta. Pemancing senior berpengalaman yang begitu ramah baik dan selalu terbuka asal Bali. Dan saya merasa terberkati bisa berteman dengan beliau.

Suatu hari, “angin” laut tiba-tiba berhembus jauh memasuki kota Jakarta dan seseorang di samping saya berkata kenapa saya tidak bergerak lebih jauh di dunia sportfishing ini? Saya menjawab telah begitu banyak kawan dekat yang melakukannya, menjadi pemancing pro. Dalam artian hidup dari dunia mancing. Baik itu menjadi guide mancing, lure maker, membuka toko pancing, dan atau menerbitkan majalah atau tabloid misalnya. Namun ternyata “angin” sepoi-sepoi itu bukannya mengecil dan hilang malah menjelma menjadi badai bernama HIME LURE. Sebuah brand yang dengan sadar saya bikin untuk (saat ini) melemparkan popper ke pasar mancing Indonesia. Keputusan mempublikasikan HIME LURE bukanlah keputusan gelap mata yang diputuskan semalam. Sulitnya keputusan untuk mengiyakan adalah karena saya tahu saya akan bersinggungan dengan kawan-kawan baik yang sebelumnya telah melakukan hal serupa, dimana banyak di antara mereka adalah senior saya sekaligus idola saya sendiri. Namun mungkin inilah jalan yang harus saya tempuh, HIME LURE akhirnya dipublikasikan di akhir 2011 dalam kesederhanaan namun dipenuhi dengan semangat dan keyakinan. Bukan untuk menjadi pesaing, meski hal ini tak bisa dihindari, melainkan untuk meneruskan semangat para senior sekaligus guru-guru mancing saya yang selama ini telah memberi saya banyak pengetahuan di dunia mancing ini. Saya harap mereka mengerti dengan keputusan saya ini.

Prototype pertama popper HIME LURE diuji di laut pertama kali pada awal 2011 di Raja Ampat, Papua. Beberapa popper ukuran besar, dari 150-170 gram. Dan hasilnya ternyata luar biasa. Waktu itu saya berfikir hasil tersebut karena Papua adalah fishing ground yang masih sangat potensial sehingga saya tidak boleh arogan dengan hasil tersebut. Akan tetapi dua trip berikutnya yang juga digelar di tempat yang sama, dimana kami juga membawa popper-popper lain kelas dunia yang telah lebih dahulu sukses, memberi saya keyakinan bahwa HIME LURE memiliki masa depan karena ternyata keaslian bentuk dan warnanya ternyata mampu bersaing dengan gagah dengan merk-merk lain yang telah sukses mendunia. Bahkan satu merk popper dari negeri Kanguru sampai kalah telak secara jumlah strike. Padahal spot mancing sama, kami juga sekapal, namun hasil jauh berbeda. Waktu itu kami bermain di sekitar pulau cantik bernama Batanta. Oleh karena prototype pertama popper HIME LURE tersebut belum memiliki nama, maka saya memberinya nama BATANTA untuk mengabadikan tempat bermain pertama popper-popper HIME LURE.

HIME LURE masih bayi kecil yang sedang belajar banyak hal. Namun seluruh kru HIME LURE adalah bayi pilihan yang begitu bersemangat. Sehingga jika sekarang misalnya popper Batanta menjadi pilihan banyak pemancing, itu bukan karena HIME LURE menjual omong kosong, namun memberi bukti sebagai yang layak untuk dipilih oleh para pemancing popping di negeri ini. Banyak catatan manis di akhir 2011 yang ditorehkan oleh para pemakai popper Batanta. Dan kami sangat berterimakasih kepada Anda semuanya yang telah begitu baik memberi kepercayaan kepada bayi kecil bernama HIME LURE. Dua report di akhir 2011 yang menurut kami terbaik adalah report dari angler Jakarta, Joe Michael yang bolak-balik Papua seperti pesawat terbang. Joe Michael mengaku secara pribadi ke saya, ada saat, dalam sehari di abisa strike 30 ekor GT dengan menggunakan Batanta “pinky” 80 gram. Sebelum akhirnya popper tersebut kemudian hilang karena diminta oleh ikan GT untuk dipajang di rumahnya. Hehehe. Report paling akhir di tahun 2011 adalah perjalanan tim Mancing Mania Trans 7 ke Pulau Sumba, dimana sebagai kru MMT7 saya juga ikut serta. Dari begitu banyak GT dan monster GT yang landed selama pembuatan episode Mancing Mania Spesial Natal 2011 tersebut, semuanya hooked on Batanta 140 gr black!!!

Saat ini saya sedang menunggu report mancing yang paling saya nanti di awal 2012. Seorang pemancing Belanda membawa beberapa Batanta 150 gram ke Oman (Afrika), yang konon adalah pusatnya GT monster di bumi ini. Saya berharap HIME LURE kembali membuktikan dirinya sebagai “yang layak dipilih” oleh para pemancing popping. Jika itu terjadi, maka saya tidak perlu untuk merasa malu ataupun segan kepada semua senior dan guru-guru saya, karena saya (meski apa yang saya lakukan ini mungkin akan terasa tidak nyaman bagi beberapa orang) akan terus membesarkan bayi HIME LURE ini dengan semangat, kerendahan hati, keterbukaan, dan kerja keras seperti mereka semua pernah ajarkan kepada saya. Saya percaya mereka mengerti keputusan saya ini. Salam!

* Foto courtesy of Joe Michael/Andry Sugianto & Michael Risdianto. Don’t use or reproduce (especially for commercial purposes) without our permission. Especially if you are tackle shop, please don’t only make money from our pics without respect!!!
* Keterangan foto: Angler Joe Michael dengan GT Papua-nya pada salah satu trip ke Raja Ampat // Saya berhasil landed GT 38 kg di Sumba pada November 2011 // Joe Michael dengan lure favoritnya, Batanta 80 gr pinky landed GT Raja Ampat // Host Mancing Mania Trans 7, Cepy Yanwar landed GT di Sumba, NTT // Joe Michael adalah kawan terbaik yang mensupport Hime Lure dengan sangat luar biasa //Seekor GT Sumba landed on Batanta 140 gr black // HIMEEEEEE!!! // Cepy Yanwar memberi jempol untuk Hime Lure // Joe Michael di Raja Ampat, Papua // Saya di sebuah reef dekat pulau kosong di Papua // Cepy Yanwar landed tenggiri besar pada Maret 2011 // Arfane Yudhithia (kameraman Mancing Mania Trans 7) landed GT besar di Raja Ampat // Ikan redbass pun “horny” dengan popper Batanta 80 gr black // The champion, Batanta “pinky” // You love GT’s? Hime loves you! // HIME HIME HIME…..!!! //