Wednesday, 30 January 2013


Sudah lama sekali saya tidak menulis tentang mancing. Secara kini waktu memancing sudah tidak seperti dahulu lagi. Tetapi siapa yang bisa menghentikan hasrat dari seorang yang memang hobi memancing? Bagaimanapun caranya, akan selalu berupaya unttuk pergi memancing meski terkadang banyak ‘taruhannya’. Dimarahin pacar, istri, dan lain sebagainya. Masa dimana hari-hari saya hanya dipenuhi dengan acara, obrolan, kawan-kawan dan semua hal tentang memancing telah berlalu, oleh karenanya saya harus rasional dan profesional. Bahwa ada pekerjaan lain yang lebih utama yang harus saya kerjakan dengan segenap kemampuan terbaik saya. Foto disamping adalah foto Pak Guru Rusmihadi Yus, "jakwir" mancing saya asal Brebes yang merupakan salah satu rekan pemancing paling aktif di Tegal saat ini. Aktif mengirim kabar ke Jakarta, aktif mengirim 'racun' mancing juga ke saya, dan lain sebagainya. Terimakasih Pak e!


Meski begitu, saya selalu meluangkan waktu, mencari waktu, berusaha mendapatkan waktu untuk memancing itu. Meski terkadang hanya sekali dalam sebulan. Penting bisa “get wet”, sudah lega rasanya. Meski terkadang masalah “get wet” ini tidak dimengerti oleh mereka yang dekat dengan saya. Masalah hasil tentu tidak menentu, bukankah kita para sportfisher tidak memerlukan hasil yang harus selalu sempurna? Hasil itu merupakan ‘buah’ dan banyak sekali faktor. Ada faktor alam, keberuntungan, usaha, dan faktor –Nya yang mutlak. Jadi masalah hasil janganlah membuat acara mancing kita menjadi sia-sia dan tidak berarti. Saya hanya percaya, selama kita berusaha sebaik mungkin, berusaha menerapkan teknik yang tepat, terus fokus dan terus menyesuaikan diri dengan kondisi alam tempat kita bermain, hasil akan mengiringi. Banyak yang berteriak hasil mancingnya selalu tidak bagus, kemudian menyalahkan alam dan juga terkadang orang-orang di sekitarnya, tetapi lupa memeriksa diri sendiri. Semoga saya tidak menjadi demikian.

Perjalanan mancing terbaru saya adalah ke sebuah spot bernama Karang Jeruk, sekitar dua mil dari kota Tegal, Jawa Tengah. Kebetulan selama tiga minggu kemarin saya ada tugas ke kota ini. Selama saya berada di sana musim baratan sedang ‘meledak’, sama seperti di daerah lain di Indonesia. Sehingga saya dapat fokus terlebih dahulu pada tugas-tugas saya, meski dorongan untuk segera “get wet” itu begitu kuat, dan terkadang terfikir untuk mengambil resiko pada cuaca yang sedang tidak menentu. Otomatis waktu saya kemudian hanya habis untuk bekerja dan setelah itu bersama-sama kawan-kawan di sekitar Tegal dan Brebes menikmati keramahan kota. Saya memiliki hubungan dekat dengan kedua kota ini, sehingga bukan bermaksud sombong jika saya memiliki lusinan kawan dekat di dua kota tersebut. Baik itu pemancing dan non pemancing. Paling banyak adalah para pemancing, karena sejak 2007 saya telah menjalin persahabatan baik dengan mereka. Sebagian malah sudah menjadi layaknya saudara sendiri.

Di antara kesibukan bekerja yang hampir 24 jam itu, dari pagi buta hingga menjelang pagi lagi, masih ada waktu sedikit untuk bersosialisasi dan memantau kondisi cuaca. Saya terus melakukan kontak dengan rekan-rekan mancing di kota Tegal dan Brebes. Dimana sebagian ada yang sudah seumuran ayah saya di kampung. Dan kemudian di penghujung tugas saya di Tegal, yakni tanggal 27 Januari 2013 ternyata Tuhan memberi hadiah kepada saya, angin tiba-tiba berhenti ‘meledak’, dimana kecenderungan ini sebenarnya telah saya pantau sejak kemarin sore bersama dua rekan saya Pak Rusmihadi Yus, dan mas Anang. Dua pemancing yang sangat aktif, satu mewakili Brebes, satu lagi mewakili Tegal. Haha! Dalam sunyi, tentu saja dalam sunyi karena kami berangkat meninggalkan dermaga Muarareja, Tegal pada pukul 04.30 wib, kami pun telah melaju menuju ke spot Karang Jeruk. Tak sampai satu jam kami bertiga telah melemparkan umpan minnow-minnow kami dengan semangat. Bayangkan saja, hasrat memancing telah tertahan sekian lama akibat angin baratan, sekali ada kesempatan, dalam satu menit kami bisa melempar berkali-kali tanpa berhenti.

Spot Karang Jeruk adalah karang dangkal dengan kedalaman sekitar tiga hingga sepuluhan meter, yang konon katanya jika dilihat dari ketinggian, bentuk karangnya menyerupai buah jeruk, itulah sebabnya disebut Karang Jeruk. Ini adalah lokasi yang serupa ‘supermarket’ yang menyediakan banyak makanan bagi ikan predator pelagis yang melintasi perairan pesisir utara Pulau Jawa, karena di sekitar Karang Jeruk banyak sekali terdapat ikan teri. Sehingga saat kita mancing disini, jangan heran jika ada berlusin-lusin kapal nelayan teri yang sedang menjaring. Tetapi tenang, mereka tidak mengejar ikan talang-talang yang menjadi target utama para sportfisher yang turun memancing disini. Jadi meskipun itu akan ada 100 kapal ikan teri, ikan talang-talang tetap aman. Karena ikan talang-talang bermain di sekitar tubiran (drof off) di sekitar karang, dimana lokasi ini tidak mungkin dijaring oleh para nelayan karena taruhannya jaring mereka tersangkut dan rusak dan tidak akan bisa dipakai lagi, sehingga areal bermain para sportfisher tetap terbuka lebar. Semacam telah ada pembagian fair antara para nelayan dan pemancing di tempat ini.

Pada pukul tujuh pagi hari itu saya telah menaikkan empat ekor ikan talang-talang (Queenfish), merubah tatanan skor di atas kapal kami yang posisinya menjadi 4-0-0. Ini kejadian langka, karena jarang-jarang saya leading duluan dibandingkan dua ‘suhu’ ikan talang-talang dari Tegal dan Brebes tersebut. Biasanya saya selalu strike paling terakhir. Mungkin karena amal dan perbuatan saya malam sebelumnya cukup baik sehingga Tuhan memberi ganjaran yang setimpal kepada saya sepagi itu. Haha! Namun skor saya ini perlahan disusul oleh Mas Anang, tetapi Tuhan sedang baik kepada saya, jadi sampai pada pukul 11.30 wib saya tetap leading 7-6-3. Sebenarnya Mas Anang juga landing 7 ekor, namun karena satunya adalah ikan kerapu ‘untu-unyu’, tidak dihitung sebagai skor oleh sang kapten. “Hanya ikan talang-talang, tenggiri dan barakuda yang dihitung,” kata Kapten Tardi dengan logat ngapak yang mantap! Apa kata kapten dah, lagian kami juga tidak mencari skor, apalagi mencari trophi. Hehehehe.

Intinya acara trip mancing dadakan kami happy ending, total ikan talang-talang yang berhasil kami naikkan berjumlah 16 ekor. All dengan kasting dengan piranti PE 1-2. Jadi kebayang khan serunya karena piranti kecil kami bisa sampai menjerit dan melengkung tidak karuan menahan ‘gempuran’ ikan talang-talang. Jumlah ini tidak seberapa sebenarnya, saya sendiri bersama Mas Anang, pernah landed talang-talang sebanyak 37 ekor dalam 4 jam di lokasi yang sama. Masih tidak seberapa dibandingkan dengan pemancing lainnya, karena ada yang saking hokinya segede gunung, pernah landed 50 ekor berdua dalam waktu 4 jam saja!

Mohon Maaf Memberi Tips & Trik
Tips dan trik ini juga saya pelajari dari melihat, mendengar dan diberitahu oleh para pemancing Tegal dan Brebes. Masalah cuaca, perbekalan dan lainnya saya kira kita semua sama-sama memahami bagaimana seharusnya jika bermain di alam, laut maksud saya. Oleh karenanya saya hanya akan menuliskan sedikit mengenai bagaimana memainkan umpan minnow kita saat kasting di Karang Jeruk. Uniknya minnow yang harus kita pakai di Karang Jeruk adalah minnow tertentu saja, itu jika Anda ingin hasil mancingnya bagus. Yaitu minnow sinking dengan panjang 9 atau 11 sentimeter. Merk apapun sebenarnya bisa dipakai, meski setahu saya hanya merk dari pabrik bermerk “D” saja yang paling sukses di sini. Minnow tersebut harus Anda kerok dahulu, jadi cat luarnya harus dibuang, supaya minnow-nya hanya berwarna putih bening kusam saja. Para pemancing Tegal memberinya nama "minnow masuk angin", jadi harus dikerok dahulu. Persis warna ikan teri yang putih kuning keperakkan. Umpan seperti itulah yang akan sukses di Karang Jeruk. Dengan catatan, minnow tersebut dilemparkan dan dimainkan oleh pemancingnya dengan benar. Bukan hanya dilemparkan sejauh mungkin, tetapi juga dimainkan (dengan sentakan pendek yang cepat) secara konsisten, terus menerus! Akan ada momen dimana kita mendapatkan ritme yang tepat, pada momen itulah ikan talang-talang akan terus menghantam umpan kita. Tanpa irama dan gerakan umpan yang benar, jangan heran jika pemancing di sebelah Anda strike up 20 ekor, dan Anda bahkan belum strike satu ekor pun! Jangan heran jika ikan talang-talang di bawah hanya mengiktui umpan kita tetapi tanpa ‘menerkamnya’! Bagaimana tepatnya cara ini? Baiknya Anda turun dahulu ke Karang Jeruk, Tegal. Salam!

* Total catch 16 good size of queenfish, I got 7. My friends got 6 and 3 fish (about 4 hours fishing).
* Terimakasih Pak Guru Rusmihadi Yus yang meminjami saya rod dalam trip ini, maklum pak kuli keliling seperti saya tidak bisa leluasa membawa rod kemana-mana. Thanks juga kepada masbro Anang untuk teladan semangat memancingnya yang luar biasa. Salam strike!
* Please don’t use or reproduce, (especially for commercial purposes)-picture without our permission. Especially if you are tackle shop, please don’t only make money from my pics without respect!!!

6 comments:

Crayon Shinchan said...

mantab

Michael Risdianto said...

Thanks bro...

rusmihadi_blogspot.com said...
This comment has been removed by the author.
rusmihadi_blogspot.com said...

tulisan bagus... menginspirasi... lanjutkan

Michael Risdianto said...

Makasih pak guru....

Darmadi said...

mantaf Mike, once Mancing Mania always mancing mania, walaupun sdh jarang mancing!!

Popular Posts

Google+ Followers